SIKAP DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN (Q.S. QAF: 2)

 Penulis: Muhammad Yusuf

Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Alauddin Makassar


Prolog

Di era modern ini, pendidikan tidak hanya berfungsi untuk mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk karakter dan pola pikir generasi muda. Fenomena pendidikan global yang semakin berkembang menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan semakin mudah diakses, namun tantangan besar muncul dalam pemahaman dan penerapannya. Salah satu fenomena menarik adalah ketidakmampuan sebagian individu untuk menerima perubahan yang datang, baik dalam bidang ilmu pengetahuan maupun moralitas. Sebagaimana tercermin dalam Surah Qaf ayat 2, ketika masyarakat mendapati seorang pemberi peringatan datang dari kalangan mereka sendiri, mereka merasa heran dan tidak dapat menerima kenyataan tersebut. Begitu pula dalam pendidikan modern, sering kali muncul sikap skeptis dan penolakan terhadap gagasan baru yang dianggap aneh atau tidak sesuai dengan tradisi yang ada. Hal ini menggambarkan bahwa manusia, meskipun terus berkembang, terkadang masih terjebak dalam keterbatasan pola pikir lama yang menghambat kemajuan.

Tinjauan Bahasa

بَلْ عَجِبُوْٓا اَنْ جَاۤءَهُمْ مُّنْذِرٌ مِّنْهُمْ فَقَالَ الْكٰفِرُوْنَ هٰذَا شَيْءٌ عَجِيْبٌۚ ۝٢

Terjemahnya: "(Mereka menolaknya,) bahkan mereka heran karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri. Berkatalah orang-orang kafir, “Ini adalah sesuatu yang sangat mengherankan".

Struktur kalimat menggunakan kontras antara pernyataan orang-orang kafir yang menanggapi kedatangan pemberi peringatan dengan rasa heran dan takjub. Kata "بَلْ" (bala) berfungsi untuk membantah atau menegaskan suatu hal, yang menunjukkan penolakan lebih lanjut terhadap peringatan yang diberikan. Kata "عَجِبُوْا" (ajaib) mengandung makna keheranan atau ketidakmampuan mereka untuk menerima kenyataan bahwa pemberi peringatan tersebut datang dari kalangan mereka sendiri. Struktur kalimat ini memberikan penekanan pada reaksi kebingungan dan penolakan yang dihadapi oleh rasul, yang menunjukkan betapa beratnya sikap orang-orang kafir dalam menerima kebenaran.

Ayat ini mengandung unsur irony dan mubalagah. Kata "عَجِيْبٌ" (ajīb) yang berarti "sesuatu yang sangat mengherankan" memberikan penekanan berlebih (mubalagah) pada reaksi orang-orang kafir terhadap kedatangan rasul. Mereka justru terkejut karena rasul berasal dari kalangan mereka sendiri, padahal seharusnya mereka sudah mengenal baik risalah tersebut. Irony muncul karena mereka menolak kebenaran dari seseorang yang sebenarnya telah dekat dengan mereka, yang seharusnya justru mempermudah penerimaan mereka terhadap wahyu.

Kata "مُنذِرٌ" (mudzīr) atau pemberi peringatan memiliki makna sebagai orang yang memberikan informasi tentang sesuatu yang akan datang, dalam konteks ini adalah azab atau hukuman Allah bagi orang-orang yang mendustakan-Nya. Ayat ini juga mengandung makna bahwa para rasul tidak selalu datang dari luar komunitas, melainkan bisa berasal dari kalangan mereka sendiri. Kata "هٰذَا" (hādhā) menunjukkan sesuatu yang dekat dan familiar bagi mereka, yaitu seseorang yang mereka kenal namun masih saja dianggap aneh dan mengejutkan. Semantik dari kata ini memperlihatkan penolakan mendalam terhadap kebenaran, meskipun yang menyampaikannya adalah sosok yang seharusnya mereka percayai.

