PANDANGAN & SIKAP UMAT ISLAM TERHADAP FENOMENA GERHANA BULAN

Penulis: Muhamad Yusuf

PENDAHULUAN

Berdasarkan beberapa sumber,  fenomena gerhana bulan total atau Super Blood Moon akan dapat disaksikan di seluruh wilayah Indonesia pada Rabu, 26 Mei 2021. Puncaknya akan terjadi pada pukul 18.18 WIB, 19.18 WITA dan 20.18 WIT.

Kepala Sub Bidang Analisis Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG Suaidi Ahadi menyampaikan nantinya puncak gerhana bisa diamati dari hampir seluruh wilayah Indonesia. “Kecuali sebagian kecil Riau, sebagian Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh,” .

Selain itu, berita akan terjadinya gerhana bulan telah dibenarkan oleh pemerintah. Bapak Walikota Makassar, Ir. H. Mohammad Ramdhan Pomanto, mengeluarkan Surat Himbauan kepada umat Islam.

Sebelum saya menyampaikan materi pengajian rutin tafsir di Masjid Raudhatul Muflihin, salah seorang pengurus Masjid membacakan Surat Himbauan Walikota tersebut. Surat Himbauan itu berisi himbauan kepada seluruh umat Muslim di Kota Makassar untuk bersama-sama melaksanakan salat sunnat gerhana bulan (khusuf al-Qamar).

TENTANG GERHANA BULAN

Islam hadir menyikapi pandangan masyarakat tentang banyak hal. Di antaranya pandangan masyarakat Arab pra-Islam tentang gerhana matahari dan bulan.

Dalam konteks itu, Islam menepis mitos dan pandangan primitif abad ke-7 tentang gerhana, sekaligus menekankan dimensi religius, spiritual, dan sosial pada gerhana itu sendiri sebagai misi kenabian Nabi Muhammad.

Masyarakat Arab pra-Islam memandang gerhana sebagai sesuatu yang menakutkan. Gerhana adalah pertanda sesuatu yang buruk akan terjadi, baik dari kematian maupun kelahiran seperti yang dilansir Tribun-Medan.com dari geotimes.co.id.

Gerhana adalah sumber bencana dan malapetaka. Dalam perspektif sekarang, kita dapat mengatakan bahwa pandangan tersebut bersifat primitif.

Pandangan primitif itu masih hidup saat Islam datang. Ketika putra Nabi Muhammad, Ibrahim, meninggal, yang bersamaan dengan terjadinya gerhana matahari, mereka mengatakan bahwa gerhana itu terjadi karena kepergian putra Nabi Muhammad. Dalam konteks itulah Nabi Muhammad bersabda:

“Matahari dan bulan adalah dua tanda kebesaran Allah. Keduanya mengalami gerhana bukan karena atau sebab bagi kematian atau kelahiran seseorang.”

Selanjutnya Nabi Muhammad menganjurkan untuk melaksanakan salat, bertasbih, berzikir, bertahlil, bersedekah, dan memerdekakan budak.

Dengan pernyataan dan anjuran Nabi tersebut, Islam jelas menepis segi mitos dan primitif dari pandangan masyarakat Arab pra-Islam tentang gerhana.

Dari laporan berbagai hadis, Nabi Muhammad tampaknya beberapa kali melaksanakan salat gerhana. Karenanya, laporan tentang bagaimana Nabi melaksanakan salat gerhana matahari berbeda-beda.

Ada yang menyebutkan Nabi Muhammad salat gerhana dengan dua ruku’ dalam satu rakaat; ada yang menyebutkan dengan satu ruku’ dalam satu rakaat. Bahkan ada yang menyebutkan empat, enam, delapan, dan sepuluh ruku’ dalam satu rakaat.

Ada yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad membaca bacaan dalam salat gerhana dengan nyaring; ada yang menyebutkan tidak nyaring. Tapi, setahu saya, semua hadis menyebutkan bahwa salat gerhana dua rakaat.

Perbedaan (laporan) hadis ini menimbulkan perbedaan tata-cara salat gerhana di antara mazhab-mazhab fiqih.

