PENJELASAN Q.S. ATH-THUR: 37

Pertautan Konseptual

Ayat 36 Surah Ath-Thur mempertanyakan apakah manusia yang menciptakan dirinya sendiri, suatu kritik terhadap klaim kesombongan dan kemandirian mutlak manusia. Ayat berikutnya, 37, melanjutkan argumen ini dengan mempertanyakan apakah manusia memiliki kendali atas perbendaharaan Tuhan atau kekuasaan mutlak. Ini menegaskan bahwa segala ilmu, sumber daya, dan kekuasaan hakikatnya berasal dari Allah.

Dalam konteks pendidikan dan sains modern, kedua ayat ini mengajarkan bahwa manusia bukanlah pencipta ilmu, tetapi penemu yang mengeksplorasi hukum-hukum alam yang sudah ditetapkan Allah. Keberhasilan ilmiah bukanlah hasil kemandirian mutlak manusia, melainkan berkat petunjuk Allah yang mengizinkan penyingkapan rahasia alam. Sains yang berlandaskan kesadaran ketuhanan akan lebih bijaksana dalam penggunaannya, tidak sekadar berorientasi pada eksploitasi tanpa moralitas. Pendidikan yang ideal adalah yang tidak hanya menekankan rasionalitas dan empirisme, tetapi juga mengajarkan keterbatasan manusia serta ketergantungan kepada Tuhan. Dengan demikian, ilmu pengetahuan menjadi sarana menuju hikmah, bukan alat kesombongan.

Analisis Kebahasaan

Ø£َÙ…ْ عِندَÙ‡ُÙ…ْ Ø®َزَآئِÙ†ُ رَبِّÙƒَ Ø£َÙ…ْ Ù‡ُÙ…ُ ٱلْÙ…ُصَۣÙŠْØ·ِرُونَ

Terjemahnya: "Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa?"(37).

Ayat ini menggunakan struktur istifham inkari (pertanyaan retoris) dengan dua opsi: apakah mereka memiliki perbendaharaan Tuhan atau mereka yang menguasai segalanya. Penggunaan Ø£َÙ…ْ menunjukkan kontras tajam dengan ayat sebelumnya, menegaskan bahwa manusia tidak memiliki kuasa atas takdir atau sumber daya semesta. Pengulangan kata tanya ini memperkuat penolakan terhadap klaim kesombongan manusia. Susunan ayat ini berfungsi untuk mengguncang kesadaran manusia bahwa mereka bukan penguasa mutlak, melainkan makhluk yang bergantung pada kehendak Tuhan.

Ayat ini memanfaatkan isti'arah (metafora) dalam Ø®َزَآئِÙ†ُ رَبِّÙƒَ (perbendaharaan Tuhan), yang menggambarkan sumber daya dan ilmu sebagai milik Allah. Kata ٱلْÙ…ُصَۣÙŠْØ·ِرُونَ (penguasa mutlak) juga mengandung ironi, karena manusia sebenarnya lemah dan terbatas. Penggunaan istifham inkari memperkuat hujjah bahwa manusia tidak memiliki kendali atas alam semesta. Dengan struktur paralel dalam dua pertanyaan ini, ayat ini menciptakan efek retoris yang kuat, mengajak manusia merenungkan posisi mereka di hadapan kebesaran Tuhan.

Kata Ø®َزَآئِÙ†ُ (perbendaharaan) mengacu pada segala sumber daya dan pengetahuan yang Allah kuasai. Ini mencakup rezeki, ilmu, dan hukum alam. Sedangkan ٱلْÙ…ُصَۣÙŠْØ·ِرُونَ berasal dari سيطر yang berarti "menguasai dengan penuh kendali," menunjukkan klaim kesombongan manusia yang disangkal dalam ayat ini. Dengan dua pertanyaan ini, ayat menegaskan bahwa manusia tidak memiliki otonomi penuh atas alam, melainkan hanya menerima anugerah Tuhan. Ini memperjelas konsep tauhid dalam aspek rububiyyah (kepengurusan Allah atas alam).

Ayat ini menggunakan tanda-tanda linguistik untuk membongkar ilusi kekuasaan manusia. Ø®َزَآئِÙ†ُ sebagai simbol kedaulatan Tuhan menunjukkan bahwa semua yang ada di alam berasal dari satu sumber ilahi. Sementara ٱلْÙ…ُصَۣÙŠْØ·ِرُونَ melambangkan anggapan manusia tentang supremasi, yang dalam realitasnya tidak benar. Ayat ini menggeser makna dominasi dari manusia ke Allah, mengajak pembaca untuk menafsirkan ulang konsep kekuasaan. Dalam konteks modern, ini relevan dengan kritik terhadap sains sekuler yang mengabaikan dimensi ketuhanan dalam pengelolaan sumber daya dan teknologi.

Penjelasan Ulama Tafsir.

