DARI UJUNG PENA UNTUK KEABADIAN
Sebuah Inspirasi dari Kisah Kang Abik
Oleh Muhammad Yusuf, Dosen UIN Alauddin dan STAI Al-Furqan Makassar
Para Mahasiswa dan Pembaca yang Budiman! Ada yang kenal dengan Kang Abik? Kang Abik, yang bernama lengkap Habiburrahman El Shirazy saya mulai mengenalnya ketika saya membaca salah satu karya beliau yang bertajuk "Ayat-Ayat Cinta", sebuah buku novel. Ketika novel ini naik ke layar kaca, menjadi film berjudul "Ketika Cinta Bertasbih". Ketika pemutaran film perdana saya langsung antri beli tiketnya dan nonton di salah satu bioskop di Makassar. Peminatnya lumayan, membludak. Meski saya tau jalan ceritanya sebagian lewat buku "Ayat-ayat Cinta", namun tetap diselimuti rasa penasaran. Pokoknya, saya harus segera menjawab rasa penasaranku di bilik bioskop, seperti apa versi layarnya?
Meskipun hingga saat ini saya belum mengenal Kang Abik secara pribadi, namun setidaknya, saya mengenalnya sebagai seorang penulis novel, da'i, dan penyair. Di tahun 2018-2019 saya diingatkan kembali sosoknya ketika ada mahasiswa yang tertarik mengangkat salah satu karya Kang Abik yang berjudul "Api Tauhid". Saat itu, saya mengajar matakuliah "metodologi penelitian dan penulisan karya ilmiah". Ketika materi kuliah sudah selesai saya sampaikan maka tiba saatnya saya memberikan tugas kepada mahasiswa untuk membuat draft skripsi. Saat itu, ada mahasiswi yang menyela sambil bertanya, bolehkah saya mengangkat karya Habiburrahman El Shirazy 'Api Tauhid'? Saya ingin melihat dari perspektif pendidikan Islam, Pak. Spontan saja saya merespon, "tentu saja boleh, dan itu malah bagus". Demikian saya menyemangatinya. Saya menegaskan, malah lebih baik lagi, jika Anda buat dengan baik dan meneruskan menjadi desain skripsi Anda nanti.
Singkat cerita, memasuki tahun 2020 mahasiswi tersebut, mengangkat judul itu sebagai judul skripsi. Dia bahkan mengusulkan kepada Ketua jurusannya agar saya yang menjadi pembimbing penulisan skripsinya. Diterimalah usulan itu oleh Ketua jurusan yang sangat memahami semangat mahasiswa itu. Saya membimbingnya dari awal sampai selesai. Selaku pembimbing pertama, saya didampingi oleh pembimbing yang lain. Saya bersyukur dan berterimakasih karena mahasiswi itu memberikan hadiah satu eksemplar buku novel karya Kang Abik "Api Tauhid". Saya senang, dan saya mau ganti harga belinya. Tapi dia menolak dan tak ingin diganti uangnya. Ya.. sudahlah, dan terimakasih banyak kalau begitu. "Saya bilang".
Saya membimbing dengan senang hati. Semangatnya, patut saya apresiasi. Dalam pikiran saya, ini tentu hal yang berbeda. Sebab, dia jurusan tarbiyah, tapi dia meneliti karya novel dan menghubungkan dengan perspektif pendidikan Islam. Dan, kini yang bersangkutan sudah mengikuti wisuda sarjana strata satu (S1). Selepas diwisuda, ia langsung mendaftar pada program Pascasarjana UIN Alauddin. Ia menghubungi saya soal prosedur pendaftaran, tapi saya tak begitu menguasai prosedur pendaftaran. Saya sarankan untuk mencari tau ke staf PPs UIN Alauddin atau ke salah seorang rekan dosen yang kebetulan juga sedang mendaftar pada strata tiga (S3). Saya doakan semoga lulus dan sukses ke depannya.
