Oleh Muhammad Yusuf
Dosen UIN Alauddin dan STAI Al-Furqan Makassar
Paccinnongan-Gowa, 23/02/2021
Pendahuluan
Tulisan ini merupakan lanjutan dari dua tulisan sebelumnya mengenai keutamaan Abu Bakar. Abu Bakar memiliki keistimewaan-keistimewaan dibandingkan dengan sahabat Rasulullah Saw. yang lain. Salah satu keistimewaannya adalah beliau diberi al-hikmah. Dengan demikian, beliau dapat memahami isyarat yang tersirat dari pesan wahyu.
Memahami Makna Isyarat Al-Qur'an
Abu Bakar merupakan sahabat Rasulullah Saw. yang diberikan hikmah lebih dibanding sahabat lainnya. Ia mampu memahami ayat Al-Qur’an lebih dalam dibanding sahabat yang mengerti tafsir. Misalnya, beliau makna makna isyarat surat Al-Maidah ayat 3. Tidak jarang beliau menangis tatkala mendengar ayat yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw.
Pada masa itu Rasulullah Saw. berada di Arafah di atas unta. Diriwayatkan bahwa surah Al-Maidah ayat 3 diturunkan pada sesudah waktu ashar yaitu pada hari Jum’at di Padang Arafah pada musim haji penghabisan (wada’). Ketika ayat ini turun Rasulullah Saw. tidak begitu jelas penerimaannya untuk mengingat isi dan makna yang terkandung dalam ayat tersebut.Kemudian Rasulullah Saw. bersandar pada unta beliau, dan unta beliau pun duduk perlahan-lahan. Setelah itu turun malaikat Jibril AS dan berkata:
“Wahai Muhammad sesungguhnya pada hari ini telah disempurnakan urusan agamamu, maka terputuslah apa yang diperintahkan oleh Allah Swt. dan demikian juga apa apa yang terlarang olehnya. Oleh itu kamu kumpulkan para sahabatmu dan beritahu kepada mereka bahwa hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dengan kamu.",
Setelah malaikat Jibril AS pergi maka Rasulullah Saw. pun berangkat ke Mekkah dan terus pergi ke Madinah. Setelah Rasulullah Saw. mengumpulkan para sahabat beliau, maka Rasulullah Saw. pun menceritakan apa yang telah diberitahu oleh malaikat Jibril AS.Apabila para sahabat mendengar hal yang demikian maka merekapun gembira sambil berkata :”Agama kita telah sempurna, agama kita telah sempurna!”
Abu Bakar Menangis
Kecuali Abu Bakar. Beliau malah menangis. Ketika Abu Bakar r.a. mendengar keterangan Rasulullah Saw. itu, ia tidak dapat menahan kesedihannya. Maka, ia pun kembali ke rumah lalu mengunci pintu dan menangis sekuat-kuatnya.Abu bakar r.a. menangis dari pagi hingga malam. Kisah ini telah sampai kepada para sahabat lain, maka berkumpullah para sahabat di depan rumah Abu bakar r.a. dan mereka berkata : “Wahai Abu bakar apakah yang membuat kamu menangis sehingga begini sekali keadaanmu? seharusnya kamu merasa gembira seperti kami, sebab agama kita telah sempurna”.
Mendengarkan pertanyaan dari para sahabat maka Abu bakar pun berkata “Wahai para sahabatku! Kalian semua tidak tahu tentang musibah yang menimpa kalian, tidakkah kalian tahu bahwa apabila sesuatu perkara itu telah sempurna, maka akan kelihatanlah akan kekurangannya. Dengan turunnya ayat tersebut bahwa ini menunjukkan perpisahan kita dengan Rasulullah Saw. Hasan dan Husein menjadi yatim dan para istri nabi menjadi janda.”
Makna Tangisan Abu Bakar
Setelah mereka mendengar penjelasan dari Abu Bakar r.a. maka sadarlah mereka akan kebenaran kata-kata Abu Bakar r.a, lalu mereka menangis dengan sekuat-kuatnya. Tangisan mereka telah didengar oleh para sahabat yang lain, maka mereka pun terus memberitahu Rasulullah Saw. tentang apa yang mereka lihat itu. Berkata salah seorang dari para sahabat :”Ya Rasulullah kami baru kembali dari rumah Abu Bakar r.a. dan kami dapati banyak orang menangis dengan suara yang kuat di depan rumah beliau”.
Apabila Rasulullah Saw. mendengar keterangan dari sahabat, maka berubahlah muka Rasulullah Saw. dan dengan bergegas beliau menuju rumah Abu Bakar r.a. Setelah Rasulullah Saw. sampai di rumah Abu Bakar r.a, maka Rasulullah Saw. melihat kesemua mereka yang menangis dan bertanya :”Wahai para sahabatku, mengapa kamu semua menangis?”. Kemudian Ali r.a. berkata :”Ya Rasulullah Abu Bakar mengatakan dengan turunnya ayat ini membawa tanda bahwa waktu wafat mu telah dekat? Apakah ini benar ya Rasulullah?”, Lalu Rasulullah Saw. berkata: “Semua yang dikatakan oleh Abu Bakar adalah benar, dan sesungguhnya waktu untuk aku meninggalkan kalian semua telah dekat.”
