MENGURUS HATI


Penulis: Muhammad Yusuf

Dosen UIN Alauddin dan STAI Al-Furqan Makassar

Manggarupi-Gowa, 06-05-2021

Pendahuluan

Salah satu urusan yang paling penting namun tak kelihatan adalah mengurus dan membersihkan hati. Laksana cermin yang tak terurus akan berdebu, kotor, dan kabur hingga mengalami kerusakan yang parah. Hati hati diurus akan terarah. Sebaliknya, hati yang tidak diurus akan ditumbuhi berbagai penyakit. Bagaimana merawat hati?

Berdasarkan hadis, ada terapi menjaga hati dari penyakit akut, yaitu membaca Al-Qur'an dan mengingat kematian. Dalam konteks ini, saya lebih fokus pada mengingat kematian, sebab poin membaca Al-Qur'an sudah dikemukakan pada tulisan sebelumnya. 

Sumber Penyakit Hati

Di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika baik, maka akan baik pula seluruh bagian tubuhnya. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruhnya. Ketahuilah bahwa ia adalah hati. Apabila hati kita baik atau bersih, maka baik pula iman dan amalnya. Namun, dari mana sumber  munculnya penyakit hati itu?

Rasulullah Saw. pun mengingatkan, "Tiga hal yang merupakan sumber segala dosa, maka hindarilah dan berhati-hatilah terhadap ketiganya. Hati-hati terhadap keangkuhan karena keangkuhan membuat Iblis enggan bersujud kepada Adam, dan hati-hatilah terhadap tamak (rakus) karena ketamakan mengantar Adam memakan buah terlarang, dan berhati-hatilah terhadap iri hati karena kedua anak Adam (Qabil dan Habil) salah seorang di antaranya membunuh saudaranya akibat dorongan iri hati." (HR Ibn Asakir melalui Ibn Mas'ud).

Karena tiga penyakit hati (angkuh, rakus, iri hati) itu pula, kita terlalu sibuk memperhatikan orang lain, lupa dan tak sadar tentang diri sendiri. Mengkritisi diri merupakan ciri kearifan, pembersih tempelan dosa di beningnya jiwa. Sungguh malang mereka yang sibuk menilai orang, menyalahkan, dan menghakimi seolah dirinyalah yang paling benar.

Kita harus sepenuhnya lebih melihat ke dalam diri, mempelajarinya, mengikuti mata batin suci (nurani) yang selalu menuntun kepada kebenaran. Bila telah mengenali diri maka kita akan mengenal Tuhan. Allah Swt. berfirman: "Padahal, mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus," (QS Al Bayyinah: 5).

Mengurus Hati yang Berkarat

Di dalam satu hadis, Nabi Muhammad Saw. pernah berkata bahwa hati manusia dapat berkarat sebagaimana berkaratnya besi.

عَنِ ابن عُمَرَ رَضَيِ اللٌهُ عَنهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللٌهِ صَلَيِ عَلَيهِ وَسَلٌمَ اِنٌ هذِهِ القُلُوبَ تَصدَأ الحَدِيدُ اِذَا أصَابَهُ المَاءُ، قِيلَ يَارَسُولَ اللٌهِ وَمَا جِلآوُهَا ؟ قَالَ كَثُرَةُ ذِكرِ الَموتِ وَتلآوَةُ القُرانِ. (رواه البيهقي في شعب الإيمان)

Dari Abdullah bin Umar r.a. berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda, "Sesungguhnya hati ini dapat berkarat sebagaimana berkaratnya besi bila terkena air." Beliau ditanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana cara membersihkannya?" Rasulullah bersabda, "Memperbanyak mengingat maut dan membaca Al-Qur'an." (HR Al-Baihaqi).

Dalam Kitab Fadhail Quran karya Syeikh Maulana Zakariyya Al-Kandahlawy dijelaskan penyebab hati berkarat adalah banyaknya dosa dan lalai dari zikrullah. Dengan memperbanyak membaca Alquran dan mengingat maut, hati akan menjadi bersinar kembali.

Hati itu bagaikan cermin, semakin kotor cermin itu maka semakin redup sinar makrifat yang dipantulkannya. Sebaliknya, semakin bersih cermin tersebut, semakin terang pantulan sinar makrifatnya. Maka itu, barang siapa terperosok ke dalam godaan nafsu maksiat dan tipu daya setan, maka ia jauh dari makrifatullah.

