Oleh: Muhammad Yusuf
Orang bijaksana berkata: "Hidup ini mirip bernapas. Ada fase menarik (menerima), ada fase menghembus (melepas). Penderitaan muncul ketika kita hanya ingin menarik terus, dan menolak untuk menghembus".-- Suluksalik. Kutipan ini menusuk: hidup seperti napas—tarik untuk terima anugerah, hembus untuk lepaskan fana. Penderitaan lahir dari disfungsi ini: rakus menarik (genggam kebahagiaan, harta, ikatan), tolak hembusan (emosi usang, masa lalu). Logikanya tegas—keseimbangan rusak, batin asfiksia. Seperti upadana Buddha atau tawakal Qur'ani, bijaksana hembuskan: relakan kefanaan, arus kosmik mengalir, ketenangan lahir.
Hidup bukan labirin masalah, melainkan simfoni napas: tarik untuk terima, hembus untuk lepaskan. Kita rakus menggenggam kebahagiaan, harta, ikatan—seolah eternitas bisa dipaksa. Padahal, hukum kosmik tegas: panta rhei, segala mengalir; siang runtuh malam, pertemuan berpisah. Keterikatan patologis ini lahirkan penderitaan—bukan dari peristiwa, tapi penolakan ontologis terhadap kefanaan. Melepaskan bukan kalah, melainkan bijaksana: serahkan pada Ilahi, biarkan arus mengalir. Di ritme sadar ini, batin tenang—bukan karena dunia sempurna, tapi hati selaras.
***
Kehidupan tak rumit karena limpahan masalah, melainkan karena kita mengabaikan ritmenya yang esensial: tarikan napas dan hembusannya. Kita rakus menerima—kebahagiaan, harta, ikatan—tanpa pernah belajar melepaskan. Kita menggenggamnya erat, seolah eternitas bisa dipaksa tunduk pada kehendak kita. Padahal, seperti pernapasan, hidup bergulir melalui keseimbangan dinamis antara mengambil dan merelakan. Langgar ritme ini, dan batin mencekik dirinya sendiri—bukan karena dunia kejam, tapi karena hati kita yang membatu.
Secara psikologis, penderitaan lahir dari keterikatan patologis ini, sebagaimana diuraikan dalam terapi kognitif modern dan ajaran Buddha tentang upadana (pegangan berlebih). Ketakutan kehilangan memicu resistensi terhadap perubahan: kita tahan emosi usang, paksa harapan mati, dan rawat masa lalu seperti luka terbuka. Bukan peristiwa itu sendiri yang menyiksa—sebuah kehilangan, kegagalan, atau perpisahan—melainkan penolakan logis kita terhadap fakta ontologis: segala fenomena fana, memiliki masa kadaluarsa inheren. Akibatnya, energi psikis terkuras, ketenangan sirna, dan siklus duka berputar sia-sia.
Dari lensa filosofis-spiritual, melepas bukan kekalahan, melainkan kebijaksanaan ontologis yang selaras dengan hukum kosmik. Heraclitus menyatakan panta rhei—segala mengalir—sementara Al-Qur'an menegaskan dalam surat Ar-Rahman: "Maka yang manakah dari nikmat Tuhanmu yang kamu dustakan?" sebagai pengingat siklus pemberian dan pengambilan Ilahi. Siang runtuh ke malam, pemuda layu ke usia, pertemuan pasti berpisah. Menolak ini berarti memberontak terhadap Tao alam semesta, berenang melawan arus sungai yang tak terbendung. Logikanya sederhana: perlawanan ini melelahkan, karena hukum entropi dan perubahan tak bisa digugat.
Belajar hidup, maka, adalah bernapas secara sadar—sebuah praktik mindfulness yang mendalam. Tarik napas untuk menerima: syukuri anugerah saat ini, hayati kehadirannya penuh. Hembuskan untuk melepaskan: relakan yang fana, serahkan pada Yang Maha Bijaksana. Di persimpangan ini, ketenangan muncul bukan dari kesempurnaan eksternal, melainkan dari penyerahan internal: kita berhenti memaksakan kehendak pada realitas, dan biarkan ritme ilahi mengalir.
***
Penderitaan bukan dari dunia yang kejam, melainkan keterikatan kita pada kefanaan. Hidup seperti napas: tarik untuk syukuri anugerah, hembus untuk relakan fana—selaras panta rhei Heraclitus dan siklus Ar-Rahman Ilahi. Logikanya jelas: tolak perubahan, batin lelah melawan arus kosmik. Melepaskan adalah kemenangan ontologis, mindfulness praktis untuk ketenangan abadi. Mulailah hari ini: hembuskan masa lalu, terima saat ini, serahkan esok. Bukan hidup yang sempurna, tapi hati yang bijaksana—itulah kedamaian sejati.
0 Komentar