Penulis: Prof. Dr. H. Muhammad Yusuf, S.Ag., M.Pd.I.
Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Alauddin Makassar
Pertautan Konseptual
Surah Az-Zariyat ayat 37 dan 38 memiliki keterkaitan konseptual yang kuat dalam menunjukkan pola kehancuran umat terdahulu akibat penolakan terhadap kebenaran dan petunjuk Ilahi. Ayat 37 berbicara tentang kaum Luth yang dibinasakan sebagai pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa:
"Dan Kami tinggalkan pada kaum itu suatu tanda (peringatan) bagi orang-orang yang takut akan azab yang pedih."
Kemudian, ayat 38 beralih kepada kisah Nabi Musa yang diutus kepada Fir'aun dengan membawa bukti nyata:
"(Begitu pula Kami meninggalkan) pada Musa (tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami mengutusnya kepada Fir‘aun dengan membawa mukjizat yang nyata."
Tanasub antara kedua ayat ini menunjukkan kesinambungan tema tentang keberadaan tanda-tanda kebesaran Allah dalam sejarah manusia. Kaum Luth hancur karena menolak peringatan, sedangkan Fir’aun menghadapi berbagai mukjizat Nabi Musa tetapi tetap dalam kesombongannya.
Dalam konteks pendidikan dan sains modern, hubungan antara kedua ayat ini mengajarkan pentingnya menghargai ilmu dan kebenaran. Pendidikan bertujuan membentuk individu yang mampu membaca tanda-tanda kebesaran Tuhan dalam alam semesta dan sejarah. Seperti Fir'aun yang menolak bukti nyata, dalam dunia sains modern pun ada kecenderungan untuk mengabaikan kebenaran moral dan spiritual jika hanya mengandalkan rasionalitas tanpa kebijaksanaan.
Sains seharusnya tidak hanya mengedepankan inovasi, tetapi juga nilai etika. Kisah kaum Luth dan Fir’aun memberikan pelajaran bahwa penolakan terhadap kebenaran—baik dalam bentuk wahyu maupun fakta ilmiah—dapat membawa kehancuran. Oleh karena itu, pendidikan modern harus menyeimbangkan antara keimanan dan rasionalitas, sebagaimana ilmu pengetahuan yang seharusnya dipandu oleh nilai-nilai moral untuk kemaslahatan umat manusia.
Analisis Kebahasaan
وَفِيْ مُوْسٰىٓ اِذْ اَرْسَلْنٰهُ اِلٰى فِرْعَوْنَ بِسُلْطٰنٍ مُّبِيْنٍ ٣٨
Terjemahnya: "(Begitu pula Kami meninggalkan) pada Musa (tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami mengutusnya kepada Fir‘aun dengan membawa mukjizat yang nyata."(38)
Struktur pada yat ini terdiri dari beberapa bagian utama: wa fī Mūsā (dan pada Musa), idz arsalnāhu ilā Fir‘auna (ketika Kami mengutusnya kepada Fir‘aun), dan bisulṭānin mubīn (dengan mukjizat yang nyata). Struktur ayat ini menunjukkan hubungan sebab-akibat, di mana Allah mengutus Musa sebagai tanda kekuasaan-Nya. Kata idz berfungsi sebagai penanda waktu, menegaskan peristiwa pengutusan Musa. Frasa bisulṭānin mubīn memperjelas bahwa Musa diutus dengan bukti nyata, yang merujuk pada mukjizat yang membuktikan kebenarannya sebagai nabi. Struktur ini mengikuti pola bahasa Arab yang padat dan efektif dalam menyampaikan makna dengan kalimat yang singkat namun penuh makna, menunjukkan kejelasan misi Nabi Musa terhadap Fir‘aun.
Seni bahasa pada ayat ini menggunakan pola ijaz (gaya bahasa ringkas) untuk menyampaikan pesan mendalam. Kata wa fī Mūsā mengandung makna implicit tentang tanda-tanda kekuasaan Allah tanpa perlu menyebutkannya secara eksplisit, mengandalkan pemahaman pembaca. Penggunaan idz dalam ayat ini berfungsi sebagai bentuk ikhtishar (penyingkatan), langsung menunjuk pada momen penting dalam sejarah dakwah Nabi Musa. Frasa bisulṭānin mubīn adalah bentuk taukid (penegasan) yang memperjelas bahwa mukjizat yang dibawa Musa bukan sesuatu yang biasa, melainkan sangat nyata dan tidak dapat disangkal. Ayat ini juga memiliki aspek muqabalah (pertentangan makna tersirat), di mana kebenaran Musa berlawanan dengan kebatilan Fir‘aun.
Ayat ini menyoroti makna kekuasaan dan bukti kebenaran melalui kata sulṭān yang berarti kekuasaan atau hujjah (bukti). Kata ini diperkuat dengan mubīn, yang berarti sesuatu yang jelas dan nyata. Kombinasi ini menunjukkan bahwa Nabi Musa diberikan bukti yang kuat untuk menegaskan kebenaran risalahnya. Selain itu, kata arsalnāhu (Kami mengutusnya) menunjukkan bahwa pengutusan Musa bukan atas kehendaknya sendiri, melainkan atas perintah Allah, menggarisbawahi konsep kenabian. Kata Fir‘aun dalam konteks ini bukan hanya merujuk pada sosok raja Mesir, tetapi juga melambangkan tirani dan kezaliman, yang menjadi lawan dari kebenaran yang dibawa Nabi Musa.
