Dosen UIN Alauddin dan STAI Al-Furqan Makassar
Samata-Gowa, 06-04-2021
Pendahuluan
Kita masih sering terdengar dari orang-orang di sekeliling kita yang terkesan membanggakan amalnya. Atau bersikap apriori dengan kekurangan orang lain. Mungkin Anda tidak termasuk dari mereka, karena Anda dituntun dengan iman. Orang mukmin penuh optimisme akan rahmat Allah. Dia tidak bangga dan pongah dengan amalnya. Namun, ia beramal karena itulah cara terbaik untuk mengharap rahmat Allah.
Syekh Ibnu Athaillah Assakandary berkata: “Min alâmati Al-I’timâd ala Al-Amal, nuqshân Arraja ‘inda wujûd Azzalal”. Diantara tanda seseorang bergantung pada amalnya adalah berkurangnya rasa pengharapan kepada Allah Swt. ketika terjadi kesalahan atau dosa.
Dalam rangka melakukan ketaatan kepada Allah Swt., kadang kala kita melihat ketaatan itu dari sebuah bentuk amal yang telah kita lakukan, sehingga saat ketaatan itu hilang atau berkurang, kita merasa bahwa rahmat dan perhatian Allah Swt. sedang menjauh dari diri kita.
Syahid Al-Minbar Syekh Ramadhan Al-Buthy (seorang ulama Sunni terkemuka dari Suriah) dalam sebuah majelis Al-Hikam yang rutin beliau lakukan, mengingatkan agar hendaknya kita tidak bergantung pada amal perbuatan dalam setiap ketaatan yang kita lakukan. Beliau berpesan, “Hendaklah engkau menjauhi sikap bergantung pada amal yang engkau lakukan seperti shadaqah, puasa, dll. Dan, hendaklah kita menggantungkan keyakinan kita hanya kepada cinta, anugerah, ridha, rahmat, dan ampunan Allah Swt.
Seperti itu pulalah yang digambarkan lewat kisah seorang perempuan dan Dzun Nun al-Mishri.
Kisah Dzun Nun al-Mishri:
Alkisah, suatu ketika Dzun Nun al-Mishri sedang berjalan di atas pegunungan Antiokhia, tanpa diduga Dzun Nun bertemu dengan seorang perempuan yang terlihat gila. Perempuan tersebut memakai jubah dari kain wol, seperti yang dijelaskan dalam kitab Hilyatul Auliya’ wa Thabaqat al-Asfiya’ karya Abu Nu’aim al-Asfahani. Dzun Nun al-Mishri kemudian memberikan salam kepada wanita tersebut. Sang wanita pun menjawab salamnya, lalu berkata kepada Dzun Nun, “Bukankah engkau Dzun Nun al-Mishri?”
Mendengar perkataan tersebut, Dzun Nun pun kaget dan berkata, “Semoga Allah menyejahterakanmu. Bagaimana engkau bisa mengenaliku?” perempuan itu lalu menjawab, “Allah Swt telah membuka tirai antara diriku dan hatimu, sehingga aku mengenalmu melalui jalinan komunikasi ma’rifah cinta kepada sang Kekasih (Allah).”
Setelah wanita tersebut menjelaskan kepada Dzun Nun al-Mishri, ia berkata, “Aku ingin bertanya kepadamu tentang satu masalah.”
“Tanyakanlah.”, kata Dzun Nun al-Mishri kepada si perempuan.
Perempuan tersebut kemudian bertanya, “Apa itu dermawan?” Dzun Nun lalu menjawab, “Mengeluarkan harta dan memberi.” Mendengar jawaban Dzun Nun, wanita tersebut langsung berkata, “Ini kan kedermawanan di dunia , lantas apa itu kedermawanan dalam agama?” Dzun Nun lalu menjawab, “Bersegera menuju ketaatan kepada Allah.”
Perempuan tersebut pun kembali berkata, “Kalau begitu, jika engkau sudah bersegera menjalankan ketaatan kepada Allah Swt, apakah engkau mengharapkan kebaikan balasan dari-Nya?” Dzun Nun pun menjawab, “Iya. (Aku berharap) Satu dibalas sepuluh.”
Perempuan tersebut lalu menasihati Dzun Nun, “Mintalah agar ketentuan ini (minta balasan) dihapus dalam agama. Ini ketentuan yang buruk dalam agama. Bersegera menuju ketaatan kepada Allah itu adalah bahwa Allah mengetahui isi hatimu, sedangkan engkau tidak mengharapkan sesuatu pahala sebagai balasan atas sesuatu ketaatan.