Guna membersihkan hati yang kotor, para ulama suluk (tasawuf) menganjurkan agar melakukan mujahadah dalam riyadhah, zikrullah, dan beribadah. Disebutkan dalam beberapa hadis, apabila seseorang hamba berbuat dosa, maka muncullah satu titik hitam di hatinya. Jika ia tidak sungguh-sungguh bertaubat, maka akan muncul titik hitam lainnya, dan demikianlah seterusnya.

Jika dosa yang dilakukannya begitu banyak, maka hati akan menjadi hitam sehingga hilanglah keinginan untuk beramal salih. Bahkan hati selalu condong ke arah kejahatan. Alquran telah menyebutkan tentang hal ini dalam ayat:

كَلَّا‌ بَلۡ ۜ رَانَ عَلٰى قُلُوۡبِهِمۡ مَّا كَانُوۡا يَكۡسِبُوۡنَ

"Sekali-kali tidak, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka". (QS Al Muthaffifin (83): 14).

Rasulullah Saw. bersabda, "Aku tinggalkan kepada kalian dua nasihat, yang satu berbicara, dan yang lain diam. Yang berbicara adalah Alquran dan yang diam adalah mengingat maut."

Nasihat-nasihat tersebut akan bernilai bagi mereka yang siap menerima dan menganggapnya penting. Sedangkan bagi orang yang menilai bahwa agama tidak berharga dan hanya menghalangi kemajuan, tentu tidak akan memedulikan nasihat itu, apalagi mengamalkannya.

Imam Hasan Al-Bashri berkata: "Orang-orang dahulu memahami Al-Qur'an itu sebagai firman Allah. Sepanjang malam mereka sibuk bertafakur dan ber-tadabur terhadap Al-Qur'an (memikirkan isi kandungan Al-Qur'an), dan sepanjang harinya mereka sibuk mengamalkannya. Sedangkan kalian hanya memperlihatkan huruf, fathah, dan dhamah-nya, tanpa menganggapnya sebagai firman Allah, sehingga tidak pernah mentafakuri dan men-tadaburinya."

Jadi, membaca Al-Qur'an yang memberikan efek secara signifikan adalah meyakini kebenaran Al-Qur'an dan menghayati serta mengamalkan petunjuknya. 

Mengingat Kematian

Dunia tidak abadi, dan pasti akan binasa, begitu juga dengan penghuninya, termasuk manusia. Tidak ada tempat berlari dan bersembunyi dari kematian. Seorang bisa saja berlari dari segala sesuatu, lari dari bencana yang akan datang, lari dari penagih hutang, lari dari kejaran mara bahaya, tapi tidak dengan kematian. Walaupun ia bersembunyi di balik benteng yang kokoh, mendaki langit dengan alat canggih tidak akan bisa menghindarkan seseorang dari kematian. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah Swt.:

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (An-Nisa`: 78).

Ajal kematian setiap manusia telah ditulis oleh Allah pada saat dia masih berupa janin di dalam rahim ibunya dalam umur seratus dua puluh hari, kematian itu ditulis bersamaan dengan rizki, amal, kebahagiaan, dan kesengsaraannya. 

وَمَاتَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ

“Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (Luqman: 34).

Ketika ajal datang, kematian menjumpainya, dia merasa tidak mungkin selamat, dia berharap diberi peluang dan kesempatan untuk memperbaiki apa yang selama hidup di dunia ia lalaikan, apa yang selama ini ia tinggalkan, akan tetapi nasi sudah menjadi bubur. Waktu yang berlalu tidak mungkin diputar ulang dan penyesalan selalu datang di belakang, tinggallah waktu penentuan.Allah Swt. berfirman :

حَتَّى إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتَ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ . لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلآ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Rabb-ku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak. Sesungguh-nya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (Al-Mu`mi-nun: 99-100).

Agar penyesalan seperti ini tidak terjadi pada kita, maka yang mesti kita lakukan adalah memanfaatkan detik-detik umur dengan mengisinya dengan kebaikan, memenuhi waktu yang  kita miliki dengan amalan ketakwaan, karena itulah satu-satunya bekal bagi kita di perjalanan panjang, alam akhirat, di mana awalnya dan pintu gerbangnya adalah kematian. Dengan mengingat kematian, lebih-lebih memperbanyak mengingatnya, mendorong seorang Muslim untuk mempersiapkan bekal guna menyongsong datangnya kematian, karena dia sadar, bahwa dirinya pasti akan mati.

Karena hikmah inilah, maka Rasulullah mengajak kita memperbanyak mengingat kematian. 

أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ

“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yakni kematian.” Imam ad-Daqqaq berkata: “Barangsiapa memperbanyak mengingat mati, dia dikaruniai tiga perkara: Menyegerakan taubat, hati yang qana’ah, dan semangat beribadah.” (At-Tadzkirah, al-Qurthubi 1/23).

