MEMBACA BUKAN MASALAH WAKTU, TAPI KOMITMEN

 Oleh: Muhammad Yusuf

Membaca bukan soal berapa lama waktu yang kita habiskan, melainkan soal seberapa besar komitmen kita untuk melakukannya. Perintah “Iqra’!” yang berarti “Bacalah!” bukan hanya seruan untuk membuka kitab, melainkan panggilan untuk menumbuhkan kebiasaan membaca dalam diri setiap insan. Membaca adalah jembatan pengetahuan, kunci memahami dunia, dan sarana membentuk karakter. 

Melalui komitmen yang konsisten, membaca menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan aktivitas sesaat yang mudah dilupakan. Menjalankan aktivitas membaca secara berkelanjutan dengan penuh kesungguhan, adalah langkah penting mempertahankan kualitas diri dan menambah wawasan. Dengan semangat “Iqra’!”, mari kita jadikan membaca sebagai kebutuhan yang hidup dalam setiap momen kita. Saya, Anda, dan kita pasti selalu punya waktu untuk membaca. Namun, apakah kita mempunyai komitmen yang terawat untuk membaca? Berikut ini saya menyadur dari logikafilsuf tentang membaca sebagai komitmen.

"Banyak orang mengaku tidak punya waktu untuk membaca, padahal mereka bisa menghabiskan dua jam sehari menelusuri media sosial tanpa arah. Fakta menariknya, studi dari Pew Research Center menemukan bahwa rata-rata orang dewasa menghabiskan lebih dari 3 jam per hari untuk konsumsi digital ringan, namun hanya 10 menit untuk membaca mendalam. Artinya, bukan kurang waktu yang menjadi masalah, tapi bagaimana seseorang memaknai membaca dalam hidupnya.

Kebiasaan membaca bukan muncul karena paksaan, melainkan karena keterikatan emosional dengan proses berpikir. Orang yang rajin membaca tidak selalu lebih pintar, tapi mereka punya satu hal yang jarang dimiliki: rasa ingin tahu yang hidup. Mereka melihat buku bukan sebagai tugas, melainkan sebagai teman bicara. Maka, menumbuhkan kebiasaan membaca setiap hari bukan tentang jadwal yang kaku, melainkan tentang mengubah cara pandang terhadap makna membaca itu sendiri.

1. Mulai dari rasa ingin tahu, bukan kewajiban

Banyak orang gagal membiasakan diri membaca karena mereka memulainya dengan kalimat, “Aku harus membaca.” Padahal kalimat itu menimbulkan beban. Cara yang lebih tepat adalah bertanya, “Apa yang ingin aku pahami hari ini?” Dengan begitu, membaca menjadi perjalanan eksplorasi, bukan rutinitas membosankan.

Ambil contoh sederhana. Seseorang yang tertarik pada cara berpikir manusia bisa mulai dengan buku psikologi ringan, bukan langsung membaca karya berat seperti Kant atau Heidegger. Ketika rasa ingin tahu terpenuhi, kebiasaan membaca akan tumbuh dengan sendirinya. Pada titik ini, membaca bukan lagi tentang menyelesaikan halaman, tapi tentang menemukan sesuatu yang baru setiap hari.

2. Tentukan waktu yang konsisten, bukan lama yang ideal

Konsistensi jauh lebih penting daripada durasi. Lima belas menit membaca setiap hari lebih efektif daripada dua jam seminggu sekali. Otak manusia bekerja dengan pengulangan, bukan dengan kejar setoran. Membaca sedikit tapi rutin membentuk kebiasaan otomatis yang tertanam di sistem saraf kita.

Misalnya, buat satu momen kecil setiap pagi sebelum aktivitas dimulai: membaca dua halaman sambil minum kopi. Rutinitas kecil ini, jika dilakukan tanpa putus selama tiga minggu, akan menanamkan sinyal di otak bahwa pagi adalah waktu untuk membaca. Dari kebiasaan kecil, lahirlah fondasi pembaca sejati.

