MATERI KHUTBAH JUMAT: ERA POST DALAM TINJAUAN ISLAM

Oleh: Prof. Dr. H. Muhammad Yusuf, S.Ag., M.Pd.I.

Bapak-Bapak dan Saudara-saudara seiman yang dirahmati Allah,

Hari ini, mari kita renungkan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, di mana Rasulullah ﷺ bersabda:

Era post truth ditandai dengan kekacauan. Kebenaran diterima berdasarkan viralitas dan popularitas. Hal ini diilustrasikan dalam sebuah hadis diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan Ibnu Majah, no. 4036. Dihasankan oleh sebagian ulama seperti Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami' no. 3650

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ» قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: «الرَّجُلُ التَّافِهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ»

Artinya:

"Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah ﷺ bersabda: "Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya; di mana pendusta dipercaya, orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah, orang yang amanah dianggap pengkhianat, dan yang berbicara adalah ruwaibidhah." Lalu ada yang bertanya, "Siapa itu ruwaibidhah?" Nabi ﷺ menjawab: "Orang yang bodoh (rendahan/tak layak) tetapi berbicara dalam urusan orang banyak (masyarakat umum)."

Ruwaibidhah adalah orang yang tidak kompeten, tetapi berani berbicara dalam urusan umat. Gambaran ini sangat nyata dalam apa yang kita sebut zaman post-truth—zaman di mana fakta tergeser oleh emosi dan opini, dan kebohongan mudah dipercaya.

Dalil Al-Qur’an yang Menguatkan

Selain Surah Al-Hujurat ayat 6 yang memerintahkan verifikasi informasi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَـٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَـٰدِمِينَ

Terjemahnya:

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."

Asbab al-Nuzul surah Al-Hujurat ayat 6 berkaitan dengan peristiwa ketika Nabi Muhammad SAW mengutus Al-Walid bin Uqbah untuk mengambil zakat dari Bani Mustaliq yang telah masuk Islam. Al-Walid kembali ke Madinah dan melaporkan bahwa Bani Mustaliq menolak membayar zakat dan bahkan menyatakan telah murtad dari Islam atau berencana membunuh utusan tersebut. Nabi lalu mengutus Khalid bin Walid beserta pasukannya untuk menyelidiki kebenaran laporan ini. Khalid mendapati bahwa Bani Mustaliq masih setia memeluk Islam dan menjalankan ajarannya dengan baik. Berkaitan dengan itu maka Allah SWT menurunkan ayat ini sebagai peringatan agar umat Islam tidak langsung percaya pada berita dari orang fasik tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu, agar tidak salah dalam mengambil keputusan dan menyesal kemudian hari.

Ayat ini mengajarkan pentingnya sikap berhati-hati dan tabayyun (verifikasi) terhadap informasi yang dibawa oleh orang yang fasik atau tidak dapat dipercaya, supaya tidak mencelakai orang lain karena ketidaktahuan. Dalam konteks sosial dan keagamaan, sikap ini menjaga umat dari kesalahan akibat berita bohong atau fitnah.

Penjelasan ini memberikan gambaran lengkap dan kontekstual tentang asbab al-nuzul surah Al-Hujurat ayat 6 sesuai dengan riwayat dan tafsir yang terpercaya.

Ada juga firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 42:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Terjemahnya:

"Janganlah kamu campur-adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 42)

Asbab al-Nuzul Surah Al-Baqarah ayat 42 berkaitan dengan larangan Allah SWT kepada Bani Israil agar tidak mencampuradukkan antara kebenaran dan kebatilan, serta tidak menyembunyikan kebenaran meskipun mereka mengetahuinya. Asbab al-Nuzul ayat ini terjadi karena para pemuka agama Bani Israil yang mengetahui bahwa dalam kitab-kitab mereka telah terdapat berita tentang kedatangan Nabi Muhammad SAW, tetapi mereka sengaja menyembunyikan dan menafsirkan kitab tersebut secara salah untuk menghalangi manusia beriman kepadanya. Mereka mencampuradukkan yang benar dengan yang salah demi mempertahankan kedudukan dan melarang pengikutnya menerima ajaran Rasulullah SAW. Dengan demikian, ayat ini merupakan teguran agar tidak memutarbalikkan kebenaran yang sudah jelas demi kepentingan pribadi atau golongan serta peringatan agar umat memegang teguh kejujuran dan keimanan secara murni kepada Allah SWT.

Ayat ini mengajarkan kita untuk menjaga kejelasan dan kejujuran, serta menjauhi pencampuran kebenaran dengan kebohongan, sebuah kritik tajam terhadap praktik manipulasi fakta yang marak dalam post-truth.

Contoh Historis

Dalam sejarah Islam sendiri, telah terjadi masa-masa sulit ketika fitnah dan kebohongan menyebar, sampai kebenaran sulit dikenali. Contohnya pada masa fitnah besar setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, ketika terjadi perselisihan dan perpecahan yang dipicu oleh informasi yang salah dan pengkhianatan terhadap umat.

Hal ini memperkuat pesan hadis bahwa kita harus selalu menjaga diri dari terjebak pada tipu daya dan memilih pemimpin yang amanah.

Implikasi bagi Kita Saat Ini

Sebagaimana teknologi dan media sosial semakin maju, setiap orang bisa menjadi penyebar informasi, meskipun belum tentu benar. Maka, kewaspadaan kita harus ditingkatkan untuk:

1. Membiasakan diri memeriksa kebenaran sebelum menerima informasi.

2. Menjaga kejujuran pribadi, bahkan ketika kebenaran itu tidak populer.

3. Mengedepankan sikap kritis sekaligus berakhlak dalam berkomunikasi.

Penutup

Marilah kita belajar dari hadis dan ayat-ayat suci sebagai pedoman menghadapi era post-truth yang penuh tantangan ini. Jadikanlah kebenaran sebagai cahaya hidup dan jangan tergoda oleh tipu daya yang bisa merusak iman dan ukhuwah kita.

Semoga Allah menuntun kita di jalan yang lurus, menjaga hati dan lisan kita dari perkara yang tidak benar, dan memberkati kita dengan hikmah dan keteguhan.

Amin ya Rabbal’alamin.

Posting Komentar

0 Komentar