SOSOK ORANG TUA DI BALIK KEBESARAN IMAM SYAFI'I


Oleh: Muhamad Yusuf 

Dosen UIN Alauddin dan STAI Al-Furqan Makassar

Samata, 12/2/2021


Kejujuran Pangkal Kebaikan

Seringkali kita dibuat kagum oleh capaian dan kesuksesan seseorang. Kita pun sering turut memberi pujian kepadanya atas kesuksesan yang diraihnya. Tapi, tahukah kita bahwa setiap orang yang besar (sukses) ada orang hebat di belakangnya? Kisah berikut saya hadirkan buat para pembaca tentang  adanya sosok yang hebat di balik kesuksesan Imam Syafi'i. Sosok itu adalah kedua orang tuanya. Kisah tentang rahasia di balik kesuksesan Imam Syafi'i tidak bisa dipisahkan dari sosok kedua orang tua dan kakeknya yang cerdas memilih menantu.

Imam Syafi'i terlahir dari genetik orang yang jujur (Bugis: tawu malempu') dan menjaga muru'ah (Bugis: tawu manini'). Ketika masih muda, Idris, yang tidak lain adalah ayahanda imam Syafi'i tumbuh dalam karakter kejujuran yang kuat. Kisahnya seolah seperti proses yang dramatis, namun itu merupakan sebuah fakta. Pertemuan ayahanda imam Syafi'i dengan ibundanya berlatarbelakang sebuah nilai kejujuran. Demikian pula ibunda beliau seorang wanita yang merawat muru'ah di bawah bimbingan keluarga yang saleh. Imam Syafi'i adalah 'anyaman' dari keluarga yang jujur (malempu') dan menjaga muru'ah (manini').

Didiklah Anakmu 25 Tahun sebelum Lahir

Mungkin kalimat tersebut sudah pernah terdengar di telinga Anda. Mendidik anak sebelum dilahirkan. What? Emang bisa? Iya, iyalah. Bisa... Epen (emang penting) kah? (maaf sedikit gaul bahasanya). Hanya saja perlu dipahami maksudnya. Mendidik anak sebelum dilahirkan merupakan hal penting dalam proses pendidikan generasi. Bukan hanya mendidiknya ketika masih dalam kandungan, tetapi hal lain yang tak kalah pentingnya adalah mendidik calon pendidik itu sendiri.  

Para ummahat (ibu-ibu) adalah 'ujung tombak' pendidikan generasi bangsa. Jika wanita itu rusak, maka rusaklah generasi bangsa. Mendidik seorang wanita diandaikan dengan mendidik sepuluh generasi. Mungkin formulasi kalimat itu sudah tak asing di telinga kita. Kalimat yang mengandung makna mendalam tentang bagaimana urgensinya pendidikan perempuan. Pendidikan yang seharusnya menjadi perhatian utama bagi semua. 

Disebutkan, '"Al-ummu al-madrasatul 'ulaa", (ibu adalah lembaga pertama). Semakin mengokohkan pandangan bahwa pendidikan dari kaum perempuan sangatlah strategis bagi sebuah generasi. Pendidikan informal (lingkungan rumah tangga) adalah lingkungan pendidikan pertama dan paling utama. Dan, hal ini diakui oleh dunia pendidikan. Apalagi, selama masa pandemi Covid-19 ini pendidikan berlangsung selama 24 jam setiap hari (full time) di rumah. Peran para ibu makin disadari sangat besar.

Fitrah wanita yang mengandung dan melahirkan, selanjutnya menyusui dan merawat anak menjadikan wanita lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan sang anak. Keseluruhan interaksi tersebut merupakan interaksi edukatif. Dan, ibu-ibulah yang lebih sering melakukannya, meskipun ayah juga mendukungnya. Selain fitrahnya, hal-hal tersebut sekaligus sebagai amanah dari Allah untuk para ibu.

 وَالْوَالداتُ یُرْضِعْنَ أوْلَادهَُّ ن حَوْلیْنِ كَامِلیْنِۖ  لمَنْ أرَاد أنْ یُتَّ م الَّ رضَاعَةَۚ  وَعَلى الْمَوْلود لهُ رِزْقُهَُّ ن وَكِسْوَتُهَُّ ن بالْمَعْرُوفِ

“Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut.” (QS. Al-Baqarah: 233).

Proses menyusui bukan hanya sebuah proses transfer ASI dari ibu ke anak, melainkan juga di dalamnya ada transfer nilai (value) kasih sayang, transfer cinta, dan sebagainya. Proses-proses itu mengukuhkan kebersamaan ibu dan anak. Hal itu sesungguhnya itu adalah interaksi edukatif yang berlangsung sejak dini. Sumber yang baik dan halal untuk asupan gizi yang baik kelak akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan fisik dan psikis anak selanjutnya. Proses itu pula yang dialami oleh para generasi terbaik yang menjadi ulama besar semisal imam Syafi'i yang diperankan oleh ibunya bersama dukungan ayahanda beliau. Simaklah kisahnya secara singkat berikut ini!

