Dosen UIN Alauddin dan STAI Al-Furqan Makassar
Manggarupi-Gowa, 01-05-2021
PROLOG
Sepuluh terakhir Ramadhan segera masuk. Hari ini kita sedang berada di hari ke-19 Ramadhan 1442 H. Artinya 10 pertama telah berlalu, dan 10 pertengahan segera terlewati, serta 10 terakhir segera tiba.
Lalu, apa yang mesti kita lakukan? 10 terakhir Ramadhan diterangkan secara khusus oleh berbagai riwayat atau hadis-hadis Rasulullah Saw. Amalan-amalan Rasulullah Saw. di 10 terakhir Ramadhan pun ada perbedaan khusus dengan amalan-amalan pada hari sebelumnya, misalnya i'tikaf di 10 terakhir Ramadhan.
10 TERAKHIR RAMADHAN
Di dalam Kitab Fathul Mu’in disebutkan ada tiga amalan utama yang mesti dilakukan selama sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Yang pertama adalah memperbanyak sedekah, yang kedua mencukupi kebutuhan keluarga, dan yang ketiga berbuat baik kepada kerabat dan tetangga.
Rasulullah Saw. pun memperbanyak ibadah dan amalannya pada sepuluh malam terakhir. Di antaranya adalah membangunkan keluarganya untuk salat malam dan menghindari tempat tidur dengan memisahkan diri dari istri-istrinya.
Selain menjalankan ibadah salat wajib dan puasa Ramadhan, umat Islam bisa menunaikan salat sunnah, membaca Al-Qur'an, memperbanyak dzikir, dan memperbanyak doa. Imam An-Nawawi mengatakan, waktu terbaik membaca Al-Qur'an adalah di penghujung malam dan setelah salat subuh.
Yang paling menjanjikan dari 10 hari terakhir di bulan ramadhan adalah malam Lailatul Qadar. Saking mulianya, malam Lailatul Qadar bahkan lebih baik dari 1.000 bulan atau 83 tahun. Para ulama menyebut malam Lailatul Qadar jatuh pada hari ganjil, yakni di antara hari ke-21, 23, 25, atau 27.
Nah, untuk memperoleh malam Lailatul Qadar, seseorang diminta untuk melaksanakan i’tikaf. Seperti dalam hadits Rasulullah Saw. yang berbunyi:
“Rasululah i’tikaf pada malam-malam 10 terakhir Ramadhan dan bersabda: Carilah malam Lailatul Qadar pada malam-malam terakhir Ramadhan.” (hadis ini melalui sanad sayyidah Aisyah r.a.)
Terkait situasi pandemi yang masih kita rasakan sekarang, sebagian ulama mazhab Syafi’i memperbolehkan i’tikaf di ruangan dalam rumah yang dikhususkan untuk salat. Hal ini sesuai dengan prinsip, “Jika salat sunnah saja yang paling utama dilakukan di rumah, maka i’tikaf di rumah semestinya bisa dilakukan.” Tahun lalu masjid ditutup karena pandemi covid-19, maka menurut pendapat ini, ruang mushalla di rumah dapat dilakukan i'tikaf.
CIRI-CIRI & CARA MEMPEROLEH LAILATUL QADAR
Mendapatkan malam Lailatul Qadar tentu bukan urusan yang mudah. Namun, berdasarkan rujukan dari berbagai sumber, terdapat ciri-ciri yang bisa kita kenali untuk mendapatkannya. Meski tentu lailatul Qadar tetap menjadi salah satu misteri dalam Islam.
Meskipun demikian, ada ulama mengidentifikasi tanda-tanda datangnya lailatul Qadar. Malam Lailatul Qadar ditandai dengan situasi langit bersih, udara tidak dingin atau panas, langit tidak berawan, tidak ada hujan, bintang tidak nampak dan pada siang harinya matahari bersinar tidak begitu panas. Segalanya tampak tenang dan damai.
Imam Al-Ghazali punya hitung-hitungan tersendiri untuk mengenali Lailatul Qadar. Caranya dengan melihat hari pertama bulan Ramadhan. Apabila hari pertama jatuh pada hari Rabu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-29.
Bila hari pertama jatuh pada hari Senin, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-21. Jika jatuh pada hari Kamis, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-25. Jika hari pertama jatuh pada hari Selasa atau Jumat, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27. Terakhir, bila jatuh pada hari Sabtu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-23.
Seperti diketahui, Abu Hamid al-Gazali di merupakan salah seorang sufi dengan capaian puncak spritualnya, mahabbah. Pengalaman dan hitung-hitungan tentang kedatangan lailatul Qadar di atas itu tentu berdasarkan pengalaman pribadi beliau.
Untuk mendapatkan kemuliaan malam Lailatul Qadar, Nabi Muhammad Saw. menyarankan umat muslim untuk terus beribadah di 10 hari terakhir Bulan Ramadhan. Kalau ini kita jadikan patokan maka besok sudah mulai masuk 10 terakhir Ramadhan.
Namun, ulama tidak menetapkan kedatangannya pada malam tertentu. Ini karena Allah Swt. tidak memberitahukan kapan tepatnya malam penuh kemuliaan tersebut datang. Namun, berdasarkan hadis, lailatul Qadar terjadi di 10 terakhir dan lebih berpeluang terjadi di malam-malam ganjil.
Sabda Rasulullah: "Carilah malam lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh terakhir bulan Ramadhan." (HR. Imam Bukhari).
