Oleh Muhammad Yusuf
Dosen UIN Alauddin dan STAI Al-Furqan Makassar
Paccinnongang-Gowa, 38-02-2021
Pendahuluan
Setiap sahabat memiliki keistimewaan masing-masing. Nabi Saw. memuji mereka sesuai keadaan yang ada mereka. Kemampuan beliau menyelami ke relung jiwa-jiwa mereka. Itulah yang membuat mereka merasa nyaman dan setia bersama Rasulullah Saw.
Hubungan Ali bin Abi Thalib dengan Rasulullah Saw. diikat oleh beberapa simpul. Dari segi genetik (nasab) Ali bin Abi Thalib sepupu Rasulullah Saw. dari jalur ayahnya. Dari segi hubungan pernikahan, Ali bin Abi Thalib merupakan menantu Rasulullah Saw. melalui pernikahannya dengan Fatimah binti Muhammad Saw.
Selain itu, Ali sejak kecil sudah muslim dan tumbuh di bawah Pendidikan langsung dengan Rasulullah Saw. Kelebihan beliau dibandingkan sahabat yang lain dari kalangan Khulafaur Rasyidin yang tiga lainnya, yaitu beliau tidak pernah menyamai selain Allah. Makanya, beliau diberi doa sisipan si belakang namanya dengan "karramallahu wajhahu"- semoga Allah memuliakan wajahnya. Namanya menjadi Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhahu.
Nama dan Nasabnya
Beliau adalah Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhar bin Kinanah. Rasulullah Saw. memberinya kun-yah Abu Turab saat beliau dicari Nabi Saw. dan didapatkan sedang tertidur dengan menempelkan pipinya di tanah. Ia adalah sepupu sekaligus menantu Rasulullah Saw..
Ibunya bernama Fathimah binti Asad bin Hasyim bin Qushay bin Kilab. Ali memiliki beberapa orang saudara laki-laki yang lebih tua darinya, mereka adalah: Thalib, Aqil, dan Ja’far. Dan dua orang saudara perempuan; Ummu Hani’ dan Jumanah.
Ayahnya ialah Abu Thalib yang nama aslinya adalah Abd Manaf. Abu Thalib adalah paman kandung Rasulullah Saw. yang sangat menyayangi Nabi, namun ia wafat dalam agama jahiliyah. (Al Bidayah Wan Nihayah, 7/222)
Sifat Fisiknya
Ali bin Abi Thalib adalah laki-laki berkulit sawo matang, bola mata beliau besar dan agak kemerah-merahan. Untuk ukuran orang Arab, beliau termasuk pendek, tidak tinggi dan berjanggut lebat. Dada dan kedua pundaknya putih. Rambut di dada dan pundaknya cukup lebat, berwajah tampan, memiliki gigi yang rapi, dan ringan langkahnya (Al Bidayah Wan Nihayah, 7/222)
Istri-Istri dan Anak-Anaknya
Istri pertama yang dinikahi Ali r.a. adalah Fatimah binti Rasulullah Saw. yang darinya memperoleh dua putra al-Hasan dan al-Husain. Ada yang mengatakan putra ketiga beliau bernama Muhasin namun meninggal dunia saat masih bayi. Beliau juga mempunyai dua orang putri yaitu Zainab al-Kubra dan Ummu Kaltsum al-Kubra yang dinikahi oleh Umar bin Khaththab r.a..
Setelah Fatimah wafat, Ali menikahi beberapa wanita, diantara istri beliau ada yang wafat ketika beliau masih hidup, ada yang beliau ceraikan, dan ketika wafat beliau meninggalkan empat istri. Diantara istri beliau adalah Ummul Banin binti Hizam, Laila binti Mas’ud, Asma’ binti ‘Umais, Ummu Habib binti Rabi’ah, Ummu Sa’id, binti Urwah bin Mas’ud, Binti Umru’ul Qais bin Ady, Umamah binti Abil Ash, Khaulah binti Ja’far bin Qais. (Al Bidayah Wan Nihayah, 7/331).
Jumlah keseluruhan anak kandung beliau adalah empat belas putera dan sembilan belas puteri. (At-Thabari dalam Tarikhnya 5/155, Ibnu Sa’ad 3/20)
Keutamaan Ali bin Abi Thalib
1. Sahabat yang Dijamin Masuk Surga
Rasulullah Saw. bersabda, “Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, az-Zubair di surga, Sa’ad (bin Abi Waqqash) di surga, Sa’id (bin Zaid) di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Abu Ubaidah bin al-Jarrah di surga.” (HR. at-Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Albani).
