NILAI TUKAR SEBUAH KESUNGGUHAN
Inspirasi dari serpihan kisah Asma Nadia Menjadi Penulis Sukses
29/1/2021
Oleh: Muhammad Yusuf, Dosen UIN Alauddin dan STAI Al-Furqan Makassar
Tulisan ini saya hadirkan untuk Anda khususnya para mahasiswa dan pembaca yang Budiman. Dan, ini masih merupakan catatan yang erat kaitannya dengan tulisan kemarin. Bahkan boleh dikatakan sebagai lanjutannya. Kemarin, (pada goresan qalam) sebelumnya, saya sudah mengemukakan serpihan kisah dua penulis hebat yang berkali-kali ditolak oleh penerbit. Namun pada akhirnya ia menjadi penulis produktif.
Kali ini, saya menuliskan fragmen cerita tentang seorang perempuan yang telah melewati jalan terjal dan berkelok serta berduri untuk tiba pada satu titik kesuksesan. Dia sukses menulis dan menerbitkan banyak buku. Bukan hanya jumlahnya yang banyak, tapi juga kualitas karyanya yang baik pula. Bahkan, karya-karyanya termasuk "international best seller". Dia adalah Asma Nadia.
Tahukah Anda siapa itu Asma Nadia? Saya menduga kuat banyak diantara Anda yang tidak mengenalnya. Saya pun tidak mengenal dia secara pribadi. Saya hanya mengenalnya melalui karya-karyanya yang tersedia di berbagai toko buku dan melalui sejumlah artikel, biografi para penulis tersohor. Apalagi kalau daftar penulis orang Indonesia, pasti nama Asma Nadia tercatat sebagai salah satu penulis top dan hebat serta produktif. Tapi, tahukah Anda bagaimana dia bisa sampai ke pencapaian itu? Meskipun saya tidak mengenal lebih dekat pribadinya, namun kisahnya yang menginspirasi itulah lebih penting untuk dijadikan pelajaran yang hidup. Ayo simak kisah perjalanan karirnya sebagai penulis!
Bagi Anda yang suka membaca buku hampir bisa dipastikan familiar dengan beberapa atau malah semua karya Asma Nadia. Asma Nadia sampai kini memang dikenal sebagai salah satu penulis terbaik di tanah air. Karyanya cukup banyak ada sekitar 50-an judul novel. Beberapa diantaranya sudah pernah diangkat menjadi film layar lebar, dan nyaris semua karyanya selalu terpajang di rak best seller berbagai toko buku.
Sebelum sampai pada titik capaian ini, Asma Nadia menjalani proses menulis yang panjang seperti halnya penulis pada umumnya. Perempuan kelahiran tahun 1972 ini mengaku mengalami masa terpuruk dan jatuh bangun. Ketika meniti karir di dunia menulis sebelum bisa lancar menelurkan karya emas seperti saat ini. Bagi saya, kisah kegagalan itu yang menarik. Lalu, ia mampu bertahan dan bangkit, berkembang, dan maju hingga ke titik kesusksesannya.
Sebelum ia mengarang cerita pendek (cerpen), cerita bersambung (cerbung), ataupun novel yang merajai media cetak dan toko buku, wanita yang sudah memiliki dua orang anak ini memulai karir menulisnya dengan menulis lagu. Hal ini menjadi pilihan pertamanya karena ia melihat sang ayah yang juga sebagai penulis lagu. Inilah alasan mengapa beberapa film yang diangkat dari bukunya berisi soundtrack ciptaanya sendiri. Seperti lagu dalam film "Surga Yang Tak Dirindukan", dimana dinyanyikan oleh Raline. Merupakan salah satu karya Asma Nadia.
Sebelum fokus menjadi penulis, karir menulis Asma Nadia dimulai di usia remaja. Kala itu, Asma sudah mencoba menulis berbagai judul cerpen. Zaman dulu karya cerpen musti dicetak, diketik memakai mesin ketik. Biayanya juga lumayan mahal lalu dikirimkan lewat pos ke alamat redaksi majalah yang menerima cerpen. Tidak seperti sekarang.
Sering menulis cerpen dan menjajal peruntungan mengirimkannya ke berbagai redaksi majalah dan surat kabar, ternyata tidak membuahkan hasil, bahkan semangat menulisnya sempat drop. Ketika banyak orang di sekitarnya yang mencibir karya tulisnya, sehingga Asma memutuskan untuk rehat. Ketika masuk ke jenjang SMA, barulah Asma mulai aktif menulis kembali meski hanya menelurkan beberapa judul cerpen saja.
