وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهٖۙ وَهَمَّ بِهَاۚ لَوْلَآ اَنْ رَّاٰ بُرْهَانَ رَبِّهٖۗ كَذٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوْۤءَ وَالْفَحْشَاۤءَۗ اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِيْنَ ٢٤
Terjemahnya:
Sungguh, perempuan itu benar-benar telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Yusuf pun berkehendak kepadanya sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, Kami memalingkan darinya keburukan dan kekejian. Sesungguhnya dia (Yusuf) termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.(24).
Hubungan dengan Ayat Sebelumnya
Ayat 24 ini melanjutkan kisah dalam Surah Yusuf (QS. Yusuf: 23-24), di mana ayat sebelumnya (ayat 23) menggambarkan bagaimana istri Aziz Mesir menggoda Yusuf di dalam rumah saat tidak ada orang lain. Ayat 24 membangun ketegangan itu dengan mengakui godaan timbal balik yang hampir terjadi, tapi langsung menegaskan campur tangan ilahi yang menyelamatkan Yusuf. Ini menciptakan alur naratif yang dramatis: dari situasi rawan dosa menuju penebusan melalui iman.
Penjelasan Ayat
Ayat ini menyatakan bahwa istri Aziz benar-benar berniat (هَمَّتْ بِهِ) menjerumuskan Yusuf ke dalam zina, dan Yusuf pun sempat terpikat (هَمَّ بِهَا) oleh godaan itu. Namun, Yusuf melihat "burhan Rabbihi" (tanda atau bukti dari Tuhannya), seperti wahyu atau penglihatan yang mengingatkan janji kepada Tuhan. Akibatnya, Allah memalingkan (لِنَصْرِفَ عَنْهُ) Yusuf dari "suu'" (keburukan besar) dan "fahsya'" (kekejian, yaitu zina). Penutup ayat menegaskan status Yusuf sebagai "mukhlashin" (hamba terpilih yang murni), menunjukkan bahwa ketakwaannya membuatnya layak dipilih Allah.
Konteks Historis dan Naratif
Dalam konteks kisah Nabi Yusuf AS, ayat ini terjadi saat Yusuf berusia sekitar 17 tahun, dijual sebagai budak ke Mesir dan diangkat menjadi pengurus rumah tangga Aziz (menteri keuangan). Godaan ini menguji keteguhannya setelah cobaan keluarga (dijual saudara sendiri). Secara teologis, ini mengilustrasikan tema ujian kenabian: bahkan nabi pun menghadapi godaan nafsu, tapi dibantu Allah untuk lulus ujian. Kisah ini mirip dengan narasi Alkitab (Kejadian 39), tapi Al-Qur'an menekankan aspek ilahi dan pelajaran moral.
Relevansi dengan Realitas Kekinian
Di era modern penuh godaan seperti media sosial, konten dewasa, dan tekanan hubungan bebas, ayat ini relevan sebagai pengingat bahwa dorongan nafsu bisa menyerang siapa saja—bahkan orang saleh seperti Yusuf. Ia mengajarkan pentingnya "burhan" (kesadaran akan Tuhan) sebagai rem darurat, seperti mindfulness berbasis iman untuk hindari perselingkuhan atau pornografi. Contoh: Di tengah budaya hookup, ayat ini dorong umat Islam perkuat taqwa melalui doa dan lingkungan positif, sambil hargai "hamba terpilih" seperti Yusuf yang prioritaskan integritas. Ini juga kritik halus terhadap pelecehan kekuasaan, mirip kasus #MeToo, di mana korban seperti Yusuf tetap menang dengan moralitas.
0 Komentar