Dosen UIN Alauddin dan STAI Al-Furqan Makassar
Samata, 27-03-2021
Catatan Awal
Para mahasiswa dan pembaca yang bijaksana! Mungkin Anda bertanya, apa hubungan antara ulama dan meminta jabatan? Ulama rabbani itu pemimpin umat, penyejuk hati, penghilang keraguan, dan pengukuh keyakinan. Mereka memimpin umat tanpa harus melalui proses seleksi formal. Mereka tidak meminta jabatan dari manusia, melainkan meminta kekuasaan dari Allah seperti halnya Nabi Sulaiman a.s. Tentu ini tidak berarti ulama tidak boleh menjadi pemimpin politik. Bahkan sangat baik jika kontkesnya tepat, prosesnya benar, dan maslahatnya lebih besar.
Waktu berjalan demikian teratur. Jarak antara kita dengan zaman Rasulullah Saw. semakin jauh. Jarak antara zaman kita dengan zaman keemasan Islam telah demikian panjang, sehingga kualitas mereka dengan kualitas umat yang hidup di masa keemasan itu pun demikian jauh berbeda. Sekolah dan universitas makin mengalami kemajuan. Setiap saat lahir para sarjana dari rahim perguruan tinggi. Namun, krisis moral kian menjadi-jadi. Grafik intelektual dan grafik moral seringkali berbanding terbalik. Grafik intelektual cenderung naik, sementara grafik moral cenderung menurun. Kita pun turut bertanya-tanya, apa yang kurang dan apa masalahnya?
Ada beberapa pihak yang mengatakan, "krisis moral dan kemanusiaan demikian merajalela, para ulama Rabbani semakin langka, dan semakin banyaknya orang tak cukup ilmu yang berambisi untuk menjadi ulama". Fenomena mengambil ilmu agama dari media tanpa konsultasi dan filterisasi dari ahlinya. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi membuka peluang dan panggung untuk itu. Ulama Rabbani semakin tidak tampak. Seolah mereka tenggelam dan menjadi makhluk langka. Umat makin tak sadar, sesungguhnya mereka berada di ruang yang makin redup cahayanya. Kekeringan spritual makin melanda.
Ulama Penyejuk dan Pelita Umat
Ulama adalah orang-orang yang luas dan dalam pengetahuan dan bertakwa kepada Allah. Dengan keluasan dan kedalaman ilmunya, mereka mampu mengembangkan ilmu pengetahuan sesuai bidangnya hingga lahir berbagai disiplin ilmu dan disiplin-disiplin ilmu itu menjadi rujukan umat dari zaman ke zaman. Ulama mewariskan ilmunya dengan mengajar dan menulis kitab.
Seorang ulama juga adalah orang yang mampu mengamalkan ilmunya sehingga keluar dari dirinya sikap dan ucapan (fatwa) yang menyejukkan dan memantapkan. Penjelasannya menghilangkan keraguan. Tingkah laku dan ucapannya menginspirasi umat untuk melakukan kebaikan. Singkatnya, mereka merupakan pelanjut risalah nabi.
Dulu ketika para nabi masih hidup, para nabilah yang menjadi pelita bumi. Kini para nabi sudah tak ada dan tugas kenabian berpindah kepada ulama. Di tangan merekalah terang atau gelapnya zaman, baik atau buruknya umat di bumi. Jika ulama itu makin baik dan berperan, akan semakin baiklah umat. Jika ulama itu makin buruk dan tak berperan, makin buruk pula umat.
Ulama Laksana Dokter bagi Umat
Kalau dokter mendiagnosa penyakit fisik pada manusia dan menetapkan obatnya yang tepat. Sedang ulama pembimbing umat (mursyid) itu mendiagnosa penyakit rohani dan menetapkan zikir, wirid, dan amalan yang tepat sebagai trapinya. Anda bisa membandingkan betapa banyak jumlah dokter, namun setiap saat ada yang sakit. Sedangkan jumlah ulama rabbani pembina (mursyid) umat jumlahnya sedikit. Maka penyakit rohani makin merebak. Disadari atau tidak, keberadaan ulama pembimbing umat sangat penting.
Imam Sufyan ats-Tsauri pernah berkata, "Perbuatan jahat merupakan penyakit, sedangkan ulama merupakan obat Maka, apabila ulama rusak (kena penyakit), siapakah yang akan menyembuhkan penyakit itu?" Ketika umat dilanda penyakit wahm (ragu dan.bimbang) maka kehadiran ulama untuk menjelaskan akan mengakhiri keraguan dan kebimbangan itu.
