TINDAKAN HEROIK KETIKA ALI BIN ABI THALIB MENGGANTIKAN POSISI RASULULLAH SAW.

Oleh Muhammad Yusuf

Dosen UIN Alauddin dan STAI Al-Furqan Makassar

Makassar, 03-03-2021


Catatan Pendahuluan

Ketika seseorang berada dalam keadaan yang aman dan nyaman tentu mudah menemukan teman. Tatkala ia dalam situasi yang berbahaya maka hanya sahabat setia yang bisa bertahan menyertainya. Ada kalanya kesulitan hidup datang sebagai momentum untuk membedakan mana yang sebatas teman dan mana sahabat. 

Kesetiaan itu bukanlah sebab, melainkan akibat atau respon dari stimulus yang kuat dan tepat menyentuh sasarannya. Salah satu sebab yang mengundang respon kesetiaan adalah penempatan kalimat yang tepat dan lahir ketulusan hati penuturnya. Dari sinilah Nabi Saw. menemukan kemampuan adaptasi mengenai penempatan kalimat yang menyentuh energi kesetiaan para sahabat beliau. 

Kesetiaan dan kehormatan bagi persahabatan sejati memerlukan pengorbanan besar untuk sebuah amanah yang tak boleh diingkari." Itu kata Eidelweis Almira. Kekuatan kalimat yang dipadukan dengan sikap "taro ada tato gawu" yang lahir dari kedalaman relung hati akan diterima oleh hati pula. Maka kondisi itulah akan  kesetiaan persahabatan tanpa syarat. Para sahabat nabi Muhammad Saw. mendapatkan nilai itu pada diri Rasulullah Saw. 

Perjalanan Ali bin Abi Thalib

Nabi Muhammad Saw. beserta para sahabat hendak pergi berhijrah atas perintah Allah. Namun, sebelum Rasulullah Saw. pergi berhijrah, para kaum kafir Quraisy memiliki rencana untuk membunuh Rasulullah Saw.

Di dalam rumah, Rasulullah Saw. dan Abu Bakar bersiap hendak berangkat berhijrah menuju Yatsrib (kini namanya Madinah). Untuk mengelabui kaum Quraisy yang hendak membunuh Rasullullah Saw., Beliau meminta Ali bin Abi Thalib menyamar sebagai dirinya.

Rasulullah Saw berkata, “ wahai Ali, pakailah jubah hijauku ini dan tidurlah di ranjangku seakan-akan kamu adalah diriku,” perintah Rasulullah Saw

Ali langsung merespon, “Baik, wahai Rasulullah, saya akan menyamar sebagai Anda,” jawab Ali 0 ada keraguan sama sekali dalam dirinya. Padahal penyamaran tersebut sangat berbahaya bagi keselamatan nyawanya.

“Aku dan Abu Bakar akan berangkat lebih dahulu ke Madinah. Tinggallah engkau di Makkah sementara waktu untuk menyelesaikan semua amanah umat.”

“Baik, wahai Rasulullah.”

Ali berganti baju menggunakan baju milik Rasulullah Saw. Lalu Ali segera berbaring di ranjang Rasulullah Saw. Sedangkan Rasulullah Saw. menyelinap keluar rumah bersama Abu Bakar tanpa terlihat oleh kaum kafir Quraisy. Rupanya Allah telah menutup penglihatan mereka. Rasulullah Saw. dan Abu Bakar menyusuri jalan yang terjal menuju Gua Tsur.

Menjelang tengah malam kaum kafir Quraisy mengepung rumah Rasulullah Saw. Mereka mengintai ke dalam rumah dan melihat seseorang yang tengah tidur di ranjang.

“Itu pasti Muhammad,” ucap salah seorang dari mereka.

“Ayo, kita masuk rumah Muhammad sekarang juga!” timpal yang lain.

“Kita habisi Muhammad, mumpung dia sedang lengah.” Tegas yang lainnya.

Kaum kafir Quraisy, segera masuk. Sosok yang tengah tidur itu dikepung dengan pedang yang terhunus.

“Hai, Muhammad! Bangunlah! Kami datang untuk membunuhmu!”

Orang-orang Quraisy yang hendak membunuh Rasulullah Saw. tersebut kaget. Mereka tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Ternyata bukan Muhammad melainkan Ali bin Abi Thalib.

“Hai, Ali! Kenapa bukan Muhammad yang tidur disini? Di mana dia berada?”

“Aku tidak tahu.” Jawab Ali dengan santainya.

