PENJELASAN Q.S. ATH-THUR: 12

Relasi Konseptual 

Dalam konteks pendidikan dan sains modern, hubungan antara Ath-Thur ayat 11 dan Ath-Thur ayat 12 dapat dipahami sebagai peringatan terhadap perilaku manusia yang menyimpang dari kebenaran dan ilmu pengetahuan yang sejati. Ayat 11 menggambarkan orang-orang yang dalam keadaan terbalik, tidak menghiraukan kebenaran, dan tidak mau menerima petunjuk yang benar. Mereka membuang jauh ilmu yang benar demi mempertahankan pandangan salah. Hal ini terkait erat dengan ayat ke-12, yang menggambarkan orang-orang yang terjebak dalam kebatilan, seperti dalam permainan yang tidak berarti.

Dalam dunia pendidikan dan sains modern, ayat ini menjadi pengingat tentang pentingnya akal dan ilmu dalam membedakan kebenaran dari kebatilan. Banyak orang terjebak dalam pandangan dunia yang penuh dengan ideologi yang tidak berlandaskan pada prinsip ilmiah, yang pada akhirnya hanya akan membawa mereka pada kebingungan dan kesesatan. Pendidikan dan sains harus menjadi sarana yang mengantarkan manusia untuk menjauh dari kebatilan dan mendekatkan mereka pada kebenaran yang sejati.

Analisis Lingustik

Ayat ke-12 merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya yang menggambarkan karakteristik orang-orang yang menyimpang dari jalan kebenaran. Kata "خَوْضٍ" (khawdh) yang berarti "terjun dalam" menggambarkan keterlibatan penuh dalam kebatilan atau dosa. Ayat ini juga menunjukkan pergerakan dalam perbuatan yang tidak produktif, seperti permainan yang tidak ada manfaatnya. Dalam konteks ini, struktur kalimat menggambarkan kondisi seseorang yang sedang larut dalam kesalahan, tanpa kesadaran untuk keluar dan kembali ke jalur yang benar.

Penggunaan kata "يَلْعَبُوْنَ" (yalu'buun) yang berarti "bermain" memberikan efek retoris yang kuat. Bermain di sini bukan hanya bermakna aktivitas ringan atau hiburan, tetapi juga menyiratkan tindakan yang tidak serius dan jauh dari realitas yang seharusnya dipahami. Ayat ini menggambarkan perbuatan dosa atau kebatilan seperti permainan, yang menunjukkan bahwa orang-orang yang terjerumus ke dalam kebatilan tidak memperlakukannya sebagai sesuatu yang serius dan berdampak buruk pada kehidupan mereka.

Kata "خَوْضٍ" (khawdh) berarti terjun dalam aktivitas yang sia-sia atau membuang waktu dan tenaga dalam sesuatu yang tidak berharga. "يَلْعَبُوْنَ" (yalu'buun) memberikan gambaran lebih lanjut bahwa orang tersebut tidak hanya terjerumus dalam kebatilan, tetapi juga bersenang-senang tanpa memperhitungkan akibat dari perbuatan mereka. Dalam konteks ini, kebatilan diperlakukan seperti sesuatu yang tidak penting, yang berujung pada hilangnya tujuan hidup yang sejati.

Dalam ilmu tentang simbol dan tanda, ayat ini menggunakan simbolisme dalam menggambarkan kebatilan melalui kata "bermain". Dalam masyarakat, bermain sering kali dilihat sebagai aktivitas yang ringan dan tidak memerlukan komitmen yang serius. Begitu pula kebatilan yang dilambangkan dengan "bermain" di sini, seolah diperlakukan tanpa pertimbangan moral atau tanggung jawab. Dalam hal ini, ayat ini mengkritik bagaimana kebatilan diperlakukan seolah hanya sebagai permainan, tanpa menyadari akibat buruk yang ditimbulkannya. Simbol ini menciptakan kesan bahwa orang-orang tersebut mengabaikan hakikat perbuatan mereka yang sebenarnya mengarah pada kerugian.

Penjelasan Ulama Tafsir

Mutawalli Sya'rawi dalam menafsirkan ayat ini memberikan pemahaman bahwa ayat tersebut menggambarkan orang-orang yang tenggelam dalam kebatilan atau perbuatan yang sia-sia, yang menjauhkan mereka dari kebenaran. Sya'rawi menjelaskan bahwa kebatilan di sini mencakup segala hal yang tidak sesuai dengan petunjuk Allah, termasuk dosa-dosa yang dilakukan dengan sengaja atau tanpa kesadaran. Perilaku bermain-main dengan kebatilan ini menunjukkan betapa pentingnya kesadaran dalam beragama dan berperilaku, di mana setiap perbuatan harus dilandasi oleh tujuan yang benar dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran.

Menurut Sya'rawi, "bermain-main" dalam kebatilan merujuk pada seseorang yang dengan sengaja terjebak dalam kesalahan dan berusaha menghindar dari kebenaran. Hal ini bisa meliputi tindakan-tindakan yang hanya mengejar keuntungan pribadi tanpa memikirkan dampak sosial dan moral yang ditimbulkan. Ayat ini mengingatkan umat Islam untuk tetap fokus pada kebenaran dan menjauhi segala bentuk perilaku yang hanya berorientasi pada kesenangan duniawi yang sia-sia.

