PROLOG
Begitu ketertarikan manusia terhadap harta sehingga seringkali harta dan rezeki itu identik. Ketika orang pergi merantau meninggalkan kampung halaman, atau keluar meninggalkan rumah di pagi hari untuk bekerja itu identik dengan mencari rezeki. Itu sesungguhnya tidak salah. Akan tetapi, persepsi semacam ini mempersempit makna dan cakupan rezeki.
Padahal, mendapatkan tetangga yang baik itu adalah salah satu rezeki. Sebaliknya, bertetangga dengan orang jahat itu satu musibah. Begitu pula mendapatkan pasangan hidup yang baik, anak yang patuh dan saleh, dan halal, banyak, dan berkah, dan kawan yang baik itu adalah rezeki.
Namun, jika memperoleh keadaan yang sebaliknya maka itu musibah dan fitnah. Oleh karena Nabi Saw. mengajarkan doa untuk berlindung dari keadaan yang buruk dalam memperoleh kelima hal tersebut. Kadang kita kurang bahkan tidak menyadari nikmat yang sedang kita dapatkan. Hal itu terjadi karena materialisme menggerogoti cara pandangan dan kehidupan manusia modern.
DOA MEMOHON PERLINDUNGAN
Nabi Saw. mengajarkan bahwa ada lima hal yang dapat menjadi fitnah dunia dan azab di akhirat. Jika seseorang memperoleh hal-hal tersebut dengan baik maka kelimanya akan menjadi nikmat yang wajib disyukuri. Sebaliknya wajib berdoa memohon perlindungan kepada Allah dari keburukannya. Terkait dengan hal tersebut, Rasulullah Saw. mengajarkan doa ini.
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوْءِ، وَمِنْ زَوْجٍ تُشَيِّبُنِيْ قَبْلَ المَشِيْبِ، وَمِنْ وَلَدٍ يَكُوْنُ عَلَيَّ رَبًّا، وَمِنْ مَالٍ يَكُوْنُ عَلَيَّ عَذَابًا، وَمِنْ خَلِيْلٍ مَاكِرٍ عَيْنُهُ تَرَانِيْ، وَقَلْبُهُ يَرْعَانِيْ، إِنْ رَأَى حَسَنَةً دَفَنَهَا، وَإِذَا رَأَى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا
Allaahumma innii a’uudzu bika min jaarissuu’, wa min zaujin tusyayyibunii qoblal masyiib, wa min waladin yakuunu ‘alayya robban, wa min maalin yakuunu ‘alayya adzaaban, wa min kholiilin maakirin, ‘ainuhu taroonii, wa qolbuhu yar’aanii, in ro’aa hasanatan dafanahaa, wa idzaa ro’aa sayyi’atan adzaa’ahaa.
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang buruk, dan dari istri yang membuatku beruban sebelum waktunya, dan dari anak yang menguasaiku, dan dari harta yang menjadi azab atas ku, dan dari teman dekat pembuat makar, matanya melihatku sedang hatinya mengawasiku, jika ia melihat kebaikan pada diriku maka ia menyembunyikannya, dan jika ia melihat keburukan maka ia menyebarkannya".
(HR. Ath-Thabrani dari Abu Hurairah r.a., Ash-Shahihah: 3137. "Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, dahulu diantara doa yang dibaca Rasulullah Saw. adalah: (doa di atas).
1. Tetangga yang buruk
Manusia adalah makhluk sosial yang hidup berdampingan. Tidak mungkin kita hidup sendiri ada banyak orang disekitar kita. Kita memiliki keluarga, teman, sahabat.
Ketika kita bermasyarakat tentunya kita akan tinggal di suatu tempat dan ada orang yang juga tinggal berdekatan dengan dan mereka adalah tetangga kita.
Tinggal merantau jauh dari keluarga tetangga adalah saudara dekat yang akan membantu disaat kita susah sakit dan terkena musibah. Jadi sepatutnya kita men jaga hubungan baik dengan tetangga.
Tetangga adalah rezeki. Mendapatkan tetangga yang baik adalah rezeki yang baik pula. Demikian pula sebaliknya. Jika mendapatkan tetangga yang buruk berarti ujian dan memohon agar dijauhkan oleh Allah Swt. dari tetangga yang buruk.
