GURU PAHLAWAN TANPA TANDA JASA


GURU PAHLAWAN TANPA TANDA JASA
Sebuah Inspirasi dari Kisah Dedikasi Bapak Sartono

31/1/2021

Oleh: Muhammad Yusuf, Dosen UIN Alauddin dan STAI Al-Furqan Makassar


Teringat dahulu waktu saya masih mengawali pendidikan formalku di SD Negeri No. 258 Gattareng (1982-1988), saya sering mendengar semboyan "pahlawan tanpa tanda jasa" yang disematkan kepada guru. Bahkan ada sebuah lagu berjudul "Hymne Guru". Lagu ini sering dinyanyikan dan diajarkan oleh guru kesenian-ku, terutama menjelang perayaan 17 Agustus. Lirik lagu 'Hymne Guru "sangat membekas di memori saya. Betapa mulia posisi dan peran guru. Masih sakti-kah para guru di mata murid-murid dan orang tua mereka serta negara? Dan, tahukah Anda sosok pencinta lagu Hymne Guru? Dia adalah Bapak Sartono. Dan, berikut ini saya tuliskan liriknya. 

"HYMNE GURU"

 Terpujilah
Wahai engkau ibu bapak guru

Namamu akan selalu hidup
Dalam sanubariku

Semua baktimu akan kuukir
Di dalam hatiku

Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu

Terpujilah wahai ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup di dalam sanubariku

Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu

Engkau bagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan

Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa


Pak Sartono dan lagu Hymne Guru

Ketika saya mendengarkan lirik ini serasa ini sebuah napak tilas perjalanan Pendidikan-ku. Dan kini, seperti yang Anda ketahui, pemerintah menetapkan tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional (HGN). Penetapan HGN berkaitan dengan riwayat berdirinya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada tahun 1912.
Pemerintah RI kemudian menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994. Keppres tersebut menetapkan PGRI sekaligus sebagai Hari Guru Nasional.

Seperti lazimnya, peringatan Hari Guru Nasional tak lepas dengan menyanyikan lagu "Hymne Guru" yang legendaris itu. Namun, tak banyak yang tahu sejarah dan pengarang lagu tersebut. Sosok Pak Sartono, pencipta lagu Hymne Guru yang menyumbang karya monumental (lagu Hymne Guru). Sebuah lirik pemantik semangat perhargaan untuk memperlakukan dan memosisikan para guru pada posisi yang sangat terhormat. Bahkan, untuk meneguhkan mereka sebagai pahlawan meski tanpa tanda jasa.

Pak Sartono, mantan guru yayasan swasta di Kota Madiun, Jawa Timur itu telah meninggal dunia di usia 79 tahun di RSUD Kota Madiun, Jawa Timur pada Minggu (1/11/2015) .. Dia menciptakan lagu "Hymne Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa "pada tahun 1980-an, dua tahun sebelum saya masuk SD. Sebuah lagu yang kini selalu dinyanyikan di sekolah-sekolah baik tingkat SD hingga SMA di negeri ini.

Kesan Saya

Ketika saya menikmati lagu karangannya pada saat duduk di SD itu, bayangan saya adalah, beliau sosok pribadi dan keluarga yang berkecukupan, bahkan terbayang dirinya sekeluarga hidup dengan fasilitas dan materi melimpah karena prestasinya. Tapi ternyata, saya salah. Meskipun lagunya memang terkenal dan dinyanyikan semua anak sekolah se-Indonesia, namun semasa hidupnya, Bapak Sartono jauh dari kata "mewah".

Begitu saya membaca biografi singkatnya, ternyata Dia tinggal dengan hidup sederhana di rumah yang berdinding kayu di Jalan Halmahera Nomor 98 Kelurahan Oro-Oro Ombo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun. Beliau pahlawan pendidikan tanpa perhatian penguasa kala itu. Ia tinggal bersama sang istri tercinta, Damiyati, pensiunan guru SD setempat.

Namun beliau meninggalkan satu pesan moral bisu - tanpa kata dan kalimat. Seolah berbisik mengatakan, "kesungguhan dan keuletan mengembangkan bakat dan talentanya secara otodidak". Kesungguhan selalu menjanjikan hasil yang menakjubkan. Beliau belajar musik secara otodidak. Pak Sartono mempelajari musik dan alat musik secara otodidak. Beliau adalah guru seni musik yang belajar sendiri dalam keterbatasan alat musik.

