Penulis: Muhamad Yusuf
Dosen Fak. Adab dan Humaniora UIN Alauddin dan STAI Al-Furqan Makassar
Manggarupi-Gowa, 06-05-2021
Prolog
Tepat di malam ke-24 Ramadhan 1442 H.bertepatan dengan 5-6 Mei 2021 saya mendapatkan jadwal untuk menyampaikan ceramah tarwih dan berlanjut ke ceramah subuh di Masjid Taqwa. Sebuah Masjid yang berlokasi di jalan Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 151 Makassar.
Mesjid Taqwa ini termasuk masjid yang lumayan megah dengan kapasitas daya tampung seribuan jamaah. Di Makassar, mesjid sebesar ini banyak. Namun bagi saya, bukan itu yang menarik untuk saya tuliskan. Yang menarik adalah bahwa masjid ini merupakan binaan seorang ulama besar dan kharismatik, ahli hadis sekaligus Mursyid Tarekat al-Muhammadiyah As-Sanusiyah Idrisiyah. Seorang alim yang memadukan aspek syariat dan hakikat, fiqh dan tasawuf.
Sekilas AG. K.H. Muhammad Nur
Allahu yarham, AG. KH. Muhammad Nur, Ulama ahli hadis itu wafat pada tanggal 29/6/2011, bertepatan 27 Rajab 1432 H bertepatan Isra Miraj, tahun 2011 lalu. Sosok keulamaan AGH Muhammad Nur yang juga merupakan Tokoh Ulama Kharismatik NU di Sulsel telah banyak mewarnai tradisi keilmuan kaum pesantren perkotaan melalui Ma`had Dirasatil Islamiyah wal Arabiyah (MDIA) yang didirikannya.
Keilmuannya sangat menonjol di bidang hadis, meski keilmuannya di bidang lain pun dikuasainya dengan baik, seperti tafsir, fikih, tauhid, ushul fiqh hingga tasawuf. Dalam bidang hadis berhasil memperoleh sanad hadis yang bersambung hingga Rasulullah.
Hal tersebut ditandai dengan Ijazah silsilah hadis diperoleh dari sejumlah ulama Mekkah, tempatnya mengaji mendalami hadis di antaranya melalui; Asy-Syekh Hasan Al-Yamani, Asy-Syekh Sayyid Muhammad Amin Al-Qurtuby, Asy-Syekh Alwi Abbas Al-Maliky, Asy-Syekh Ali Al-Maghriby Al-Maliky, Asy-Syekh Hasan Al-Masyath dan As-Syekh Alimuddin Muhammad Yasin Al-Fadany. Dari jalur ijazah silsilah ini kemudian diberi gelar Al-Allamah Al-Jalil Nashirussunnah yang berarti pembela sunnah nabi disematkan kepada AGH KH. Muhammad Nur Al-Bugisy.
AG. KH. Muhammad Nur, satu-satunya ulama di Sulawesi Selatan yang mengantongi ijazah silsilah hadis dari Mekah. Keahliannya di bidang hadis membuatnya diberi gelar Al-Allamah Al-Jalil KH Muhammad Nur Al-Bugisy Nashirusunnah.
KH Muhammad Nur bermukim di Mekah selama 11 tahun, antara tahun 1947 sampai tahun 1958. Di Mekah, ia menempuh pendidikan pada beberapa madrasah antara lain, Madrasah Fakhiriah Usmaniyah, Madrasah Ulumul Quran, Madrasah Darul Ulum Ad-Diniyah dan aktif mengikuti pengajian tafsir dan hadis di Masjidil Haram. Tahun 1958, ia diberi sertifikat untuk mengajar di almamaternya, Madrasah Darul Ulum Ad-Diniyah Mekkah.
Menurut menantu KH Muhammad Nur, Muhammad Rijal Assagaf, mertuanya memang memiliki spesialisasi keilmuan di bidang hadist. Oleh karena itu, dia juga mendapat gelar Nashirusunnah atau penjaga sunnah. Namun demikian, dia juga menguasai ilmu, tafsir, fiqh, tauhid, usul fiqh hingga tasawwuf.
