RELIGIUSITAS SEJATI: MELEMBUTKAN JIWA, BUKAN MENGERASKAN HATI

 Oleh: Muhammad Yusuf

Dalam gemuruh retorika keagamaan yang menggelegar, seringkali tersembunyi paradoks menyedihkan: religiusitas yang seharusnya melunakkan jiwa justru mengeraskan hati. Keyakinan suci berubah menjadi senjata hakimi, amarah membara, lidah kasar, dan fitnah merajalela—bukan karena ajaran ilahi, melainkan ego yang licik menumpangnya. Agama hadir menata batin, membangun kerendahan hati dan kasih sesama, bukan meninggikan diri. Saat iman matang, ia sunyi membersihkan niat sendiri, lahir sebagai ketenteraman empati, bukan teror arogansi.

Pernyataan tajam Omar Imran menusuk jantung paradoks religiusitas: "Kalau jadi religius membuatmu mudah menghakimi orang lain, kasar, keras, dan fitnah. Periksalah! Kamu menyembah Tuhan atau egomu." Ini bukan sekadar peringatan, melainkan muhasabah mendalam—ego licik sering menumpang agama, mengubah simbol suci menjadi senjata superioritas. Iman sejati melunakkan jiwa, membangun kerendahan hati dan empati, bukan amarah atau fitnah. Kaji ulang fondasi batinmu: apakah tauhid atau ilusi keunggulan diri yang kau layani?

***

Religiusitas sejati melunakkan jiwa, bukan mengeraskannya. Ketika keyakinan justru melahirkan kegemaran menghakimi, amarah yang meledak-ledak, kekasaran lidah, dan fitnah yang ringan tersebar, maka patutlah dikaji ulang fondasi batinnya. Masalah inti jarang terletak pada ajaran agama itu sendiri—yang murni dan abadi—melainkan pada ego yang licik menumpang lewatnya, mengklaim superioritas mutlak: paling benar, paling suci, paling berhak mengadili kehidupan orang lain.

Esensi Agama: Penataan Batin, Bukan Peninggian Diri 

Agama lahir untuk merapikan relung hati, membangun kerendahan hati, kesadaran atas keterbatasan manusiawi, dan kasih yang tulus kepada sesama. Logika ini tak terbantahkan: jika iman memberi lisensi untuk merendahkan orang lain, maka yang disembah bukan Tuhan Yang Maha Pengasih, melainkan ilusi keunggulan diri. Di sinilah simbol-simbol suci bertransformasi dari sarana taubat menjadi tameng pembenaran dosa—sebuah penyimpangan hermeneutik yang membahayakan jiwa individu maupun masyarakat.

Ciri Keimanan Matang: Introspeksi, Bukan Intervensi

Keimanan yang telah mencapai kedewasaan tidak sibuk mengorek dosa orang lain, melainkan membersihkan niat sendiri dengan teliti. Ia bertanya lebih banyak daripada menuduh, menasihati diri sendiri ketimbang mengontrol nasib orang lain. Ukuran religiusitas bukan kerasnya sorak sorai tentang Tuhan di mimbar publik, melainkan kedalaman akhlak yang terjaga dalam kesunyian sehari-hari—sebuah kriteria logis yang selaras dengan ajaran profetik tentang muhasabah (introspeksi diri).

Manifestasi Iman Hidup: Ketenteraman, Bukan Teror

Jika iman benar-benar bernyawa, ia tampak dalam sikap yang menenangkan jiwa, bukan mengintimidasi; dalam empati yang mendalam, bukan arogansi yang sombong; dalam kejujuran yang teguh, bukan fitnah yang meracuni. Di situlah ibadah paling sunyi—tanpa gemuruh retorika—bermakna paling agung, karena ia menyatu dengan hakikat tauhid: pengabdian mutlak kepada Yang Esa, bebas dari nafsu ego.

***

Religiusitas sejati bukan gemuruh hakimi yang mengeraskan hati, melainkan hembusan lembut yang menata batin—membangun kerendahan hati, kesadaran keterbatasan, dan kasih tulus sesama. Ego yang menumpang agama lahirkan amarah, kasar lidah, fitnah meracuni; iman matang justru sunyi introspeksi, bertanya pada diri, bukan mengadili orang. Ukurannya: ketenteraman empati, bukan teror arogansi. Kembalilah pada esensi tauhid—ibadah paling sunyi itu paling agung, menyatukan jiwa dengan Yang Maha Pengasih.

Ini relevan dengan hadis: "Dari Abdullah bin Amr raḍiyallāhu 'anhumā, Rasulullah SAW. bersabda: "Muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya. Muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah larang."(Sahih Bukhari no. 10, muttfaq 'alaihi). Islam sempurna bukan ritual semata, tapi menjaga lisan dan tangan (ucapan dan perbuatan) dari mudarat dan jiwa dari maksiat. Relevan hari ini untuk hindari narasi dan status yang menimbulkan konflik sosial dan dosa digital (hoaks, bullying online)


Posting Komentar

0 Komentar