Orang-orang Quraisy tersebut kecele karena mereka gagal membunuh Rasulullah Saw. Lalu mereka meninggalkan rumah Rasulullah Saw. dengan tangan hampa. Andai mereka tak bertanya, maka Ali bin Abi Thalib pasti jadi tumbalnya (dibunuh), karena mereka meyakini bahwa yang berbaring itu adalah Muhammad. Ternyata Ali.

Rahasia di balik Kesetiaan para Sahabat

Perjuangan dakwah Rasulullah Saw. dan kesetiaan Ali bin Thalib kepada dan kepada Rasulullah Saw telah teruji. Seperti sahabat yang lain, Ali menyerahkan harta, jiwa, dan raganya untuk kepentingan dakwah Rasulullah Saw. Suatu ketika Rasulullah Saw. hendak dibunuh oleh kelompok orang-orang kafir. Ali bin Thalib menggantikan Rasulullah Saw. untuk mengecoh mereka. Tindakan yang dilakukan ketika menggantikan posisi Rasulullah Saw. di tempat tidur Rasulullah Saw. itu sungguh sangat beresiko, Nyawa taruhannya. Namun, hal itu tidak membuat sedikit pun Ali bin Abi Thalib mundur dari ciut.

Mengapa kesetiaan Ali bin Thalib kepada beliau begitu kuat? Rahasia kesetiaan para sahabat tanpa syarat itu karena kehebatan Rasulullah Saw. menyelami jiwa mereka. Hal senada dikatakan oleh Prof. Buya Hamka bahwa. Nabi Muhammad Saw. memiliki kesanggupan menyelami jiwa sahabatnya. Karena itulah, para sahabat menjadi sangat setia kepada Nabi Muhammad.

Bahkan, semua sahabatnya bersedia mati karena mempertahankannya dan semuanya diberi kebesaran dan dinaikkan jiwanya ke atas. Sehingga, para sahabat merasa diberikan penghargaan menjadi manusia yang besar. Penghargaan mereka diberinya menurut tingkatannya masing-masing,.

Saya meminjam istilah yang lain bahwa Nabi Saw. menggunakan prinsip kekuatan bahasa. Setiap kalimat ada tempatnya dan setiap tempat ada kalimat yang tepat. Budi bahasa beliau yang begitu tinggi dan maknanya mendalam. 

Hal ini bisa dilihat pada misalnya, tentang Abu Bakar Nabi Muhammad  Saw. Dengan kekuatan kalimatnya, "Perempuan yang paling kusayangi adalah Aisyah dan laki-laki yang kucintai adalah ayahnya (Abu Bakar)."

Sedangkan untuk Umar bin Khattab memilih kalimat: "Kalau ada Nabi sesudahku, tentulah Umar Nabi itu."  Ini tentu luar biasa menyentuh dan menyelami relung jiwa Umar bin Khattab. Bukan basa basi. Tapi itu bersumber dari kedalaman jiwa beliau juga.

Adapun formulasi kalimat untuk Ustman Nabi bertutur, "Kalau ada anak perempuan yang lain lagi, hai Ustman, tentu engkau juga yang akan kuambil menantu." Kalimat ini pas sekali untuk Utsman yang telah menjadi menantu Rasulullah Saw. dengan menikahi dua putri beliau. Dan hal itu pula yang melatarbelakangi Nabi Saw. memberi gelar kepadanya dengan "Dzu Nur'ain'. Sebuah gelar yang memiliki muatan nilai istimewa.

Beliau juga memilih kalimat yang pas untuk dialamatkan kepada Ali bin Abi Thalib. Nabi berkata, "Saya kota ilmu, Ali adalah pintunya.". Kecerdasan dan kegeniusan Ali menjadi sasaran sentuh melalui kalimat tersebut. Kalimat tasybih dengan pola matsal adalah ungkapan retorikal (balagiyah) yang memiliki kelembutan yang menyentuh relung kesadaran Ali bin Abi Thalib.

 Bila stimulus kesetiaan sudah memenuhi jiwa seorang sahabat maka kesetiaan tidak meminta syarat apapun. Kepercayaan yang tak pernah terkhianati, pengorbanan yang mendapat tempat  (iya ada iya gawu) akan merawat kesetiaan layaknya kesetiaan para sahabat nabi Muhammad Saw. yang diikat dengan tali akidah yang sama "lailaha illallah-muhammadur Rasulullah".

Wallahu a'lam bishsh-shawab.

Salam!

Posting Komentar

0 Komentar