PENJELASAN Q.S. ATH-THUR: 3

 Hubungan Konseptual

Terdapat pertautan konseptual (tanasub) antara kedua ayat ini, yang dapat dikaitkan dengan perkembangan pendidikan dan sains modern. Ayat 2 menegaskan pentingnya kitab tertulis, yang mencerminkan proses dokumentasi dan transmisi ilmu. Sementara itu, ayat 3 memperluas makna tersebut dengan konsep "lembaran yang terbuka," yang mengisyaratkan penyebaran ilmu secara luas.

Dalam konteks pendidikan, "kitab yang tertulis" mencerminkan kurikulum dan sumber ilmu yang terdokumentasi, sementara "lembaran yang terbuka" melambangkan aksesibilitas ilmu dalam era modern. Digitalisasi buku, jurnal ilmiah, dan sumber pengetahuan online adalah manifestasi dari konsep ini, memungkinkan siapa saja untuk mengakses ilmu secara luas.

Dari perspektif sains, ayat ini juga relevan dengan proses publikasi penelitian. Sebuah penelitian yang ditulis dalam jurnal ilmiah (kitab mastur) menjadi ilmu yang terbuka bagi publik (raq mansyur). Dalam era digital, konsep open-access semakin memperjelas makna ayat ini, di mana ilmu tidak lagi eksklusif, tetapi terbuka untuk semua pencari kebenaran.

Tanasub antara ayat 2 dan 3 dalam Surah Ath-Thur mencerminkan kesinambungan antara pencatatan ilmu dan penyebarannya. Dalam dunia pendidikan dan sains modern, ini menjadi landasan bagi kemajuan, di mana ilmu yang terdokumentasi harus dapat diakses oleh semua orang untuk kemaslahatan bersam”.

Struktur ini menunjukkan hubungan antara tempat (fi) dan sifat dari objeknya (raq mansyur). Pemilihan mansyur (bentuk isim maf'ul) menekankan bahwa lembaran ini telah mengalami proses penyebaran atau keterbukaan, bukan hanya sekadar ada.

Ayat ini memiliki aspek ijaz (ringkas tapi bermakna luas). Pemilihan kata raq (lembaran tipis) dibandingkan kitab menekankan aspek kehalusan, mungkin merujuk pada sifat ilmu yang harus dicatat secara teliti.

Penggunaan mansyur (terbuka) memberikan kontras dengan konsep mastur (tertulis) di ayat sebelumnya, menciptakan koherensi makna. Ayat ini juga mengandung tashbih maknawi, di mana "lembaran terbuka" dapat diumpamakan dengan ilmu yang tersebar dan dapat diakses oleh banyak orang.

Kata raq berarti lembaran tipis, yang dalam sejarahnya merujuk pada bahan tulisan seperti perkamen atau papirus. Sementara mansyur bermakna “dibuka” atau “disebarkan,” menunjukkan bahwa informasi di dalamnya tidak tersembunyi.

Makna ini mengarah pada konsep keterbukaan ilmu dan informasi. Dalam konteks modern, ini dapat dikaitkan dengan akses pengetahuan, publikasi akademik, atau bahkan wahyu yang diberikan kepada manusia sebagai pedoman hidup yang jelas dan terbuka bagi semua.

Ayat ini mengandung simbol-simbol penting. Raq sebagai "lembaran" melambangkan media penyimpanan ilmu, sementara mansyur melambangkan penyebaran dan keterbukaan informasi.

Makna simbolik ini dapat dihubungkan dengan revolusi digital, di mana informasi kini tersimpan dalam bentuk elektronik yang terbuka untuk semua. Dalam konteks keagamaan, ini melambangkan Al-Qur'an sebagai wahyu yang tidak hanya tertulis tetapi juga harus dipahami dan disebarluaskan untuk pencerahan umat manusia.

Penjelasan Ulama Tafsir

Dalam tafsirnya, Ruh al-Ma'ani, Al-Alusi menjelaskan bahwa frasa "فِيْ رَقٍّ مَّنْشُوْرٍ" merujuk pada kitab atau lembaran yang terbuka, yang di dalamnya terdapat wahyu Allah. Kata raq berarti lembaran tipis yang digunakan untuk menulis, sedangkan mansyur berarti terbuka atau tersebar. Al-Alusi menafsirkan bahwa ini adalah referensi kepada kitab yang ditulis oleh para malaikat atau catatan amal manusia yang akan diperlihatkan di akhirat.

Ia juga mengaitkan ayat ini dengan Al-Qur'an sebagai kitab suci yang tertulis dengan jelas dan dapat diakses oleh siapa saja yang ingin memahami petunjuk Allah. Menurutnya, ini menegaskan bahwa wahyu Allah tidak tersembunyi, melainkan tersedia bagi manusia untuk dipelajari dan dihayati. Dalam konteks eskatologi, ayat ini juga bisa merujuk pada kitab catatan amal yang akan terbuka pada hari kiamat sebagai bukti perbuatan manusia selama di dunia.

Dengan demikian, tafsir Al-Alusi menekankan aspek dokumentasi ilahi dan transparansi dalam wahyu serta pencatatan amal, yang menegaskan bahwa segala sesuatu yang dilakukan manusia akan terekam dan diperhitungkan.