Al-Maragi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini merupakan teguran bagi orang-orang musyrik yang mempertanyakan kebenaran risalah Nabi Muhammad. Mereka seolah-olah menuntut hak istimewa dalam menentukan siapa yang berhak menerima wahyu. Al-Maragi menegaskan bahwa segala perbendaharaan, baik rezeki maupun ilmu, adalah milik Allah semata. Tidak ada manusia yang berhak mengklaim kendali atas urusan ketuhanan. Ayat ini juga mengingatkan bahwa kekuasaan Allah meliputi segalanya, termasuk keputusan-Nya dalam memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Ali Ash-Shabuni dalam Shafwat at-Tafasir menjelaskan bahwa ayat ini membantah anggapan orang-orang kafir Makkah yang merasa lebih pantas menerima wahyu dibandingkan Nabi Muhammad. Ia menyoroti bahwa manusia tidak memiliki kontrol atas perbendaharaan Tuhan, baik dalam aspek materi maupun spiritual. Ash-Shabuni menegaskan bahwa manusia harus tunduk kepada ketetapan-Nya dan tidak bersikap seolah-olah memiliki kendali atas segala hal.

Sains dan Pendidikan 

Ayat ini dapat dikaitkan dengan prinsip dalam sains modern, khususnya dalam bidang kosmologi dan ilmu pengetahuan alam. Dalam penelitian sains, manusia terus berusaha memahami alam semesta, tetapi keterbatasan pengetahuan membuktikan bahwa ada banyak hal yang masih berada di luar jangkauan manusia. Konsep "perbendaharaan Tuhan" dalam ayat ini dapat diinterpretasikan sebagai sumber daya dan hukum alam yang diciptakan oleh Allah dan tidak bisa dikendalikan sepenuhnya oleh manusia.

Dalam konteks pendidikan, ayat ini relevan dengan filosofi pembelajaran yang menekankan bahwa ilmu adalah anugerah dari Allah yang harus dicari dengan rendah hati. Konsep growth mindset dalam pendidikan modern mengajarkan bahwa manusia harus terus belajar tanpa merasa memiliki otoritas mutlak atas ilmu. Guru dan siswa seharusnya menyadari bahwa ilmu bukan hasil kepemilikan individu, melainkan sesuatu yang harus dibagikan dan dikembangkan secara kolektif.

Selain itu, ayat ini mengajarkan nilai kepemimpinan dalam pendidikan, di mana otoritas dan kekuasaan tidak boleh disalahgunakan. Pemimpin pendidikan harus sadar bahwa mereka hanya sebagai perantara dalam menyebarkan ilmu dan bukan sebagai pemilik mutlak kebenaran. Prinsip ini mendorong sistem pendidikan yang lebih inklusif dan berbasis nilai-nilai keadilan.

Riset yang Relevan

Dalam hal ini, setidaknya, terdapat dua riset yang relevan dengan kandungan ayat ini. Riset pertama, yaitu penelitian Dr. Ahmad Hassan berjudul "The Role of Divine Order in Scientific Discoveries: A Comparative Study" sebuah  Studi kualitatif dengan analisis teks dan wawancara dengan ilmuwan di bidang astrofisika dan bioteknologi. Penelitian ini menemukan bahwa banyak ilmuwan, termasuk yang tidak beragama, mengakui adanya keteraturan dalam alam semesta yang tidak bisa dijelaskan sepenuhnya oleh sains. Mereka mengungkapkan bahwa ada batasan dalam eksplorasi manusia, yang sesuai dengan konsep "perbendaharaan Tuhan" dalam Q.S. Ath-Thur ayat 37.

Riset Kedua, yaitu riset Prof. Maria L. Johnson dengan judul "The Impact of Growth Mindset in Islamic Education: A Longitudinal Study". Ini merupakan studi longitudinal selama dua tahun terhadap 500 siswa di sekolah Islam di tiga negara (Indonesia, Turki, dan Arab Saudi). Studi ini menunjukkan bahwa konsep growth mindset, yang menekankan bahwa kecerdasan dapat berkembang dengan usaha dan belajar dari kesalahan, selaras dengan ajaran Islam. Temuan utama menunjukkan bahwa siswa yang memahami bahwa ilmu adalah anugerah Allah dan bukan milik pribadi lebih termotivasi dalam belajar.

Analisis ini menunjukkan bahwa ayat Q.S. Ath-Thur 37 memiliki relevansi luas dalam sains dan pendidikan, serta didukung oleh riset modern yang menegaskan keterbatasan manusia dalam menguasai ilmu dan pentingnya sikap rendah hati dalam menuntut ilmu. Pencapaian manusia atas ilmu pengetahuan seharusnya berbanding lurus dengan penemuan spritual yang mendalam serta kualitas moralitasnya.

Posting Komentar

0 Komentar