Dalam hadis riwayat Abu Nu'aim dijelaskan setidak-tidaknya ada lima sifat ulama, yaitu yang pertama, menghilangkan keraguan, menanamkan keyakinan. Kedua, menghilangkan riya, menanamkan keikhlasan. Ketiga, menghilangkan kegemaran dunia, menanamkan zuhud. Keempat, menghilangkan sifat sombong, menanamkan sifat tawadhu (rendah hati). Kelima, menghilangkan sifat permusuhan, menanamkan perdamaian.
Jika sikap dan fatwa ulama tak menyejukkan, bahkan meresahkan dan membangkitkan rasa permusuhan di kalangan umat, tentu hal itu membuat umat makin bingung. Terlebih lagi jika para ulamanya saling berseteru, menghujat, dan menghalalkan darah saudaranya, keresahan dan perseteruan di kalangan umat bisa lebih dahsyat lagi. Ulama yang teguh dan tak memburu jabatan tidak dapat dibeli.
Fenomena keresahan itu terjadi salah satunya akibat fatwa ulama yang tidak komprehensif, bahkan parsial. Akibatnya, menimbulkan fanatisme mazhab. Akhlak diabaikan, umat saling bergontokan. Konflik sosial pecah dan umat saling menyerang. Ulama yang dibutuhkan adalah mereka yang mampu berdiri di atas semua golongan.
Tampaknya, tak.cukup silaturrahim antara ulama untuk mengakhiri potensi konflik. Dibutuhkan silatul fikri (komunikasi pemikiran) atau dialog etis lintas mazhab agar dapat saling memahami dan berlaku toleran sesuai tempatnya.
Ulama Rabbani Tak Bisa Dibeli
Mereka itulah ulama sejati, ulama rabbani, dan ulama akhirat (dalam istilah Imam al-Ghazali). Para ulama semacam ini bukan hanya ideal, akan tetapi ‘real’. Bukan hanya seharusnya, akan tetapi sudah ada faktanya.
Imam Ahmad bin Hambal, misalnya, yang mempertahankan kebenaran meskipun harus mendekam di penjara, diteror dan disiksa oleh agen pemerintah di Baghdad. Begitu pula Ibnu Taimiyah yang ikut dalam pertempuran menghadang invasi tentara Tatar di Mesir.
Juga Syekh Yusuf al-Makassari yang angkat senjata memimpin perang melawan pasukan militer Belanda di Banten. Dan masih banyak lagi ulama yang ikhlas memperjuangkan agama Allah. Dan, beberapa ulama yang juga pejuang dan pahlawan.
Bagi ulama Rabbani, menaati kebenaran adalah loyalitas tertinggi. Mereka.mengatakan.benar bila itu benar sebagaimana ia menyatakan salah bila itu salah. Tak peduli orang mendukung atau tidak. Bila konsekuensi berpihak kepada kebenaran itu pahit maka hal itu tidak lantas menjadi berubah.
Bahaya Ulama Berebut Jabatan
Jika ulama berebut jabatan maka itu tidak hanya akan menjadi musibah bagi dirinya, tapi juga menjadi musibah bagi umat. Termasuk juga ketika meminta jabatan. Coba kita perhatikan penjelasan tentang hadis “Larangan Meminta Jabatan.
عَنْ عَبْدِ الرَّحْ مَنِ بْنِ سَمُرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ لِيْ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ لَا تَسْأَلْ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُوتِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُوتِيتَهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا وَإِذَا حَلَفْتَ عَلَى يَمِينٍ فَرَأَيْتَ غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا فَكَفِّرْ عَنْ يَمِينِكَ وَأْتِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ
Dari Abdurrahman bin Samurah dia berkata: Rasulullah Saw. telah bersabda kepadaku, “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah kamu meminta jabatan! Karena sesungguhnya jika diberikan jabatan itu kepadamu dengan sebab permintaan, pasti jabatan itu (sepenuhnya) akan diserahkan kepadamu (tanpa pertolongan dari Allah). Dan jika jabatan itu diberikan kepadamu bukan dengan permintaan, pasti kamu akan ditolong (oleh Allah) dalam melaksanakan jabatan itu. Dan apabila kamu bersumpah dengan satu sumpah kemudian kamu melihat selainnya lebih baik darinya (dan kamu ingin membatalkan sumpahmu), maka bayarlah kaffârah (tebusan) dari sumpahmu itu dan kerjakanlah yang lebih baik (darinya)”.
Menurut sumber yang saya kutip, hadis tersebut adalah shahih. Telah dikeluarkan oleh al-Bukhâri (6622, 6722, 7146, & 7147) dan Muslim (1652) dan Abu Dâwud (2929 dan 3277 diringkas hanya dengan sumpah atau bagian kedua dari hadits) dan Tirmidzi (1529) dan an-Nasâ-i (5384 dan 3782, 3783, 3784.
