KHALIFAH KETIGA, UTSMAN BIN AFFAN


Oleh Muhammad Yusuf

Dosen UIN Alauddin dan STAI Al-Furqan Makassar

Samata, 25/2021


Catatan Pembuka

Aktivitas membaca sejarah merupakan bagian dari ikhtiar untuk mengadaptasi nilai-nilai yang baik dari jejak hidup seorang tokoh atau seseorang yang dianggap menginspirasi. Kisah juga merupakan dokumen historis tentang nilai-nilai yang buruk untuk diwaspadai dan dihindari oleh generasi setelahnya agar tidak terjatuh kedalam lubang yang sama. 

Sebelumnya, kita sudah mengungkapkan bagian kecil dari keistimewaan dua sahabat, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Kini, giliran untuk mengungkap bagian kecil dari dokumen historis Khalifah ketiga, Utsman bin Affan. Sahabat Rasulullah Saw. yang satu ini juga memiliki keistimewaan-keistimewaan tersendiri.  

Pada tulisan ini, saya lebih fokus pada nilai-nilai positif dan keistimewaan yang tentu diharapkan menginspirasi dari jejak perjalanan Khalifah Utsman bin Affan. Dalam konteks ini, beliau merupakan sahabat yang istimewa baik pengusaha muslim yang saleh dan dermawan maupun sebagai Khalifah atau Amirul mukminin yang dicatat dengan tinta emas sejarah sebagai Khalifah yang kebijakannya berdampak monumental. Yaitu, pembukuan dan penyatuan mushaf Al-Qur'an. Simak cuplikan kisahnya!

Sosok Utsman bin Affan

Nama lengkapnya Utsman bin Affan bin Abi Al-Ash bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf, r.a.Ia adalah Khalifah ketiga umat Islam, setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah Saw. pada kakek yang keempat, yaitu Abdu Manaf. Dari sisi ibu, nasab keduanya bertemu pada Urwa binti Kariz. Ibunda Urwa adalah Baydha binti Abdul Muththalib, bibi Rasulullah Saw.

Dalam kitab ath-Thabaqat al-Kubra dikatakan, Utsman bin Affan memiliki jalur nasab yang sama dengan nasab Rasulullah. Ustman merupakan putra dari Abi al-Ash bin Umayyah bin Abdu asy-Syam bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luwai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’addu bin Adnan (ath-Thabaqat al-Kubra, 3: 53).

Dari sisi genetiknya, orang keturunan Quraisy yang satu ini memiliki kekerabatan yang sangat dekat dengan Nabi  Saw. Selain sebagai keponakan Rasulullah Saw., Utsman juga menjadi menantu Rasulullah Saw. dengan menikahi dua putri beliau.

Utsman bin Affan merupakan salah satu dari 10 sahabat Rasulullah Saw. yang dijamin masuk surga. Beliau juga termasuk yang diridhai oleh Allah Swt. Memiliki karakteristik dan keistimewaannya yang berbeda dengan sahabat yang lain. Hal itu dijumpai dalam beberapa riwayat.

Karakternya

Beliau adalah seorang pengusaha kaya yang sangat dermawan. Dalam sebuah persiapan pasukan perang, Utsman yang membiayainya seorang diri. Setelah kaum muslimin hijrah, saat kesulitan air, beliau pulalah yang membeli sumur dari seorang Yahudi untuk kepentingan kaum muslimin.

Dalam sebuah hadis digambarkan sosok dan pribadi Ustman yang dikenal sangat pemalu. Nabi menggambarkan: “Orang yang paling kasih sayang diantara ummat-ku adalah Abu Bakar, dan paling teguh dalam menjaga ajaran Allah adalah Umar, dan yang paling bersifat pemalu adalah Utsman. (HR Ahmad, Ibnu Majah, Al Hakim, At Tirmidzi)

Amirul mukminin, dzu nur'ain, Utsman bin Affan telah berhijrah dua kali, dan suami dari dua orang putri Rasulullah Saw. Ibunya bernama Arwa binti Kuraiz bin Rabiah bin Hubaib bin Abdu asy-Syams dan neneknya bernama Ummu Hakim, Bidha binti Abdul Muthalib, bibi Rasulullah Saw. 

Dari segi fisik, Utsman adalah seorang yang rupawan, lembut, mempunyai janggut yang lebat, berperawakan sedang, mempunyai tulang persendian yang besar, berbahu bidang, rambutnya lebat, dan bentuk mulutnya bagus.

Az-Zuhri mengatakan, “Beliau berwajah rupawan, bentuk mulut bagus, berbahu bidang, berdahi lebar, dan mempunyai telapak kaki yang lebar.”

Amirul mukminin, Utsman bin Affan terkenal dengan akhlaknya yang mulia, sangat pemalu, dermawan, dan terhormat. Terlalu panjang untuk mengisahkan kedermawanan beliau pada coretan yang terbatas ini. Untuk kehidupan akhirat, menolong orang lain, dan berderma seolah-olah hartanya seringan buah-buah kapuk yang terpecah lalu kapuknya terhembus angin yang kencang.

Dari Abu Musa al-Asy’ari bahwa Rasulullah Saw. masuk ke sebuah kebun dan memerintahkan aku untuk menjaga pintu kebun tersebut. Kemudian datang seorang lelaki untuk masuk, beliau bersabda, “Izinkan dia masuk, kemudian beritakan kepadanya bahwa ia masuk surga.” Ternyata laki-laki tersebut adalah Abu Bakar. Setelah itu datang laki-laki lain meminta diizinkan masuk, beliau bersabda, “Izinkan dia masuk, kemudian beritakan kepadanya bahwa ia masuk surga.” 