AMALAN
Dari 'Aisyah r.a., ia berkata, "Dahulu Rasulullah Saw. bersungguh-sungguh di 10 terakhir di bulan Ramadhan lebih daripada bersungguh-sungguhnya beliau di hari-hari lainnya." (HR. Muslim & Ahmad).
Begitu juga Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari sahabat 'Aisyah r.a. bahwasannya "dahulu Nabi Saw. apabila telah masuk 10 terakhir beliau mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malam-malamnya dan membangunkan keluarganya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Berdoa
Rasulullah Saw. juga memerintah Ummul Mukminin Aisyah untuk berdoa di malam-malam itu. Doa Rasulullah untuk Mendapatkan Lailatul Qadar
عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ : قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا ؟ قَالَ : قُولِي : اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Aisyah berkata, "Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku ketepatan mendapatkan malam lailatul qadar, apa yang harus aku ucapkan?", beliau menjawab: "Ucapkanlah, Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu anna" (Ya Allah, sesungguhnya Engkau maha pemaaf mencintai kemaafan, maka maafkanlah aku)." (HR. Ibnu Majah, yang dishahihkan oleh Al Albani).
Dari hadis tersebut, doa Nabi Muhammad Saw. sebagai berikut:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Dzikir & Wirid
Selain itu amalan lain yang bisa dilakukan untuk mendapatkan Lailatul Qadar adalah berzikir.
Perintah berzikir ini terdapat dalam beberapa surat, di antaranya adalah Surat Al-A'raf ayat 205 yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut) nama Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya." Selalai apapun, zikir tetap harus dilakukan untuk mendekatkan kita kepada Allah. Zikir adalah amalan ibadah yang paling mudah dilakukan, kapan pun dan di mana pun. Begitu pentingnya zikir, dalam sebuah hadis bahkan disebutkan bahwa orang yang tidak berzikir kepada Tuhannya seperti hidup bersama orang yang mati. "Perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dengan orang yang tidak berzikir kepada Tuhannya adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati." (HR. al-Bukhari).
Mengenai zikir apa yang diamalkan khusus pada momentum lailatul Qadar? Ini tentu diserahkan kepada masing-masing. Bagi yang menempuh jalur tarekat, tentu mempunyai zikir-zikir dan wirid-wirid khusus yang sudah diajarkan oleh para mursyid atau syeikhnya.
Membaca Al-Qur'an
Membaca mencakup tadarrus dan tadabbur al-Qur'an. Umat Muslim sangat dianjurkan untuk membaca atau tadarus Al-Qur'an. Terlebih, 10 malam terakhir merupakan waktu turunnya Al-Qur'an.
Hadis tentang keutamaan membaca Al- Qur'an yang terkenal adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah Ibnu Mas'ud sebagai berikut:
"Abdullah ibn Mas'ud, Rasulullah Saw. bersabda: Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur'an), maka dia akan mendapat satu kebaikan. Satu kebaikan akan dilipatkan menjadi sepuluh semisalnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf. Namun, alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf," (HR. At-Tirmidzi).
Salat Malam
Tiap tahun di 10 terakhir Ramadhan, ratusan bahkan ribuan jamaah mengikuti salat malam di Mesjid Raya Makassar. Begitu di beberapa masjid lainnya. Sejumlah jemaah ber-i'tikaf atau menetap di masjid disertai dengan menyibukkan diri dengan ibadah seperti memperbanyak membaca Al-Qur'an, berzikir, doa dan istigfar pada sepuluh malam terakhir Ramadhan mengharapkan datangnya malam Lailatul Qadar. Ilustrasi tanda-Tandab Malam Lailatul Qadar, Malam yang Mulia di Bulan Suci Ramadhan. Tribun timur/muhammad abdiwan.
I'tikaf
Dalam menyambut datangnya 10 hari terakhir bulan Ramadhan, umat muslim di sunatkan untuk melakukan i'tikaf.
Adapun I'tikaf sendiri adalah berdiam diri di masjid dan lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt. Namun, i'tikaf merupakan bukanlah sesuatu yang diwajibkan, melainkan sunah atau boleh tidak dilakukan.
Ini Penjelasannya Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Saw: Sungguh saya beri'tikaf di di sepuluh hari awal Ramadhan untuk mencari malam kemuliaan, kemudian saya beri'tikaf di sepuluh hari pertengahan Ramadhan, kemudian Jibril mendatangiku dan memberitakan bahwa malam kemuliaan terdapat di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Barangsiapa yang ingin beri’tikaf, hendaklah dia beri'tikaf (untuk mencari malam tersebut)."
PENUTUP
Makin menjelang berakhir bulan Ramadhan, sebaiknya umat Islam makin bersungguh-sungguh dan mengurangi tidur malamnya serta lebih banyak memanfaatkan untuk beribadah. Meskipun riwayat menyebutkan bahwa lailatul Qadar terjadi di 10 terakhir Ramadhan dan lebih khusus di malam-malam ganjil, namun hal itu tetap menjadi misteri. Oleh karena itu, umat Islam sebaiknya mengisi seluruh Ramadhan dari awal hingga akhir, ganjil maupun genap. Dan, Allah lebih tahu siapa yang paling berhak dan layak dipertemukan dengan malam yang lebih utama daripada1000 bulan itu.
Wallahu A'lam

0 Komentar