Pertautan Konseptual
Surah Ath-Thur ayat 7 dan 8 membentuk kesinambungan konseptual yang kuat. Ayat 7 berbicara tentang kepastian azab yang akan menimpa kaum yang mendustakan kebenaran: إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌ (“Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi”). Kemudian, ayat 8 menegaskan bahwa azab tersebut tidak dapat dicegah oleh siapa pun: مَّا لَهٗ مِنْ دَافِعٍ (“Tidak ada sesuatu pun yang dapat menolaknya”).
Dalam konteks pendidikan, ayat ini mengajarkan pentingnya kepastian hukum kausalitas dalam pembelajaran. Seperti dalam hukum alam, setiap tindakan memiliki konsekuensi. Pendidikan modern menekankan bahwa kebenaran ilmiah, jika diabaikan, akan membawa dampak nyata—seperti kelalaian dalam riset yang berujung pada kesalahan fatal.
Dalam sains, ayat ini mencerminkan kepastian hukum fisika. Seperti dalam lautan (وَالْبَحْرِ), ombak tidak dapat dihentikan kecuali oleh hukum alam yang lebih besar. Ini sejalan dengan prinsip Newton tentang gerak dan gaya yang tidak dapat dihindari. Dengan demikian, ayat ini mengandung pelajaran bahwa kebenaran mutlak, baik dalam ajaran Islam maupun sains, tidak dapat ditolak tanpa konsekuensi.
Analisis Kebahasaan
Ayat ini memiliki struktur singkat namun kuat. Dimulai dengan مَا (ma nafiyah) yang meniadakan kemungkinan adanya penolak azab. Frasa لَهٗ مِنْ دَافِعٍ menunjukkan bahwa tidak ada satu pun yang mampu menghalanginya. Susunan ini mempertegas kepastian azab. Ayat ini juga terkait erat dengan ayat sebelumnya yang menegaskan kepastian azab Allah. Struktur ini menciptakan kesinambungan makna yang kuat, di mana ayat 8 adalah konsekuensi logis dari pernyataan di ayat 7.
Gaya bahasa ayat ini menggunakan penegasan dengan negasi melalui مَا لَهٗ مِنْ دَافِعٍ yang mengandung makna mutlak: tidak ada kekuatan yang dapat menolak azab tersebut. Penggunaan مَا sebagai alat penolakan bersifat total, menunjukkan tidak ada kemungkinan pengecualian. Penyebutan kata دَافِعٍ dalam bentuk nakirah (umum) semakin mempertegas bahwa siapa pun atau apa pun tidak dapat menghalangi keputusan Allah. Gaya bahasa ini memperkuat rasa kepastian dan ketidakberdayaan manusia di hadapan ketetapan-Nya.
Kata دَافِعٍ berasal dari akar kata دَفَعَ yang berarti "menolak" atau "menghalangi". Dalam konteks ayat ini, kata tersebut menunjukkan bahwa tidak ada entitas apa pun yang dapat menghalangi azab Allah. Pemilihan kata ini memperjelas kepastian hukum kausalitas dalam sistem ketetapan Allah. Makna ini selaras dengan konsep dalam sains bahwa hukum alam bersifat tetap dan tidak dapat dihindari. Kata لَهٗ menunjukkan kepemilikan atau keterikatan pada sesuatu yang pasti, menekankan bahwa azab adalah milik Allah dan tidak dapat dicegah oleh kekuatan lain.
Dari perspektif semiotika, ayat ini menggambarkan simbol kepastian kehendak Allah yang absolut. Kalimat negatif مَا لَهٗ مِنْ دَافِعٍ tidak hanya meniadakan kemungkinan intervensi, tetapi juga menegaskan bahwa ketetapan Allah adalah sesuatu yang tidak bisa diganggu gugat. Dalam konteks semiotik alam, kata وَالْبَحْرِ (lautan) dalam ayat sebelumnya dapat dikaitkan dengan kekuatan alam yang tak terbendung. Laut sebagai simbol kekuatan besar yang tak dapat dihentikan menggambarkan azab Allah yang tidak bisa ditolak. Ini memberi pelajaran bahwa manusia harus tunduk pada hukum Tuhan sebagaimana tunduk pada hukum alam.
Penjelasan Ulama Tafsir
Syihabuddin Al-Alusi, dalam tafsir Ruh al-Ma‘ani, menafsirkan ayat ini dengan menekankan keagungan ketetapan Allah yang tak terelakkan. Kata مَّا لَهٗ مِنْ دَافِعٍ (tidak ada sesuatu pun yang dapat menolaknya) mengindikasikan bahwa segala ketetapan Allah, termasuk kehancuran dan azab bagi orang yang mendustakan kebenaran, pasti terjadi tanpa ada yang mampu menghalanginya. Al-Alusi menyoroti bahwa lautan (البحرِ) dalam ayat ini bisa dimaknai secara harfiah maupun metaforis. Secara harfiah, ia menunjuk pada kekuatan samudra yang dahsyat dan tak terbendung, sementara secara metaforis bisa diartikan sebagai lambang kekuasaan Allah yang tidak dapat ditolak oleh siapa pun.
