HINDARI FLEXING, PELUK KITMAN: CEGAH IRI, RAIH BERKAH

 Oleh: Muhammad Yusuf


Esai ini mengolah kutipan hadis dari HR. Ath-Thabrani menjadi renungan mendalam yang menyatukan hikmah sufistik, filsafat keberadaan, dinamika jiwa manusia, dan struktur sosial. Saya susun dengan bahasa yang metaforis,  Dalam hembusan angin malam yang membisik rahasia langit, hadis Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengalir bagai sungai tersembunyi: اسْتَعِينُوا عَلَى إِنْجَاحِ الْحَوَائِجِ بِالْكِتْمَانِ، فَإِنَّ كُلَّ ذِي نِعْمَةٍ مَحْسُودٌ. "Mintalah pertolongan dalam memenuhi kebutuhan kalian dengan cara menyimpannya, karena setiap orang yang memiliki nikmat pasti akan ada yang dengki kepadanya" (HR. Ath-Thabrani). Kata-kata ini bukan sekadar nasihat praktis, melainkan undangan suci menyelam ke lautan jiwa, di mana kitman—penyimpanan rahasia—menjadi jembatan menuju keberkahan abadi.

Dari sudut sufistik, kitman adalah tariqah menuju fana'. Sufi seperti Rumi mengajarkan bahwa nikmat yang diumbar adalah burung yang terbang rendah, mudah direnggut mata elang hasad. Sebaliknya, nikman yang disembunyikan bagai permata di dasar samudra, terlindung dari gelombang duniawi. Ini adalah jihad al-nafs, perjuangan melawan ego yang haus pameran. Dengan kitman, hati menjadi mi'raj pribadi, naik ke hadirat Ilahi tanpa saksi selain Yang Maha Melihat. Nikmat tak lagi milik diri, tapi titipan Tuhan yang dijaga dalam diam, sehingga haqiqahnya bertumbuh liar seperti mawar di taman rahasia.

Filosofis, kutipan ini menusuk inti eksistensi manusia: ontologi kerapuhan. Heidegger berbicara Dasein yang terlempar ke dunia penuh tatapan orang lain—das Man, kerumunan anonim yang mengintai. Setiap nikmat, entah kekayaan, ilmu, atau kecantikan, lahir dari Wesen keberadaan, tapi hasad adalah Geworfenheit, lemparan ke arena kompetisi. Kitman bukan pelarian, melainkan afirmasi kebebasan autentik. Ia membebaskan dari inauthenticity pameran sosial, mengembalikan manusia ke Ereignis—peristiwa murni antara jiwa dan Pencipta. Nikmat yang tak diumbar tak lagi objek, tapi subjek yang hidup, bebas dari pandangan yang mematikan cahayanya.

Psikologis, hasad adalah racun bawah sadar yang Freud sebut Thanatos, dorongan kematian yang menyergap Eros kebahagiaan orang lain. Jung melihatnya sebagai bayangan shadow kolektif, proyeksi kegelapan diri ke nikmat sesama. Mengapa kita dengki? Karena jiwa manusia adalah gua Platon yang haus cahaya, tapi takut buta oleh kilauan orang lain. Kitman menjadi terapi: dengan menyimpan nikmat, kita membangun resilience batin, melatih ego strength agar tak bergantung validasi eksternal. Penelitian psikologi kontemporer, seperti studi Adler tentang inferioritas, membuktikan bahwa pameran memicu siklus hasad timbal balik, sementara kerendahan hati—ekstensi kitman—mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan. Hati yang diam adalah kebun yang subur, di mana kebutuhan (hawajib) terpenuhi oleh rahmat Ilahi, bukan sorotan manusia.

Sosiologis, masyarakat modern adalah panggung hasad struktural. Durkheim akan menyebutnya anomie kolektif, di mana media sosial mengubah nikmat pribadi menjadi kapital simbolik Bourdieu—semakin diumbar, semakin direnggut mata iri. Di Indonesia, budaya gotong royong bercampur gosip digital, di mana mahasud menjadi epidemi tak kasat mata. Kutipan ini mengajak rekonstruksi sosial: komunitas yang menghargai kitman akan melahirkan solidaritas organik, bukan mekanis berbasis iri. Bayangkan umat yang saling mendoakan dalam diam—bukan kompetisi pameran—maka hawajib terpenuhi melalui barakah kolektif, bukan perebutan.

Akhirnya, kitman adalah pesan kuat: nikmat adalah ujian api yang dimurnikan oleh diam. Ia mengajak kita menari di tepi jurang hasad, memilih rahasia sebagai sahabat setia. Dalam sufisme, filsafat, psikologi, dan sosiologi, kitman bukan kelemahan, tapi kekuatan transenden. Mari kita simpan nikmat kita, agar kebutuhan terpenuhi bukan oleh tangan manusia, tapi oleh Yang Maha Pemberi. Sebab, di balik setiap hembusan rahasia, ada janji keabadian.








Posting Komentar

0 Komentar