APA JADINYA KALAU BADUT MASUK ISTANA?

 Oleh: Muhammad Yusuf

Di balik megah istana kekuasaan, kehancuran lahir bukan dari tembok retak, melainkan dari badut yang kita izinkan menduduki tahta. Watak tak berubah oleh gelar; kekuasaan hanya memperbesar jiwa—pengabdi menjadikannya benteng hikmah, narsisis merubahnya jadi sirkus sensasi. Rakyat menderita bukan karena batu bata, tapi pengkhianatan amanah. Pertanyaan abadi: siapa diri kita saat diberi panggung? Martabat ruang bergantung pada kualitas penghuninya, bukan hiasannya.

Ada pepatah Turki bagai pedang bermata dua, yaitu: "Ketika badut masuk istana, bukan badut jadi raja, tapi istana jadi sirkus." Kekuasaan tak ubah watak, ia perbesar kehinaan—bahasa jadi lelucon, amanah jadi sandiwara, rakyat ditontonkan bukan dipimpin. Istana megah retak dari dalam saat nilai dikhianati. Peringatan pahit: jaga gerbang jiwa, atau tahta suci berubah arena narsisme.

***

Pepatah tersebut mengungkap kebenaran pahit tentang esensi kekuasaan: kehancuran istana—simbol martabat, kebijaksanaan, dan amanah—bukan selalu dari runtuhnya struktur fisik, melainkan dari siapa yang kita izinkan memasuki gerbangnya. Istana yang dijaga nilai akan abadi; yang ditinggalkan nilainya hanyalah reruntuhan berhias, bangunan tanpa ruh.

Seorang badut tak lantas menjadi raja hanya karena menduduki singgasana. Watak tak berubah oleh gelar, dan tahta tak otomatis melahirkan hikmah. Sebaliknya, ketika sosok tanpa kedalaman etika, kesadaran diri, atau integritas diberi panggung kekuasaan, panggung itulah yang merendah menyesuaikan pemiliknya. Bahasa menjadi ringan dan dangkal, keputusan berubah jadi lelucon, tanggung jawab menyusut menjadi sandiwara. Yang sakral pun merosot menjadi hiburan murahan.

Secara psikologis, fenomena ini mencerminkan prinsip kekuasaan sebagai pembesar karakter: ia tak menciptakan, melainkan memperjelas esensi jiwa. Masuklah pemimpin berjiwa pengabdi, istana menjadi benteng kebenaran. Masuklah narsisis yang haus pemujaan, istana bertransformasi jadi arena ego—rakyat bukan dipimpin, melainkan dijadikan penonton pasif.

Secara sosial, sirkus kekuasaan ditandai kebisingan sensasional, hilangnya arah, dan pengkhianatan prioritas: tepuk tangan menggantikan keadilan, citra mengalahkan substansi. Yang menderita bukan batu bata istana, melainkan rakyat yang bergantung pada keputusannya. Kepercayaan runtuh bukan karena tembok retak, tapi karena amanah dikhianati—sebuah pelanggaran fundamental terhadap prinsip tata kelola yang adil.

Pada intinya, ungkapan ini bukan sekadar sindiran pada pemimpin, melainkan peringatan universal bagi pemegang amanah: bukan lokasi tahta yang menentukan, tapi kualitas jiwa yang mendudukinya. Apakah kehadiran kita menjaga martabat ruang, atau justru merubahnya menjadi panggung ramai yang kosong makna?

***

Pada akhirnya, istana kekuasaan—simbol amanah ilahi—runtuh bukan oleh badai fisik, melainkan pengkhianatan jiwa yang mendudukinya. Kekuasaan tak ciptakan karakter, ia perbesar watak: pengabdi menjaga martabat, narsisis ubahnya jadi sirkus kosong. Rakyat menderita hilangnya keadilan, bukan batu bata. Peringatan ini universal: pemimpin, pendidik, pemegang amanah—tanyakan diri, apakah kehadiranmu pelindung nilai atau perusaknya? Kembalilah pada esensi fiqh: tahta abadi jika dijaga hikmah, hancur jika dikuasai ego. Martabat ruang tergantung kualitas penghuni—pilihan ada di tanganmu


Posting Komentar

0 Komentar