Rasulullah Saw. Sakit
Setelah Rasulullah Saw. berkata demikian, maka sakit baginda bermula. Dalam bulan Safar, Rasulullah Saw. sakit selama 18 hari dan sering diziarahi oleh para sahabat. Dalam sebuah kitab diterangkan bahwa Rasulullah Saw. diutus pada hari senin dan wafat pada hari senin. Pada hari senin penyakit Rasulullah Saw. bertambah berat, setelah Bilal r.a. menyelesaikan adzan subuh, maka Bilal pun pergi ke rumah Rasulullah Saw., sesampainya Bilal r.a. di rumah Rasulullah Saw, maka Bilal pun memberi salam,
“Assalamu’alaika ya Rasulullah” lalu dijawab oleh Fatimah r.a. “Rasulullah Saw. masih sibuk dengan urusan beliau.” Setelah Bilal mendengar penjelasan Fatimah maka Bilal pun kembali ke mesjid tanpa memahami kata-kata Fatimah.
Ketika waktu subuh hampir habis, Bilal pun sekali lagi ke rumah Rasulullah, dia pun memberi salam, kali ini salamnya telah didengar oleh Rasulullah Saw.,dan Baginda berkata, “masuklah wahai Bilal, sesungguhnya penyakitku ini semakin berat, oleh karena itu, kamu suruhlah Abu Bakar mengimamkan sholat subuh berjama’ah dengan mereka yang hadir.
Abu Bakar Menangis hingga Pingsan
Setelah mendengar kata-kata Rasulullah Saw. maka Bilal pun berjalan menuju masjid, dan memberitahukan kepada Abu Bakar r.a tentang apa yang telah dikatakan Rasulullah Saw. kepadanya.Abu Bakar tidak dapat menahan dirinya saat melihat mimbar kosong maka dengan suara keras Abu Bakar menangis sehingga pingsan. Ketika melihat peristiwa itu maka riuh rendahlah tangisan sahabat dalam masjid. Sehingga Rasulullah Saw. bertanya kepada Fatimah ra:
“Wahai Fatimah apakah yang telah berlaku?”maka Fatimah pun berkata: “kekecohan kaum muslimin, sebab Anda tidak pergi ke masjid.” Kemudian Rasulullah memanggil Ali r.a. dan Fadhli bin Abbas r.a, lalu Rasulullah bersandar kepada kedua mereka dan terus pergi ke masjid, Setelah Rasulullah Saw. sampai di masjid maka beliau pun sholat subuh berjamaah dengan para sahabat.
Detik-detik Menjelang Rasulullah Saw Wafat
Setelah selesai sholat subuh maka Rasulullah Saw. pun berkata, “Wahai kaum muslimin kamu semua senantiasa dalam pertolongan dan pemeliharaan Allah, oleh karena itu, hendaklah kamu semua bertaqwa kepada Allah Swt. Sesungguhnya aku akan meninggalkan dunia dan kamu semua, dan hari ini adalah hari pertama aku diakhirat adn hari terakhir aku di dunia”. Setelah berkata demikian, maka Rasulullah Saw. pun pulang ke rumah beliau.
Kemudian Allah Swt. mewahyukan kepada malaikat Izrail as, “Wahai Izrail pergilah kamu kepada Kekasihku dengan sebaik-baik rupa, dan apabila kamu hendak mencabut ruhnya maka hendaklah kamu melakukan dengan cara yang paling lembut sekali. Apabila kamu pergi ke rumahnya maka minta izinlah terlebih dahulu, kalau ia izinkan kamu masuk, maka masuklah kamu ke dalam rumahnya. Sebaliknya, kalau ia tidak mengizinkan kamu masuk maka hendaklah kamu kembali padaku.”
Setelah malaikat Izrail mendapat perintah dari Allah Swt. maka malaikat Izrail pun turun dengan menyerupai orang Arab Badui. Setelah malaikat izrail sampai di depan rumah, maka ia pun memberi salam. Malaikat Izrail yang menyamar itu, akhirnya bertemu Fatimah, putri Rasulullah Saw. Kemudian tak lama ia diambil nyawanya oleh malaikat pencabut nyawa itu.
Rasulullah Saw. Wafat
Sebelum ajalnya tiba Rasulullah Saw. berkata, “Sekarang aku telah puas hati dan telah hilang rasa susahku.” Kemudian Rasulullah Saw. berkata, “Wahai Izrail , merapatlah kamu kepadaku” Setelah itu Izrail pun memulai tugasnya, ketika ruh beliau sampai pada pusat, maka Rasulullah pun berkata, “Wahai Jibril, alangkah dahsyatnya rasa mati” Jibril pun mengalihkan pandangannya dari Rasulullah Saw., melihat telatah Jibril, Rasulullah Saw. pun berkata: “Wahai Jibril, apakah kamu tidak suka melihat wajahku di kala dalam sakratul maut?”
Anas bin Malik ra berkata, “Ketika ruh beliau sampai di dada, beliau bersabda, “Aku wasiatkan kepada kamu semua agar menjaga sholat, dan apa-apa yang telah diperintahkan kepadamu”.
Umatku...Umatku...& Salat...Salat...
Ali ra berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Saw. ketika menjelang saat-saat terakhir, telah menggerakkan bibir beliau dua kali, dan saya meletakkan telinga saya dan mendengar Rasulullah berkata :”Umatku, umatku”. Pertama, Ini mengisyaratkan tanggung jawab keumatan. Poin utama dari ungkapan Rasulullah Saw. adalah tanggung jawab seorang pemimpin terhadap kelanjutan dan masa depan orang-orang yang dipimpinnya.
Kedua, shalat sebagai poin utama dari isi pesan beliau. Salat merupakan penghubung antara langit dan bumi. Salat sebagai tiang agama. Apabila salat terjaga dengan baik maka agama Islam tetap berdiri kokoh. Sebaliknya, apabila salat tidak tegak maka itu tanda kehancuran agama dan masyarakat Sebab, salat yang benar dan diterima akan mencegah berbagai kejahatan dan kemungkaran.
Salam!

0 Komentar