Memiliki tetangga yang baik adalah rezeki dan anugerah dari Allah yang harus di syukuri karena rezeki bukan hanya materi yang berbentuk uang dan barang. Allah hadirkan orang baru yang baik di sekitar kita mengisi hari hari kita untuk menuai pahala.
2. Istri yang membuat suami beruban sebelum waktunya
Kalimat ini merupakan gaya bahasa kiasan (majazi) namin bisa juga bermakna hakiki. Makna kiasannya adalah membuat suami menjadi susah dan berpikir keras.
Sebuah hadis menyebutkan bahwa, “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah istri yang salihah.” (HR Muslim dari Abdullah bin Amr).
Allah menciptakan wanita beserta dengan keindahannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Keindahan itu tak hanya dapat dinilai dari fisik semata tetapi juga hati dan pemikiran. Sebagai perhiasan, maka hendaklah dijaga dan dirawat.
Mendapatkan pasangan yang cocok dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah nikmat. Sebaliknya, mendapatkan pasangan yang pendurhaka terhadap Allah dan Rasiu-Nya adalah musibah dan ujian. Oleh karena itu, Nabi Saw. mengajarkan agar kita berdoa memohon perlindungan kepada Allah dari istri yang membuat susah dan tidak tenang.
3. Harta yang menjadi sebab azab
Allah mengingatkan kepada orang yang beriman untuk berhati-hati agar tidak dilalaikan oleh harta. Harta adalah ujian. Apakah diperoleh dengan cara dan dari sumber yang halal lagi baik. Selain cara memperolehnya, juga pengelolaan dan pemanfaatannya menjadi bagian yang harus dipertanggungjawabkan.
Sahabat yang mulia, ‘Amr bin al-‘Ash r.a berkata:
بَعَثَ إِلَىَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : “خُذْ عَلَيْكَ ثِيَابَكَ وَسِلاَحَكَ ثُمَّ ائْتِنِى “. فَأَتَيْتُهُ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَصَعَّدَ فِىَّ النَّظَرَ ثُمَّ طَأْطَأَهُ فَقَالَ : “إِنِّى أُرِيدُ أَنْ أَبْعَثَكَ عَلَى جَيْشٍ فَيُسَلِّمَكَ اللَّهُ وَيُغْنِمَكَ وَأَرْغَبُ لَكَ مِنَ الْمَالِ رَغْبَةً صَالِحَةً “. قَالَ : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَسْلَمْتُ مِنْ أَجْلِ الْمَالِ وَلَكِنِّى أَسْلَمْتُ رَغْبَةً فِى الإِسْلاَمِ وَأَنْ أَكُونَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . فَقَالَ “: يَا عَمْرُو نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ “
Rasûlullâh Saw. mengutus seseorang kepadaku, beliau memerintahkan, “Ambillah pakaianmu dan senjatamu, lalu menghadaplah kepadaku!” Aku pun mendatangi beliau ketika beliau sedang berwudhu’. Beliau melihat-lihat kepadaku, kemudian bersabda, “Aku akan mengutusmu memimpin satu pasukan, semoga Allâh akan menyelamatkanmu dan memberimu harta rampasan perang. Aku berharap engkau menyukai harta dengan kesukaan yang baik”. ‘Amr bin al-Ash mengatakan, “Wahai Rasûlullâh, aku tidak masuk Islam karena harta. Tetapi aku masuk Islam karena mencintai Islam dan agar aku bersama Rasûlullâh “. Maka beliau bersabda, “Hai Amr, sebaik-baik harta yang baik adalah untuk orang yang shalih”.
Ya, sebaik-baik harta yang baik adalah untuk orang yang shalih. Karena orang shalih mengetahui hak-hak harta, sehingga dia akan melaksanakan hak harta dengan sebaik-baiknya. Harta adalah sarana, maka orang shalih menjadikannya sebagai sarana ketaatan. Harta adalah alat, maka orang shalih menjadikannya sebagai alat kebaikan. Harta adalah kendaraan, maka orang shalih menjadikannya sebagai kendaraan menuju kemuliaan di hari Pembalasan, sehingga mereka meraih derajat yang tinggi di sisi Rabb mereka.
4. Anak yang menguasai
Salah satu tanda hari kiamat adalah ketika anak-anak menjadi raja atas orang tuanya. Sebaliknya, anak saleh adalah rezeki dan nikmat Allah. Ia adalah investasi ukhrawi bagi kedua orang tuanya. Salah satu amal yang pahalanya tidak terputus walaupun keduanya sudah wafat.
