DIAMNYA ULAMA TANDA KIAMAT SUDAH DEKAT? (1)

Penulis: Muhamad Yusuf 

Dosen UIN Alauddin dan STAI Al-Furqan Makassar

Samata, 26-03-2021

PENDAHULUAN

Para mahasiswa dan pembaca yang bijaksana! Ada berapa kalimat yang perlu disinkronkan.  Pertama, "diam itu adalah emas".  Kedua, hadis bahwa diamnya ulama adalah bencana dan tanda dekatnya kiamat. Ketiga, hadis yang menganjurkan orang yang beriman untuk berkata yang baik atau diam. Keempat, dalam pepatah orang Bugis dikatakan, "ulaweng mekkoe, Salaka mette'-e". Diam itu laksana emas, bicara itu laksana perak.

Setiap ungkapan itu ada konteks dan tempatnya. Begitu pula hadis. Setiap hadis ada konteksnya sendiri-sendiri. Memahami hadis dengan memisahkan teks dari konteksnya sangat berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.

Hadis yang menerangkan tentang tanda-tanda kiamat itu bermacam-macam. Salah satunya bahwa ilmu itu hilang. Bagaimana ilmu bisa hilang, padahal bertebaran sekolah dan perguruan tinggi? Hilangnya ilmu yang dimaksud bisa berbagai cara. Pertama, ulama hidup dan menyaksikan kemungkaran, namun ia diam dan melakukan pembiaran atau karena pembungkaman terhadap mereka yang dilakukan oleh penguasa. Kedua, wafatnya para ulama dan ilmuwan yang berdedikasi tinggi dan beriman.  

Tulisan ini fokus pada sebab yang pertama, diamnya ulama. Adapun sebab yang kedua, wafatnya ulama akan dimuat pada tulisan berikutnya. Agar kiamat dan kekacauan "cepat datang" maka setetes ilmu yang Allah titipkan kepada Anda, Anda berikhtiar selalu menyampaikan melalui lisan dan tulisan setiap saat sebelum menghilang tanpa jejak baik akibat lupa maupun karena jatah hidup sudah habis. Ilmu yang dititipkan kepada Anda harus Anda pertanggungjawabkan di hadapan Allah yang telah menitipkan ilmu itu.  

Ketika orang-orang berilmu diam, sementara orang-orang tak berilmu atau bukan ahlinya ramai-ramai membuat fatwa maka yang terjadi adalah sesat dan menyesatkan. Muncullah kekacauan dan penguasa yang tidak ahli, zalim, sesat, rakus terhadap dunia, dan menyesatkan. Orang yang berkhianat diberi amanah, orang amanah dikhianati, orang adil dizalimi, orang jujur dicurangi, dan orang curang dibela.

Keadaan seperti lirik lagu Noah.

"Pikiranku
Tak dapat ku mengerti
Kaki di kepala
Kepala di kaki.....".

Artinya, keadaan kacau dan terbalik. Yang benar diingkari. Yang salah dianggap benar dst. 

DIAMNYA ULAMA DEKATNYA KIAMAT

Dengan diamnya para ulama dari menyebarkan kebenaran dan memperingatkan kebatilan. Jika suara kebatilan menjadi tinggi, suara kebenaran menjadi lemah dan banyak orang menyangka bahwa orang-orang yang berada di atas kebatilan dianggap benar. Karena banyaknya menguasai media dan tersebarnya hoax dan fitnah maka tanda kehancuran itu dekat. Dan, sebagai akibat darinya, pengikut kebenaran menjadi sedikit.

Allah berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاَّعِنُونَ (159) إِلاَّ الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan bayyinah (penjelas) dan petunjuk yang Kami turunkan, setelah Kami jelaskan kepada manusia di dalam al-kitab, mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah dan orang-orang yang melaknat. Kecuali orang-orang yang telah bertaubat, memperbaiki dan menjelaskan, maka Allah akan menerima taubat mereka dan Aku Maha menerima taubat dan Maha penyayang” (QS. Al-Baqarah: 159-160).

Ditanya atau diminta penjelasan tentang suatu ilmu bisa berarti ditanya langsung dan diminta penjelasan. Bisa pula bermakna kondisi yang menuntut atau membutuhkan keterangan. Jadi, ulama dan ilmuwan mengemban tanggung jawab sosial atas keilmuannya dan tanggung jawab di hadapan Allah atas manfaat ilmunya.

Asy-Syaukani di dalam menjelaskan ayat tersebut mengatakan, “Mereka (para ulama) berselisih tentang yang dimaksud dengan orang-orang itu. Ada yang mengatakan, mereka adalah ulama-ulama yahudi dan pendeta-pendeta nasrani yang meninggalkan urusan Muhammad Saw. Ada pula yang mengatakan, mereka adalah setiap orang yang menyembunyikan kebenaran dan tidak menjelaskan apa yang diwajibkan oleh Allah untuk dijelaskan. Inilah pendapat yang lebih kuat, karena yang dijadikan patokan adalah keumuman lafalnya bukan kekhususan sebabnya.

