MENGAPA ANDA HARUS MENULIS?
27/1/2021
Oleh Muhammad Yusuf, Dosen UIN Alauddin dan STAI Al-Furqan Makassar
Mengapa Anda harus menulis? Jika pertanyaan ini diajukan kepada beberapa penulis maka sangat mungkin jawabannya berbeda-beda. Saya membaca beberapa artikel tentang "menulis". Tajuknya bermacam-macam. Ada yang menulis "5 alasan anda menulis". Ada pula "7 alasan anda menulis', "8 alasan menulis'. Bahkan, ada pula yang fantastik, yaitu '99 alasan menulis' dan seterusnya.
Itu menunjukkan bahwa setiap penulis menulis dengan alasan dan motivasi yang berbeda-beda. Memang, setiap penulis - apalagi penulis produktif -, haruslah memiliki alasan dan motivasi yang kuat mengapa harus menulis. Seperti yang seringkali ditanyakan oleh peserta seminar yang saya bawakan terutama di hadapan para mahasiswa, bagaimana cara untuk menjadi seorang penulis yang produktif? Apa alasan kuat yang mesti kita miliki sehingga bisa menulis hampir setiap hari? Ya..., maafkan saya sebelumnya!;Saya tentu belum termasuk penulis yang produktif seperti yang mereka duga. Saya juga menulis sambil 'mengintip' tips dan motivasi mereka yang produktif dalam menulis.
Saya juga menyampaikan kepada mereka bahwa setiap orang punya alasan. Jangankan mereka yang rajin menulis, bahkan orang yang tidak menulis pun jika ditanya, mengapa Anda tidak menulis? Mereka mengemukakan sejumlah daftar alasan yang lumayan banyak. Ada yang beralasan dirinya tidak tau mau menulis apa dan dari mana mulai? Ada pula yang malas untuk menulis karena sudah keburu takut bahwa menulis itu membosankan, takut stuck, menghabiskan waktu, susah mencari ide dan inspirasi, serta masih banyak lagi daftar alasan lainnya.
Saya tidak ingin mendebat. Kita menghargai dan memaklumi itu. Anda yang punya alasan serupa itu, tetap berhak untuk dihargai. Saya hanya ingin mengajak Anda. Ayo kita menulis dengan alasan-alasan yang konstruktif. Alasan-alasan itu banyak sekali jumlahnya. Tidak harus Anda jadikan semua itu sebagai alasan untuk menulis. Jika satu alasan membuatmu bisa menulis itu lebih baik daripada seribu alasan yang membuat dan menghalangi dirimu untuk menulis. Berikut beberapa alasan yang saya tawarkan, mengapa Anda menulis.
1. Menulis untuk mengikat ilmu.
Rasulullah Saw mendorong kita untuk menjaga dan merawat ilmu dengan menulisnya.
قيدوا العلم بالكتابة
"Ikatlah ilmu itu dengan tulisan” (Lihat Silsilah Ahadits Ash Shahihah no. 2026)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata, “Seorang penuntut ilmu harus bersemangat dalam mengingat-ingat dan menghafalkan apa yang telah ia pelajari, baik dengan hafalan di dalam dada ataupun dengan menuliskannya. Sesungguhnya manusia adalah tempatnya lupa, maka jika dia tidak bersemangat untuk mengulang/ men-daras ulang (mereview) pelajaran yang telah didapatkan, ilmu yang telah diraih bisa hilang tak berjejak atau dia lupakan” (Kitabul ‘Ilmi hal. 62)
Ilmu laksana binatang buruan maka menjaganya adalah kehati-hatian agar tidak lepas dan menghilang tak berjejak.
العلم صيد و الكتابة قيده …. قيد صيودك بالحبال الواثقة
فمن الحماقة أن تصيد غزالة …. و تتركها بين الخلائق طالقة
"Ilmu adalah buruan, sedangkan tulisan adalah pengikat
Maka ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat.
Adalah sebuah kebodohan jika engkau berburu kijang.
Lalu kau biarkan dia lepas pergi dengan hewan lainnya".
Imam Asy-Sya’bi pernah berkata, “Jika dirimu mendengar faidah ilmu, maka catatlah meskipun di tembok!” (Diriwayatkan oleh Khaitsamah, lihat Hilyah Thalibil ‘Ilmi h. 53)
Catatlah/tulislah walaupun di tembok! Secara tekstual, anjuran ini mungkin kurang relevan dengan masa kini. Sebab, malah sekarang tembok harus steril dari coretan demi menjaga keindahan pemandangan. Ya, benar. Namun perlu dipahami bahwa anjuran menulis walaupun di tembok itu diucapkan ketika masih kondisi terbatas media teknologi untuk teknologi untuk mencatat. Jadi, semangat dan pesan moral dari anjuran mencatat ilmu walaupun di tembok itu menunjukkan bahwa menjaga ilmu dengan tulisan itu ikhtiar yang sangat serius. Daripada tidak dilakukan, mending kita catat meski terpaksa dilakukan di tembok.
