Oleh: Muhammad Yusuf
Di balik gemerlap istana emas para elit, lubang hitam korupsi menganga: mereka merampok kas negara miliaran, korporasi rakus menyedot subsidi palsu sambil lolos pajak lewat surga fiskal, sementara rakyat kecil tercekik pemaksaan PPN dan cukai seperti domba di kandang serigala. Paradoks ini mengguncang nurani—kekayaan tak ukur jiwa, tapi ujian hati. Logikanya tajam: tamak lahirkan paranoia absolut, tawakal bangun benteng abadi. Dari remah si miskin bersinar solidaritas tulus, sementara istana pasir elit ambruk. Keajaiban dunia: kaya mencuri, fakir berbagi. Siapkah kita pilih orientasi hidup?
Ada orang bijak berkata: "Salah satu keajaiban dunia adalah saat kamu melihat orang kaya mencuri dan orang kaya bersedekah" – Ahmad Alwi.Bayangkan lubang hitam kerakusan yang menganga di dada para elit: mereka yang bergelimang harta negara, mencuri miliaran dari kas rakyat melalui korupsi endemik, lobi korporasi rakus yang memelototi subsidi pajak palsu, sementara tangan mereka yang lain berpura-pura menyumbang remah-remah untuk cuci citra. Ini paradoks yang mengguncang nurani seperti gempa bawah sadar—sementara rakyat kecil dipaksa menanggung beban pajak pemerasan, para dewa kekayaan justru merampok hak kolektif kita. Kekayaan sejati bukan tumpukan emas di brankas, tapi cahaya hati yang tak ternoda; dunia memaksa kita sadar, angka di rekening tak pernah ukur jiwa.
Secara psikologis, harta melimpah tak melahirkan kepuasan, melainkan memperlebar jurang tamak seperti black hole yang menelan galaksi. Elit korup dan korporasi rakus—pikirkan oligarki yang memonopoli sumber daya alam sambil mengelak pajak lewat surga fiskal—terperangkap dalam spiral: semakin banyak dirampas, semakin haus kekuasaan, didorong ketakutan kehilangan tahta dan status. Logikanya sederhana: kepemilikan absolut melahirkan paranoia absolut, batas halal-haram runtuh di altar ambisi. Sebaliknya, si miskin yang bersedekah dari sisa nasi malam telah menaklukkan kekurangan; ia kenal "cukup" bukan dari dompet tipis, tapi jiwa lapang yang tak tergoda ilusi.
Secara filosofis, mencuri elit adalah jeritan ketamakan—mereka yang memaksa rakyat bayar pajak progresif sambil mereka sendiri menyembunyikan triliunan di lepas pantai, ekspresi ketidakpercayaan pada alur alam semesta. Bersedekah si fakir adalah pernyataan tawakal: rezeki bukan rantai besi yang terputus di tangan kosong, tapi sungai abadi dari Yang Maha Kuasa. Logika tajamnya: orientasi hidup menentukan—tamak membangun istana pasir yang ambruk, tawakal mendirikan benteng tak tergoyahkan. Kekayaan apa pun tak beli keyakinan ini; ia lahir dari ujian, bukan warisan.
Secara sosial, ironi ini adalah cambuk bagi bangsa: korupsi elit merusak bukan hanya hukum, tapi fondasi kepercayaan—korporasi rakus menjarah lingkungan demi profit, sementara pajak rakyat jadi umpan mereka, meninggalkan teladan busuk yang meracuni generasi. Tapi dari si miskin yang berbagi—yang tercekik pemaksaan cukai dan PPN—lahir solidaritas tulus seperti api kecil yang membakar kegelapan; memberi bukan kelebihan, tapi empati dan iman yang mengikat umat dalam jaring harapan.
Paradoks ini tuntut kita revisi lensa: jangan ukur kemuliaan dari istana marmer elit, atau remehkan keemasan jiwa si kumuh. Yang tampak miskin di mata dunia—terbebani pajak yang tak adil—bisa jadi khalifah terkaya di sisi Ilahi, sementara yang gemilang di panggung korup justru bangkrut dari rasa syukur dan takut.Maka, jika kelapangan harta datang hari ini, apakah ia buat kita jujur seperti sungai deras yang berbagi, atau licik seperti ular yang melilit mangsanya?
Paradoks keajaiban dunia—elit korup merampok kas rakyat melalui lobi korporasi rakus dan penggelapan pajak, sementara fakir berbagi dari remah terakhir—adalah cambuk logis bagi nurani. Kekayaan melimpah lahirkan lubang hitam tamak, memaksa paranoia dan pelanggaran batas halal; kekurangan jiwa lapangkan tawakal, bangun solidaritas abadi. Logikanya tak terbantahkan: orientasi hidup tentukan nasib—tamak runtuhkan istana pasir, syukur dirikan benteng ilahi. Jangan ukur kemuliaan dari emas, tapi cahaya hati. Hari ini, pilih: jujur berbagi seperti sungai deras, atau licik melilit seperti ular kerakusan?
0 Komentar