Seperti dimaklumi, Kang Abik adalah seorang dai, novelis, dan penyair yang karya-karyanya masyhur tidak hanya di Indonesia tetapi di negara lain seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei. Nama Kang Abik mulai melambung ketika karya novelnya yang berjudul “Ayat-ayat Cinta” tampil di layar kaca. Sejak itulah banyak karya-karyanya yang juga difilmkan dan diminati oleh khalayak ramai. Kang Abik lahir di Semarang, Jawa Tengah, 30 September 1976.
Perjalanan karirnya sebagai penulis
Kang Abik, siapa yang tidak mengenalnya? Bagi kamu yang hobi baca novel, pastinya sudah tidak asing lagi dengan penulis ini. Penulis yang telah menerbitkan lebih dari puluhan buku ini juga sering membagikan pengalaman dan ilmunya dalam berbagai seminar kepenulisan. Bukan penulisan saja, Kang Abik juga seorang pengamat film. Novel Kang Abik sudah banyak yang difilmkan, salah satu yaitu Ayat-ayat cinta. Yang penting untuk diketahui dari beliau adalah bagaimana ia menjadi seorang penulis? Berikut sebagian dari rangkuman tips-tips menulis dari seminar kepenulisan Kang Abik.
1. Suka membaca langkah awal jadi penulis
Menyimak riwayat hidup para penulis terkenal, umumnya mereka sejak kecil atau remaja sudah gemar membaca. Saya jadi teringat dengan kata bijak dalam pelajaran "Mahfudzat" dahulu yang mengatakan: "sebaik-baik teman duduk adalah buku". Kang Abik tak sekedar menghafal itu, tapi ia.menjadikan habit. Dari kecintaan terhadap buku itulah lambat laun tumbuh keinginan kuat untuk jadi penulis. Memang, rata- rata mereka yang kini jadi penulis produktif dan profesional memiliki minat serta kebiasaan membaca yang tinggi.
Sungguh, sangat jarang ditemukan seseorang yang berprofesi sebagai penulis tapi tak suka membaca. Bahkan mungkin tidak. Kalau pun ada, pastilah suatu pengecualian jika tidak ingin menyebutnya langka. Karena siapa pun yang berniat menjadi penulis dia harus rajin membaca dan banyak membaca. Dengan gemar membaca, niscaya ilmu pengetahuan dan wawasan menjadi bertambah luas.
Tetapi jika seorang jarang membaca, wajar kalau yang bersangkutan, ketika menulis, kerap tersendat dan macet., sehingga membuat mengurungkan niat untuk menyelesaikan tulisan. Saya berpikir bahwa itu mungkin rahasianya mengapa Al-Qur'an surah al-'Alaq susunan redaksinya didahulukan kata "iqra'" (bacalah) dari "al-Qalam". Mesin qalam itu adalah ide hasil dari tindak pembacaan. Tanpa membaca terlebih dahulu, maka pena jadi macet.
Orang sering mengilustrasikan hubungan antara membaca dan menulis itu dengan teori kendi. Kendi kalau terus dituang air, maka dia akan terisi penuh bahkan jadi tumpah. Air yang dimasukan ibaratkan dengan bacaan, sedangkan tumpahnya diibaratkan tulisan.Maksudnya adalah, jika kita suka membaca, maka peluang untuk jadi penulis itu jadi lebih mudah. Gemar membaca merupakan langkah awal untuk merintis karir sebagai penulis.
2. Menulislah meski di kala sibuk
Ada kalimat seperti ini, "Sungguh banyak orang yang cukup potensial, tetapi tak bisa menjadi unggul. Salah satu sebabnya adalah ketidak-mampuanya dalam mengola waktu." Kenapa demikian? Alasan karena faktor hampir tak punya waktu luang. Saya sarankan kepada Anda yang mahasiswa, jangan menunggu waktu luang, tapi luangkan waktu Anda untuk membaca dan menulis.