Di Indonesia, pada umumnya umat Islam menganut mazhab Syafi’i: dua ruku’ dalam satu rakaat, dan bacaan tidak dibaca nyaring.

Yang penting digarisbawahi adalah moral Islam dalam menyikapi gerhana. Dengan menepis segi mitos dan primitif dari pandangan Arab pra-Islam tentang gerhana, Islam menekankan dimensi religius dan spiritual.

Gerhana tak lain adalah tanda kebesaran Tuhan, bukan sesuatu yang menakutkan apalagi menimbulkan malapetaka.

Ia adalah fenomena alam “biasa”, yang semestinya membangkitkan kesadaran religius dan spiritual seseorang. Ia semestinya mengingatkan manusia pada kemahaagungan Tuhan: Robbanâ mâ khalaqta hâdzâ bâthilan, ‘Tuhan kami, tak sia-sia Kau ciptakan (gerhana) ini’.

Pandangan itu sebenarnya mengandung konsekuensi keilmuan, yakni keharusan memahami fenomena alam secara empiris untuk memperoleh pemahaman sebaik mungkin tentang fenomena alam itu sendiri. Semakin baik pemahaman kita tentang alam akan semakin baik pula penghayatan religius dan spiritual kita tentang gerhana.

Dalam kaitan itu, penelitian-penelitian astronomi semestinya digalakkan di dunia Islam sebagaimana pernah dicapai para ilmuwan Muslim di abad ke-8 dan seterusnya, yang sayangnya mengalami kemandegan seiring dengan kemunduran Islam dalam berbagai aspeknya.

Perkembangan sains jelas sangat membantu kita dalam memahami dan menghayati gerhana sebagai tanda keagungan Tuhan.

Yang tak kalah penting, Nabi Muhammad juga menganjurkan umat Islam untuk bersedekah dan memerdekakan budak saat terjadi gerhana. Inilah dimensi sosial dan kemanusiaan gerhana.

DIMENSI SPRITUAL & DIMENSI SOSIAL

Konsekuensi dari kesadaran religius dan spiritual yang dibangkitkan oleh gerhana adalah munculnya kesadaran sosial dan semangat kemanusiaan.

Kesadaran spiritual pada akhirnya  harus memancarkan solidaritas sosial, sekecil apa pun. Persis seperti pengalaman Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad: setelah mencapai puncak pengalaman spiritual, Nabi Muhammad kembali ke bumi untuk menjalankan tanggung jawab sosial-religiusnya secara konkret.

Sejauh ini tampaknya umat Islam lebih fokus pada segi religius dan spiritual gerhana. Setiap menyambut gerhana, baik gerhana matahari maupun bulan, anjuran salat gerhana beredar cukup luas.

Dan salat gerhana pun dilaksanakan di mana-mana. Tetapi sementara itu nyaris tak terdengar umat Islam sibuk mendistribusikan sedekah atau melakukan kegiatan sosial membantu orang-orang yang kurang beruntung.

Dalam arti itu, umat Islam baru menekankan segi religius dan spiritual gerhana, tetapi masih mengabaikan segi sosial gerhana itu sendiri sebagaimana dianjurkan Nabi Muhammad.(

 1. Sikap Spritual

a. Salat Sunnah Kusuf

Bagi umat Islam, ketika mereka mengetahui akan terjadi gerhana, maka dianjurkan untuk melaksanakan sholat sunnah kusuf, baik itu gerhana matahari atau pun gerhana bulan. Jangan sampai menyangkutpautkan fenomena gerhana ini dengan mitos-mitos yang tidak masuk akal. Karena fenomena ini adalah murni dari kekuasaan Allah Swt.

“Sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Jangan kalian bersujud pada matahari dan jangan (pula) pada bulan, tetapi bersujudlah kalian kepada Allah yang menciptakan semua itu, jika kamu hanya menyembah-Nya,” (QS Fushilat: 37).