Semangatnya kala itu mulai berkobar kembali tatkala cerpennya berjudul “Surat Buat Ashadullah di Surga” dimuat di Annida. Cerpen ini sendiri terinspirasi dari kisah nyata, yakni anaknya teman keponakannya yang berusia 1 tahun 11 hari mendadak meninggal. Meskipun karyanya sudah dimuat, Asma mengaku kepercayaan dirinya dalam menulis belum tumbuh maksimal.
Setelah dimuatnya cerpen tersebut di Annida, Asma pun mencoba lebih aktif menulis. Perjuangannya berbuah manis ketika cerbung (cerita bersambung) karyanya mulai diterbitkan oleh beberapa majalah. Selain itu Asma juga terbilang bersemangat untuk aktif mengikuti berbagai lomba menulis cerpen, dan sempat beberapa kali menjadi pemenang.
Asma mengaku tetap berusaha mempertahankan ketidakpercayaan dirinya dalam menulis. Sebab, perasaan ini diakuinya mampu meningkatkan semangat untuk terus berkarya dan tidak mudah pongah. Mengingat prestasinya dalam menulis sudah mulai terlihat dan diakui berbagai pihak.
Sampai pada tahun 2000-an, Asma Nadia meluncurkan novel pertamanya kepada publik. Buku perdananya yang bertajuk “Lentera Kehidupan”, dan diakui Asma bahwa ia sendiri kecewa dengan hasilnya. Menurut Asma, pihak penerbit kurang maksimal dalam menerbitkan karya tulisnya ini. Terlihat dari desain sampul yang - menurutnya - jelek dan pemilihan kertas yang jauh dari kata berkualitas. Buku pertamanya ini diakui bukan pilihan teman bepergian karena desain fisiknya yang tidak keren. Singkatnya, Nadia tidak puas dan kecewa dengan hasilnya.
Belajar dari kekecewaan tersebut, maka di tahun 2009 Asma Nadia merintis penerbitan sendiri. diberinya nama “Asma Nadia Publishing House”. Penerbitan karya Asma Nadia ini pertama kali mencetak karya Asma bertajuk “Emak Ingin Naik Haji”. Asma mengaku terlibat langsung dalam proses percetakan dari nol sampai didistribusikan ke berbagai toko buku. Termasuk untuk urusan desain cover, sehingga Asma memastikan karyanya memang keren dan menarik untuk dibaca di tempat umum.
Penerbitannya belum besar, dalam setahun hanya mencetak antara 4-5 judul buku saja. Yang menarik adalah karena Asma menceritakan proses merintis penerbitan sendiri. Tapi, bagaimana pun penerbitan itu di bawah kendali Asma Nadia.
Asma Nadia ingin konsisten mencetak novel dan buku yang menginspirasi, dan begitupun dengan karya tulisnya. Dan, inilah hasil dari perjuangannya selama meniti karir di dunia penulis. Memang tidak mudah namun kerja keras tidak pernah membohongi hasil. Sehingga siapa saja yang ingin sukses di dunia menulis bisa mengintip kisah inspiratif seorang Asma Nadia ini.
Perjalanan karir Asma Nadia sebagai penulis mengajarkan kepada kita bahwa kesuksesan itu memang keberuntungan, tapi bukan kebetulan. Orang bijak berkata, "bila telah diperjuangkan dengan sungguh-sungguh baik hasilnya sukses atau gagal, sesungguhnya semangat perjuangan itu adalah kesuksesan tersendiri." Modal utama Anda adalah semangat Anda. Artikel ini pun saya hadirkan untuk menyemangati Anda yang ingin menulis.
Namun, kesuksesan itu bukanlah akhir dari segalanya. Inti kesuksesan sesungguhnya adalah kebermanfaatan. Orang arif menuturkan, "Janganlah mencoba menjadi orang sukses. Jadilah orang yang bernilai.". Nilai sebuah kesuksesan adalah kebermanfaatan. "Manusia terbaik adalah manusia yang paling banyak manfaat kepada sesama". Berjuang agar sukses untuk menebar manfaat sebanyak-banyaknya. Ingatlah! Nilai tukar sebuah kesungguhan adalah kesuksesan dan kemuliaan.
Salam nalar kritis!

0 Komentar