Selain itu, larangan berambisi atau berebut jabatan. Jabatan yang didapatkan dengan cara yang memfitnah dan penuh ambisius hanya akan menjadi penyesalan di kemudian haru. Dari Abu Hurairah ra Rasulullah bersabda Kalian kelak akan berambisi kepada jabatan dan ia akan menjadi penyesalan pada hari kiamat HR Bukhari Namun apakah kita tidak berhak untuk bermimpi menjadi pemimpin,”
Larangan yang dimaksud adalah larangan meminta jabatan kepada manusia. Meminta itu tidak berwibawa. Pemimpin yang tak berwibawa sulit dipercaya. Fenomena meminta jabatan terjadi secara massif melalui sistem demokrasi. Tentu saja, saya bukan anti demokrasi, namun itu adalah fakta yang tidak terbantahkan. Bahkan, fenomena money politics terjadi saat musim kampanye hingga serangan fajar menjelang hari ha pencoblosan.
Bagaimana sikap ulama sesungguhnya terhadap jabatan? Saya pernah mendengar ucapan seorang ulama berkata, orang beriman tidak takut terhadap keadaan apapun. Jika ia diberi jabatan maka ia tidak takut. Sebaliknya, jika jabatannya hendak dicopot pun tidak takut. Yang ditakutkan adalah ketika melanggar ketentuan Allah sehingga tidak meridhai. Kurang lebih seperti itu penjelasan alm. K.H. Marzuki Hasan, pendiri Pondok Pesantren Darul Istiqamah. Yang pasti, meminta jabatan kepada manusia saja itu buruk.
Ulama Meminta Hanya kepada Allah
Bagi rabbaniyyin, meminta kepada makhluk itu kerendahan. Namun, meminta kepada Allah itu kemuliaan. Meminta jabatan kepada Allah itu dilakukan oleh Nabi Sulaiman a.s. tercantum dalam Al-Quran surah Shaad ayat 35, yang berbunyi:
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
"Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorangpun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi."
Pada ayat yang berisi doa tersebut, Nabi Sulaiman secara eksplisit meminta kerajaan (kekuasaan). Namun, sebelum meminta kerajaan kepada Allah, terlebih dahulu memohon ampun kepada Allah. Hal ini menunjukkan bahwa beliau menyadari bahwa kekuasaan yang beliau minta itu merupakan amanah. Tanpa ampunan dan pertolongan Allah beliau tentu tak sanggup memikul amanah itu.
Kekuasaan yang beliau mohon kepada Allah adalah kekuasaan yang tak seorang pun yang layak menerima sesudahnya. Ini menunjukkan bahwa tak ada salah memohon kepada Allah kekuasaan hingga kekuasaan yang top sekalipun sesuai tingkat maslahat yang diharapkan dari kekuasaan itu.
Mengapa meminta jabatan hanya kepada Allah? Sebuah jabatan atau kekuasaan tanpa restu dari Allah, maka kelak Allah tinggalkan saat di mana pemangku kekuasaan itu butuh pertolongan Allah. Sebaliknya, jabatan yang Allah restui akan mendapat bimbingan dan pertolongan dari Allah. Berbeda halnya dengan fenomena saat ini. Para calon pejabat ramai-ramai berlomba, berebut untuk meminta restu kepada manusia. Tak peduli dengan cara apapun memperolehnya. Hal ini sudah dilukiskan dan diingatkan oleh Rasulullah Saw.
وعن أَبي هُريرة أنَّ رسولَ اللَّه ﷺ قَالَ: إنَّكم ستحرِصون عَلَى الإمارةِ، وستَكُونُ نَدَامَةً يَوْم القِيامَةِ رواهُ البخاري
"Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Saw. pernah bersabda: ''Sesungguhnya kalian akan berlomba-lomba mendapatkan jabatan, padahal kelak di akhirat akan menjadi sebuah penyesalan ....''.
Adalah wajar apabila seseorang atau sekelompok orang ingin mendapatkan harta, jabatan, ataupun kedudukan, selama hal tersebut didapatkan dengan cara-cara elegan, fair, dan berlandaskan kepada etika dan moral, serta sesuai dengan keahlian dan profesinya. Apalagi jika orang tersebut bisa dipercaya kredibilitasnya.
Hal ini sebagaimana pernah terjadi pada Nabi Yusuf a.s, ketika beliau melihat kesengsaraan rakyat Mesir di tengah kesuburan tanahnya. Beliau saat itu merasakan terjadinya salah urus dari pejabat negara yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat.
Lalu, beliau meminta dijadikan sebagai pejabat yang mengurus urusan kesejahteraan masyarakat. Hal ini seperti dinyatakan dalam Alquran (Yusuf 55), ''Berkata Yusuf, 'Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga (amanah) lagi berpengetahuan'.''