Anjuran untuk melakukan sholat sunnah kusuf juga diterangkan dalam hadist berikut,

“Sungguh, gerhana matahari dan bulan tidak terjadi sebab mati atau hidupnya seseorang, tetapi itu merupakan salah satu tanda kebesaran Allah ta’ala. Karenanya, bila kalian melihat gerhana matahari dan gerhana bulan, bangkit dan shalatlah kalian,” (HR. Bukhari-Muslim).

Salat sunnah kusuf ini hukumnya sunnah ma’akkad. Tata cara sholat gerhana juga tidak jauh berbeda dengan sholat pada umumnya. Perbedaannya terletak pada waktu pelaksanaannya yang lebih lama.

3. Bertaubat

Setelah melakukan salat gerhana bulan, umat Islam juga bisa memanjatkan doa, berserah diri untuk bertaubat kepada Allah Swt.

Imam al-Ghazali dalam risalahnya berjudul Al-Adab fid Din dalam Majmu'ah Rasail al-Imam menyebutkan beberapa adab menyambut gerhana bulan. Antara lain: senantiasa memiliki rasa takut, menampakkan rasa haru, segera bertobat, tidak bersikap mudah bosan, segera melaksanakan sholat, berlama-lama dalam sholatnya dan merasakan adanya peringatan.

2. Dimensi Sosial

a. Bersedekah

Bersedekahlah untuk mendapatkan pahala dan ridho dari Allah Swt. Umat Islam bisa bersedekah kepada fakir miskin hingga yatim piatu. Meskipun sesungguhnya sedekah dapat dilakukan, namun sedekah juga bagian dari amalan yang dianjurkan dilakukan ketika terjadi gerhana bulan.

Amalan sedekah saat gerhana bulan diriwayatkan dalam Hadist Riwayat (HR) Bukhari dari Aisyah Radiyallahu Anha. Berikut hadist lengkapnya,

"Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo'alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah salat dan bersedekahlah."

Hadis ini jelas mengajarkan dua kesalehan secara bersamaan, yaitu salat dan sedekah. Kesalehan spritual diekspresikan melalui salat, zikir, takbir, dan istigfar. Sedangkan kesalehan sosial diwujudkan dalam bentuk sedekah atau bantuan sosial lainnya berdasarkan kebutuhan.

b. Mengerjakan Kebaikan

Kebaikan yang dimaksud dalam hal ini adalah mencakup semua kebaikan, baik dalam hubungannya dengan Allah Swt., Sesama manusia, dan terhadap lingkungan alam sekitar. Bahkan selain kebaikan yang disebutkan di atas masih ada kebaikan bersedekah dengan merawat lingkungan sekitar. Misalnya, menanam pohon untuk bersedekah udara bersih.

Meskipun melakukan kebaikan tidak harus menunggu gerhana bulan, namun dianjurkan untuk mengerjakan kebaikan saat gerhana bulan. Memang kebaikan dapat dilaksanakan kapan saja. Namun, dengan fenomena gerhana bulan mengajarkan kita berbagai terangnya kehidupan laksana rembulan yang hadir menerangi gelapnya malam.

Selain amalan syariat berupa, salat, zikir, istigfar amalan-amalan sosial juga sangat dianjurkan. Gerhana bulan mengajarkan tentang syukur dan sadar akan kebesaran Allah yang mencipta langit dan bumi serta seluruh planet dan susunan tata surya. Oleh karena itu, syukur dan sadar itu diekspresikan dengan membantu sesama makhluk Tuhan di bumi.

PENUTUP

Gerhana (matahari dan bulan) merupakan fenomena alam, ayat-ayat Tuhan yang harus dibaca. Pada dasarnya gerhana matahari dan gerhana bulan adalah mengingatkan akan kebesaran Allah. Matahari bersinar di siang hari. Sedangkan gerhana bulan terjadi di malam hari.

Melakukan aktivitas kebaikan dalam rangka merespon fenomena alam raya merupakan tanda syukur atas nikmat Allah. Setidaknya, kita belajar dari ketaatan dan kebaikan rembulan. Yaitu membawa cahaya di kegelapan malam. Kita diharapkan menjadi cahaya yang menerangi kegelapan spritual, sosial, dan intelektual, serta menjadi media hidayah.

Posting Komentar

0 Komentar