KERUGIAN HAKIKI & KEBERUNTUNGAN PALSU

Oleh: Muhammad Yusuf

Esai ini saya mulai dengan kutipan dari Syaikh Mutawalli Sya'rawi dengan lapisan sufistik (kedekatan batin dengan Allah sebagai fana' dan baqa'). Beliau mengatakan, "Jika engkau mengalami kerugian di dunia, tapi selalu bersama Allah, maka sesungguhnya engkau tidak ada kerugian apapun dalam hal apapun. Dan, jika engkau dapat keberuntungan yang luar biasa, tapi jauh dari Allah, maka sejatinya kau sedang dalam kerugian segala-galanya." 

Hidup sering menyerupai badai eksistensial: usaha runtuh, relasi retak, prestasi lenyap. Manusia modern, di dalam narasi sukses kapitalis, meratap sebagai korban terbesar. Namun, perspektif sufistik menggugat: apakah kerugian itu nyata jika jiwa tetap bertaut pada Allah? Secara filosofis, Sartre menyatakan "kebebasan menciptakan makna," tapi tanpa Tuhan, ia hanyalah absurditas. Di sinilah kebijaksanaan Sya'rawi menusuk: ukuran sejati bukan harta atau status, melainkan kedekatan ilahi yang tak tergoyahkan.

Kerugian Duniawi: Lapisan Luar yang Rapuh

Psikologisnya, kerugian material memicu krisis identitas, seperti yang digambarkan Viktor Frankl dalam logoterapi: manusia hancur jika makna hilang. Namun, bagi jiwa sufistik, harta hanyalah bayang—fana' yang lenyap dalam zikir. Sosiologis, masyarakat kita memuja akumulasi (Durkheim: anomi sukses), tapi filosofisnya, Epiktetos mengajarkan: "Bukan peristiwa yang menyakiti, tapi pandanganmu padanya." Jika sandaran adalah Allah, runtuhnya dunia tak sentuh batin; ia justru purifikasi, membersihkan nafsu hingga baqa' (kekekalan dalam-Nya).

Kebersamaan Ilahi: Kekayaan yang Abadi

Bersama Allah bukan ritual kering, melainkan maqam batin: tawadhu' yang melahirkan ketenangan. Psikologis, ini mirip resiliensi post-trauma—jiwa tak bergantung validasi eksternal, tapi pada fitrah. Sufistik, Rumi bilang: "Luka adalah tempat cahaya masuk." Saat segalanya hilang, kebersamaan ini jadi harta hakiki, tak dirampas waktu atau nasib. Kritiknya tajam: mengapa kita rela miskin rohani demi kaya materi?

Keberuntungan Palsu: Tirai yang Menyesatkan

Sebaliknya, "keberuntungan" duniawi—kekayaan, kekuasaan—sering menipu. Sosiologis, ia ciptakan ilusi solidaritas palsu, di mana sukses diukur like dan jabatan, tapi jiwa haus. Filosofis, Nietzsche's übermensch bangga, tapi tanpa Tuhan, ia nihil. Psikologis, dopamin sukses sementara, lalu depresi kronis. Kutipan Sya'rawi menusuk: gemerlap ini tirai, menyembunyikan kerugian total—jarak dari Allah, sumber segala.

Jarak dari Allah: Keruntuhan Eksistensial

Jauh dari-Nya, manusia gelisah meski tertawa: hatinya kosong, seperti gua Plato tanpa cahaya. Secara sosiologis, masyarakat sekuler produksi "homo economicus" yang rapuh, rentan krisis makna. Kritiknya logis: sukses tanpa zikir adalah kerugian mutlak, karena jiwa kehilangan kompas—fase nafsu ammarah yang membinasakan.

Menimbang dengan Timbangan Akhirat

Kesadaran ini tuntut revolusi batin: timbang hidup bukan dengan GDP jiwa, tapi kedekatan ilahi. Bukan tinggi di mata manusia, tapi tenang di hadapan-Nya. Hari ini, saat hidupmu berat atau gemilang, tanyakan: apakah ini mendekatkanmu kepada Allah, atau menjauhkan? Keadaan sulit yang mendekatkan engkau kepada Allah lebih baik daripada keadaan lapang yang menjauhkanmu dari-Nya.

Posting Komentar

0 Komentar