Dosen UIN Alauddin dan STAI Al-Furqan Makassar
Makassar, 26-02-2021
Prolog
Tulisan ini saya hadirkan di hari Jumat Mubarak ini sembari berharap ada manfaatnya. Di tengah kondisi negeri yang sedang menghadapi kemunduran ekonomi dan kasus PHK sebagai dampak pandemi COVID-19, maka kehadiran konglomerat pada umumnya dan konglomerat dari pengusaha muslim yang saleh sangat dinanti. Kita sedang berjuang menghadapi pandemi Covid-19. Dalam kondisi bagaimanapun, saya belum pernah mendapati ada orang yang menghendaki dirinya jatuh miskin dengan sebab dan alasan apapun juga. Itu artinya, miskin bukan pilihan, tapi sebuah kondisi riil yang "memaksa".
Sebutlah misalnya ada kawan Anda yang bernama "Melok Sugi" (Bugis). Ia pernah berdoa, semoga Allah memberi izin menjadi orang yang kaya raya. Atau paling tidak, dia menginginkan taraf hidupnya meningkat secara ekonomi. Akan tetapi, jalan hidup yang terpaksa ia pilih yaitu menjadi tukang jaga kebun orang lain. Sudah memilih jalan itu, masih belum mengurungkan keinginan untuk jadi orang kaya.
Ada orang yang menginginkan dirinya menjadi kaya raya tapi kenyataannya tidak kunjung jadi kaya juga. Tipologi ini jumlahnya banyak. Namun sebaliknya, adakah orang yang menghendaki dirinya menjadi jatuh miskin? Mungkin orang seperti ini sekarang nyaris tidak ada. Atau bahkan mungkin hanya orang yang tak waras. Sebutlah namanya "Melok Suruga" (Bugis). Tapi, tahukah Anda bahwa tipologi ini ditemukan dalam kasus sahabat Nabi Saw. yang bernama Abdurrahman bin Auf. Simak kisahnya dan petik hikmahnya!
Abdurrahman ingin miskin, malah tambah kaya raya
Salah seorang sahabat Rasulullah Saw. yang terkenal kaya, yaitu Abdurrahman bin Auf. Hartanya melimpah. Sudah begitu, ia amat dermawan pula. Pria yang lahir 10 tahun setelah Tahun Gajah itu tambah tajir ketika Negeri Yaman diserang wabah penyakit aneh.
Ceritanya kurang lebih begini. Suatu hari, ketika para sahabat berkumpul, Abdurrahman bin Auf mendengarkan sabda Rasulullah Saw. bahwa kelak setelah dibangkitkan dan dihitungnya amal perbuatan manusia semasa hidup, "orang yang kaya akan lebih lama menjalani perhitungan amal dibandingkan orang yang miskin dan saya sungguh bersama orang-orang fakir dan miskin," ujar Rasulullah Saw.
Dalam hadis sahih disebutkan bahwa Nabi pernah berdoa, "Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, dan wafatkanlah aku dalam keadaan miskin, dan himpunlah aku (pada hari kiamat) dalam rombongan orang-orang miskin."
Ketika mendengar pernyataan Nabi Saw. pada hadis itu, maka sejak itu, Abdurrahman bin Auf merenung dan berkata dalam hati, “saya tidak mau berlama-lama saat diaudit di yaumul hisab karena kekayaan yang saya miliki“.
Abdurrahman bin Auf mengangkat tangan lantas berdoa, ” Ya Allah, jadikanlah hamba-Mu ini orang yang miskin, agar kelak dapat selalu bersama Rasulullah Saw.”
Abdurrahman kaya bukan karena pelit. Ia sangat dermawan. Pria yang sebelum memeluk Islam, bernama asli Abdul Ka'bah atau Abd Amr ini pernah mengeluarkan 200 uqiyah emas - 1 uqiyah setara 31,7475 gram - demi memenuhi kebutuhan logistik selama Perang Tabuk. Saat Nabi Muhammad Saw. menyeru kepada umat Islam untuk berinfak di jalan Allah, Abdurrahman pun tanpa pikir panjang langsung menyumbangkan separuh hartanya.
Dia pun pernah memberikan santunan kepada veteran Perang Badar yang jumlahnya mencapai seratus orang, masing-masing mendapatkan santunan 400 dinar. Abdurrahman memang sangat pandai dalam berbisnis. Semua kekayaannya pun merupakan hasil perdagangan.
Garis tangan Abdurrahman sungguh ciamik dan cekatan, tapi tidak curang. Semua bisnis yang dikelolanya selalu menghasilkan keuntungan besar. Walau demikian, Abdurrahman tidak hanya berdakwah lewat harta. Ia juga berpartisipasi dalam beragam peperangan, mulai Perang Uhud hingga Perang Badar.
Begitu mendengar Rasulullah Saw. bersabda bahwa orang kaya akan lebih lama menjalani perhitungan amal dibanding orang yang miskin, membuat Abdurrahman gundah. Dia bercita-cita ingin menjadi miskin. - itu yang saya maksud 'Melok Suruga' dan bukan 'Melok Sugi:.
Tapi Abdurrahman cemas karena harta kekayaannya justru semakin berlipat ganda. Ia sering berjalan mondar-mandir karena gamang dan gusar. “Bagaimana caranya agar harta benda yang saya miliki habis dan tidak tersisa?” tanyanya dalam hati.
Sesudah perang Tabuk, tumbuhan kurma siap panen yang ditinggalkan para sahabat menjadi busuk dan harganya anjlok. Kabar ini menyebar ke seantero Kota Madinah dan sampai ke telinga Abdurrahman bin Auf.
