PROBLEM PENDIDIKAN DI ABAD KE-21

Penulis: Muhamad Yusuf

Simalakama Iptek Modern

Seperti sebuah simalakama, seiring majunya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek), semakin besar pula tantangan dunia pendidikan yang dihadapi. Peran Iptek ialah bagian sangat penting dalam rotasi zaman. Banyak pengamat dan ilmuwan sepakat bahwa abad ke-21 juga dikatakan sebagai era globalisasi. 

Era yang mana persaingan semua ruang lingkup menjadi ukuran atas kemampuan penguasaan Iptek. Demikian juga dampak yang muncul terhadap dunia pendidikan. Mampukah sistem pendidikan kita menjawab semua tantangan itu?

Ada banyak pertanyaan yang muncul dalam mencari solusi dari akar permasalahan yang dihadapi pendidikan kita. Masalah dasar juga masih menjadi ‘benang merah’ sistem pendidikan kita yang sampai saat ini masih belum tuntas untuk menjawab tantangan abad ke-21.    

Berbagai kendala yang merintangi akses pendidikan era globalisasi seharusnya sudah mampu dipecahkan sebab dengan berjalannya kemajuan Iptek tentu akan menimbulkan perubahan dan pergeseran secara luas. 

Terjadinya Pergeseran

Perubahan dan pergeseran ini terjadi karena dampak dari efek domino yang dimunculkan pengembangan sumber ilmu pengetahuan dan teknologi dunia. Menyinggung sistem pendidikan kita secara formal tentu tidak terlepas dari pemberlakuan kurikulum yang dipakai sebagai standar nasional. 

Awal pemberlakuan Kurikulum 2013 atau yang dikenal sebagai K-13 beberapa tahun silam, terjadi pro dan kontra, terutama di kalangan akademisi. Akan tetapi, seiring waktu berjalan kurikulum ini menjadi sebuah pilihan dan kebutuhan yang tepat bagi standar pendidikan nasional.

Pendidikan Karakter Hilang?

Kurikulum ini berbasis karakter dan kompetensi yang mewajibkan peserta didik aktif dalam pembelajaran karena dalam konteks era globalisasi akan banyak terjadinya pergeseran dan perubahan nilai-nilai etika budaya, terutama perubahan pada krisis moral.

Sekularisasi telah menghantam nilai-nilai luhur itu terpisah jauh dari teori ilmu pengetahuan dan teknologi. Apalagi agama telah menjadi musuh sekularisasi. Agama harus diceraikan dari negara. Sebab, agama dipandang sebagai penghalang misi sekularisasi. 

Ilmu pengetahuan dan teknologi didesain untuk mempersiapkan manusia sebagai tenaga ahli. Manusia dipersiapkan melalui pendidikan layaknya robot. Nilai-nilai moral berbasis agama harus disingkirkan. Iman diupayakan menguap dari lubuk hati manusia.

Krisis pun Tak Dapat Dihalau

Kemajuan teknologi sekaligus juga menciptakan daya bersaing SDM yang makin ketat. Tidak dapat dimungkiri bahwa dinamika era sekarang lebih banyak menggantungkan sistem pembelajaran yang menggunakan kecepatan teknologi. 

Sumber ilmu pengetahuan seakan terjadi eksodus besar-besaran dalam memanfaatkan teknologi digital (online). Itu akan berbanding lurus dengan terjadinya isu-isu global, sejurus kepentingan politik yang dianggap lebih penting dalam kerangka kesatuan bangsa. 

Isu-isu itu juga memunculkan dampak yang tidak sedikit dalam proses pembenahan sistem pendidikan kita. Salah satunya, isu-isu yang sangat populer di kalangan masyarakat, yaitu hoaks.Kita boleh berbangga ketika salah seorang anak bangsa menjuarai kompetisi inovasi teknologi tingkat Asia Tenggara. Pelajar itu telah menemukan situs pencarian hoaks. 

Penemuan alat pendeteksi hoaks memanfaatkan teknologi machine learning dan kecerdasan buatan. Akan tetapi, dampak yang ditimbulkannya juga seperti sederhananya alat penciptaan antivirus sekaligus bermunculan virus baru lainnya. Adanya konten manipulasi yang sering diistilahkan sebagai deepfake juga memanfaatkan kecerdasan buatan. Itu menjadi lahan baru para pebisnis teknologi. 

Pertanyaannya, apakah sistem pendidikan kita siap membaca, mengaplikasikan, dalam pembelajaran yang bisa menghasilkan output sesuai tantangan era globalisasi?

STEM & HOTS

Saat AS menggagas pendidikan yang mengembangkan model pembelajaran STEM (science, technology, engineering, and math) karena pada saat itu telah terjadi kemerosotan bagi sebagian besar anak-anak di AS. Apalagi dalam konteks dimensi moral spritual.

Hal itu, jika terus berlanjut akan berpengaruh pada masa depan AS. Teknologi ini sangat berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan membentuk karakter peradaban yang lebih maju. Bagaimanapun, secara esensi pendidikan sangat memerlukan metode pembelajaran yang efektif dalam menjawab tantangan hingga memberikan nilai ukur yang akurat. Kekeringan jiwa akan melanda secara masif generasi. Pada akhirnya, menyebabkan krisis kemanusiaan yang akut.

Gambaran di atas masih menunjukkan keterbelahan manusia akibat sekularisasi. Transmisi keilmuan melalui pembelajaran online memang menjadi satu pilihan. Tapi manusia bukan robot yang dapat digerakkan secara mekanik. Manusia adalah makhluk Tuhan yang memiliki dimensi jasmani dan rohani. Pendidikan mesti mampu mengelola secara utuh (jasmani dan rohani).

Akibat keterpisahan agama dan iptek modern maka muncul berbagai krisis termasuk nilai kemanusiaan dan spritual. Lalu apa jadinya, andaikan pendidikan agama dihilangkan dari kurikulum pendidikan formal? Atau pesantren dilarang? 

Solusinya?

Dibutuhkan kesadaran dan langkah nyata untuk merumuskan dan menerapkan sebuah epistemologi pendidikan yang utuh dengan merujuk kepada kerangka Al-Quran dan Sunnah. Dalam konteks ini, para saintis muslim harus tampil menjadi pioneer kemajuan iptek modern dengan berpojak pada epistemologi integrasi iptek modern dan Islam.

Wallahu A'lam



Posting Komentar

0 Komentar