Anak sendiri merupakan anugerah yang dititipkan oleh Allah kepada sepasang manusia untuk dirawat, dan dibesarkan dengan baik, karena suatu saat amanah tersebut harus dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah selaku Pemilik makhluk.
Selain diberi didikan yang baik, kita juga perlu memanjatkan doa untuk anak agar kelak cara kita dalam merawat dan membesarkannya selalu dilingkupi keberkahan dan kebaikan di jalan yang Allah ridha. Lalu pertanyaanya, bagaimana bacaan doa untuk anak sholeh agar ia senantiasa menjadi pribadi yang berbakti?
Dikutip dari buku Doa Mengharapkan Anak Saleh oleh Hendri Kusuma Wahyudi (2010), seorang muslim bisa membaca doa sebagai berikut: “Rabbi hab li minas shaalihin”, yang artinya ya tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang sholeh. Selain bacaan doa tersebut, masih ada banyak lagi doa untuk anak sholeh lainnya yang bisa kita amalkan.
5. Teman yang makar
Sungguh bersahabat dengan orang-orang yang saleh adalah nikmat yang sangat besar. Punya sahabat yang saleh adalah rezeki yang besar. Umar bin Khattab berkata,
ما أعطي العبد بعد الإسلام نعمة خيراً من أخ صالح فإذا وجد أحدكم وداً من أخيه فليتمسك به
“Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (sesama muslim) yang saleh."
"Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh, maka peganglah erat-erat." (Quutul Qulub)
Memiliki sahabat yang saleh adalah dambaan semua orang, karena persahabatannya akan langsung terbawa ke akhirat. Sabda Rasul Saw:
"Sebaik-baik sahabat di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap temannya dan sebaik-baik jiran di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap jirannya/tetangganya ini” (HR. al-Hakim)
Sahabat yang baik adalah sahabat yang saling mencintai karena Allah. Saling menyayangi karena Allah dan akan bersama-sama di surga.
Sabda Rasul Saw.: “Di sekitar Arsy-Nya ada menara-menara dari cahaya, di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya, wajah-wajah mereka pun bercahaya. Mereka bukan para nabi dan syuhada, hingga para nabi dan syuhada pun iri kepada mereka.” Ketika para sahabat bertanya, Rasulullah menjawab, ‘Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling berkunjung karena Allah.” (HR. Tirmidzi).
Teman yang baik adalah teman yang selalu mengingatkan kita akan ketaatan kepada Allah. Teman yang saling menasihati sahabat, yang setia baik dalam keadaan suka dan duka.
Sabda Rasul saw.: “Teman yang paling baik adalah apabila kamu melihat wajahnya, kamu teringat akan Allah, mendengar kata-katanya menambahkan ilmu agama, melihat gerak-geriknya teringat mati. Sebaik-baik sahabat di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap temannya dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap tetangganya.” (HR. Hakim).
Hidup kita ini akan berhubungan dengan siapa kita bergaul, dengan siapa kita bersahabat. Maka hal itulah keberadaan kita.
Sabda Rasulullah saw.: “Seseorang itu tergantung pada agama sahabatnya, maka perhatikanlah salah seorang dari kamu kepada siapa dia bersahabat.” (HR. Abu Daud).
Itu sebabnya, Al-Quran memberikan arahan untuk bersama lingkungan yang kondusif, yaitu bersama orang-orang yang jujur. Dalam teori pendidikan, lingkungan merupakan faktor penting yang menentukan perkembangan peserta didik. Singkatnya, teman yang suka "suka menggunting dalam lipatan", atau "memancing di air keruh" itu menjadi masalah dalam interaksi sosial.
.
Penutup
Mendapatkan tetangga yang baik, pasangan yang sejalan dalam ketaatan, anak saleh, harta yang halal lagi baik dan pemanfaatannya baik, serta sahabat yang baik, semua itu adalah rezeki yang baik. Sebaliknya, jika itu tidak baik maka itu musibah dan fitnah. Bagi umat Rasulullah Saw., mereka diajarkan doa memohon perlindungan dari buruknya tetangga, istri, anak, harta, dan teman.
Wallahu A'lam.

0 Komentar