Kesibukan seharusnya jangan dijadikan pembenaran untuk tidak menulis. Faktanya, banyak orang yang sibuk justru tetap produktif menulis. KH Mustafa Bisri di samping mengasuh pondok pesantren, aktif di organisasi NU, juga sering diundang ceramah, menjadi khatib Jumat, pembicara dalam seminar, tapi masih bisa meluangkan waktunya untuk menulis puisi, cerpen, dan esai. Begitu juga Prof. Quraish Shihab, beliau sibuk di samping juga sudah sepuh, tapi setiap saat karyanya terus bermunculan menginspirasi banyak orang.
Jadi, tidak benar bila kesibukan 'dituding' sebagai penyebab kevakuman menulis. Kalau kita memang mempunyai komitmen yang tinggi untuk menulis, sekalipun di tengah keterbatasan waktu, pasti bisa menyiasatinya.
Hal ini, sekali lagi, mempertegas bahwa kesibukkan hendaklah tidak dijadikan penghalang untuk berkarya. Justru, orang yang banyak punya waktu senggang itu yang sering mengabaikan kesempatan. Maka, tak salah bila pakar psikologi pengembangan diri menyarankan, kalau kamu mewakilkan pekerjaan dan ingin cepat selesai, serahkanlah pada orang sibuk.
3. Menulis dengan segenap cinta
Pernahkah kita memperhatikan anak yang tengah bermain? Kadang saking asyiknya, ia sampai lupa waktu, tak ingat makan, dan sama sekali tak berniat untuk tidur siang. Sinar matanya tampak berbinar. Senyumannya merekah. Kadang tertawa lepas mengekpresikan kegembirannya. Mengapa? Karena ia menemukan dunianya, sarana mengaktualisasikan diri.
Begitu juga bila penulis dilandasi rasa cinta, maka merangkai kata-kata begitu nikmat. Tak heran jika ada penulis yang mengibaratkan menulis adalah sebuah napas. Satu hari tanpa menulis seperti orang yang kehilangan belahan jiwa mereka.
Memang, jika seseorang sudah sampai pada tahap tersebut, ia akan selalu ketagihan untuk berkarya. Menulis bukan lagi 'kewajiban' apalagi beban, melainkan kebutuhan. Jadi, dimana ada kesempatan, di situ ia akan menuangkan ide. Tak perlu menunggu suasana serba nyaman dan kondusif.
Selain itu, seseorang yang menulis dilandasi rasa cinta, pastilah produktivitasnya sangat tinggi. Kreativitasnya juga bagai tak ada habis-habisnya. Ia selalu berusaha melakukan inovasi dan terobosan-terobosan terbaru. Dengan karakteristik yang demikian, wajar jika kemudian yang bersangkutan menuai kesuksesan.
Tulisan yang lahir dari hati akan mudah pula menyentuh hati para pembaca. Dan, kalau karya kita sudah digemari banyak orang, rezeki pun bakal mengalir lancar ke saku kita. Belum lagi rezeki yang didapat, seperti nama kita makin dikenal luas, punya sahabat dimana-mana ditawarkan jadi pembicara, dan sebagainya. Saat itulah kita semakin yakin bahwa cinta itu membawa berkah. Mungkin seperti itu pula orang memandang ibadah sebagai ekspresi "mahabbah" (cinta kepada Allah). Ibadahnya menjadi kebutuhan batin, dan dia sedang menikmati manisnya beribadah. Maka, menulislah dengan cinta!
4. Memelihara kontinuitas menulis
Para penulis tersebut bisa menggarap buku setebal apa pun yang mereka inginkan karena mempunyai metode khusus, yaitu mencicilnya setiap hari. Sedikit demi, tapi kontinyu. Tidak bisa sekaligus, begitu tancap langsung selesai. Menggebu lalu menghilang "mapella tai manu" (Bugis). Laksana tahi ayam, panas sejenak lalu menjadi dingin. Saya yakin Anda tidak termasuk dalam istilah ini. Anda adalah petarung tangguh, tidak gengsi untuk mengawali dari hal kecil yang positif tapi konsisten. Sebagaimana pula ungkapan bijak mengatakan, setiap perjalanan panjang tentu dimulai dari langkah kecil.
