SEDEKAH JARIYAH YANG HAMPIR TERLUPAKAN


PENDAHULUAN

Perbincangan di seputar sedekah jariyah seringkali membawa kesan bahwa seorang menyumbangkan materi untuk kemaslahatan berkelanjutan sehingga orang bersedekah memperoleh kebaikannya kendati yang bersangkutan telah wafat. Kesan seperti merupakan pemahaman yang pada umumnya dirasakan oleh masyarakat. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari peran para dai dalam menjelaskan dan memberikan contoh riil dari konsep dan pemahaman tentang sedekah jariyah itu sendiri.

Hadis yang seringkali dijadikan pijakan utama, yaitu: "Apabila keturunan Adam meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak saleh yang mendoakan kedua orang tuanya. Substansi hadis tersebut begitu populer di masyarakat, terutama ketika membahas tema -tema atau salah satu dari tiga tema tersebut. Bersedekah lebih sering dikaitkan dengan ekonomi (uang), makanan, pakaian, dan air. Itu tentu saja benar dan tidaklah keliru.

Namun, yang sangat jarang dipromosikan adalah bersedekah udara bersih. Padahal, kehidupan manusia identik dengan udara. Semua manusia yang hidup membutuhkan udara. Nah, menanam pohon dan menjaga kelestarian lingkungan adalah ikhtiar menjaga kelangsungan hidup manusia yang sehat.

MAKNA SEDEKAH JARIYAH

Sedekah jariyah adalah amalan yang menghasilkan pahala yang tak terputus meskipun si pemberi sedekah sudah meninggal. Konsep pembangunan berkelanjutan tersirat dalam konsep sedekah jariyah.

Di Indonesia, sedekah jariyah lebih sering disebut 'amal jariyah' meskipun demikian, istilah tersebut kurang tepat menurut beberapa ahli karena dalam bahasa induknya yakni bahasa Arab, susunan kedua kata tersebut tidak lazim dan secara tata bahasa tergolong tidak tepat. Hubungan maushuf dan shifat yang tidak tepat. Namun karena sering didengar, dikira itu benar.

Istilah yang menurut ahli tepat adalah Sedekah jariyah atau Shadaqah Jariyah. Dasar dari sedekah jariyah adalah hadis nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Daud dan juga At-Tirmidzi. Hadis tersebut secara umum menerangkan bahwa di antara amal yang tak putus pahalanya meski si pelaku meninggal dunia adalah sedekah jariyah. 

Sebagian besar ulama berpendapat bahwa yang dimaksud hadis tersebut dengan sedekah jariyah adalah wakaf. Namun di dalam kitab Tuhfat, Muhammad bin Abdurrahman bin Abdurrahim al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa yang dimaksud sedekah jariyah tak hanya wakaf tetapi semua amalan sedekah yang berkelanjutan manfaatnya.

PIJAKAN ARGUMENTASI

Sedekah jariyah merupakan sedekah yang akan terus mengalir pahalanya sampai hari kiamat. Tidak perlu membangun masjid mahal-mahal, cukup menanam pohon. Maka manfaat pohon itu akan terus mengalir pahala sedekah jariyahnya meski engkau telah meninggal.

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim disebutkan

عن جابر أن النبي صلى الله عليه وسلم دخل على أم معبد حائطا، فقال يا أم معبد من غرس هذا النخل؟ أمسلم أم كافر؟ فقالت بل مسلم. قال فلايغرس المسلم غرسا فيأكل منه إنسان ولا دابة ولاطئر إلا كان له صدقة إلى يوم القيامة

Dari Sahabat Jabir, sesungguhnya Nabi Muhammad Saw memasuki pekarangan Ummu Ma’bad, kemudian beliau berkata, “Wahai Ummu Ma’bad siapakah yang menanam kurma ini? Muslim atau kafir? Ummu Ma’bad menjawab, “Muslim.” Lalu Nabi Bersabda, “Tidaklah seorang muslim menanam tanaman lalu memakannya baik manusia atau keledai atau burung kecuali itu akan menjadi sedekah baginya hingga hari kiamat.” (HR. Muslim)

Di sisi Allah, pohon tersebut menjadi pahala yang bernilai sedekah jariyah, atas siapa saja yang mengambil manfaat dari tanaman tersebut meski burung atau binatang liar, atau pencuri mencuri buah dari pohon itu.