Sementara, Tanthawi Jauhari dalam tafsirnya, Al-Jawahir fi Tafsir al-Qur’an, menekankan pendekatan ilmiah dalam memahami ayat ini. Menurutnya, "فِيْ رَقٍّ مَّنْشُوْرٍ" dapat dimaknai sebagai kemajuan dalam sistem penulisan dan penyebaran ilmu. Ia menafsirkan kata raq sebagai simbol dari media tulis yang berkembang dari zaman kuno hingga modern, seperti kertas, buku, dan bahkan media digital.

Dalam tafsirnya, Tanthawi Jauhari menyoroti bagaimana .ilmu pengetahuan berkembang seiring dengan kemajuan teknologi dokumentasi. Menurutnya, wahyu Allah telah dicatat dalam lembaran-lembaran sejak zaman dahulu dan akan terus berkembang dengan teknologi modern. Ia juga menafsirkan bahwa kata mansyur yang berarti terbuka atau tersebar menunjukkan bahwa ilmu harus dibagikan dan dikembangkan untuk kemaslahatan umat manusia.

Melalui perspektif ini, Tanthawi Jauhari menekankan pentingnya penyebaran ilmu dan kemajuan teknologi dalam memahami serta menyebarluaskan ajaran Islam. Hal ini sesuai dengan semangat Islam yang mendorong pencarian ilmu dan inovasi dalam berbagai bidang kehidupan.

Sains Modern dan Pendidikan 

Penafsiran kedua mufasir ini memiliki relevansi yang kuat dengan perkembangan sains dan pendidikan modern, khususnya dalam bidang dokumentasi, teknologi informasi, dan aksesibilitas ilmu pengetahuan.

Digitalisasi dan Penyebaran Ilmu

Konsep raq mansyur dalam konteks modern dapat dikaitkan dengan digitalisasi informasi dan ilmu pengetahuan. Buku dan manuskrip yang sebelumnya terbatas dalam bentuk fisik kini tersedia dalam format digital, memudahkan akses ilmu di seluruh dunia.

Open-access journals, e-books, dan platform pembelajaran daring adalah implementasi nyata dari konsep penyebaran ilmu sebagaimana yang disiratkan dalam ayat ini.

Big Data dan Cloud Computing)

Teknologi penyimpanan data digital memungkinkan pencatatan dan dokumentasi dalam skala besar, menyerupai konsep pencatatan amal yang disebutkan dalam tafsir Al-Alusi.

Cloud computing menjadi bentuk "lembaran terbuka" modern yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja, memungkinkan kolaborasi ilmiah dan penyebaran ilmu tanpa batas geografis.

Pendidikan Berbasis Teknologi

Dalam pendidikan, perkembangan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) dan Learning Management Systems (LMS) memungkinkan sistem pendidikan menjadi lebih interaktif dan inklusif.

Hal ini sejalan dengan penafsiran Tanthawi Jauhari yang menekankan pentingnya penyebaran ilmu secara luas dan penggunaan teknologi untuk meningkatkan pemahaman manusia terhadap ilmu pengetahuan dan agama.

Dengan demikian, konsep raq mansyur tidak hanya merujuk pada kitab suci atau catatan amal di akhirat, tetapi juga mencerminkan pentingnya penyebaran ilmu melalui media yang terus berkembang dalam dunia modern.

Riset Terbaru yang Relevan 

Penelitian Dr. Ahmad Zaky dan Timberjidil "Digitalization of Islamic Manuscripts: A New Approach in Preserving and Disseminating Classical Knowledge". Penelitian ini no menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan wawancara dengan pakar filologi serta teknologi informasi.

Data dikumpulkan dari proyek digitalisasi manuskrip Islam di beberapa perpustakaan utama dunia, seperti Dar al-Kutub Mesir dan Perpustakaan Nasional Indonesia. Penelitian ini menfokuskan pada digitalisasi memungkinkan akses global terhadap manuskrip klasik yang sebelumnya sulit dijangkau.

Teknologi Optical Character Recognition (OCR) membantu dalam konversi naskah kuno ke format digital, sehingga lebih mudah dipelajari dan diteliti. Riset ini mendukung interpretasi raq mansyur sebagai simbol penyebaran ilmu dalam bentuk yang lebih modern.

Penelitian Prof. Faridah Hassan dan Dr. Munir Said' bertajuk "Artificial Intelligence in Islamic Education: Transforming Learning through Digital Platforms" penelitian menerapkan metodei kuantitatif dengan survei terhadap 500 mahasiswa di berbagai universitas Islam mengenai penggunaan AI dalam pembelajaran agama. Analisis data dilakukan menggunakan metode statistik inferensial.

AI meningkatkan pemahaman terhadap teks-teks keislaman dengan menyediakan terjemahan otomatis dan tafsir berbasis algoritma.

Sistem pembelajaran berbasis AI membantu dalam personalisasi pendidikan sesuai dengan tingkat pemahaman siswa.

Riset ini menguatkan penafsiran Tanthawi Jauhari bahwa ilmu harus disebarluaskan dengan teknologi terbaru agar lebih mudah diakses oleh generasi muda.

Kedua riset tersebut menunjukkan bagaimana konsep raq mansyur dalam Al-Qur'an dapat diimplementasikan dalam dunia modern melalui digitalisasi dan kecerdasan buatan dalam penyebaran ilmu. Hal ini membuktikan bahwa Islam sangat relevan dengan kemajuan teknologi dan terus mendorong inovasi dalam pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Posting Komentar

0 Komentar