Jauh lebih baik, menulis sedikit tapi berkesinambungan daripada sekaligus menghasilkan banyak karya tapi bersifat angin-anginan (mapella tai manu). Ketika mood lagi bagus, ia sanggup menulis hampir seharian penuh. Tapi begitu penyakit malasnya kumat, tak jarang sampai berbulan bulan tidak membuahkan sebiji tulisan pun. Makanya Nabi Saw mengatakan, "sebaik-baik amal (aktivitas yang baik) adalah yang kontinyu walaupun sedikit (kecil)".
Sekiranya menulis sudah menjadi kebiasaan, maka sehari saja tanpa menulis serasa ada yang kurang dan mengganjal di hati. Karena itu, jadikan membaca dan menulis sebagai candu. Canangkan semboyan: "tiada hari tanpa membaca dan menulis".
5. Menulis menentramkan jiwa
Beban mental, kalau dibiarkan akan berpengaruh buruk dan negatif terhadap kondisi fisik dan psikis. Dalam penelitian disebutkan, penyakit jasmani itu justru kebanyakan disebabkan oleh sengkarut pikiran dan emosi. Kebencian, dendam, amarah, jengkel, adalah energi negatif yang berpotensi 'merongrong' ketenangan batin.
Cartyn Mirriam Goldberg, seorang penyair sekaligus konsultan remaja di Amerika, mengaku menulis telah menyelamatkan hidupnya. Pada waktu umur 14 tahun ia bertengkar dengan sahabat karib satu satunya. Ketika pulang ke rumah, ia dihadapkan pada masalah lain, kedua orang tuanya berencana untuk bercerai. Saat itu, Caryn benar- benar merasa terpukul, seolah hidupnya telah hancur. Bahkan, sempat terbesit niat untuk bunuh diri,.untunglah dengan menulis ia secara berangsur menemukan secercah harapan.
Jadi, bila Anda punya problem yang memberatkan di hati, kenapa tidak segera disalurkan lewat tulisan? Jika sudah menuangkannya ke dalam tulisan, niscaya timbul perasaan tenang dan tentram. Walaupun saya tidak menyarankan Anda menulis saat galau atau benci, khawatir tulisan Anda jadi bias.
6. Menulis karena terinspirasi
Jangan Anda mengira bahwa orang sukses itu sebagai pemain tunggal. Pasti ada inspirator di belakang layar. Namun tahukah Anda, siapa inspirator besar yang berjasa menginspirasi Kang Abik? Ternyata, Kang Abik sangat kagum terhadap Imam Suyuthi yang produktivitasnya luar biasa. “Menulis 600 kitab selama hidupnya. Saya sungguh kagum, (kata Kang Abik) bagaimana beliau mengatur waktunya untuk menulis.
Inspirator kedua, kata Kang Abik, adalah ulama kontemporer, Muhammad Said Ramadhan al-Buthi (1929-2013). Ia seorang ulama terkemuka dari Syria atau Suriah. Seorang ulama yang menjadi rujukan tingkat dunia, dan dihormati oleh banyak ulama besar di dunia Islam. Kedahsyatan ujung pena beliau menjadikan dirinya menjadi rujukan ulama dunia dan para thullabul ilmi (penuntut ilmu).
Jika Anda sukses dalam menulis, percayalah bahwa ada orang berjasa besar menginspirasi Anda. Orang yang menginspirasi Anda adalah penyumbang ide untuk Anda. Itulah "extrinsics motivation" (motivasi yang datang dari luar dirimu. Ucapkanlah terimakasih kepadanya dan doakan ia jika masih hidup. Doakanlah jika ia sudah wafat. Ia wafat, tapi tidak mati. Bahkan, ia hidup bersama hidupnya inspirasi dan karyanya. Menulislah, karena ujung pena Anda adalah media keabadian Anda dan ilmu Anda.
Salam nalar kritis!

0 Komentar