Pertautan Konseptual
Surah Al-Qamar ayat 24 dan 25 menyajikan respons keras terhadap Nabi Saleh oleh kaumnya yang menolak wahyu yang disampaikan. Pada ayat 24, kaumnya bertanya dengan nada meremehkan tentang wahyu yang diterima Saleh: "Apakah ini hanya manusia biasa seperti kita?" Lalu, pada ayat 25, mereka menanggapi lebih keras lagi dengan tuduhan bahwa wahyu yang diterima Saleh adalah kebohongan, dan dia adalah seorang pendusta dan sombong.
Secara konseptual, terdapat pertautan yang erat antara kedua ayat ini, di mana ayat 25 adalah respon lebih lanjut terhadap sikap menolak dan meremehkan yang ditunjukkan dalam ayat 24. Kaum Nabi Saleh tidak hanya meragukan kenabian, tetapi juga menganggap wahyu tersebut sebagai sebuah kebohongan yang mengarah pada penyikapan negatif terhadap nabi. Dalam konteks pendidikan dan sains modern, sikap seperti ini bisa dilihat sebagai penolakan terhadap pengetahuan baru yang dianggap tidak sejalan dengan pandangan atau paradigma yang ada. Penolakan terhadap ilmu pengetahuan baru seringkali dilatarbelakangi oleh ketidaktahuan atau ketakutan akan perubahan, seperti yang tercermin dalam sikap kaum Nabi Saleh.
Analisis dari Aspek Kebahasaan
Ø¡َاُÙ„ْÙ‚ِÙŠَ الذِّÙƒْرُ عَÙ„َÙŠْÙ‡ِ Ù…ِÙ†ْۢ بَÙŠْÙ†ِÙ†َا بَÙ„ْ Ù‡ُÙˆَ Ùƒَذَّابٌ اَØ´ِرٌ ٢٥
Terjemajnya: "
Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita? Pastilah dia (Saleh) seorang yang sangat pendusta lagi sombong.” (25).
Secara struktural, ayat ini berfungsi sebagai kelanjutan dari ayat sebelumnya, memberikan klarifikasi dan memperkuat sikap penolakan terhadap wahyu yang diterima oleh Nabi Saleh. Terdapat penggunaan kalimat tanya retoris, "Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita?" yang mengindikasikan rasa tidak setuju dan mengejek. Penggunaan kata "kazzab" (pendusta) dan "asyir" (sombong) menekankan penolakan dan penghinaan terhadap Nabi Saleh.
Ayat ini menggunakan gaya bahasa yang mengandung unsur ironi dan ejekan. Kalimat tanya retoris berfungsi untuk meremehkan Nabi Saleh, menunjukkan sikap sombong mereka yang merasa lebih unggul. Penggunaan kata "kazzab" (pendusta) dan "asyir" (sombong) menunjukkan penekanan emosi yang kuat terhadap kebohongan yang mereka anggap terjadi. Hal ini meningkatkan dampak psikologis terhadap pembaca atau pendengar, menonjolkan kebodohan dan keteguhan hati kaum yang menolak wahyu.
Kata "kazzab" menyiratkan tuduhan berat, mengindikasikan bahwa mereka menganggap Nabi Saleh tidak jujur dalam menyampaikan wahyu. "Asyir" menambah makna bahwa penolakan ini tidak hanya berkaitan dengan kebohongan, tetapi juga dengan kesombongan. Kaum tersebut merasa bahwa wahyu yang datang tidak pantas diterima oleh seseorang seperti Nabi Saleh yang mereka pandang biasa, yang menyiratkan ketidakmampuan mereka untuk memahami atau menerima perubahan yang dibawa oleh wahyu.
Penggunaan kata-kata seperti "kazzab" dan "asyir" merupakan simbol dari penolakan terhadap perubahan atau pengetahuan baru. Mereka menggambarkan sikap masyarakat yang menolak informasi atau wahyu yang dianggap tidak sesuai dengan pandangan mereka. Dalam konteks sains modern, ini bisa diartikan sebagai simbol dari ketakutan terhadap ilmu pengetahuan yang menantang kepercayaan yang sudah mapan. Simbolisasi ini memperlihatkan bagaimana ketidaktahuan dan kebanggaan akan status sosial bisa menutup pintu bagi penerimaan terhadap pengetahuan yang benar.
Penjelasan Ulama Tafsir
Syihabuddin Al-Alusi dalam tafsirnya, Ruh al-Ma'ani, menafsirkan ayat ini dengan menekankan sikap penolakan dan pengingkaran kaum yang mendustakan nabi Saleh. Dalam konteks ini, ayat tersebut mencerminkan reaksi keras dari orang-orang yang menentang wahyu dan kenabian. Al-Alusi mengungkapkan bahwa ucapan dalam ayat ini merujuk kepada kebanggaan dan keangkuhan para penentang. Mereka merasa bahwa wahyu yang diterima oleh nabi Saleh adalah hal yang tidak pantas diberikan kepada seseorang di antara mereka, yaitu seorang yang dianggap berasal dari kalangan yang tidak terhormat. Penolakan ini muncul karena kesombongan dan kebodohan mereka yang enggan menerima kebenaran, walaupun telah jelas bukti-bukti keajaiban dan mukjizat yang diberikan kepada nabi Saleh.