Rijal Assagaf menjelaskan,KH Muhammad Nur juga mengembangkan tarekat yang diperoleh langsung dari gurunya di Mekah. “Beliau itu sebagai seorang ulama dari syariat juga sekaligus mengembangkan tarekat. Tarekat Muktabarah Muhammadiyah Sunusiyah. Tarekat ini, beliau terima dari gurunya Syekh Muhammad Amin Al-Qurtubi,” ungkap Rijal.
Istri KH Muhammad Nur, Hj Fatimah Nur, mengatakan bahwa sepulang dari Mekah, suaminya mendirikan Perguruan Islam Ma’had Dirasatil Islamiyah wal-Arabiyah (MDIA) Taqwa. Perguruan ini berada di Kompleks Masjid Taqwa, Jl Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar.
Saat ini, MDIA Taqwa mengelola jenjang Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. “Dia membangun Perguruan Islam Ma’had Dirasatil Islamiyah wal-Arabiyah tahun 1960.
Masyarakat juga mengenal AG. KH. Muhammad Nur mampu berkomunikasi dengan bangsa jin serta memiliki indera keenam yang kuat. Jika ada yang menghadap dengannya, dia langsung tahu maksudnya, meski belum diberi tahu.
Murid-Muridnya
Di bawah asuhan beliau telah lahir beberapa ulama kharismatik dan cendikiawan muslim berkelas. Diantaranya, Prof. Dr. H. Umar Shihab, AGH. Drs. KH. Muh. Harisah AS, (Pendiri Pondok Pesantren an-Nahdlah Makassar)., Prof. Dr. H. Said Agil al-Mahdaly, M.A, (Ex. Rektor Univrsiti Insaniyah Kedah Malaysia), Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. (Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta), Prof. Dr. H. Muhammadyah Amin, M.A. (ex. Dirjen Bimas Islam Kemenag RI, dan staf ahli Kementerian Agama RI.), Prof. Dr. H. Saifuddin HS, M.A. (Ex. Ketua pertama STAIN Sorong), Prof. Dr. H. Kamaluddin Nurdin Marjuni, M.A.(USIM-Malaysia) dan masih banyak lagi yang lain.
Kesan
Berceramah di "sarang ulama" bagi saya itu tidak mudah. Butuh adaptasi mental yang tinggi. Di hadapan saya ada sejumlah jamaah yang pernah mengikuti langsung pengajian beliau. Ada menantu, anak-anak, dan murid-murid beliau.
Selain itu, imam dan jamaah mendaulat saya menjadi imam salat isya. Mereka seolah tak memberi saya spasi untuk menolak. Tak masalah, tradisi NU yang saya ketahui lebih dekat kepada pola mazhab Syafi'i. Dan al-magfuru lahu, AG. KH. Muhammad Nur adalah salah satu pioneer NU di Sulsel. Pengetahuan itu membuat saya memiliki keyakinan tak ada masalah.
Sikap Imam Syafi'i ketika bersama atau diminta oleh gurunya menjadi Imam maka beliau beradaptasi dengan pola mazhab setempat atau mazhab gurunya. Seperti ketika berkunjung ke imam gurunya, Imam Malik, ke tempat murid-murid Imam Abu Hanifah di Irak. Dalam situasi dan momentum seperti itu, Imam Syafi'i selalu beradaptasi dengan tradisi dan mazhab ulama setempat.
Bagi saya tradisi mazhab di Masjid Taqwa saya yakin itu mazhab Syafi'i karena mereka pada umumnya bermazhab Syafii. Saya pun lebih terbiasa dengan itu. Namun, saya berupaya mempelajari fiqh muqaran (perbandingan mazhab) sebab bagaimanapun pendapat para ulama mazhab mempunyai tempat dan segmen masing-masing. Saya hanya berharap dan berdoa, semoga kehadiran saya memenuhi kepercayaan tersebut mendapat ridha dari Allah Swt.
Wallahu A'lam (Bersambung).

0 Komentar