Dosen UIN Alauddin dan STAI Al-Furqan Makassar
Samata-Gowa, 30-03-2021
Pendahuluan
Serpihan cerita mengenai pertemuan dan perpisahan antara Nabi Musa a.s. dan Khidr a.s. menyimpan begitu banyak makna dan segudang mutiara hikmah. Kisah mengenai hal ini saya telah uraikan dalam buku berjudul "Tafsir Tarbawi:Tafsir: Ayat-Ayat Pendidikan dengan Pendekatan Semi Tematik dan Tematik".
Di dalam buku tersebut, saya merujuk beberapa kepada surah al-Kahfi. Dalam sumber (kitab) tafsir surah Al-Kahfi, Allah Swt. menceritakan dua figur menarik sekaligus mewakili dua sudut pandang epistemologi keilmuan yang berbeda, yaitu kisah antara Nabi Musa a.s. dan Khidr a.s. Di sini saya hanya mengutip secara tidak langsung.
Selain itu, tulisan ini juga merujuk kepada.tulisan Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta. Beliau melihat dari aspek epistemologi keilmuan dua tokoh (Nabi Musa dan Khidr a.s.). Beliau lebih menonjolkan bahwa tak ada ilmu yang sempurna. Orang Bugis menyebutnya dengan istilah "silallo tessirapi".
Kisah Nabi Musa a.s. & Khidr a.s.
Kisah berikut sudah berulang kali disampaikan di berbagai kesempatan, entah di pengajian ataupun di berbagai media. Namun, kisah ini senantiasa hidup dan tak pernah usang, tentang pentingnya bertawaduk dan menyadari bahwa di atas orang yang berilmu ada yang lebih berilmu lagi. Kisah ini menimpa Nabi Musa a.s.
Suatu ketika, Nabi Musa mendapat pertanyaan, apakah ada orang yang lebih pintar selain dirinya. Karena perasaan kaget dan sedikit merasa ditantang dengan pertanyaan itu, Nabi Musa menjawab dengan spontan. "Tidak ada."
Ternyata Allah Swt. tidak setuju dengan jawaban Musa. Lalu Allah Swt. mengutus Jibril untuk bertanya kepadanya, "Wahai Musa, tidakkah engkau mengetahui di mana Allah Swt. meletakkan ilmu-Nya?"
Mendengar firman Allah yang dibawa Jibril, Nabi Musa sadar bahwa dia terburu-buru menyampaikan jawaban. Jibril kembali berkata kepadanya, "Sesungguhnya Allah Swt. mempunyai seorang hamba yang berada di Majma al-Bahrain yang dia lebih alim daripada kamu, Musa."
Nabi Musa Penasaran
Mendengar perkataan itu, Nabi Musa penasaran dan ingin segera menemuinya untuk menimba ilmu kepada orang yang disebut Jibril tadi. Lalu timbullah keinginan dalam dalam hatinya untuk pergi dan menemui hamba alim yang dimaksud itu. Namun, Musa bertanya-tanya bagaimana dia dapat menemui orang alim itu.
Seketika dia mendapatkan perintah untuk pergi dan membawa ikan di keranjang. Ketika ikan itu hidup dan melompat ke lautan maka di tempat itulah Musa akan menemui hamba alim yang dimaksud.
Akhirnya, Musa pergi guna mencari ilmu dan beliau ditemani oleh seorang pembantunya yang masih muda, dikisahkan pembantunya itu bernama Yusya bin Nun. Bersama pemuda itu Nabi Musa membawa ikan di keranjang. Kemudian mereka berdua pergi untuk mencari hamba yang alim dan saleh tersebut.
Tempat yang mereka cari adalah tempat yang sangat samar. Namun, tekad bulat menguatkan hati Musa untuk tetap menemui sosok misterius itu. Tiba-tiba ketika mereka sedang istirahat, ikan yang mereka bawa loncat dari tempatnya.
Entah apa yang menggerakkan ikan itu tiba-tiba ikan yang mati itu bergerak seperti hidup terbang melayang menuju sumber air tenang. Peristiwa itu tidak diketahui Musa karena sedang beristirahat. Yusya bin Nun itu heran bagaimana bisa ikan mati itu hidup kembali dan melompat ke laut.
Yusya terus memikirkan peristiwa tadi sampai melanjutkan perjalanan yang sangat jauh. Setelah mendapati tempat istirahat lagi, mereka berdua merasa lapar. Musa menyarankan untuk membuka perbekalannya berupa ikan yang matang.
"Coba bawalah perbekalan yang kita bawa, kita akan makan siang di sini. Sungguh kita telah merasakan keletihan dan lapar akibat perjalanan ini."
Pembantunya tidak bisa menjawab ketika Nabi Musa meminta perbekalan berupa ikan itu. Dengan perasaan bersalah dia menceritakan tentang apa yang terjadi terhadap perbekalan berupa ikan yang telah hidup dan lompat ke lautan luas.