Pada tahun 1978, Pak Sartono adalah satu-satunya guru musik seni yang bisa membaca balok di wilayah Madiun kala itu. 
Itu semua ia berusaha sendiri, tanpa mengenyam pendidikan tinggi tentang musik. Karena keterbatasan alat musik yang ia miliki, maka lagu "Hymne Guru" yang saat ini sangat terkenal itu, ia diciptakan dengan bersiul sambil menikmati nada dan liriknya ke dalam catatan kertas.

Sartono memulai kariernya sebagai guru seni musik pada tahun 1978. Ia adalah guru di sebuah yayasan swasta yang mengajar di SMP Katolik Santo Bernardus, Kota Madiun dan purna-tugas dari sekolah tersebut pada tahun 2002.

Ketika dikonfirmasi pada istrinya, - berdasarkan satu sumber - bahwa selama masa nya sebagai guru, gajinya sangat pas-pasan, bahkan tidak banyak. Pernah menerima gaji hanya Rp 22.000 per bulan waktu itu, kemudian secara bertahap naik hingga Rp 60.000 per bulan. Penghasilan tersebut tak terkalahkan dengan jam mengajarnya.

Kecintaannya pada musik dan lagu pendidikan

Bertepatan dengan momentum hari Pendidikan Nasional pada tahun 1980, Sartono mengikuti lomba mencipta lagu tentang pendidikan. Dari ratusan peserta, lagu "Hymne Guru, .... Pahlawan Tanpa Tanda Jasa", ciptaannya, berhasil menjadi pemenang. Selain mendapatkan sejumlah uang sebagai pemenang, Sartono bersama sejumlah guru teladan lainnya di seluruh Indonesia dikirim ke Jepang untuk studi banding. Nah, ini menarik, mengapa mereka mesti ke Jepang, bukan ke negara lain? Ada apa dengan pendidikan di Jepang? 

Meski karyanya sangat fenomenal dan dinyanyikan oleh hampir semua orang di negeri ini, dia disebut-sebut tidak pernah menerima sepeserpun atas hasil karyanya tersebut. Bayangkan, hak cipta dan hak paten lagi-lagi luput dari perhatian pemerintah kala itu, dan kini ahli warisnya pun tak ada kabar dari pemerintah saat ini. Ataukah lantaran tak dikaruniai anak?  Guru berprestasi seperti apa ya, yang layak mendapatkan apresiasi negeri ini. Saya membayangkan, andai saja Pak Sartono dan keluarganya berkewarganegaraan Jepang dan tinggal di sana, mungkin Kaisar mengistimewakan beliau dan keluarganya. Begitu tingginya tumpuan harapan Kaisar terhadap keberadaan dan peran para guru dalam pembangunan bangsanya.

Berbeda pengalaman Pak Sartono di negerinya, negeri saya, Indonesia. Meskipun perhatiannya yang demikian serius terhadap pendidikan dan pengabdiannya sebagai guru pernah mendapat penghargaan dari Mendikbud saat itu, Yahya A Muhaimin. Namun, ahli warisnya (istrinya), tak memperoleh royalti dari hak cipta atau hak paten. Sesuai lirik lagunya, beliau adalah seorang pahlawan tanpa tanda jasa dari negara. Dialah sesungguhnya seorang pahlawan yang setia kepada UUD 1945 dalam "mencerdaskan kehidupan bangsa". Mungkin ya, negara tidak mampu membalas jasa, dedikasi, dan presentasinya? Saking besarnya jasanya. Ataukah karena jasa dan prestasinya terlalu mahal untuk dibalas oleh negara? Oke, tapi paling tidak, berikan fasilitas hidup yang layak. Toh, saya yakin negara bertanggung jawab melaksanakan UUD 1945 "mencerdaskan kehidupan bangsa ..". Hanya negara lupa. Maafkan negaramu, Pak! Tanggung jawab negara ini telah dipikul sebagian oleh Pak Sartono. Negara mesti hadir untuk melayani warga negara, apalagi yang mengambil alih tugas negara. Tapi saya yakin Pak Sartono seorang yang pemaaf. 

Bagi Pak Sartono, mengabdi kepada negara melalui jalur pendidikan adalah panggilan hidup. Menurut lelaki yang lahir di Madiun pada 29 Mei 1936 itu, menjadi guru di sebuah yayasan dengan tahapan yang pas-pasan adalah panggilan hidup yang harus dilayani dengan sabar. Meski begitu, melalui istrinya, Sartono pernah berharap agar pemerintah terus berupaya meningkatan kesejahteraan guru di Tanah Air ini. 