Sedekah itu menjadi sedekah yang pahalanya tidak akan putus hingga hari kiamat, selama ada makhluk hidup yang mendapatkan manfaat dari pohon atau tanaman tersebut.

Kita tahu, satu pohon memiliki kemampuan menyerap polusi mobil dalam satu tahun. Maka meski tidak berbuah ia akan tetap menjadi amal jariyah bagi yang menanamnya, pahala karena telah membantu mengurangi polusi udara yang bisa menyebabkan penyakit pernapasan.

Karena itu, Yusuf al-Qardhawi menyebutkan bahwa para ulama salaf menganggap bahwa menanam pohon atau tanaman merupakan pekerjaan yang paling utama dan mulia karena besarnya pahala yang tanpa disadari pemiliknya akan mengalir padanya hingga hari kiamat.

Maka dari itu, banyak pula riwayat senada tentang anjuran menanam pohon atau tanaman dalam hadis Nabi Saw lainnya. Seperti hadis berikut

إن قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا

Artinya: “Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah.” (HR. Bukhari&Ahmad)

Menurut Yusuf al-Qardhawi, hadis ini menunjukkan betapa mulianya seseorang yang mendedikasikan waktunya untuk menanam dan merawat tanaman. Sebab dengan menanam berarti ia telah turut andil dalam merawat keberlangsungan hidup manusia. Sekalipun dalam jangka pendek tidak terasa manfaatnya bagi kita, tapi manfaat pohon tersebut pasti akan sangat terasa bagi generasi setelah kita.

BERSEDEKAH UDARA BERSIH

It has been estimated that a man can live for 5 weeks without food, for 5 days without water, but only 5minuts without air (Stern C Arthur, 1977, 458). Diperkirakan orang tanpa makan dapat bertahan 5 minggu,tanpa air dapat bertahan 5 hari, tanpa udara hanya mampu bertahan 5 menit. Pernyataan di atas merupakan suatu pernyataan yang mengingatkan kita betapa pentingnya udara, bukan sekedar udara biasa, tapi udara bersih yang memiliki fungsi sebagai pendukung kehidupan, baik manusia, hewan ataupun tumbuhan.

KESEIMBANGAN KOMPOSISI UDARA

Ini sesungguhnya bukan bidang keahlian saya, namun saya pernah belajar mata pelajaran biologi dahulu. Kali ini saya membuka kembali dan membaca beberapa artikel mutakhir yang relevan. Bila dikaitkan dengan hadis Nabi Saw, maka komposisi perut manusia dibagi tiga secara seimbang. Yaitu, 1/3 untuk makanan, 1/3 untuk air (cairan), dan 1/3 untuk udara (napas). Artinya, udara bersih mempunyai peran penting sama dengan pentingnya makanan sehat lagi halal dan pentingnya air bersih.

Komposisi udara udara bersih 78,09% Nitrogen, 20,94% Oksigen, 0,93% Argon, 0,0032% CO2, sisanya unsur lainnya (Stern C Arthur, 1976, 27). Komposisi udara tersebut sangat ideal untuk kehidupan baik,manusia, tumbuhan maupun hewan. Komposisi terbanyak adalah Nitrogen, bukan oksigen atau karbondioksida. Hal ini dapat dipahami bahwa Nitrogen banyak dibutuhkan tumbuhan sebagai bahan dasar makanan untuk kelangsungan hidupnya. 

Tumbuhan pada hakekatnya penghasil oksigen yang sangat dibutuhkan manusia dan hewan, sebagai imbal baliknya manusia dan hewan menghasilkan CO-2. yang dibutuhkan oleh tumbuhan. Maka untuk mempertahankan keadaan tersebut keberadaan Nitrogen perlu dipertahankan. Dapat dibayangkan bila Nitrogen rendah proporsinya, maka tumbuhan akan mati atau tinggal sedikit, otomatis oksigen yang diproduksi juga sedikit, akibatnya manusia dan hewan akan kekurangan oksigen.

