Oleh: Muhammad Yusuf
Di panggung kehidupan, cinta awalnya muncul sebagai getar hati dan janji abadi—ilusi manis yang rapuh. Antitesis datang via luka, lelah, dan iman goyah: cinta semata tak sanggup menopang perjalanan panjang. Sintesisnya? Pasangan sejati: teman ibadah, cermin ruh, penggenggam tangan menuju akhirat. Bukan objek kasih semata, melainkan mitra qiyam—saling menguatkan ketaatan, menjaga maqasid syariah rumah tangga. Logika ilahi teguh: tanpa fondasi ruhani, ikatan runtuh. Hanya ia yang menyebut namamu dalam sujud, yang layak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Bayangkan Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, berdiri di tengah padang pasir Madinah, matanya menembus jiwa generasi mendatang. "Kelak dirimu akan mengerti," tegasnya, suara bergema seperti azan subuh, "bahwa memilih pasangan bukan hanya karena cinta. Tapi tentang siapa yang menemani ibadahmu hingga menutup mata." Kata itu bukan nasihat biasa—ia fatwa dari khalifah 'adil, lahir dari pengalaman perang dan taubat. Hari ini, di tengah gemerlap dunia, pesan itu bangkit: cinta sejati adalah mitra kesalehan lahir batin.
***
Kalimat pada kutipan itu lahir dari luka, penantian, dan kekecewaan—kebijaksanaan yang hanya terungkap setelah badai kehidupan merobek ilusi. Di permulaan, cinta kita pahami sebagai getar hati, tarikan jiwa, dan janji nikmat abadi. Namun, waktu membongkar kebohongan itu: cinta semata tak cukup menyangga perjalanan panjang ini. Ada hari-hari letih di mana iman goyah, hati retak, dan arah hilang. Di puncak krisis itulah, pasangan sejati berevolusi—bukan lagi objek kasih, melainkan sahabat perjuangan.
Memilih pasangan adalah memilih teman ibadah, bukan sekadar teman tawa. Ia berdiri teguh saat shalat terasa beban, membisikkan peringatan saat dunia menggoda, tak hanya memahami doamu tapi ikut menyebut namamu dalam sujudnya. Cinta hakiki bukan kata manis semata, melainkan ikatan qiyam: saling menguatkan dalam ketaatan, menjaga saat iman merosot, dan menuntun saat sesat. Logika ini tak tergoyahkan—tanpa fondasi ruhani, rumah tangga runtuh seperti istana pasir.
Secara filosofis, pasangan adalah cermin ruh: dari padanya lahir sabar, tawadhu, dan penerimaan ketidaksempurnaan. Ia saksi bukan hanya sukacita, tapi sujud, air mata, dan taubat. Bersamanya, cinta transenden—tak terhenti di syahwat duniawi, tapi matang menjadi komitmen maqasid: pulang kepada Allah dengan jiwa lebih suci, hati lebih lapang.
Maka, ketika usia menua dan gemerlap fana pudar, kebenaran terang: yang teristimewa bukan yang paling mengguncang denyut nadi, tapi yang menggenggam tanganmu saat langkah akhir terasa berat. Pasangan sejati mencintaimu di duniawi, tapi mempertanggungkannya di akhirat—bersama-sama menghadap Sang Hakim, dengan cinta yang abadi.
***
Logika ilahi tak tergoyahkan: pasangan sejati bukan puncak getar hati, melainkan mitra qiyam—teman ibadah yang menggenggam tangan saat iman goyah, dunia redup, dan akhir menanti. Dari cermin ruh ini lahir sabar, taubat, dan maqasid syariah: rumah tangga pelestari agama. Cinta hakiki transenden—dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, abadi melewati fana. Maka, pilihlah dengan bijak: bukan yang paling manis, tapi yang paling teguh menuntun pulang. Renungkanlah; ubah ilusi menjadi ikatan ruhani. Hanya demikian, perjalananmu lengkap, hatimu suci.
0 Komentar