Seorang penuntut ilmu tidak boleh bakhil atau pelit untuk membeli buku tulis, ballpoint, kitab, laptop, dan berbagai sarana yang dapat membantunya untuk mendapatkan ilmu. Dalam memenuhi kebutuhannya itu dia tidak boleh bergantung kepada orang lain (meminta tolong tentu saja tidak terlarang), selama tidak memberatkan atau merepotkan orang lain. Dahulu, para penuntut ilmu menjual harta hingga rumah tempat tinggal mereka demi biaya perjalanan, biaya hidup, dan buat beli kitab, dan buku catatan. Mungkin sekarang terbalik ya. Menuntut ilmu untuk bisa membeli rumah yang bagus. Salahkah itu? Bukan salah, tapi niat menuntut ilmu harus ikhlas karena itu kewajiban setiap muslim. Karena itu butuh pengorbanan, termasuk membeli fasilitas pendukung untuk memperoleh mu dan menjaganya seperti buku catatan, laptop, iPad, dan sebagainya.
2. Meninggalkan karya yang bermanfaat
Ingatlah! Para mahasiswa sekarang rata-rata umur Anda berada di angka 18 tahun ke atas. Memang terkesan sederhana alasan menulis, agar And bisa meninggalkan jejak hidup di dunia ini dengan menebarkan manfaat untuk orang banyak. Mungkin ada diantara Anda yang menganggap tulisan-tulisan di blog ini adalah tulisan sederhana. Memang benar, dan Anda tidak salah. Akan tetapi, melakukan hal yang sederhana yang bermanfaat itu lebih baik daripada daripada sekedar rencana ideal yang tidak pernah dimulai dan tidak pernah terwujud. Pokoknya, lakukan secara rutin meski sederhana. Sebab, Nabi Saw. menyampaikan "sebaik-baik pekerjaan (amalan) adalah yang berkelanjutan (terus-menerus) meskipun sepele (sedikit)".
Selain meninggalkan karya, menulis juga membuat usia kita menjadi lebih panjang dari umur kita. Umur rata-rata secara normal di angka 60-70 tahun. Harapan hidup rata manusia di dunia saat ini tidak mencapai 100 tahun, termasuk penduduk Jepang yang notabene paling tinggi, namun tetap di bawah angka 100 tahun. Selain itu, kemampuan mengingat sangat terbatas Bayangkan, mungkin Anda sudah tidak kenal dengan kakek buyut Anda. Siapa kakek buyut Anda? Anda mungkin sudah tidak tahu. Tapi, saya masih mengenal imam Syafi'i, imam Malik, imam Abu Hanifah, imam Ahmad bin Hambal, dll. Mengapa? Karena mereka meninggalkan karya monumental, kitab-kitab yang bermanfaat dari generasi ke generasi hingga kini. Tiga investasi ukhrawi yang tidak pernah berhenti kebaikannya. Yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak salih yang mendoakan.
3. Ruang aktualisasi diri yang efektif
Mungkin poin ini tidak berlaku untuk semua orang, menulis bisa menjadi sebuah sarana aktualisasi diri dan meraih kepuasan tersendiri. Misalkan kita memiliki uneg-uneg yang tidak tersalurkan, ingin mengeluarkan gagasan, ide, menciptakan penemuan kreatif, bisa diakomodir dengan cara menulisnya.
Tentu saja menulis sesuatu yang baik juga bisa menjadi sarana kebaikan dan memenuhi kebutuhan spiritual. Hidup pun akan lebih senang, lebih baik, terasa lebih bermakna, dan bisa jadi wajah akan terlihat awet muda. Merawat memori dengan rutin membaca dan menulis. Karena penulis yang produktif pasti ia termasuk pembaca yang efektif. Sebaliknya, orang yang membaca belum tentu menjadi penulis. Hampir bisa dipastikan bahwa jumlah pembaca lebih banyak daripada jumlah penulis. Meskipun penulis jumlahnya tidak banyak, namun berusaha dan berdoalah selalu agar Anda termasuk golongan yang sedikit (yaitu orang yang menulis).
4. Menambah relasi dan networking
Mungkin sebuah hal yang tidak terduga sebelumnya Anda menulis itu sebelumnya hanya karena ini merupakan salah satu passion Anda. Anda senang sekali jika bisa menulis dan diberikan kesempatan berekspresi melalui tulisan. Penulis tak menyangka dirinya suatu saat nanti menjadi terkenal meski tidak menjadi tujuannya. Daripada saling memaki, memfitnah, mengungkap aib di media sosial, membuat sensasi untuk terkenal dan mendapatkan follower dan duit yang banyak, maka menulis hal-hal positif itu lebih baik. Yang pertama (sensasi dengan hal negatif) adalah dosa, sedangkan yang kedua (menulis hal yang baik) adalah pahala (tentu saja dengan niat yang baik pula). Pilihan ada di tangan Anda.