Sebagaimana hal ini telah ditetapkan dalam ilmu ushul. Seandainya kita terima bahwa sebab turunnya ayat ini berkaitan dengan sikap orang-orang yahudi dan nasrani yang menyembunyikan ilmu, maka hal ini tidak bertentangan dengan cakupan ayat terhadap setiap orang yang menyembunyikan kebenaran. Dan di dalam ayat ini terdapat ancaman yang sangat keras, tidak bisa diukur besarnya. Karena barangsiapa yang dilaknat oleh Allah dan hamba-hamba-Nya yang bisa melaknat, berarti kecelakaan dan kerugiannya telah sampai kepada batas yang tidak bisa dijangkau dan diketahui hakikatnya.”

Dan di dalam hadis Abu Hurairah r.a. Rasulullah Saw. bersabda,

مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلمٍ عَلِمَهُ ثُمَّ كَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِياَمَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ ))

“Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu yang dia ketahui kemudian dia menyembunyikannya maka pada hari kiamat dia dikekang dengan tali kekang dari api”

Dalam riwayat Ibnu Majah,

مَا مِنْ رَجُلٍ يَحْفَظُ عِلْمًا فَيَكْتُمُهُ إِلاَّ أُتِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلْجَمًا بِلِجَامٍ مِنْ النَّارِ

“Tidaklah seseorang menghafal suatu ilmu lalu dia menyembunyikannya, melainkan pada hari kiamat dia akan datang dalam keadaan dikekang dengan tali kekang dari neraka.

Hadis yang dimaksud adalah seperti yang dijelaskan dalam ash-Shahihain dari Anas bin Malik a.r., beliau berkata, “ Rasulullah Saw. bersabda:

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ.

‘Di antara tanda-tanda Kiamat adalah hilangnya ilmu dan tersebarnya kebodohan.’”

Hadis ini tercantum dalam Shahih al-Bukhari, kitab al-‘Ilmu bab Raf’ul ‘Ilmi wa Zhuhuurul Jahli (I/178, al-Fath, dan Shahiih Muslim, kitab al-‘Ilmi bab Raf’ul ‘Ilmi wa Qabdhahu wa Zhuhuurul Jahli wal Fitan fi Aakhiriz Zamaan (XVI/222, Syarh an-Nawawi).

Diam ulama karena sikapnya atau sikap penguasa yang membungkam para ulama sehingga tersebar fitnah dan muncul kekacauan adalah tanda datangnya kiamat. Sulitnya memperoleh nasihat dan fatwa ulama rabbani dan bermunculannya orang-orang yang berambisi menjadi ulama tanpa ilmu yang memadai dan akhlak mulia juga tanda dekatnya kiamat. 

KEBODOHAN

Imam Bukhari meriwayatkan dari Syaqiq, beliau berkata, “Aku pernah bersama ‘Abdullah dan Abu Musa, keduanya berkata, ‘Nabi Saw. bersabda:

إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ لأَيَّامًا يَنْزِلُ فِيهَا الْجَهْلُ وَيُرْفَعُ فِيهَا الْعِلْمُ.

‘Sesungguhnya menjelang datangnya hari kiamat akan ada beberapa hari di mana kebodohan turun dan ilmu dihilangkan.’” (Shahih al-Bukhari, kitab al-Fitan bab Zhuhuuril Fitan (XIII/13, al-Fath).

Dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah r.a., dia berkata, “Rasulullah Saw. bersabda:

يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيُقْبَضُ الْعِلْمُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ.

‘Zaman saling berdekatan, ilmu dihilangkan, berbagai fitnah bermunculan, kebakhilan dilemparkan (ke dalam hati), dan pembunuhan semakin banyak.’” (Shahih Muslim, kitab al-Ilmi bab Raf’ul ‘Ilmi (XVI/222-223, Syarh an-Nawawi).

Ibnu Baththal berkata, “Semua yang terkandung dalam hadis ini termasuk tanda-tanda Kiamat yang telah kita saksikan secara jelas, ilmu telah berkurang, kebodohan nampak, kebakhilan dilemparkan ke dalam hati, fitnah tersebar dan banyak pembunuhan.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar - rahimahullah - mengomentari ungkapan itu dengan perkataannya, “Yang jelas, sesungguhnya yang beliau saksikan adalah banyak disertai adanya (tanda kiamat) yang akan datang menyusulnya.

Sementara yang dimaksud dalam hadis adalah kokohnya keadaan itu hingga tidak tersisa lagi keadaan yang sebaliknya kecuali sangat jarang, dan itulah isyarat dari ungkapan “dicabut ilmu”, maka tidak ada yang tersisa kecuali benar-benar kebodohan yang murni.

Akan tetapi, hal itu tidak menutup kemungkinan adanya para ulama, karena mereka saat itu adalah orang yang tidak dikenal di tengah-tengah mereka.”

BELAJAR DARI KISAH NABI YUNUS A.S.