Melompatnya ikan itu ke lautan adalah sebagai tanda bahwa di tempat itulah mereka akan bertemu dengan seseorang lelaki yang alim. Nabi Musa dan pembantunya kembali dan menelusuri tempat mereka beristirahat. Akhirnya, Musa sampai di tempat ikan melompat. Di sanalah mereka mendapatkan hamba Allah Swt. yang alim dan saleh, Khidir. (QS al-Kahfi [18] :61-65)
Singkat cerita, terjadilah komunikasi antara keduanya. "Siapa kamu?" Musa menjawab, "Aku adalah Musa." Khidir berkata, "Bukankah engkau Musa dari Bani Israil? Bagimu salam wahai Nabi dari Bani Israil." Musa balik bertanya, "Dari mana engkau mengenalku?Khidir menjawab, "Sesungguhnya yang mengenalkan engkau kepadaku adalah yang juga memberitahuku siapa engkau."
Lalu, apa yang engkau inginkan wahai Musa?" Musa berkata dengan penuh kelembutan dan kesopanan, "Apakah aku dapat mengikuti engkau agar engkau dapat mengajariku sesuatu yang engkau telah memperoleh karunia dari-Nya." Khidir berkata, "Tidakkah cukup di tanganmu Taurat dan bukankah engkau telah mendapatkan wahyu. Sungguh wahai Musa, jika engkau ingin mengikuti aku, engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku."
Karena Musa ngotot untuk ikut, akhirnya Khidir mengajukan persyaratan atau kontrak pembelajaran agar Musa tidak bertanya sesuatu pun sehingga pada saatnya nanti ia akan mengetahuinya atau dia Nabi Khidir sendiri yang akan menjelaskannya. "Jika engkau mengikuti aku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu." (QS al-Kahfi[18]: 66- 70)
Keduanya pun melakukan perjalanan dengan menaiki sebuah perahu. Namun, di tengah perjalanan Nabi Khidir melubangi perahu itu.
Melihat hal itu, Nabi Musa bertanya alasan melubangi perahu. Sebab, hal itu bisa membuat penumpang di atasnya tenggelam. Nabi Khidir pun mengingatkannya bahwa Nabi Musa tidak akan tahan bersamanya.
Cerita Nabi Khidir selanjutnya, saat ia bertemu dengan seorang anak muda dan membunuhnya. Nabi Musa pun bertanya-tanya penuh misteri alasan perbuatan mungkar itu.
Nabi Khidir pun lagi-lagi mengingatkan Nabi Musa bahwa ia tidak akan mampu bersabar ketika tengah bersamanya. Mereka pun berjalan bersama kembali hingga di sebuah kota.
Nabi Musa sosok intelektual yang sangat idealis dan sempurna. Ikhtiar (kasab)nya di dalam mencari kebenaran bertekad tidak akan berhenti sebelum menemukan target yang dicari. Target itu ialah pertemuan dua laut (majma' al-bahrain) sebagaimana disebutkan dalam Alquran:
"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun." (QS al-Kahfi: 60).
Figur Musa sangat kuat mengedepankan logika. Apa saja mau dipertanyakan dan ditakar secara logis, sampai kepada wujud Tuhan pun akan diinderanya. Lihat misalnya ketika Nabi Musa diminta Tuhan belajar kepada seorang hamba-Nya ('abdan min 'ibadihi) yang arif (18:65), persyaratan sang guru tinggalkan logikanya dengan jalan mengendalikan nafsu intelektualnya dengan cara bersabar (18:67).
Nabi Musa berusaha untuk bersabar tetapi ternyata tradisi intelektualnya (berpikir kritisnya) terlalu sulit dikendalikan, sehingga ia mendapatkan peringatan pertama, ketika Nabi Musa harus menyaksikan perahu-perahu nelayan yang tak berdosa dibocorkan satu persatu.
Akhirnya Nabi Musa minta maaf kepada gurunya, tetapi kejadian kedua Nabi Musa masih belum bisa membersihkan diri dari sikap kritis yang sudah tertancap di dalam benaknya. Ia masih mempertanyakan, mengapa anak kecil yang tak berdosa harus dibunuh? Gurunya (Khidr) memberikan peringatan kedua, dan Nabi Musa pun secara tulus memohon maaf atas kelancangannya merusak janjinya. Nabi Musa melanggar kontrak belajarnya untuk tidak melontarkan kritik.
Peristiwa selanjutnya, Nabi Musa sudah mulai pasrah memugar sebuah reruntuhan bangunan tua selama berhari-hari tanpa kenal lelah. Nabi Musa berharap dengan selesainya bangunan ini ia akan diajar lebih intensif di dalamnya. Alangkah kagetnya Nabi Musa setelah bangunan selesai dipugar, sang guru (Khidr) meminta agar Nani Musa melanjutkan perjalanan entah ke mana dan meninggalkan bangunan baru itu.
Nabi Musa lagi-lagi tak terkendali, dan kembali bertanya, untuk apa menghabiskan waktu dan tenaga sekian lama membangun bangunan ini lalu ditinggalkan begitu saja? Akhirnya, Nabi Musa mendapatkan peringatan ketiga sekaligus terakhir. Ternyata, engkau memang belum pantas menjadi murid saya. Kali ini Nabi Musa juga tidak meminta maaf lagi. Ia pasrah dan siap untuk gagal menjadi murid.