Wahai Dzun Nun! Aku ingin bersumpah atas nama-Nya untuk meraih syahwat kesenangan sejak dua puluh tahun silam, tapi aku malu kepada-Nya. Karena aku takut menjadi seperti pekerja bayaran yang tak tahu diri, yang jika bekerja sedikit sudah menuntut upah. Akan tetapi, aku hanya ingin beramal karena kewibawaan dan keagungan-Nya,” Setelah berkata seperti itu, perempuan tersebut lalu pergi meninggalkan Dzun Nun.
Ibadah untuk Penghambaan Semata
Manusia beribadah kepada Allah Swt selalu mengharap imbalan, bahkan tak jarang beribadah atau mendekatkan diri kepada Allah Swt saat ada butuhnya saja. Sehingga, manusia sering mengharapkan imbalan atas ibadah yang dilakukannya. Padahal Allah Swt adalah pemberi rahmat kepada seluruh alam yang tidak terhitung jumlahnya. Namun, manusia sering tidak sadar diri dan tidak bersyukur dengan pemberian dari Allah Swt, sehingga seringkali merasa kurang. Kealpaan manusia ini mengakibatkan di setiap ibadah yang dilakukan, selalu mengharap-harap balasan.
Ada baiknya manusia menjauhi sikap bergantung pada amal yang dilakukan seperti sedekah, puasa dan lain sebagainya. Hendaklah, sedikit demi sedikit, kita menggantungkan keyakinan kita hanya kepada cinta, anugerah, dan ridha Allah Swt. Sebab amalan yang kita lakukan, belum tentu menjamin kita terlepas dari siksa neraka.
Bukan Amalmu tapi Rahmat-Nya
Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Saw. yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim;
أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ »قَالُوا وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لاَ ، وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِى اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ
“Sesungguhnya Abu Hurairah berkata, ia mendengar Rasulullah Swt. bersabda, “Amal seseorang tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga.” “Engkau juga tidak wahai Rasulullah?”, tanya beberapa sahabat. Beliau menjawab, “Aku pun tidak. Itu semua hanyalah karena karunia dan rahmat Allah.”
Ketika hadis ini diangkat oleh Prof. Dr. H.M. Quraish Shihab sebagai dasar argumennya, beberapa pihak merasa keberatan dan menyerang balik pendapat beliau. Padahal, beliau menjelaskan maksud hadis ini bahwa kita beramal karena kita hamba Allah. Kita tidak bergantung pada amal melainkan hanya berharap rahmat dan ridha-Nya.
Hadis di atas menunjukkan, sesungguhnya amal itu bukanlah sesuatu yang akan memberikan garansi kepada kita semua untuk masuk ke dalam surga. Karena surga akan diberikan kepada mereka yang diridhai dan dikehendaki oleh Allah Swt. Itulah sebabnya, di setiap selesai melakukan salat, kita biasa dianjurkan untuk membaca doa:
اَلَّلهُمَّ إِنَّا نَسْئَلُكَ رِضَاكَ وَ اْلجَنَّةَ
“Ya Allah ! Aku meminta ridha dan surgamu.
Jika kita selalu berharap dan bergantung pada rahmat Allah Swt., maka kita tidak akan mudah terjebak menggantungkan harapan kita kepada amal, entah itu yang besar maupun kecil. Sebaliknya, jangan sampai gara-gara amal kita tidak memberi garansi mendapatkan surga-Nya nanti, kita menjadi tidak mau beramal.
Peringatan agar tidak selalu bergantung pada amal adalah supaya kita tidak menjadi sombong atas amal perbuatan, juga agar selalu berharap kepada Allah Swt semata. Karena di dunia ini hati seorang hamba selalu diuji, sejauh mana ia menggantungkan diri kepada rahmat Allah Swt.
Syaikh Mutawalli asy-Sya'rawi berpesan: " janganlah datang kepada Allah hanya karena ingin Dia memberimu. Datanglah dan sembahlah Allah agar Dia meridhaimu. Sebab, jika Dia sudah ridha, Dia akan mengejutkanmu dengan pemberian-Nya yang besar'.