Jika kamu ingin memahami lebih dalam bagaimana membentuk disiplin berpikir melalui kebiasaan membaca, berlanggananlah konten eksklusif Logika Filsuf. Di sana, kamu akan menemukan cara mengubah kebiasaan intelektual tanpa tekanan dan dengan pemahaman yang membumi.

3. Pilih bacaan yang dekat dengan realitas hidupmu

Kesalahan banyak orang adalah memulai dengan buku yang dianggap “penting”, bukan yang sesuai dengan diri mereka. Akibatnya, membaca terasa seperti kerja paksa. Padahal, otak lebih mudah menyerap informasi yang relevan dengan pengalaman hidup.

Jika kamu seorang pebisnis, baca biografi tokoh ekonomi. Jika kamu pencinta seni, mulai dari esai estetika. Membaca buku yang terasa akrab akan memperkuat ikatan emosional dengan aktivitas membaca itu sendiri. Setelah itu, baru pelan-pelan masuk ke bacaan yang lebih menantang.

4. Gunakan teknik membaca reflektif, bukan sekadar cepat

Membaca cepat sering dianggap efisien, padahal justru mematikan refleksi. Otak tidak sempat merenungkan isi teks dan kehilangan makna mendalamnya. Bacalah seperti kamu sedang berbicara dengan penulisnya. Tanyakan dalam hati, “Mengapa dia berpikir begini? Apakah aku setuju?”

Misalnya saat membaca buku Meditations karya Marcus Aurelius, berhenti sejenak di kalimat, “Hidup kita adalah hasil dari pikiran kita.” Refleksikan bagaimana pikiranmu membentuk keputusanmu hari ini. Dengan cara ini, setiap halaman menjadi percakapan yang memperkaya, bukan sekadar tumpukan kata.

5. Jadikan membaca sebagai bentuk istirahat dari kebisingan digital

Membaca bukan beban tambahan, tapi ruang tenang untuk menata pikiran. Dalam dunia yang bising oleh notifikasi dan opini, membaca memberi jeda. Saat membuka buku, kamu memutus hubungan sejenak dengan dunia luar dan menyelam ke dunia ide.

Contohnya, mengganti kebiasaan membuka ponsel sebelum tidur dengan membaca lima halaman buku akan menurunkan stres dan memperbaiki kualitas tidur. Di sini membaca bukan aktivitas intelektual semata, tapi juga terapi mental yang membantu menjaga kewarasan di tengah hiruk pikuk dunia digital.

6. Ciptakan lingkungan yang mendukung kebiasaan membaca

Kebiasaan mudah terbentuk bila lingkungannya kondusif. Menaruh buku di tempat yang sering dilihat, seperti meja makan atau samping tempat tidur, membuatmu lebih mudah menjangkaunya. Lingkungan yang memancing perhatian adalah strategi psikologis yang sederhana tapi efektif.

Misalnya, satu buku di dapur, satu di tas kerja, dan satu di ruang tamu. Setiap kali waktu senggang muncul, ada peluang untuk membaca. Kamu tidak harus menunggu waktu khusus, karena buku selalu hadir dalam keseharianmu.

7. Catat dan bagikan apa yang kamu pelajari

Kebiasaan membaca akan lebih kuat jika kamu menuliskan atau membagikan hasil refleksinya. Menulis ulang ide dari buku memaksa otakmu memproses ulang informasi dan menegaskannya dalam ingatan jangka panjang.

Misalnya, setelah membaca satu bab dari The Art of Thinking Clearly, tulis satu paragraf tentang kesalahan berpikir yang kamu sadari dalam hidupmu sendiri. Ketika kamu membagikan hasil refleksi itu ke teman, kamu bukan hanya mengingatnya, tapi juga memperdalam maknanya.

Membaca setiap hari bukan soal disiplin besi, tapi soal mencintai proses berpikir. Ia tumbuh dari rasa penasaran, bukan paksaan. Buku tidak menuntutmu paham semuanya hari ini, tapi mengajakmu berproses menjadi manusia yang lebih sadar."

Posting Komentar

0 Komentar