Sesampainya, mereka berdua meminta untuk dijamu oleh penduduk.Tetapi para penduduk tidak mau menjamu mereka. Nabi Khidir pun melihat terdapat dinding rumah yang hampir roboh dan membenarkannya.
Melihat hal itu, Nabi Musa pun mengatakan bahwa Nabi Khidir bisa meminta imbalan sebagai gantinya. Mendengar itu, Nabi Khidir pun memutuskan untuk berpisah dengan Nabi Musa.
Sebelum Perpisahan
Sebelum keduanya berpisah, sang Guru (Khidr) menjelaskan: Karena ini pertemuan terakhir kita maka saya akan jelaskan semua kegelisahan Anda. Pertama, Perahu-perahu nelayan miskin sengaja dilubangi karena keesokan harinya raja setempat akan berpesta di laut dan semua perahu layak pakai akan dirampas dari pemiliknya. Dengan melubangi sedikit maka perahu itu ditinggalkan pasukan raja. Para nelayan masih bisa memperbaiki kembali perahunya.
Kedua, Anak itu dibunuh karena kelak jika dewasa menjadi racun masyarakat, termasuk mengkafirkan kedua orangtuanya,Kemudian, anak muda yang dibunuh merupakan seorang kafir. Sementara, kedua orang tuanya adalah mukmin sehingga Nabi Khidir diberitahu oleh Allah jikalau sang anak bisa membawa orangtuanya dalam kekafiran.
Ketiga, dinding rumah yang diperbaiki. Nabi Khidir menjelaskan kepada Nabi Musa perihal dinding rumah yang ia perbaiki. Menurutnya, rumah tersebut miliki dua anak yatim dan di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua. Ayahnya merupakan orang yang soleh. Allah Swt. pun menghendaki agar saat dewasa dapat mengeluarkan simpanan tersebut dalam rumah yang aman. Kelak jika sudah dewasa mereka akan mendayagunakan harta karun ini dengan baik. Nabi Musa hanya bisa tercengang, ternyata di atas langit masih ada langit.
I'tibar
Setelah kita membaca kisah tentang perjumpaan dan perpisahan Nabi Musa a.s. dan Khidr a.s. maka tentu berbagai makna yang dapat dirumuskan. Hal itu bergantung pada tingkat keariifan berpikir kita masing-masing. Namun, paling tidak, kali ini dikemukakan tiga poin utama.
Pertama, epistemologi yang berbeda. Kisah tersebut mengajarkan epistemologi. Epistemologi keilmuan Nabi Musa menggunakan pendekatan bayani dan burhani. Nabi Musa terlatih berpikir kritis. Hal itu sesuai dengan konteks masyarakat atau komunitas Bani Israil yang umumnya cerdas secara intelektual dan kritis. Namun, Allah hendak mengajarkan bahwa ada epistemologi irfani (sufistik) seperti yang dimiliki oleh Khidr. Ilmu itu adalah ilmu ladunni (wahbi). Ilmu pemberian langsung dari Allah diberikan kepada hamba yang Dia kehendaki.
Kedua, kesabaran dan Kode etik. Belajar membutuhkan kesungguhan seperti yang dilakukan Nabi Musa a.s. Beliau rela menempuh perjalanan panjang demi mencari dan memperoleh ilmu yang belum ia ketahui. Nabi Musa pun terkenal paling cerdas dari komunitas Bani Israil. Namun, kesungguhan dan kecerdasan saja tidak cukup, melainkan dibutuhkan kesabaran yang tinggi dan menjaga etika dan akhlak. Bukankah banyak orang gagal karena merasa pintar, tidak hormat kepada guru, dan tidak sabar menghadapi kesulitan.
Ketiga, di atas langit masih ada langit. Setiap orang berilmu mempunyai penyakit arogansi intelektual. Ketika itu muncul, maka ia memandang dirinya lebih pintar daripada ilmuwan yang lain, serta memandang orang lain berada di bawah. Bahkan, mungkin muncul sifat memandang enteng orang lain. Kalau itu terjadi, mirip dengan apa yang menimpa iblis.
Namun sebagai catatan, saya memahami dan meyakini Nabi Musa a.s. tidak memiliki arogansi intelektual. Beliau seorang Nabi dan Rasul yang menerima wahyu Taurat. Ini adalah metode al-Qur'an dalam menarasikan karakter ilmuwan. Ini merupakan i'tibar (pelajaran dan inspirasi) buat manusia setelahnya bahwa di atas langit masih ada langit, di atas orang berilmu masih ada orang berilmu. Dan, seluruh ilmu hanyalah titipan. Pada waktunya ilmu akan diangkat dengan membuat mereka lupa atau wafatnya orang berilmu. Kita berlindung kepada Allah dari sifat buruk tersebut.
Wallahu a'lam.

0 Komentar