Lalu faktor-faktor apa sajakah yang membantu seorang Muslim agar dia tidak melupakan kematian? 

Pertama, Ziarah kubur. Ini merupakan faktor penting yang mengingatkan seseorang akan kematian, penziarah akan menyadari bahwa dirinya akan menyusul dalam waktu yang tidak jauh, nasibnya akan sama dengan orang-orang yang diziarahinya yang ada di dalam kubur. Keadaan ini membuatnya bersiap diri sebaik mungkin untuk menghadapinya.

Dari Abu Hurairah r.a. berkata :

اِسْتَأْذَنْتُ رَبِّيْ فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا، فَلَمْ يَأْذَنْ لِيْ، وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِي أَنْ أَزُوْرَ قَبْرَهَا، فَأَذِنَ لِيْ، فَزُوْرُوا الْقُبُوْرَ، فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ. 

“Aku meminta izin kepada Rabb-ku untuk memohon ampun buat ibuku tetapi Dia tidak mengizinkanku. Dan aku meminta izin untuk berziarah ke kuburnya dan Dia mengizinkanku. Maka berziarah kuburlah, karena ia mengingatkan mati.” (HR. Muslim. Mukhtashar Shahih Muslim, no. 495).

Imam al-Qurthubi berkata: “Para ulama berkata, ‘Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati dari-pada ziarah kubur, lebih-lebih jika hati tersebut membatu.” Artinya, ziarah kubur bertujuan melembutkan hati, sehingga menjadi hati yang suci. Ziarah kubur mempunyai tujuan. Bagi ahli kubur memperoleh permohonan ampunan dan rahmat Allah melalui doa mereka yang berziarah. Sedang bagi peziarah (zairah) bertujuan mengingatkan akan kematian. 

Kedua, Mengingat sakaratul maut dan merenungkannya. Sakaratul maut adalah saat-saat yang berat bagi seorang Mukmin, karena inilah momen yang menentukan baginya, apakah dia meraih husnul khatimah atau sebaliknya su`ul khatimah. Marilah kita menyimak gambaran sakaratul maut yang dipaparkan oleh al-Qur`an. Firman Allah Swt. :

كَلآ إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَ . وَقِيلَ مَنْ رَاقٍ . وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُ . وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِ . إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمَسَاقُ

“Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sam-pai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya), ‘Siapakah yang dapat menyembuhkan?’ Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertautnya betis (kiri) dan betis (kanan), kepada Rabb-mu lah pada hari itu kamu dihalau.” (Al-Qiyamah: 26-30).

Ketiga, Memahami hakikat kehidupan dunia dan hakikat kehidupan Akhirat. Simaklah perbandingan akhirat dengan dunia seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah di mana beliau bersabda :

وَالله ، مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هذه -وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَابَةِ- فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ

“Demi Allah, dunia dibandingkan dengan akhirat tidak lain seperti salah seorang darimu mencelupkan jarinya ini dan Yahya memberi isyarat dengan telunjuknya ke laut. Lihatlah air yang menempel di jarinya.” (HR. Muslim dari al-Mustaurid bin Syaddad, Mukh-tashar Shahih Muslim no. 2082).

Memahami hakikat kehidupan dunia dan hakikat kehidupan Akhirat. Simaklah perbandingan akhirat dengan dunia seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah di mana beliau bersabda :

وَالله ، مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هذه -وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَابَةِ- فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ

“Demi Allah, dunia dibandingkan dengan akhirat tidak lain seperti salah seorang darimu mencelupkan jarinya ini dan Yahya memberi isyarat dengan telunjuknya ke laut. Lihatlah air yang menempel di jarinya.” (HR. Muslim dari al-Mustaurid bin Syaddad, Mukh-tashar Shahih Muslim no. 2082).

Rasulullah Saw. bersabda :اللهم إِنَّ الْعَيْشَ عَيْشُ الآخِرَةِ “Ya Allah, sesungguhnya kehidupan adalah kehidupan akhirat.” (HR. al-Bukhari dari Anas, Mukhtashar Shahih al-Bukhari no. 1167).

Keterangan

Pada poin pertama, ziarah kubur. Ziarah kubur merupakan satu kebiasaan Nabi Saw. Selain bertujuan mendoakan muslimin yang telah wafat, ziarah kubur mengingatkan akan kepastian adanya kematian dan dekatnya kehidupan itu dengan kematian. Hal ini diharapkan akan menghadirkan kesadaran dalam hati bahwa hanya dengan hati yang bersih dan sehat akan berbahagia menghadap kepada Rabb-nya.

