Oleh: Muhammad Yusuf


Di panggung fana ini, manusia sering lupa: kita hanyalah tamu singkat. Kekuasaan, pujian, gelar—semua pinjaman rapuh yang tanah rebut tanpa ampun. Rumput, saksi bisu, tumbuh sama hijau di tapak raja maupun pusara deretan. Ia tak pilih kasih, karena maut ratakan ego. Kalimat ini garang, tapi jujur mentah: hidup bukan tahta abadi, melainkan peringatan agar rendah hati sebelum tanah merobek ilusi kebesaran.

Maulana Jalaluddin Rumi menusuk hati dengan pernyataannya: "Jangan menganggap dirimu besar. Hari ini rumput yang tumbuh di bawah kakimu, besok akan tumbuh di atas makammu." Ia merobek ilusi ego—kekuasaan, gelar, pujian hanyalah pinjaman fana. Rumput jadi saksi bisu kesetaraan: meratakan raja dan rakyat di pelukan maut. Ajakannya tajam: rendahkan hati sekarang, sebelum tanah hijau itu tak tersentuh lagi. Hikmah sufi yang abadi untuk jiwa modern.

***

Kalimat Rumi tersebut terdengar garang, tapi justru lahir dari kejujuran mentah tentang hakikat manusia: hidup bukan teater keabadian, melainkan perjalanan fana yang kerap melumpuhkan kesadaran diri. Saat kekuasaan menggenggam tangan, pujian membanjiri telinga, dan nama diucap dengan hormat, godaan muncul—halus tapi mematikan—untuk membengkakkan ego, menganggap diri lebih unggul, seolah waktu akan memberi dispensasi khusus.

Refleksi logisnya: manusia sering salah ukur kebesaran. Jabatan, pengaruh, kekayaan, sorotan—semua kita anggap tanda keagungan. Padahal, itu hanyalah pinjaman rapuh, ditarik alam sesuka hati. Tanah yang kita injak angkuh hari ini akan menimbun kita besok, acuh pada titel apa pun. Alam tak terkesan gelar; ia taat hukum entropi: segala kembali ke asal, tanpa pamrih.

Secara filosofis, rumput adalah equalizer paling brutal. Tumbuh di bawah tapak diktator maupun pusara pahlawan yang dulu dipuja. Ia tak pilih kasih, karena maut telah menghapus hierarki palsu. Di depan waktu dan tanah, raksasa ego pun runtuh jadi debu sunyi—bukti ironi eksistensial bahwa kebesaran semu hanyalah ilusi vertikal.

Dari sudut pandang psikologis, kesadaran kefanaan tak seharusnya picu ketakutan, tapi lahirkan kerendahan hati. Siapa yang paham betul umur singkat akan lebih lembut bersikap, hati-hati bicara, dan cepat memaafkan. Kesombongan? Hanya beban sia-sia yang memperberat trajek menuju akhir inevitabel.

Secara sosial, konflik lahir dari ilusi superioritas: merasa paling benar, berjasa, layak dihormati. Tapi ajal tiba, kehormatan dunia tinggal mayat—tak satu pun ikut ke liang. Yang abadi: jejak kebaikan, doa yang lahir dari hati tersentuh, amal diam tanpa publisitas.

Jadi, kalimat ini bukan intimidasi, melainkan panggilan sadar: hidup bukan soal menjulang di atas sesama, tapi bertahan rendah hati sebelum tanah merobek ilusi itu. Rumput tetap hijau, tak peduli kita pernah membusung dada atau memilih tunduk sejak dini.Sekarang, tanyakan pada dirimu: jika jejakmu di bumi hari ini adalah yang terakhir, apakah masih ada yang membuatmu merasa lebih tinggi dari yang lain?

***

Mari kita renungkan bersama: rumput tetap hijau, tak peduli tahta runtuh atau ego membusung. Hidup ini undangan ilahi untuk rendah hati—bukan ketakutan, tapi kebijaksanaan. Lepaskan ilusi superioritas; gantikan dengan kebaikan diam, maaf yang ringan, dan jejak yang abadi. Konflik lahir dari kesombongan; kedamaian dari kesadaran fana. Jika jejakmu di bumi hari ini terakhir, pilih rendah hati sebelum tanah meratakan. Demikianlah hikmah kefanaan: kita semua sama di pangkuan alam, menanti rumput hijau yang tak pilih kasih.