Idris & Buah Delima: Pesan Kejujuran

Mungkin kisah ini sudah pernah Anda dengar atau pernah membacanya. Di sini saya kembali menuliskan sebagai pijakan inspirasi. Begini ceritanya. Seorang pemuda bernama Idris berjalan menyusuri sungai. Tiba-tiba ia melihat buah delima yang hanyut terbawa air. Ia ambil buah itu dan tanpa pikir panjang langsung memakannya.

Ketika Idris sudah menghabiskan setengah buah delima itu, baru terpikir olehnya, apakah yang dimakannya itu halal atau tidak? Buah delima yang dimakan itu bukan miliknya. Idris berhenti makan. Ia kemudian berjalan ke arah yang berlawanan dengan aliran sungai, mencari dimana ada pohon delima.

Sampailah ia di bawah pohon delima yang lebat buahnya, persis di pinggir sungai. Dia yakin, buah yang dimakannya jatuh dari pohon ini. Idris lantas mencari tahu siapa pemilik pohon delima itu, dan bertemulah dia dengan sang pemilik, seorang lelaki setengah baya. “Saya telah memakan buah delima Tuan. Apakah ini halal buat saya? Apakah Tuan mengikhlaskannya?” tanya Idris.

Orang tua itu, terdiam sebentar, lalu menatap tajam. “Tidak bisa semudah itu. Anda harus bekerja menjaga dan membersihkan kebun saya selama sebulan tanpa gaji,” katanya kepada Idris. Demi memelihara perutnya dari makanan yang tidak halal, Idris pun langsung menyanggupinya. Sebulan berlalu begitu saja. Idris kemudian menemui pemilik kebun. 

“Tuan, saya sudah menjaga dan membersihkan kebun Tuan selama sebulan. Apakah Tuan sudah menghalalkan delima yang sudah saya makan?” “Tidak bisa, ada satu syarat lagi. Kamu harus menikahi putri saya; Seorang gadis buta, tuli, bisu dan lumpuh.” 

Idris terdiam. Tapi dia harus memenuhi persyaratan itu. Idris pun dinikahkan dengan gadis yang disebutkan. Pemilik - yang segera menjadi mertuanya - menikahkan sendiri anak gadisnya dengan disaksikan beberapa orang, tanpa perantara penghulu. 

Setelah akad nikah berlangsung, Tuan, pemilik kebun memerintahkan Idris menemui putrinya di kamarnya. Ternyata, bukan gadis buta, tulis, bisu, dan lumpuh yang ditemui, namun seorang gadis cantik yang nyaris sempurna. Namanya Ruqoyyah. 

Sang pemilik kebun tidak rela melepas Idris begitu saja. Ayah Ruqayyah menggunakan bahasa simbolik. Putrinya buta, artinya ia tidak sembarang melihat hal-hal yang haram dan terlarang. Begitu juga ia tuli, maksudnya tidak sembarang mendengar perkataan yang sia-sia atau terlarang. Ia tak pernah ke.mana-mana laksana orang lumpuh tak sembarang berjalan untuk sesuatu yang tidak baik atau haram.

Seorang pemuda yang jujur dan menjaga diri (Bugis: manini') dari makanan yang tidak halal. Ia menahan dan menjadikan Idris sebagai menantu, yang kelak memberinya cucu bernama Muhammad bin Idris al-Syafi’i, seorang ulama besar, guru dan panutan bagi jutaan kaum muslimin di dunia. Beliau adalah mahaguru lintas negara dan lintas zaman yang waktu yang berabad-abad lamanya hingga kini.

Pesan Moral

Imam Syafi'i adalah 'role model' bagi generasi yang ideal. Ia laksana bibit unggul yang ditanam di lahan (lingkungan) yang subur. Tumbuh dalam siraman kasih sayang, cinta, ketulusan serta untaian doa kedua orangtuanya. Imam Syafi'i diandaikan buah dari sebatang pohon (yang bernama rumah tangga) yang berdiri kokoh dan solid. Bisakah kita juga seperti itu? Ya, kenapa tidak? Kalau memohon dalam doa yang tulis dan berupaya maksimal serta mendapat restu dari Allah, pasti bisa.

Kisah ibunda dan kakek imam Syafi'i menginspirasi bagi orang tua yang mempunyai anak perempuan, orang tua berkewajibann mendidiknya dengan baik dan mencarikan pasangan yang baik pula agar membentuk keluarga yang selain sakinah mawadah warahmah, juga berkualitas dan melahirkan generasi yang berkualitas pula. Sebab, keluarga diandaikan sebagai sebuah proyek moral dan akhlak. Keluarga yang baik akan melahirkan generasi yang baik dan berkualitas.

Dalam rumah tangga, anak-anak merupakan ladang kebaikan. Apa yang orang tua tanam pada anaknya itu pula yang tumbuh dan dituai kelak. "Bukan tentang apa yang kamu tinggalkan untuk anak-anakmu, melainkan apa yang kamu tinggalkan dalam diri anak-anakmu." Mewariskan harta kepada generasi itu wajar namun itu biasa. Tapi, mewariskan ilmu, pendidikan, dan akhlak mulia itu keren dan luar biasa. Wallahu a'lam bishsh-shawab.


Salam nalar kritis! 

Posting Komentar

0 Komentar