Mendengar kabar tersebut, sahabat Nabi ini melego semua harta bendanya kemudian membuat pengumuman yang isinya, “Semua penduduk kota Madinah yang buah kurma mereka busuk akan dibeli sesuai dengan harga buah kurma yang normal”. Sejurus kemudian warga kota Madinah berbondong-bondong menjual kurma busuk ke tempat Abdurrahman bin Auf.
Logika bisnis apa ini? Gila! Semua kurma busuk dibeli oleh Abdurrahman bin Auf. Hartanya pun ludes dijual untuk membeli kurma busuk. Ia miskin dan hanya punya tumpukan kurma busuk. ”Alhamdulillah, doaku dikabulkan oleh Allah Swt,” pikir Abdurrahman bersyukur. Saya segera miskin dan tidak lama di-hisab pada hari perhitungan sehingga bisa cepat bersama Rasulullah Saw. dan orang-orang miskin di Surga.
Para sahabat Nabi juga bersyukur. Kurma yang dikhawatirkan tidak laku, tiba-tiba laku keras! Laris manis tak tersisa.Diborong semuanya oleh Abdurrahman bin Auf.
Tapi, rezeki telah berpihak kepada orang yang tepat. Kemiskinan rupanya enggan hinggap ke nasib Abdurrahman bin Auf. Ternyata, sehari kemudian, datang utusan dari negeri Yaman ke kota Madinah. Mereka menyampaikan berita tentang berjangkitnya wabah penyakit aneh di Yaman (serupa Covid-19). Menurut dokter, wabah aneh tersebut akan cepat sembuh jika diobati dengan buah kurma busuk. Bukannya vaksin produk Cina. Kurma busuk, memang aneh obatnya.
Utusan ini menyebar (men-share) pengumuman bahwa sedang mencari buah kurma busuk yang akan digunakan sebagai obat. Buah kurma busuk akan dibeli dengan harga 10 kali lipat dari harga buah kurma di pasaran.
Warga penduduk kota Madinah yang membaca edaran pengumuman, memberitahu utusan agar lekas pergi ke rumah Abdurrahman bin Auf. "Di sanalah tempatnya buah kurma yang busuk," kata seorang warga.
Tanpa pikir panjang, utusan raja tersebut segera mendatangi rumah Abdurrahman bin Auf. Mereka membeli semua kurma busuk miliknya dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma biasa.
Abdurrahman bin Auf semakin kaya raya. Jumlah kekayaannya belum ada yang menandingi karena kurma yang seharusnya tidak laku malah terjual dengan nominal harga yang fantastis.
Benang Merah
Jika dicermati hadis itu dengan mempertemukan antar teks dengan semangat kemunculannya maka beberapa poin utama yang hendak disampaikan.
Pertama, hadis Rasulullah Saw. berupa doa seperti di atas merupakan dorongan kepada orang kaya untuk menolong orang-orang miskin dengan hartanya. Bukan perintah untuk menjadi miskin. Hadis ini juga sekaligus menunjukkan kehalusan budi pekerti dan budi bahasa Rasulullah Saw. yang memberi optimisme kepada orang-orang miskin untuk tetap sabar dalam keimanan meski dalam kesulitan ekonomi
Kedua, peristiwa supra-rasional yang melampaui logika manusia kerap terbukti kepada orang-orang yang saleh, yang pengabdiannya total hanya kepada Allah. Hal itulah yang dialami oleh Sahabat Rasulullah Saw. yang bernama Abdurrahman bin Auf. Kisah Kesuksesan bisnis Abdurrahman bin Auf membuktikan kebenaran firman Allah.
مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. Al An’am: 160).
Keuntungan 10 kali lipat Abdurrahman bin Auf sama dengan teks ayat di atas dilipatgandakan 10 kali lipat.
Ketiga, ikhtiar orang beriman mesti bertransaksi kredit dengan (agama) Allah. Sebab, Allah berjanji akan melipatgandakan keuntungan kepada orang memberikan kredit kepada-Nya. UpSimak firman Allah.
مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Barang siapa meminjami (kredit) kepada Allah dengan pinjaman yang baik maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Qs. Al Baqarah: 245)
Firman Allah:
مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ
“Barang siapa memberikan kredit (meminjamkan) kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan mengembalikannya berlipat ganda, dan baginya pahala yang mulia.” (Qs. Al Hadid: 11)
Dan Firman Allah:
إِنْ تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ
“Jika kamu memberi kredit (meminjamkan) kepada Allah dengan pinjaman yang baik, niscaya Dia melipat gandakan (balasan) untukmu dengan mengampuni kami. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Penyantun.” (Qs. At Tagabun: 17).
Keempat, transaksi kredit dengan Allah yang dimaksud pada petunjuk ayat di atas bukanlah seperti transaksi kredit dengan manusia. Kata "qardhan" merupakan lafal isti'arah' yakni meminjam kata untuk mengungkap analogi, bukan hakikat.
Mungkin memang kualitas iman kita tidak sedalam dan sekukuh iman yang ada di dada Abdurrahman bin Auf. Kita mesti jujur mengakui itu. Akan tetapi, jika kita belum bisa mengamalkan, maka kita wajib meyakini kebenaran ayat-ayat Allah tersebut. Dengan meyakininya, berarti ada peluang selanjutnya untuk mengamalkan - tentu dengan bimbingan Allah Swt. Jadilah orang kaya yang saleh dan dermawan! Anda pasti dinanti oleh penghuni bumi dan dimohonkan ampun oleh penghuni langit (para malaikat). Wallahu a'lam bishsh-shawab.
Salama!

0 Komentar