5. Menulis sebagai terapi dan mengasah kreativitas
Menulis bisa digunakan sebagai sarana terapi untuk penyembuhan. Aktivitas menulis dapat membuat kita mengurangi beban-beban pikiran dan mengekspresikan diri dengan bebas. Tidak hanya di situ, bagi Anda yang rajin menulis mungkin Anda merasakan adanya pemikiran yang kreatif, out of the box, dan lebih kritis. Setelah ditanya, ternyata memang benar bahwa mereka yang rajin menulis bisa menjadi seperti itu karena rajin melahirkan karya-karya tulis secara konsisten.
Dari tinjauan wahyu, berkali-kali Allah menyentuh akal dengan kata kerja (verba), bukan dalam bentuk kata benda. Mengapa? Hal itu menunjukkan bahwa akal harus terus bekerja dan diaktifkan. Apalagi kata kerja "ya'qiluun, ta'qiluun, dan sejenisnya dalam bentuk fi'il mudhari' yang menunjukkan kontinyuitas (terus menerus).
Ah.., ini tafsir bangat ya. Tapi ini saya ungkapkan untuk menegakkan bahwa menulis untuk mengaktifkan akal sehat dan nalar kritis itu sejalan dengan tuntunan Al-Qur'an. Menulis juga untuk mengaktifkan nalar menjadi kreatif dan kritis dibutuhkan, sebab ini merupakan salah satu titik sentral dan paling utama yang menjadi pembeda manusia dengan makhluk Tuhan yang lain.
6. Manfaat pendidikan, pencerahan, dan dakwah
Saking pentingnya aktivitas menulis ilmu, orang bijak berkata, "syuhada berjuang dengan tetesan darah, para ulama dan saintis berjuang dengan goresan pena", di mana bagi keduanya terdapat kemuliaan yang tiada taranya. Mereka merupakan pengemban misi untuk membuat dunia ini menjadi lebih cerah dengan sinar peradaban berbasis iman dan ilmu serta amal saleh.
Jendela peradaban adalah "membaca". Sedangkan gerbang peradaban masa depan adalah "menulis". Tahukah Anda bahwa peradaban dirangkai dari huruf, kata, dan kalimat. Dari sebuah tulisan sederhana, terciptalah perubahan di dunia. Kita ingin menjadi pemain dalam menciptakan perubahan yang lebih konstruktif? Salah satunya adalah menulis (untuk masa depan peradaban). Tinta pena para ulama dan ilmuwan seharga dengan tetesan darah para syuhada, atau bahkan jangkauan goresan pena mereka lebih dahsyat melintasi zaman. Lihatlah misalnya imam Syafi'i dan yang lainnya. Goresan pena beliau melintasi ribuan tahun atau belasan abad lamanya. Fisiknya memang tak berwujud lagi, namun mereka tidak pernah mati. Bahkan masih menjadi guru yang memimpin ilmu pengetahuan yang tidak dibatasi oleh wilayah dan zaman. Pemikiran dan kitabnya masih menjadi rujukan hingga kini.
Maka tidak salah ketika Chairil Anwar berkata dalam sajaknya "Aku mau hidup seribu tahun lagi". Itu bukan mimpi, bahkan itu riil. Bahkan, Anda bisa mengatakan, aku tak ingin 'dikubur' setelah mati. Maksudnya, fisik boleh hancur berkalang tanah, namun nilai goresan pena takkan pernah terkubur. Umur bisa saja tidak terlalu panjang, namun usia mencapai abad lamanya karena kontribusi Anda yang dahsyat menembus zaman hingga abad lamanya.
Para mahasiswa dan segenap sivitas akademika serta pembaca blog saya yang budiman! Anda mungkin punya seribu satu (1001) alasan untuk tidak menulis. Dan, itu hak Anda. Biarkan daftar alasan itu berderet. Namun, saya mengajak Anda menemukan satu saja alasan mengapa Anda harus menulis. Lalu, jagalah baik-baik alasan itu. Ikuti, wujudkan, dan jangan tinggalkan satu alasan itu selamanya. Jika Anda punya keinginan untuk menulis, tingkatkan menjadi niat yang ikhlas, mulai wujudkan, dan jadikan sebagai habit ! kebiasaan). Insyaallah, hidup Anda akan lebih bermanfaat. Karena hanya sekali hidup, maka hiduplah yang bermakna!
Salam nalar kritis'!

0 Komentar