2. Dicintai Allah dan Rasul-Nya
Pada Perang Khaibar, Rasulullah Saw. hendak memberi bendera perang kepada salah seorang sahabatnya. Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’adi, Rasulullah Saw. bersabda, “Demi Allah, akan aku serahkan bendera ini esok hari kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dia dicintai Allah dan Rasul-Nya. Semoga Allah memberikan kemenangan melalui dirinya.” Maka semalam suntuk orang-orang (para sahabat) membicarakan tentang siapakah di antara mereka yang akan diberikan bendera tersebut.
Keesokan harinya, para sahabat mendatangi Rasulullah Saw., lalu beliau bersabda, “Dimanakah Ali bin Abi Thalib?” Dijawab, “Kedua matanya sedang sakit.” Rasulullah Saw. memerintahkan, “Panggil dan bawa dia kemari.” Dibawalah Ali ke hadapan Rasulullah Saw., lalu beliau meludahi kedua matanya yang sakit seraya berdoa untuknya. Seketika Ali sembuh total seolah-olah tidak tertimpa sakit sebelumnya.
Kemudian Rasulullah Saw. menyerahkan bendera kepadanya. Lalu Ali berkata, “Wahai Rasulullah, aku memerangi mereka sampai mereka menjadi seperti kita.” Rasulullah Saw. bersabda, “Majulah dengan tenang, sampai engkau tiba di tempat mereka. Kemudian ajaklah mereka kepada Islam dan sampaikanlah hak-hak Allah yang wajib mereka tunaikan. Demi Allah, sekiranya Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui dirimu, sungguh itu lebih berharga bagimu daripada memiliki onta-onta merah.” (HR. Muslim).
3. Seperti Kedudukan Harun Di Sisi Musa
Ibrahim bin Saad bin Abi Waqqash meriwayatkan dari ayahnya, dari Rasulullah Saw., beliau bersabda kepada Ali, “Apakah engkau tidak ridha kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa.” (Muttafaq ‘alaihi).
Ali berkata, “Wahai Rasulullah, orang-orang munafik mengatakan bahwa engkau menugaskan aku karena engkau memandang aku berat untuk berangkat jihad dan kemudian memberikan keringanan”.
Beliau bersabda, “Mereka telah berdusta! Kembalilah, aku menugaskanmu untuk mengurus keluargaku dan keluargamu. ‘Tidakkah engkau rela mendapatkan kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?”. Maka Ali pun akhirnya kembali ke Madinah (Taariikhul-Islaam, 1: 232).
Mengabadikan Ilmu dengan menulisnya
Ali bin Abi Thalib berkata: “Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya”. Perkataan tersebut sangat pouler di kalangan intelektual Muslim. Karena, kata tersebut sangat terbukti kebenarannya dan dapat menginspirasi semua orang untuk menjadi intelektual yang dikenang sejarah.Rahasia kecerdasan Ali bin Abi Thalib selanjutnya adalah senantiasa mengikat ilmu berupa Alquran agar tetap abadi sepanjang masa, baik sebagai ilmu atau untuk bacaan dalam ibadah, selalu menuliskannya.
Merangkai Kata-Kata Indah
Merangkai kata-kata indah merupakan salah satu cara menstimulasi otak agar cerdas. Ali bin Abi Thalib sangat pandai merangkai kata-kata indah sehingga tak menutup kemungkinan kecerdasannya yang luar biasa dikarenakan ia terbiasa membaca, belajar, dan merangkai kata-kata indah.
Telah dikatakan bahwa ia belajar pada Alquran dan hadis. Sementara, Alquran dan hadis mengandung kata-kata indah. Jadi, kepandaian Ali bin Abi Thalib dalam merangkai kata-kata indah tidak lepas dari apa yang sering ia baca dan pelajari.
Ali bin Abi Thalib dengan kata-katanya yang indah telah menumbuhkan kecerdasannya dengan baik dan indah. Sekaligus ia telah mendorong pembacanya untuk ikut cerdas dan memiliki kecerdasan yang indah. Dengan kata lain, kata-kata indah dapat menumbuhkan moralitas dalam diri seseorang.

0 Komentar