Meski nasibnya lebih mirip seperti lagu gubahannya sendiri, yakni sebagai pahlawan tanpa tanda jasa yang terlupakan dan tak dikenal, ia tetap hidup bersahaja. Hingga akhir hayatnya, Sartono tetap hidup sederhana dengan istrinya. Pasangan ini tetap hidup bahagia meski tidak memiliki keturunan

Andaikan Sartono di Mata Kaisar Hirohito

Pak Sartono memang pernah ke Jepang karena prestasinya, namun ia berangkat untuk negerinya, Indonesia. Bagaimana seandainya ia guru di Jepang? Pertanyaan Kaisar Jepang ketika usai perang dan kalah porak poranda adalah "Berapa Jumlah Guru Yang Tersisa?" Ini menarik. Mengapa Kaisar tidak bertanya begini: "berapa tentara yang masih hidup?"

Melihat seorang guru seperti melihat sebuah masa depan yang telah dijanjikan untuk dunia ini. Ketika Jepang terpuruk dengan hancurnya kota Nagasaki dan Hiroshima oleh gempuran bom Amerika. Jepang saat itu lumpuh total, korban meninggal jutaan, belum lagi efek radiasi bom tersebut yang diperkirakan membutuhkan 50 tahun untuk menghilangkan itu semua.

Jepang sudah menyerah kepada sekutu, dan setelah itu Kaisar Hirohito mengumpulkan semua jendral masih hidup yang menanyakan kepada mereka “Berapa jumlah guru yang tersisa?”. Para jendral pun bingung mendengar pertanyaan Kaisar Hirohito dan mendatangi Kaisar bahwa mereka masih bisa menyelamatkan dan melindungi Kaisar walau tanpa guru. Namun, Kaisar Hirohito kembali berkata, “Kita telah jatuh, karena kita tidak belajar. Kita kuat dalam senjata dan strategi perang. Tapi kita tidak tahu bagaimana cara mencetak sumber yang sedahsyat itu. Kalau kita semua tidak bisa belajar bagaimana kita akan mengejar mereka? Maka kumpulkan sejumlah guru yang masih tersisa di seluruh pelosok kerajaan ini, karena sekarang kepada mereka kita akan bertumpu, bukan atas kekuatan pasukan.” 

Ini berbanding terbalik dengan pemandangan di negeri Pak Sartono, ketika sejumlah guru berkumpul dan berserikat untuk bertemu Pemerintahnya untuk menyampaikan pendapat, namun tidak bisa. Guru yang butuh kepada pemerintah. Ah, para guru mesti bersatu dan berserikat membuat pemerintah butuh kepada para guru. Biarkan pemerintah yang mencari Anda untuk membantu mencerdaskan kehidupan bangsa seperti Kaisar Jepang itu.

Kembali ke Jepang. Enam hari setelah bom atom terlepas di Hiroshima dan Nagasaki pada 1945, yang menyebabkan Jepang menyerah tanpa syarat pada Perang Dunia II (1942-1945), Kaisar Hirohito (bertakhta 1926-1989) berupaya membangun kembali bangsanya yang sudah porak-poranda itu. Ia memerintahkan menteri pendidikannya untuk menghitung dan mengidentifikasi jumlah guru yang tinggal dan hidup. Satu sumber menyebutkan bahwa jumlah guru yang tersisa di Jepang pada saat itu adalah sebanyak 45.000 orang. Sejak itu, Kaisar Hirohito gerilya mendatangi para guru yang tinggal itu dan memberi perintah juga arahan. Rakyat Jepang memang sangat taat kepada Kaisar. Kaisar pun sangat memperhatikan guru.

Betapa bernilainya seorang guru di mata Kaisar saat itu sama seperti betapa bernilainya guru saat ini. Jepang menjadi negara maju seperti saat ini tak lepas dari pengaruh dan campur tangan guru. Tanpa guru, mungkin Jepang saat ini akan tetap terpuruk dan takkan menjadi salah satu negara yang ditakuti oleh negara lain. Bahkan saat ini, Jepang telah menjadi ancaman serius bagi negara yang pernah menjadikannya terpuruk, yakni Amerika. Kemajuan Jepang tersebut layak diintip dan diadaptasi oleh Indonesia jika Pemerintah Indonesia tidak punya pandangan sendiri yang lebih baik menurut Jepang. 

Guru merupakan pahlawan walau tak pernah pernah darahnya. Dia mengajar, membimbing, menjadi teladan menuju sebuah kemerdekaan. Kemerdekaan dari kebodohan serta kemiskinan dengan ilmu yang telah masuk olehnya. Apakah pernah terpikirkan seorang guru untuk menjadi pahlawan? Sungguh tidak, namun gelar itu telah tersemat dengan gagahnya karena apa yang telah dilaksanakannya. Bagi Kaisar, kebangkitan dan kemajuan bangsa ada pada pendidikan. Menginvestasi sumber daya manusia melalui pendidikan adalah sebuah keniscayaan.