Ayat ini menyajikan tanda-tanda (signs) yang memiliki makna mendalam. Musa dalam ayat ini adalah simbol perjuangan melawan kezaliman, sedangkan Fir‘aun adalah simbol kekuasaan yang menindas. Mukjizat yang nyata (sulṭānin mubīn) bukan hanya merujuk pada tanda fisik (seperti tongkat yang berubah menjadi ular) tetapi juga sebagai simbol kekuatan kebenaran yang tak terbantahkan. Pengutusan Musa oleh Allah juga menandakan bahwa setiap perlawanan terhadap kezaliman harus memiliki dasar kebenaran yang kuat. Dengan demikian, ayat ini bukan hanya menceritakan kisah sejarah tetapi juga memberikan makna universal bahwa kebenaran akan selalu memiliki bukti yang nyata dalam menghadapi kebatilan.
Penjelasan Ulama Tafsir
Sayyid Qutb dalam Fi Zhilalil Qur’an menekankan aspek perjuangan Nabi Musa dalam menghadapi Fir’aun sebagai simbol perlawanan terhadap kezaliman dan penindasan. Menurutnya, ayat ini menunjukkan bagaimana Allah mengutus Musa dengan sulṭān mubīn (bukti yang nyata), yaitu mukjizat yang jelas untuk menegaskan kebenaran risalahnya. Sayyid Qutb melihat ini dalam konteks pertarungan antara kebenaran dan kebatilan. Fir’aun yang sombong dan menolak kebenaran adalah contoh bagaimana kekuasaan duniawi sering kali melawan wahyu Ilahi. Namun, Allah tetap menolong Musa meskipun ia menghadapi penguasa yang kuat.
Dalam perspektif sosial, Sayyid Qutb mengaitkan kisah ini dengan perjuangan melawan tirani di setiap zaman. Bagi umat Islam, ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap utusan Allah dibekali dengan hujjah yang nyata dan kekuatan Ilahi, sehingga umat Islam harus tetap berpegang teguh pada kebenaran meskipun menghadapi tantangan besar.
Penafsiran Buya Hamka menyoroti ayat ini sebagai bukti kebesaran Allah dalam membimbing manusia melalui wahyu-Nya. Musa diutus kepada Fir’aun yang zalim dengan membawa bukti nyata berupa mukjizat. Namun, Fir’aun tetap menolak karena kesombongan dan kepentingan kekuasaannya. Hamka menafsirkan bahwa ayat ini bukan hanya tentang kisah masa lalu, tetapi juga peringatan bahwa kekuasaan duniawi yang sombong akan selalu berhadapan dengan kebenaran ilahi.
Hamka juga menekankan aspek moral dan pendidikan dalam kisah ini, di mana Musa adalah simbol kebenaran yang tidak takut menghadapi kekuatan besar. Ini menjadi pelajaran bagi umat Islam agar tetap tegas dalam membela kebenaran dan tidak tergoda oleh kekuasaan yang menyesatkan. Menurut Hamka, ayat ini juga mengandung hikmah bahwa kebenaran harus disampaikan dengan hujjah yang jelas, sebagaimana Musa dibekali mukjizat dalam menghadapi Fir’aun.
Sains Modern dan Pendidikan
Ayat ini memiliki relevansi yang kuat dengan perkembangan sains dan pendidikan di era modern. Dalam konteks sains, sulṭān mubīn dapat dikaitkan dengan pentingnya bukti ilmiah dalam memahami kebenaran. Mukjizat yang dibawa Nabi Musa, seperti tongkat yang berubah menjadi ular atau air laut yang terbelah, dalam perspektif modern bisa dikaji dari sisi fenomena alam yang menunjukkan kebesaran Allah. Ini sejalan dengan pendekatan sains yang selalu mencari bukti nyata dalam setiap klaim kebenaran.
Selain itu, ayat ini juga relevan dalam pendidikan, khususnya dalam membentuk karakter kritis dan berani dalam menghadapi tantangan. Kisah Nabi Musa yang berhadapan dengan Fir’aun mengajarkan bahwa kebenaran harus ditegakkan meskipun menghadapi risiko besar. Dalam dunia pendidikan, ini bisa diterapkan dalam membangun pola pikir kritis dan keberanian intelektual. Seorang pelajar atau ilmuwan harus berani mempertahankan kebenaran meskipun berhadapan dengan otoritas yang kuat, sebagaimana Musa menghadapi Fir’aun dengan argumen yang jelas.
Dari aspek sosial, ayat ini juga relevan dengan tantangan global saat ini, di mana banyak kepentingan politik dan ekonomi sering kali menghalangi kebenaran. Prinsip keberanian dalam menyampaikan kebenaran dapat menjadi inspirasi bagi aktivis, pemimpin, dan pendidik untuk terus memperjuangkan keadilan dan kebenaran di tengah tantangan zaman.
Berdasarkan itu, QS. Az-Zariyat: 38 tidak hanya berbicara tentang peristiwa sejarah, tetapi juga memberikan pelajaran universal yang tetap relevan dalam sains, pendidikan, dan kehidupan sosial saat ini.
0 Komentar