Oleh: Muhammad Yusuf
Kutipan Tom Nichols—"Masyarakat modern sedang sakit, membenci ahli tapi memuja pendapat amatir"—merangkum diagnosis epistemik tajam. Ini bukan sekadar preferensi, melainkan patologi kronis: kebencian visceral terhadap forge disiplin ahli diganti pemujaan instan opini amatir. Di panggung digital, ilusi ini meracuni diskursus—validitas kalah oleh volume. Nichols soroti krisis: tanpa keahlian, demokrasi intelektual runtuh menjadi tirani popularitas. Pertanyaan paling krusialnya, yaitu "mengapa suara tercela paling keras justru dianggap paling benar?
Di era digital yang bising, suara paling lantang—bukan paling mendalam—berkuasa sebagai oracle kebenaran. Tom Nichols membedah tragedi ini: kebencian visceral terhadap keahlian dan pemujaan buta pada opini amatir. Ilusi pengetahuan dari fragmen viral meracuni diskursus publik, menjadikan popularitas pengganti validitas. Keahlian, lahir dari forge disiplin dan keraguan Sokratik, diremehkan demi kebebasan semu. Inikah demokrasi intelektual? Atau kehancuran epistemik yang meruntuhkan peradaban? Mungkin Anda kaget ketika saya mengatakan, peradaban kita sedang bergerak ke arah kekacauan. Asumsi ini memiliki fondasi berpikir epistemik dan historis.
***
Fenomena mengerikan ini—di mana kegaduhan menggantikan kebijaksanaan—disorot tajam oleh Tom Nichols dalam The Death of Expertise. Ia mendiagnosis penyakit kronis masyarakat modern: kebencian visceral terhadap keahlian dan pemujaan buta pada opini amatir. Di era digital yang membanjiri kita dengan informasi pseudopopuler, akses tak berujung menciptakan ilusi pengetahuan sempurna. Individu merasa sejajar dengan ahli hanya karena menggulir ringkasan Wikipedia, menonton klip viral 60 detik, atau terhanyut dalam utas Twitter yang penuh retorika emosional—seolah fragmen acak menyamai tahun-tahun penggalian intelektual.
Masalahnya bukan sekadar disparitas pendapat, melainkan penolakan radikal terhadap ontologi keahlian itu sendiri. Ahli lahir dari forge panjang: disiplin metodis, pengulangan kesalahan yang diverifikasi, dan tanggung jawab epistemik yang tak kenal kompromi. Sebaliknya, opini amatir muncul bagai kilat instan—didorong keyakinan dogmatis tanpa kewajiban pembuktian atau falsifikasi. Saat keduanya diposisikan setara di panggung demokrasi digital, lahir kekacauan epistemik total: kebenaran direduksi menjadi metrik popularitas, bukan ujian validitas empiris atau logis. Inilah tirani mayoritas yang meracuni pikiran publik, di mana suara paling lantang—bukan paling mendalam—menjadi oracle baru.
Diskusi publik pun merosot menjadi gladiator emosional, bukan laboratorium pencarian makna. Peserta lebih terobsesi membentengi benteng opini pribadi daripada menguji fondasinya dengan keraguan metodis. Ironi pahitnya, sikap anti-ahli ini sering dikemas sebagai manifesto kebebasan berpikir, padahal esensinya adalah penolakan terhadap kerendahan hati Sokratik: pengakuan jujur bahwa "aku tidak tahu" adalah prasyarat kebijaksanaan sejati. Tanpa itu, kita bukan pemikir bebas, melainkan budak ilusi omniscience.
Masyarakat yang kokoh bukanlah yang anti-kritik secara membabi buta, melainkan yang mengarahkan pisau kritisnya dengan presisi: kepada klaim ahli atas dasar bukti, metodologi, dan rekam jejak. Menghapus penghormatan pada keahlian bukan membuat kita lebih demokratis, tapi justru meruntuhkan fondasi intelektual peradaban—meninggalkan kita rapuh, rentan terhadap manipulasi, dan terjebak dalam echo chamber yang membusuk.
***
Dominasi itu sudah digambarkan dalam sebuah hadis yang disebut sebagai era kekacauan. Oleh ahli menyebutnya sebagai era post truth. Ini disinyalir dalam sebuah hadis: "Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah ﷺ bersabda: "Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya; di mana pendusta dipercaya, orang jujur ldidustakan, pengkhianat diberi amanah, orang yang amanah dianggap pengkhianat, dan yang berbicara adalah ruwaibidhah." Lalu ada yang bertanya, "Siapa itu ruwaibidhah?" Nabi ﷺ menjawab: "Orang yang bodoh (rendahan/amatiran) tetapi berbicara dalam urusan orang banyak (masyarakat umum)."
Menghadapi tirani suara lantang, kembalikan keahlian ke panggungnya: bukan sebagai elit, melainkan penjaga gerbang kebenaran. Kritik tetap esensial—tapi diarahkan presisi kepada metodologi, bukti, dan rekam jejak. Kerendahan hati Sokratik—"aku tidak tahu"—adalah antidote ilusi digital. Dengan hormati forge disiplin ahli, kita bangun masyarakat kokoh: demokratis secara intelektual, tahan manipulasi, dan subur pada pencarian makna sejati. Bukan anti-ahli, tapi pro-kebijaksanaan. Saatnya pilih: kekacauan popularitas, atau fondasi peradaban yang abadi?
0 Komentar