Oleh: Muhammad Yusuf
Di tengah gemuruh dunia yang haus pengakuan, manusia terperangkap dalam jerat takut—pedang bermata dua yang mengukir martabat atau merobeknya. Bukan magnitudonya yang menentukan, melainkan arahnya: kepada Allah atau sesama? Takut kepada-Nya bermetamorfosis menjadi taqwa, menenangkan badai batin, melahirkan wibawa autentik dari ikhlas yang magnetis. Takut kepada manusia? Racun kegelisahan yang melahap identitas, undangan meremehkan dari kerapuhan opini fluida. Di sinilah persoalan eksistensial terungkap: qiblat hidup menentukan nasib jiwa. Pilihan ini bukan sekadar preferensi—ia hukum besi ontologi manusia.
Syaikh Mutawalli asy-Sya'rawi menusuk hakikat: "Rasa takutmu kepada Allah menjadikanmu disenangi manusia. Rasa takutmu kepada manusia menjadikanmu diremehkan oleh manusia." Logika besi ini tak terbantahkan—taqwa memancarkan ikhlas magnetis yang memikat hati tanpa usaha; takut manusia lahirkan kerapuhan yang mengundang cemooh. Bukan paradoks, melainkan hukum psiko-spiritual: wibawa lahir dari khaasyyah ilahi, kehinaan dari riya' duniawi.
***
Rasa takut merupakan dorongan primal paling dahsyat dalam sanubari manusia—pedang bermata dua yang bisa mengukir martabat abadi atau merobeknya hingga hancur. Pembeda mutlak bukan intensitasnya, melainkan sasaran arahannya. Di sinilah pusara persoalan eksistensial manusia terungkap: ribuan jiwa tampak sibuk memoles citra di mata sesama, menimbang setiap kata dan gerak demi aplaus sementara, padahal tanpa sadar mereka menggadaikan kejujuran primordial jiwa mereka sendiri.
Apabila rasa takut ini difokuskan kepada Allah SWT, ia transmutasi menjadi taqwa—kesadaran ilahi yang menenangkan badai batin. Bukan ketakutan lumpuh yang membelenggu, melainkan khaasyyah yang membangkitkan hati dari slumber duniawi. Taqwa ini memaksa kehati-hatian sempurna dalam amanah, kejujuran mutlak dalam niat, dan keteguhan granit dalam prinsip. Paradoksnya mencengangkan: dari keteguhan inilah lahir wibawa autentik. Manusia secara insting menghormati yang tak tergoyahkan, yang menolak menjual nilai sucinya demi sorak sorai murahan. Takut kepada Allah melahirkan ikhlas, dan ikhlas itu memancarkan aura ketenangan yang magnetis, menarik hati tanpa paksaan.
Sebaliknya, takut kepada manusia adalah racun kegelisahan kronis yang melahap identitas. Ia memaksa korban terus menoleh ke cermin opini luar, sibuk metamorfosis demi kepuasan semua pihak, hingga pusat gravitasi dirinya lenyap. Ironisnya, upaya menyenangkan segala manusia justru merenggut wibawa—psikologi manusia membaca kerapuhan ini sebagai undangan meremehkan. Kerentanan tanpa pondasi ketuhanan tak hanya rapuh; ia mengundang penghinaan diam-diam, karena yang lemah di mata dunia tak layak dijunjung.
Dalam ontologi kehidupan yang mendalam, manusia menghormati yang berpijak pada nilai transenden, bukan opini fluida. Yang terikat pada pandangan manusia abadi tertinggal: hari ini dipuji sebagai pahlawan, esok dicela sebagai pengkhianat—siklus absurd opini yang berputar tak berujung. Namun, hati yang terikat kepada Allah berjalan lurus dengan kompas ilahi; mungkin tak selalu dipuji, tapi harga dirinya tak tergoyahkan, martabatnya tak ternoda.
Jadi, interogasi krusial bukan sekadar "siapa yang harus ditakuti", melainkan siapa yang layak menjadi qiblat hidup. Di situlah arah langkah terukir tegas, martabat terjaga kokoh, dan ketenangan jiwa menemukan sangkar abadinya. Pilihan ini bukan opsional—ia determinan nasib akhirat dan dunia.
***
Sesuai firman Allah,...""Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertakwa" (Q.S. Al-Hujurat: 13). Sungguh, takut bukan musuh, melainkan kompas jiwa yang menuntun kepada qiblat hakiki—Allah SWT. Arahkan ia kepada-Nya, dan martabatmu terukir abadi; keikhlasan lahir, wibawa magnetis, ketenangan rumahnya. Takutkan manusia, dan kau lenyap dalam pusaran opini fluida, harga diri rapuh di bawah cemoohan diam. Ini bukan dogma kaku, melainkan hukum besi eksistensi: pusatkan hidup pada Yang Maha Adil. Mulailah hari ini—pilih taqwa, ukir jejak ilahi. Martabatmu menanti, ketenangan memanggil. Kembalilah kepada-Nya, dan dunia pun tunduk pada cahaya ikhlasmu.
0 Komentar