Al-Alusi juga mengingatkan bahwa perasaan sombong ini adalah salah satu bentuk ketidaktahuan manusia terhadap kebesaran Allah dan hikmah-Nya dalam memilih siapa yang menjadi rasul-Nya. Kaum yang menentang ini menganggap bahwa wahyu hanya dapat diturunkan kepada orang-orang yang memiliki kedudukan sosial atau status yang tinggi, padahal Allah memiliki hak penuh untuk memilih siapa saja yang dikehendaki-Nya untuk membawa wahyu. Dengan demikian, penafsiran Al-Alusi menegaskan bahwa penolakan terhadap wahyu seringkali dilatarbelakangi oleh ego dan kesombongan manusia.
Az-Zamakhsyari dalam Al-Kashaf memberikan penafsiran yang lebih terfokus pada sisi linguistik dan kontekstual dari ayat ini. Menurutnya, ungkapan “Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita?” mencerminkan rasa takjub dan ketidakpercayaan yang diungkapkan oleh orang-orang kafir terhadap kenabian Saleh. Mereka mempertanyakan mengapa wahyu itu diberikan kepada seseorang yang dianggap bukan dari kalangan mereka, padahal mereka merasa lebih layak untuk menerima wahyu. Az-Zamakhsyari menekankan bahwa ini adalah bentuk dari ketidakadilan pemikiran mereka, di mana mereka menilai wahyu dan kenabian hanya berdasarkan pertimbangan status sosial dan kedudukan duniawi.
Az-Zamakhsyari juga menguraikan bahwa kata “kadzab” (pendusta) dalam ayat ini mengacu pada tuduhan mereka terhadap nabi Saleh yang dianggap berbohong dalam menyampaikan wahyu. Ini menunjukkan betapa kerasnya pengingkaran mereka terhadap kebenaran yang disampaikan oleh nabi Saleh, padahal mereka menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri mukjizat yang diberikan kepada nabi tersebut. Az-Zamakhsyari melihat ini sebagai contoh penolakan yang terjadi ketika hati manusia keras dan terikat pada pandangan sempit, yang menyebabkan mereka menolak kebenaran meskipun jelas di depan mata.
Relevansi penafsiran kedua tokoh ini terhadap sains modern dan pendidikan terkini dapat dilihat dari cara pandang terhadap pengetahuan dan pengakuan terhadap kebenaran. Dalam konteks pendidikan, penolakan terhadap wahyu Saleh menggambarkan ketidakmampuan individu atau kelompok untuk menerima pengetahuan yang tidak sesuai dengan pandangan mereka. Sains modern, yang didasarkan pada penerimaan terhadap fakta dan bukti empirik, bisa mengajarkan kita untuk lebih terbuka terhadap berbagai kemungkinan kebenaran, baik yang datang dari wahyu maupun dari penelitian ilmiah.
Selain itu, penafsiran ini menunjukkan bahwa kesombongan intelektual dan keterbatasan dalam berpikir kritis dapat menghambat penerimaan terhadap pengetahuan yang bermanfaat. Dalam dunia pendidikan terkini, penting untuk mengajarkan siswa untuk tidak hanya mengandalkan nalar semata, tetapi juga untuk mengembangkan sikap terbuka dan siap menerima kebenaran meskipun datang dari sumber yang tak terduga.
Riset Terkait dengan Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan
Penelitian oleh Dr. Ali Asghar (2023) - “The Impact of Digital Learning on Critical Thinking Skills in High School Students”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen. Sampel terdiri dari dua kelompok siswa SMA yang diajarkan dengan metode pembelajaran digital dan tradisional. Tes kritis dilakukan sebelum dan setelah percakapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran digital secara signifikan meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa dibandingkan dengan metode tradisional.
Penelitian ini relevan dengan pendidikan terkini karena memberikan wawasan tentang bagaimana teknologi dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, yang juga penting dalam konteks menerima berbagai bentuk pengetahuan, baik ilmiah maupun agama.
Penelitian oleh Dr. Rahmawati dan Dr. Fahmi (2022) - “Exploring the Role of Interdisciplinary Education in Enhancing Science and Religion Integration”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap guru dan siswa di sekolah yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan agama dalam kurikulumnya. Penelitian ini menemukan bahwa integrasi antara ilmu pengetahuan dan agama dapat membantu siswa untuk memahami dan menerima keduanya, sehingga dapat memperkaya perspektif mereka dalam melihat kebenaran. Temuan ini sangat relevan dengan konsep pengajaran yang terbuka terhadap berbagai sumber kebenaran, baik ilmiah maupun spiritual, serta menunjukkan pentingnya pendidikan yang holistik.
Penelitian-penelitian ini menunjukkan pentingnya keterbukaan dalam dunia pendidikan modern. Integrasi ilmu pengetahuan dan agama, serta penggunaan teknologi untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis, dapat membentuk individu yang lebih bijaksana dalam menerima berbagai bentuk kebenaran, mencerminkan esensi dari ayat tersebut yang menekankan pentingnya sikap terbuka terhadap wahyu dan ilmu
0 Komentar