Merdeka.com - Nabi Yunus merupakan salah satu nabi yang diutus oleh Allah Swt. untuk mengajak penduduk Ninawa agar beriman. Ninawa merupakan daerah Mosul, Irak yang pada masa itu penduduknya berpaling dari jalan Allah dan masih menyembah berhala.

Pada suatu ketika, Nabi Yunus menemui penduduk Ninawa yang sedang melakukan ritual penyembahan berhala. Kedatangan Nabi Yunus ditolak oleh para penduduk, bahkan mereka mengolok-olok dan menghinanya. Sehingga hal ini menyebabkan Nabi Yunus marah dan meninggalkan mereka.

Kemudian Allah Swt. meminta Nabi Yunus untuk memberitahukan kepada kaumnya bahwa Allah akan memberikan azab. Saat meninggalkan kampung Ninawa, Nabi Yunus sudah tidak mengharapkan keimanan para penduduknya. Beliau pergi dengan perasaan penuh amarah dan kecewa dengan kaumnya.

Setelah penduduk mengetahui bahwa Nabi Yunus telah pergi, maka azab benar-benar diturunkan oleh Allah Swt. Para penduduk sadar bahwa azab ini datangnya dari Allah Swt., maka sejak itu mereka memutuskan untuk bertobat kepada Allah Swt.

Ketika azab datang, Allah melihat adanya kejujuran tobat yang dilakukan oleh kaum wanita, laki-laki dan anak-anak yang berdoa menyebut nama Allah. Mereka berdoa kepada Allah karena takut akan azab yang telah menimpanya. Sehingga Allah menghentikan azab tersebut, sebagaimana yang termaktub dalam salah satu surah Alquran berikut ini:

“Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Ketika mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.” (Qs. Yunus: 98).

Setelah itu Nabi Yunus a.s. diperintahkan oleh Allah Swt. untuk kembali menemui kaumnya. Hal ini dilakukan untuk memberitahu bahwa Allah Swt. telah menerima taubat para penduduk. Di samping itu, Allah juga akan memberikan mereka kenikmatan hidup hingga waktu tertentu. Sebagaimana dalam salah satu surah Alquran berikut ini. "Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih.–Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.” (Qs. Ash-Shaaffaat: 147-148).

Penerimaan tobat dan pemberian rahmat itu setelah Nabi Yunus a.s. bertobat saat berada di dalam perut ikan dan Allah menyelamatkan. Begitu juga kaumnya, kaum Ninawa ramai dari para wanita, laki-laki, anak-anak bertobat kepada Allah Swt. maka Allah menerima tobat mereka dan menyelamatkan dari azab.

CATATAN AKHIR

Tanda kiamat itu banyak. Ada tanda-tanda besar (isyarat makro) dan tanda-tanda kecil (isyarat mikro). Salah satu tandanya adalah ketika ilmu dari langit hilang. Ilmu hilang, yaitu ketika para ulama meninggalkan umat, atau sebaliknya umat menjauhi ulama. Atau para ulama bungkam atau dibungkam dan menyaksikan kejahatan merajalela. Sebab, ulama adalah pelanjut risalah kenabian setelah Allah mengutus rasul dan nabi yang terakhir, Rasulullah Saw.

Seperti dikutip Imam Jalaluddin al-Suyuthi dalam Lubab al-Hadits, Nabi Saw. bersabda, “Diamnya seorang ulama adalah aib, dan bicaranya adalah hiasan. Sedangkan bicaranya orang bodoh adalah aib, dan diamnya adalah hiasan.”  Dengan kata lain, diam tidak selalu jadi hiasan, dan bicara tidak selalu jadi aib. Tergantung siapa yang diam dan bicara. Tanda kiamat itu banyak. Ada tanda-tanda besar (isyarat makro) dan tanda-tanda kecil (isyarat mikro). Salah satu tandanya adalah ketika ilmu hilang. 

Kisah Nabi Yunus merupakan i'tibar bagi kita. Ketika nabi atau penerusnya (para ulama) meninggalkan maka azab Allah amat dekat, bahkan tanda kekacauan bermunculan. Begitu pula sebaliknya, ketika umat meninggalkan atau memusuhi ulama maka kekacauan dan azab makin dekat. Jadi kebersamaan ulama dan umat adalah rahmat bagi mereka. 

Begitu pula kebersamaan umara dan ulama. Ketika umara masih meminta petunjuk dan nasihat kepada ulama rabbani (maaf, bukan asal mengaku ulama) maka rahmat Allah masih dekat. Akan tetapi, ketika kekuasaan menindas dan membungkam ulama rabbani maka yang menguasai panggung untuk berfatwa adalah mereka yang tidak ahli maka kekacauan akan bermunculan. 

Semoga para ulama istiqamah mengajarkan ilmu rabbani, umat menjaga dan merapat kepada ulama, para penguasa meminta pandangan dan nasihat ulama, dan para ulama tidak haus dunia. Dengan begitu rahmat Allah bersama kita semua. Aamiin!

Wallahu a'lam.

Posting Komentar

0 Komentar