Amanah dan profesionalitas yang ditunjukkan Nabi Yusuf a.s. dan para pembantunya telah menyebabkan rakyat Mesir sejahtera, walaupun menghadapi musim kemarau yang panjang. Bahkan, dengan keberhasilannya itu, beliau mampu mengharumkan nama Mesir pada negara-negara sekitarnya.
Banyak rakyat dari negara-negara tersebut yang datang menghadap untuk mendapatkan bantuan logistik bagi kelanjutan hidup dan kehidupannya. Inilah tipe pemimpin atau pejabat yang menjadikan jabatan sebagai amanah dan kesempatan menghadirkan maslahat. Sehingga, penguasa tersebut dapat bekerja secara optimal dan penuh dengan kejujuran dan keikhlasan.
Berbeda halnya dengan orang atau kelompok orang yang menjadikan jabatan dan kedudukan sebagai tujuan hidup. Mereka akan cenderung menghalalkan segala macam cara untuk meraihnya, bahkan tidak ragu-ragu untuk menjual umat atau mengatasnamakan umat, hanya karena kebetulan yang bersangkutan memimpin sebuah organisasi politik keumatan. Mereka akan terus mengejar jabatan, tanpa ada perasaan malu dan sungkan sedikit pun.
Pejabat yang semacam ini, jika pun meraih jabatan, biasanya akan mempergunakannya untuk kepentingan pribadi, keluarga, dan kelompoknya, dan sama sekali tidak pernah berpikir untuk menyejahterakan umat.
Pejabat inilah yang diingatkan Rasulullah Saw. dalam haditsnya tersebut di atas, bahwa kelak mereka di akhirat akan mendapatkan penyesalan yang luar biasa. Dan, dalam kehidupan sekarang pun, pejabat-pejabat yang semacam ini sama selama tidak punya izzah (harga diri).
Catatan Akhir
Kehadiran ulama untuk memandu dan membimbing umat. Ketiadaan mereka di tengah umat laksana datangnya kegelapan tanpa penerang. Peran mereka laksana dokter. Jika dokter menangani, mendiagnosa berbagai macam penyakit fisik maka para ulama rabbani menangani dan mendiagnosa berbagai macam penyakit rohani dan menetapkan zikir, wirid, dan amalan yang tepat untuk mengobati dan menyembuhkan penyakit rohani.
Kehadiran dokter dan ulama rabbani di tengah umat akan menjadi pembimbing untuk mewujudkan kesehatan jasmani dan rohani, lahir dan batin. Manusia yang terdiri atas jasmani dan rohani dan keduanya berpotensi mengidap penyakit. Kesetiaan mereka terhadap "kode etik" menentukan keselamatan umat. Dokter dan ulama tidak boleh dibeli atau bermain curang sebab dampaknya sangat berbahaya bagi keselamatan umat manusia.
Salah satu materi penting yang urgen untuk ditanamkan dalam kesadaran umat (rakyat) adalah menolak segala bentuk ambisi, kecurangan, intimidasi. Sebab hadirnya pemimpin yang ambisius dan tidak direstui oleh Allah akan menjadi sumber masalah yang berdampak sistemik dan massif. Kini penyakit ambisi dan gila jabatan merupakan satu kesatuan dengan perilaku koruptif yang melanda bangsa. Ulama harus hadir untuk meluruskan praktek penyimpangan dalam pemilihan maupun dalam kebijakan.
Ulama tidak ada salahnya meminta kekuasaan kepada Allah, bukan kepada makhluk. Sebab, jika mereka ada yang meminta jabatan kepada manusia maka jika ada masalah yang dihadapi ia akan ditinggalkan atau diusir oleh manusia dan Allah pun tidak menolongnya. Berbeda halnya ketika meminta kepada Allah dan Allah merestui, jika dapat masalah maka Allah yang menolong dan melindungi serta menuntun pada jalan keluar yang tepat.
Tentu ada yang berpikir, mana mungkin ada dalam sistem demokrasi calon pejabat yang tidak meminta dukungan kepada manusia? Ya, benar. Tapi sulit bukan berarti tidak mungkin di sisi Allah. Apabila ulama terpanggil maju meraih kekuasaan politik tentu tidak salah selama di ia memohon ampun, taufik, dan restu kepada Allah. Atau, memohonkan ampunan, taufik, dan restu kepada Allah bagi mereka yang ikhlas dan layak menjadi pemimpin. Mengenai kriteria kelayakan menjadi pemimpin merupakan pembahasan tersendiri. Namun yang pasti, menyerahkan urusan kepemimpinan kepada yang tidak profesional akan berujung pada kehancuran.
Wallahu a'lam.

0 Komentar