Wahbah Az-Zuhaili dalam tafsirnya menyatakan bahwa ayat ini mengkritik orang-orang yang meremehkan dan menyia-nyiakan waktu dengan hal-hal yang tidak ada manfaatnya, yaitu kebatilan. Bagi Az-Zuhaili, kebatilan yang dimaksud dapat berupa perbuatan dosa, tetapi juga mencakup kebiasaan-kebiasaan yang membuang-buang waktu dan energi tanpa menghasilkan nilai positif bagi diri sendiri dan masyarakat. Dalam konteks ini, Az-Zuhaili lebih menekankan pada pentingnya mengarahkan kehidupan untuk beribadah dan berkontribusi positif pada masyarakat, serta menghindari hal-hal yang merugikan.

Dia juga menyebutkan bahwa "bermain-main" dalam kebatilan tidak hanya terbatas pada dosa, tetapi juga bisa mencakup perilaku yang mengarah pada kesia-siaan dan kelalaian dari tujuan hidup yang lebih luhur. Ini menunjukkan bahwa setiap individu harus senantiasa waspada terhadap perbuatan-perbuatan yang tidak membawa manfaat bagi dirinya dan masyarakat. Az-Zuhaili mengajak umat Islam untuk menggunakan waktu dengan bijak dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah dan menjaga nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.

Sains Modern dan Pendidikan

Secara modern, tafsir QS. Ath-Thur ayat 12 dapat dihubungkan dengan konsep pembelajaran dan perkembangan karakter. Pendidikan terkini, terutama dalam era digital, sering kali mengkritik dampak negatif teknologi dan media sosial yang mengarah pada perilaku yang "bermain-main dalam kebatilan." Banyak individu, terutama generasi muda, yang terjebak dalam kecanduan media sosial, game, atau hiburan yang tidak produktif. Hal ini menyebabkan waktu dan energi yang seharusnya bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas diri, belajar, dan berkontribusi pada masyarakat justru terbuang sia-sia.

Sains modern juga memberikan gambaran terkait dampak dari perilaku seperti ini terhadap perkembangan otak dan kesehatan mental. Penelitian menunjukkan bahwa kecanduan pada aktivitas yang tidak memberikan nilai positif dapat merusak fokus dan perkembangan kognitif. Dalam konteks pendidikan, fenomena ini mengarah pada pentingnya pendidikan karakter dan pembinaan mental sejak dini untuk menghindari kecenderungan perilaku yang sia-sia.

Pendidikan berbasis karakter dan nilai-nilai moral yang terkandung dalam tafsir ini sangat relevan. Pendidikan yang menekankan pada pengembangan diri, etika, dan peran sosial dapat membantu generasi muda menghindari kebiasaan yang hanya berorientasi pada kesenangan sesaat. Selain itu, teknologi yang digunakan dengan bijak dapat menjadi alat untuk meningkatkan kualitas hidup, belajar, dan berkontribusi pada masyarakat, sehingga tidak terjebak dalam kebatilan yang sia-sia.

Riset yang Relevan

Penelitian oleh Daryanani et al. (2023) bertajuk "The Impact of Digital Media Consumption on Cognitive Development and Well-being in Adolescents". Penelitian ini menggunakan desain survei longitudinal yang melibatkan 1.500 remaja berusia 13-18 tahun. Para partisipan diminta untuk melaporkan pola konsumsi media digital mereka dan mengikuti tes perkembangan kognitif serta kesehatan mental selama dua tahun. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa remaja yang menghabiskan lebih banyak waktu dengan media sosial dan permainan video tanpa tujuan pendidikan atau sosial yang jelas mengalami penurunan dalam kemampuan kognitif dan kesejahteraan emosional mereka. Remaja yang lebih aktif dalam kegiatan sosial dan belajar terbukti memiliki perkembangan kognitif yang lebih baik dan tingkat stres yang lebih rendah. Penelitian ini relevan dengan penafsiran QS. Ath-Thur ayat 12, yang menyoroti dampak negatif dari perilaku yang "bermain-main" dalam kebatilan, seperti kecanduan teknologi yang tidak produktif.

Penelitian oleh Lestari dan Suryanto (2024) yang berjudl "Pendidikan Karakter dan Pengaruhnya terhadap Pembentukan Moral Remaja di Era Digital".  Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan melibatkan 600 siswa SMA di beberapa sekolah di Jakarta. Siswa dibagi menjadi dua kelompok, satu yang mendapat pendidikan karakter melalui kurikulum berbasis moral dan satu lagi tanpa intervensi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang mengikuti program pendidikan karakter menunjukkan peningkatan dalam pemahaman moral, pengendalian diri, dan kemampuan untuk menghindari perilaku negatif, seperti penggunaan media sosial yang tidak produktif. Penelitian ini sejalan dengan tafsir Wahbah Az-Zuhaili yang menekankan pentingnya pendidikan yang mengarahkan individu untuk menjauhi kebatilan dan perbuatan sia-sia, serta mengembangkan karakter yang kuat.

Posting Komentar

0 Komentar