Hanya orang datang menghadap kepada Allah dengan hati yang bersih dan berserah serta tunduk sepenuhnya kepada Allah yang akan selamat. Hal ini diterangkan asy-Syu’ara ayat 88-89:

يوم لا ينفع مال ولا بنون (88) إلا من أتى الله بقلب سليم

“Hari ketika tiada lagi berguna harta dan anak-anak kecuali orang-orang yang datang menghadap Allah membawa hati yang selamat.”

Poin kedua, mengingat sakaratul maut dan merenungkannya. Tak heran sakaratul maut menjadi sesuatu yang ditakuti dan dijauhi setiap makhluk yang bernyawa, sebagaimana yang digambarkan dalam Al-Qur’an, “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya,” (QS Qaf [50]: 19).  

Banyak ayat dan hadits yang menggambarkan betapa beratnya sakaratul maut, terutama yang dialami oleh hamba-hamba zalim dan ahli maksiat. Di antaranya adalah ayat berikut, “Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang zalim berada dalam tekanan sakaratul maut, sedangkan para malaikat memukuli dengan tangannya (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu.” Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya,” (QS Al-An‘am [6]: 93).  

Beratnya kematian juga tergambar dari perbincangan singkat antara Sayidina ‘Umar ibn Al-Khathab dengan Ka‘b. Pria yang tengah menjabat sebagai khalifah kedua itu bertanya, “Wahai Ka‘b, sampaikanlah kepadaku tentang maut.” Ia menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, maut itu bagaikan sebuah pohon yang banyak durinya dimasukkan ke dalam perut ibnu Adam. Setiap duri memegang satu urat darinya. Kemudian ditarik sekaligus oleh seorang laki-laki yang sangat kuat. Maka terputuslah semua urat yang menyangkut pada duri. Tertinggallah urat-urat yang tersisa.”

Poin ketiga, memahami hakikat kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.“Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku.” (Q.S. adz-Dzaariyaat: 56)

Dalam konteks manusia, ibadah memiliki jangkauan yang luas tidak hanya terbatas pada ibadah-ibadah personal yang bersifat ketauhidan antara manusia dengan Allah Swt., seperti ibadah shalat, dzikir, maupun tilawah Al-Qur’an. Pada dasarnya, akhlak terpuji menebar kasih sayang kepada sesama makhluk Allah, baik itu manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan juga merupakan refleksi ibadah kepada Sang Pencipta. Alkisah, dahulu kala ada seorang wanita pezina yang meskipun bergelimang dosa namun atas ijin Allah Swt. mendapat ampunan dan diberi balasan surga karena kebaikannya memberi minum dan merawat seekor anjing yang kehausan dan hampir mati.

Lalu, apakah ibadah yang telah dilakukan dengan kesungguhan hati dan keikhlasan menjamin kita meraih surga? jawabannya “belum tentu”. Amalan yang kita lakukan tidak akan mampu membayar kenikmatan Allah Swt. yang berlimpah apalagi untuk menebus surga.

Dari Abu Hurairah r.a., bahwa Nabi Saw. bersabda: “Tidak ada seseorang yang dimasukkan ke surga oleh amalnya. “Lalu ada yang bertanya: “Tidak pula engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Tidak pula saya, kecuali Tuhanku melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.” (HR. Muslim)

Dalam hal ini, Rasulullah saw merupakan suri tauladan terbaik seorang hamba yang begitu bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah Swt. walaupun, sebagai manusia paling mulia, Beliau telah dijanjikan surga. Rasulullah selalu menghabiskan waktu berjam-jam untuk menjalankan shalat malam sampai kakinya bengkak dan berdzikir memohon ampun minimal 70 kali sehari dengan tujuan untuk bersyukur kepada Allah Swt. atas semua karunia-Nya. 

Penutup

Semoga setiap Muslim diberi taufik agar dapat selalu membaca, merenungkan, memahami, mengajarkan, dan mengamalkan Al-Qur'an serta senantiasa mengingat kematian. Berinteraksi dengan Al-Qur'an dan mengingat kematian adalah terapi hati untuk menjaganya dari berbagai penyakit hati.

Agar hati tidak lalai dengan kehidupan maka hati mesti dituntun untuk selalu mengingat lematian. Untuk mengingat kematian maka berbagai tips dan amalan yang dapat dilakukan dengan ziarah kubur, merenungkan sakaratul maut, dan hakikat tujuan kehidupan. Semoga kita kelak menghadap kepada Allah Swt.dengan hati yang salim.

Wallahu A'lam

Posting Komentar

0 Komentar