Membangun jalan tol bukan tidak bagus. Itu tentu bagus. Tapi, itu temporer dan tak lama akan rusak. Perlu dipikirkan, agar pinggir-pinggir jalan itu tidak menjadi area generasi peminta-minta yang terjadi akibat tidak memperoleh pendidikan.  Tetapi membangun SDM dan berdasarkan atas masa depan bangsa adalah sebuah amanat konstitusi, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Seharusnya, bangsa Indonesia berkembang untuk masa depan melalui pendidikan demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Para guru merupakan investor masa depan bangsa tak bermodal anggaran keuangan tapi keilmuan dan pendidikan. Karena itu mestinya menjadi tumpuan masa depan bangsa.

Mungkin memang tidak menarik bagi pihak tertentu, tapi sungguh luar biasa dan asyik membicarakan sosok seorang guru di mata dunia, di mata orang-orang sukses, di mata orang-orang terpelajar, karena mereka pasti sepakat bahwa tak ada pahlawan yang lebih berjasa bagi mereka selain guru. Dan orang tua adalah madrasah pertama, pahlawan pertama. Berbicara tentang guru berarti berbicara tentang masa depan, ketika guru itu baik maka lahirlah generasi yang baik pula. Esok adalah kesempatan mereka untuk melanjutkan pembangunan bangsa Indonesia yang lebih baik. Tentu saja ini harapan yang mesti dilandasi kesadaran terhadap kualitas pendidikan dan para pendidik.

Bagaimana dengan Indonesia? Kini, dunia sedang dilanda serangan yang sudah berlangsung satu tahun melalui pandemi Covid-19. Indonesia pun tak mampu menghindar. Dampak Pandemi Covid-19 ini luar bisa. Mencakup hampir seluruh segi kehidupan, tak terkecuali segi pendidikan. Pembelajaran jarak jauh (PJJ) berakibat terjadinya loss of learning (kehilangan pembelajaran)  atau vakum, terutama di wilayah terpencil. Banyak aktivitas pendidikan yang lumpuh. Walau mentransformasikan keilmuan terjadi, namun transformasi nilai dan moral hampir lumpuh pola interaksi pembelajaran jarak jauh. Interaksi pembelajaran berlangsung seolah kering nilai. Padahal, nilai moral itu adalah poin penting dalam pendidikan. 

Dalam situasi seperti itu, guru tetap harus tampil sebagai pahlawan untuk menyelamatkan masa depan bangsa. Percayakan masalah bangsa kepada guru. Mereka mampu menjawabnya. Guru akan tetap mampu menjadi pahlawan revolusi mental dan revolusi akhlak. 

Revolusi mental dan revolusi akhlak tidak perlu saling berhadapan. Keduanya bersaudara kembar. Keduanya baik, asal  tidak berhenti pada retorika politik belaka. Perlu direalisasikan sebagai "moral project" untuk bangsa. Perlu re-desain seluruh institusi pendidikan (usia dini, dasar, menengah, dan tinggi) sebagai proyek pembangunan IPTEK dan proyek moral. Tumpuan kebangkitan bangsa ada pada pendidikan yang di dalamnya ada para guru di garda terdepan. Kalau serius revolusi mental dan revolusi akhlak sebagai langkah menuju bangsa yang maju maka perbaiki pendidikan.

Pemerintah mesti cerdas dan efektif berinvestasi pada pembangunan Ipteks  mental, moral, dan akhlak melalui perbaikan kualitas guru, sistem pendidikan, dan kesejahteraan guru baik status ASN, kontrak, dan honorer. Sebab, bagaimanapun mereka harus dipandang sebagai warganegara yang bekerja untuk bangsa dan negara. Negara berkewajiban menjamin dan melindungi mereka. UU perlindungan guru mesti mendahului atau paling tidak, bersamaan terbitnya dengan lahirnya UU perlindungan anak. Kewibawaan mereka - sebagai pahlawan meski tanpa tanda jasa - mesti dilindungi oleh UU baik sebagai warganegara maupun sebagai guru. 

Catatan:

Semua kata "guru".dalam tulisan ini berlaku untuk semua pendidik pada semua level pendidikan (usia dini, dasar, menengah, dan tinggi). Bahkan seluruh pendidik pendidik pada jalur (formal, informal, dam non-formal).

Salam nalar kritis!

Posting Komentar

0 Komentar