KEBUTUHAN UDARA BERSIH

The average adult male requires about 30 pounds (13,64 kg) of air each day compared with less than 3pounds (1,37 kg) of food and about 4,5 pounds (2,05 kg) of water (Stern C Arthur, 1977, 458). Kebutuhan udara jauh lebih berat dibandingkan dengan kebutuhan makanan dan air. Dalam sehari rata-rata pemuda membutuhkan udara 13,64 kg, sedangkan makanan hanya 1,37 kg dan 2,05 kg air.Secara normal seseorang yang sedang istirahat membutuhkan udara sebanyak 7,5 liter/menit, pada pekerjaan normal sebanyak 15 liter/menit dan pekerja berat membutuhkan udara 45 liter/menit. 

Kebutuhan udara tersebut terkandung maksud untuk memenuhi kebutuhan O2 sebagai bahan pembakaran/membangun energi(ATP) dan melepaskan CO2. Dan, berdasarkan kebutuhan udara tersebut berarti dalam satu menit dibutuhkan 1,57 liter O2 saat beristirahat dan 3,14 liter pada bekerja normal.

PROSES BERNAPAS

Proses bernapas dalam setiap siklus respirasi terdiri inspirasi (inhalation/menghirup udara) dan ekspirasi (exhalation/menghembuskan udara). Pada saat bernapas udara masuk melalui nasal passages, pharynx, larynx, trachea, bronchi, bronchioles, alveoli, kemudian kembali keluar. Di alveoli terjadi pertukaran gas O2 dengan darah untuk berikatan dengan Hb, dan darah melepaskan CO2. 

Jumlah udara yang digunakan untuk bernapas dalam setiap siklus respirasi normal sebanyak ± 500 ml (0,5 liter). Dari 500 ml tersebut yang mencapai alveoli 350 ml dan 150 ml mencapai ruang buntu anatomi yang tidak mengalami pertukaran gas(Novida, RG, 1996, 20). 

Siklus respirasi normal sebanyak 14 – 20 kali/menit, keadaan tersebut dipengaruhi juga aktivitas yang membutuhkan energi, yang berarti membutuhkan banyak O2 sebagai bahan bakar.Berdasarkan hitungan tersebut berarti dalam satu menit sebanyak 7 – 10 liter udara mengikuti sirkulasi respirasi dan antara 4,9 – 7 liter udara mencapai alveoli serta sebanyak 1,03 – 1,47 liter O2 yang ditukar.

UPAYA MELESTARIKAN UDARA BERSIH

Disadari atau tidak beberapa kegiatan manusia dapat mengotori udara. Secara alaminya sebenarnya alam termasuk udara memiliki mekanisme pembersihan diri, diantaranya siklus hidrologi yang dapat mencuci atmosfera. Namun kadang kala bahan cemaran pengotor udara melebihi kemampuan alam untuk membersihkan diri. Keadaan tersebut menjadikan udara tercemar, kotor, tidak mampu memenuhi fungsi dan tidak layak untuk mendukung suatu kehidupan termasuk manusia.

Upaya melestarikan udara bersih dapat dilakukan dengan  menanam pohon atau tumbuhan. Tumbuhan akan bekerja dengan sistemnya sendiri dalam mengolah udara menjadi bersih untuk disumbangkan kepada kehidupan manusia. Sebaliknya, udara yang diproses oleh manusia disumbangkan untuk kehidupan tumbuh-tumbuhan. Maka, terjadilah relasi simbiosis antara manusia dan tumbuhan. Tanamlah pohon! Dengan begitu, Anda ikut menyumbang udara bersih untuk kehidupan yang sehat.

PENUTUP

Menanam pohon dan menjaga kelestarian lingkungan merupakan satu sedekah jariyah yang sangat jarang menjadi tema ceramah. Apalagi berkaitan dengan sedekah. Umumnya, sedekah diidentikkan dengan pemberian materi yang tampak. Padahal, ada kebutuhan paling mendasar dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, yaitu udara. 

Penyediaan udara bersih tidak kalah pentingnya dibanding makanan sehat dan air bersih. Maka, wajar jika menanam pohon disebut sebagai sedekah. Sebab salah satu cara menyediakan udara bersih. Kebutuhan manusia terhadap udara bersih hanya dipisahkan oleh kematian. Namun, menyediakan dan mewariskan lingkungan yang sehat kepada generasi adalah sedekah yang hampir terlupakan.

 Wallahu’alam.

Posting Komentar

0 Komentar