Secara semiotik, "مُنذِرٌ" sebagai pemberi peringatan bisa dipahami sebagai simbol dari kebenaran dan petunjuk Allah yang datang melalui rasul. Semiotika menyoroti tanda-tanda yang ada dalam ayat ini, yaitu "pemberi peringatan dari kalangan mereka sendiri" yang seharusnya menjadi tanda bagi mereka untuk merenung dan menerima. Namun, tanda tersebut justru menjadi simbol ketidakmampuan mereka untuk memahami atau menerima kebenaran, yang tercermin dalam kata "عَجِيْبٌ" yang menandakan keterkejutan atau ketidakmampuan mereka menerima kenyataan ini. Penolakan mereka terhadap simbol kebenaran menunjukkan betapa kuatnya kesombongan dan penutupan hati terhadap pesan ilahi.

Dengan demikian, ayat ini menggambarkan ketidakmampuan dan penolakan orang-orang kafir terhadap kebenaran, meskipun datang dari sumber yang mereka kenal, yang semakin menegaskan sikap keras kepala dan kesombongan mereka.

Penjelasan Ulama

Menurut Mutawalli Sya'rawi, ayat ini menunjukkan reaksi orang-orang kafir terhadap kedatangan seorang rasul yang berasal dari kalangan mereka sendiri. Mereka merasa heran dan menganggap kedatangan rasul tersebut sebagai hal yang sangat aneh. Hal ini mencerminkan sikap ketidakmampuan mereka untuk menerima wahyu atau perubahan yang dibawa oleh rasul meskipun ia berasal dari suku atau komunitas yang sama dengan mereka. Sya'rawi menggarisbawahi bahwa ketidakmampuan mereka untuk menerima kebenaran sering kali muncul karena sifat taklid (mengikuti tradisi tanpa pertimbangan rasional) yang kuat dalam diri mereka, sehingga mereka menolak ajaran yang datang dari sumber yang sama dengan mereka.

M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa dalam ayat ini, orang-orang kafir merasa heran dengan kedatangan seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka sendiri. Mereka beranggapan bahwa sesuatu yang datang dari orang yang sama dengan mereka seharusnya tidak membawa sesuatu yang baru. Shihab menekankan bahwa ketidakmampuan mereka untuk menerima wahyu tersebut lebih disebabkan oleh keterikatan mereka pada tradisi dan kebiasaan yang telah lama ada, yang membuat mereka enggan menerima perubahan. Sikap heran ini mencerminkan kebingungannya terhadap konsep perubahan dan pembaruan dalam kehidupan sosial dan agama mereka.

Konsep Pendidikan

Ayat ini bisa dihubungkan dengan teori pendidikan modern, khususnya dalam hal perubahan persepsi dan penerimaan terhadap inovasi atau pembaruan dalam pendidikan. Pendidikan modern menekankan pentingnya berpikir kritis, kemampuan untuk menerima ide-ide baru, dan keterbukaan terhadap perubahan. Sama seperti orang-orang kafir dalam ayat ini yang menolak pemberi peringatan meski datang dari kalangan mereka sendiri, banyak orang di masyarakat pendidikan juga cenderung menolak inovasi atau perubahan meskipun perubahan tersebut bermanfaat bagi kemajuan. Hal ini menunjukkan perlunya pendekatan yang efektif dalam mengedukasi masyarakat agar lebih terbuka terhadap gagasan baru, terutama dalam dunia pendidikan. Pendidikan harus mengajarkan cara berpikir kritis dan memupuk kemampuan untuk menerima pembaruan yang bisa membawa kemajuan, serta mengubah pandangan bahwa perubahan itu selalu datang dari luar, bukan hanya dari orang yang "selevel" dengan kita.

Epilog

Ayat tersebut menggambarkan bagaimana masyarakat terkadang menolak kebenaran atau perubahan meski datang dari sumber yang sama dengan mereka. Dalam pendidikan, hal ini terlihat pada penolakan terhadap inovasi atau pendekatan baru yang dianggap bertentangan dengan norma-norma yang sudah ada. Namun, sebagaimana ayat tersebut mengajarkan, penting untuk membuka diri terhadap perubahan, memahami bahwa ilmu dan pengetahuan adalah bagian dari proses yang terus berkembang. Pendidikan yang mampu menyadarkan masyarakat untuk tidak terjebak pada pemikiran yang sempit akan membawa kemajuan yang lebih baik bagi peradaban.

Posting Komentar

0 Komentar