Ternyata lelaki itu adalah Umar bin al-Khattab. Lalu datang lagi seorang lelaki meminta diizinkan masuk, beliau terdiam sejenak lalu bersabda, “Izinkan ia masuk, kemudian beritakan kepadanya bahwa ia masuk surga disertai dengan cobaan yang menimpanya.” Ternyata lelaki tersebut adalah Utsman bin Affan.

Muadz bin Jabal r.a. berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya aku melihat bahwa aku di letakkan di sebuah daun timbangan dan umatku diletakkan di sisi daun timbangan lainnya, ternyata aku lebih berat dari mereka.

Kemudian diletakkan Abu Bakar di satu daun timbangan dan umatku diletakkan di sisi yang lainnya, ternyata Abu Bakar lebih berat dari umatku. Setelah itu diletakkan Umar di sebuah daun timbangan dan umatku diletakkan di sisi yang lainnya, ternyata dia lebih berat dari mereka. Lalu diletakkan Utsman di sebuah daun timbangan dan umatku diletakkan di sisi lainnya, ternyata dia lebih berat dari mereka.” (al-Ma’rifatu wa at-Tarikh, 3: 357).

Hadis yang serupa juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari jalur Umar bin al-Khattab. Hadis ini menunjukkan kedudukan Abu Bakar, Umar, dan Utsman dibandingkan seluruh umat Nabi Muhammad yang lain. Seandainya orang-orang terbaik dari umat ini dikumpulkan, lalu ditimbang dengan salah seorang dari tiga orang sahabat Nabi ini, niscaya timbangan mereka lebih berat dibanding seluruh orang-orang terbaik tersebut.

Kebijakan yang Monumental

Sebuah kebijakan atau karya akan menjadi Monumental apabila didasari oleh niat yang ikhlas. Utsman bin Affan telah membuktikan hal itu. Berangkat paradigma pembangunan berkelanjutan (sustainable development) ide yang mulai diwacanakan sejak Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang belum terwujud dan tak sempat pula diwujudkan pada era Khalifah Umar bin Khattab, justru kesempatan bagi Khalifah Utsman bin Affan, yaitu menyatukan dan membukukan mushaf Al-Qur'an.

Pada masa kepemimpinannya, Utsman bin Affan merintis penulisan Al-Qur'an dalam bentuk mushaf, dari lembaran-lembaran yang mulai ditulis pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Mushaf inilah yang kemudian disebut Mushaf Utsmani. Kini, mushaf tersebar ke seluruh penjuru dunia. 

Kekhalifahan dan Pemberontakan

Dari Aisyah r.a., ia berkata, Rasulullah Saw. pernah mengutus seseorang untuk memanggil Utsman. Ketika Utsman sudah datang, Rasulullah Saw. menyambut kedatangannya. Setelah kami melihat Rasulullah Saw. menyambutnya, maka salah seorang dari kami menyambut kedatangan yang lain. 

Ucapan terakhir yang disampaikan Rasulullah Saw. sambil menepuk pundak Utsman adalah: “Wahai Utsman, mudah-mudahan Allah akan memakaikan engkau sebuah pakaian (memberimu amanat jabatan khalifah), dan jika orang-orang munafik ingin melepaskan pakaian tersebut, janganlah engkau lepaskan sampai engkau bertemu denganku (meninggal).” Beliau mengulangi ucapan ini tiga kali. (HR. Ahmad). 

Pada akhirnya, perjumpaan yang disabdakan Rasulullah Saw.  pun terjadi. Dari Abdullah bin Umar bahwa Utsman bin Affan berbicara di hadapan khalayak, “Aku berjumpa dengan Nabi Saw. di dalam mimpi, lalu beliau mengatakan, ‘Wahai Utsman, berbukalah bersama kami’.” Maka pada pagi harinya beliau berpuasa dan di hari itulah beliau terbunuh. (HR. Hakim dalam Mustadrak, 3: 103).

Katsir bin ash-Shalat mendatangi Utsman bin Affan dan berkata, “Amirul mukminin, keluarlah dan duduklah di teras depan agar masyarakat melihatmu. Jika engkau lakukan itu masyarakat akan membelamu. Utsman tertawa lalu berkata, ‘Wahai Katsir, semalam aku bermimpi seakan-akan aku berjumpa dengan Nabi Allah, Abu Bakar, dan Umar, lalu beliau bersabda, ‘Kembalilah, karena besok engkau akan berbuka bersama kami’. 

Kemudian Utsman berkata, ‘Demi Allah, tidaklah matahari terbenam esok hari, kecuali aku sudah menjadi penghuni akhirat’.” (Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat, 3: 75).

Catatan Penutup

Kesalehan Utsman bin Affan tidak terlepas Pendidikan dan bimbingan yang diterima Rasulullah Saw. Beliau adalah seorang sahabat yang sangat dekat dengan Rasulullah Saw. Selain memiliki kekerabatan secara genetik, beliau juga diperkuat dengan jalur pernikahan. Utsman bin merupakan menantu Rasulullah Saw. Namun, yang paling kuat adalah ikatan akidah yang sama, yaitu Islam.

Sosok Utsman bin Affan merupakan kader langsung dari Rasulullah Saw. sebagaimana Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Utsman kepercayaan dan teladan umat, baik sebagai pengusaha kaya yang saleh dan dermawan maupun sebagai Khalifah yang berkomitmen tinggi untuk kelanjutan dakwah Islam. Kisah ini akan diterangkan melalui tulisan berikutnya. Wallahu a'lam bishsh-shawab. 

Salam!



Posting Komentar

0 Komentar