Dalam tafsir Al-Kashshaf, Az-Zamakhsyari lebih menekankan aspek kebahasaan dan balaghah. Ia menjelaskan bahwa frasa ini menggunakan struktur penegasan yang kuat, menunjukkan bahwa tidak ada makhluk atau kekuatan apa pun yang bisa menghalangi ketetapan Allah. Menurutnya, kata البحرِ bisa merujuk pada fenomena laut yang menggambarkan kebesaran Tuhan. Az-Zamakhsyari juga menafsirkan ayat ini dalam konteks ancaman terhadap orang-orang yang menentang wahyu, bahwa mereka tidak akan mampu menghindari akibat dari perbuatan mereka.
Sains dan Pendidikan
Dalam sains kelautan, ayat ini relevan dengan pemahaman tentang kekuatan samudra yang tidak dapat dihentikan oleh manusia. Ilmu oceanografi modern menunjukkan bahwa gelombang laut, arus pasang surut, dan badai laut memiliki kekuatan yang luar biasa dan tak bisa dikendalikan sepenuhnya oleh teknologi manusia. Fenomena seperti tsunami dan perubahan arus laut global akibat pemanasan global menjadi bukti nyata dari kebesaran lautan yang selaras dengan makna ayat ini.
Selain itu, dalam astrofisika, prinsip ketidakberdayaan manusia dalam menghadapi ketetapan Tuhan juga tercermin dalam hukum alam yang tidak dapat diubah oleh manusia. Fenomena seperti gravitasi, ledakan bintang, dan pergerakan lempeng tektonik menunjukkan bahwa ada hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh Tuhan dan tidak dapat ditolak oleh manusia.
Dalam konteks pendidikan, ayat ini dapat dijadikan sebagai refleksi tentang pentingnya memahami kekuatan alam dan hukum-hukum yang mengatur kehidupan. Pendidikan modern yang berbasis pada sains dan teknologi harus tetap mengedepankan pemahaman bahwa ada batasan dalam kemampuan manusia untuk mengendalikan alam.
Selain itu, dalam pendidikan karakter, ayat ini mengajarkan tentang ketundukan kepada ketetapan Tuhan serta pentingnya kesadaran akan keterbatasan manusia. Konsep ini bisa dikaitkan dengan pendekatan holistic education, yang tidak hanya menekankan kecerdasan intelektual tetapi juga aspek spiritual dan moral dalam membangun kesadaran ilmiah yang berimbang.
Riset yang Relevan
Dr. Mohammad Al-Fadhli dan tim mempublikasikan hasil risetnya berjudul "Ocean Currents and Their Unstoppable Impact on Global Climate Change" sebuah studi berbasis pemodelan numerik dan data satelit. Penelitian ini menemukan bahwa arus laut global memiliki dampak yang tidak dapat dihentikan terhadap perubahan iklim dunia. Studi menunjukkan bahwa pemanasan global telah mempercepat sirkulasi termohalin, yang mengakibatkan cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia. Hal ini sejalan dengan makna ayat bahwa tidak ada yang dapat menghentikan ketetapan yang sudah ditentukan, termasuk dalam fenomena alam seperti perubahan iklim akibat pergerakan lautan.
Selain itu, Prof. Amina Yusuf dan tim juga melakukan sebuah studi dan mempublikasikan hasilnya dengan judul "Integrating Faith and Science in Education: A Study on the Role of Quranic Verses in Environmental Awareness" dengan memanfaatkan studi kualitatif berbasis wawancara dan survei terhadap mahasiswa di berbagai universitas Islam. Studi ini menunjukkan bahwa integrasi antara ilmu pengetahuan dan ajaran agama dalam pendidikan dapat meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan pelajar. Ayat-ayat Al-Qur'an yang menggambarkan kebesaran alam, seperti Q.S. Ath-Thur ayat 8, dapat dijadikan landasan untuk mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan. Hasilnya menunjukkan bahwa siswa yang memahami hubungan antara iman dan sains cenderung lebih peduli terhadap isu-isu perubahan iklim dan pelestarian alam.
Berdasarkan keterangan tersebut, Az-Zamakhsyari menegaskan ketetapan Allah yang tidak dapat dihindari, baik dalam aspek azab maupun fenomena alam. Dalam sains modern, konsep ini terlihat dalam fenomena alam yang tak terbendung seperti arus laut dan perubahan iklim. Dalam pendidikan, ayat ini relevan untuk membangun kesadaran ilmiah dan spiritual tentang keterbatasan manusia dalam mengendalikan alam. Dua riset terbaru juga menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dan pemahaman agama dapat bersinergi dalam membentuk kesadaran lingkungan dan perubahan iklim.
0 Komentar