Pesan ini terasa sangat berkelas. Bukan sekedar susunan kalimat yang indah, tapi juga sangat dalam. Ada baiknya kita tata ulang atau koreksi total niat dan mindset kita dalam berinteraksi dengan Allah.
Ketergantungan itu Esensi Tauhid
Dialah Allahu ash-Shamad, tempat bergantung dan berharap. Ini adalah ayat ke-2 surah al-Ikhlas. Ayat mengajarkan tentang cara bertauhid yang paling tinggi, yaitu bergantung dan berharap hanya kepada Allah Swt., bukan kepada makhluk dan juga bukan kepada amal.
Jika Allah mau meng-azab orang yang banyak amalnya atau memasukkan ke dalam surga orang-orang yang berdosa maka tidak ada yang bisa menghalangi. Allah Maha Kuasa dan Maha berkehendak. Namun, kita yakin sepenuhnya pula bahwa Allah Maha Adil, Pengampun, Pemberi rahmat. Oleh karena keadilan, ampunan, dan rahmat Allah. Karena itu, ketergantungan kita kepada Allah merupakan esensi penghambaan.
Makna surah Al-Insyirah ayat ke-8 "hanya kepada Tuhanmu lah engkau berharap" dan surah At-Taubah ayat ke-59, "sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah". Dua ayat ini mendukung ketergantungan dan pengharapan hanya kepada Allah. Namun perlu diingat, sebelum perintah berharap kepada-Nya semata, Allah memerintahkan untuk tidak pernah menyia-nyiakan waktu. Kita malah disuruh jika selesai suatu urusan kebaikan maka segera pindah ke urusan yang baik lainnya.
Pola dan konteks kalimat seperti itu menunjukkan bahwa cara terbaik dalam berharap kepada Allah adalah memenuhi hak-hak Allah di setiap waktu. Tidak melewatkan waktu tanpa ketaatan kepada Allah. Selebihnya memohon ampun kepada-Nya atas kelalaian yang terjadi dengan penuh harap akan datang ampunan dan rahmat-Nya.
Berharap Rahmatnya
Rahmat dan ampunan Allah melampaui adalah sesuatu yang misteri namun pasti adanya. Eksistensinya tak dapat ditakar oleh logika manusia. Sebab, rahmat dan ampunan Allah lebih besar dan mencakup segala sesuatu. Rahmat Allah itu tidak bisa ditukar tambah dengan amal manusia.
Sedikitnya, ada tiga ayat Al-Qur’an yang menginfokan bahwa Allah mewajibkan dirinya merahmati hamba-hamba pilihan-Nya. Yaitu Qs Al-Ana’am [6]: 12 dan 54:
… كَتَبَ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ …
“… Allah telah mewajibkan diri-Nya untuk berbelas-kasihan kepada makhluk-Nya…” [Qs. Al-Ana’am, 6: 12]
… كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ …
“… Tuhan kalian telah mewajibkan diri-Nya untuk memberikan rahmat kepada kalian…” [Qs. Al-Ana’am, 6: 54]
Dan pada Qs. Al-A’raf [7]: 156-157: Allah berfirman:
… وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَـاةَ وَالَّذِينَ هُم بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ (156) الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأُمِّيَّ …
“… dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Aku akan menetapkan rahmat itu bagi mereka yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada ayat-ayat Kami.” Kami turunkan rahmat kepada para pengikut Muhammad, Rasul Allah, Nabi yang buta huruf…” [Qs. Al-A’raf, 7: 156-157].
Allah telah menetapkan diri-Nya sendiri untuk memberikan rahmat-Nya kepada yang dikehendaki. Sifat-sifat inilah yang harus tersebar ke seluruh alam. Sebab Nabi Saw. mengemban misi rahmat untuk semesta ini.
Tersebarnya rahmat Allah di bumi akan mengundang datangnya limpahan Allah dari langit seperti disebutkan dalam sebuah hadis atau riwayat. Itulah antara lain rahasianya, kita memulai setiap kebaikan dengan bismillahirrahmanirrahim agar rahmat Allah tetap terkoneksi selalu.
Penutup
Cara terbaik mengharap kepada Allah akan ridha, rahmat, dan ampunan-Nya adalah berniat ikhlas, berikhtiar maksimal, bertawakkal yang total, serta hidup dan beramal menurut tuntunannya. Kita tidak menemukan cara selain cara yang Dia tunjukkan.
Wallahu A'lam

0 Komentar