JIKA ORANG MUKMIN WAFAT, WAKTUNYA ISTIRAHAT

Penulis: Muhamad Yusuf

Mengeluh & Lelah

Keluh kesah sering menjadi penanda bagi kondisi yang dialami manusia yang tidak tertanam optimisme dalam keyakinannya. Seperti itu pula rasa khawatir dan bersedih. Energi -energi negatif dan destruktif akan mengalir apabila pesimisme menyelimuti jiwa seseorang. Sebaliknya, apabila optimisme tumbuh terpelihara dalam jiwa seseorang energi-energi positif akan mendorong ke arah hidup yang konstruktif.

Dalam konteks tersebut iman, tauhid, zikir, tawakkal dan (tuntunan agama) yang lainnya akan berperan menghasilkan optimisme. Dunia yang dipersepsikan sebagai penjara bagi mukmin akan diubah menjadi harapan bagi masa depan (akhirat). Sebab, dunia memang merupakan satu-satunya kesempatan menentukan posisi manusia di akhirat. Maka, Al-Quran memberikan gambaran, betapa banyak manusia yang meminta kembali ke dunia ketika mereka justru sudah berada di akhirat.

Dunia Laksana Penjara?

Memang ada hadis yang melukiskan hal itu. Dunia adalah ibarat penjara bagi seorang Mukmin. Ini artinya, jika seorang Mukmin meninggal dunia berarti dia terbebas dari penjara tersebut dan waktu untuk bebas dan bernapas lega. عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ n : الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah Saw. bersabda, “Dunia itu penjara seorang mukmin dan sorga orang kafir”. [HR. Muslim, no. 2956].

Maksudnya apa? Kita bisa pahami bahwa dunia itu bagi orang beriman adalah laksana penjara. Maksudnya, ia dipenjara dan dikekang karena kenikmatan sejati baru diperoleh olehnya di akhirat. Sedangkan orang kafir dalam keadaan miskin apapun, ketika di dunia masih mendapatkan nikmat. Di akhirat, yang ada baginya adalah siksa. Sehingga pantas disebut baginya di dunia adalah surga.

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2392) Imam An-Nawawi menjelaskan, “setiap mukmin itu dipenjara dan dilarang di dunia ini dari kesenangan-kesenangan dan syahwat-syahwat yang diharamkan dan dibenci. Dia dibebani untuk melakukan ketaatan-ketaatan yang terasa berat. Jika dia meninggal dia akan beristirahat dari hal ini. Dan dia akan berbalik kepada apa yang dijanjikan Allah berupa kenikmatan abadi dan kelapangan yang bersih dari cacat.

Sedangkan orang kafir, dia hanya akan mendapatkan dari kesenangan dunia yang dia peroleh, yang jumlahnya sedikit dan bercampur dengan keusahan dan penderitaan. Bila dia telah mati, dia akan pergi menuju siksaan yang abadi dan penderitaan yang selama-lamanya.” (Syarah Shohih Muslim No. 5256)

Al-Munawi rahimahullah dalam Mirqah Al-Mafatih juga menjelaskan, “Dikatakan dalam penjara karena orang mukmin terhalang untuk melakukan syahwat yang diharamkan. Sedangkan keadaan orang kafir adalah sebaliknya sehingga seakan-akan ia berada di surga.”

Allah Swt. berfirman: “Kehidupan dunia dijadikan terasa indah dalam pandangan orang-orang yang kafir, dan mereka menghina orang-orang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu berada di atas mereka pada hari kiamat.” (QS. Al-Baqarah: 212).

Jadi bersabarlah dari maksiat dengan menahan diri karena dunia ini adalah penjara bagi kita. Di akhirat kita akan peroleh balasannya. ‘Ali bin Abi Thalib ra berkata: “Sesungguhnya dunia akan ditinggalkan di belakang. Sedangan akhirat begitu dekat dijumpai di depan. 

Dunia dan akhirat masing-masing memiliki budak. Jadilah budak akhirat, janganlah menjadi budak dunia. Hari ini (di dunia) adalah hari untuk beramal, tidak ada hisab (perhitungan). Sedangkan besok (di akhirat) adalah hari hisab (perhitungan), tidak ada lagi amalan.” (Disebutkan oleh Imam Ahmad dalam Az-Zuhud, Ibnu Abi Ad-Dunya dalam Qashr Al-Aml, Al-Baihaqi dalam Az-Zuhud, Ibnu Rajab).

Mukmin Wafat, Waktunya Istirahat

Dunia adalah ibarat penjara bagi seorang Mukmin. Ini artinya, jika seorang Mukmin meninggal dunia berarti dia terbebas dari penjara tersebut.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ n : الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah Saw. bersabda, “Dunia itu penjara seorang mukmin dan sorga orang kafir”. [HR. Muslim, no. 2956]

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan hadits ini dengan perkataan, “Maknanya bahwa semua orang Mukmin di dunia ini dipenjara atau dilarang dari syahwat-syahwat (hal-hal yang disukai) yang diharamkan dan dimakruhkan, dibebani dengan melaksanakan ketaatan-ketaatan yang berat. Maka jika dia telah meninggal dunia, dia istirahat dari ini, dan dia kembali menuju perkara yang telah dijanjikan oleh Allah Swt. untuknya, berupa kenikmatan abadi dan istirahat yang bebas dari kekurangan. Sedangkan orang kafir, maka dia mendapatkan kenikmatan di dunia, dengan sedikitnya kenikmatan itu dan disusahkan dengan hal-hal yang menyusahkan. Jika dia mati, dia menuju siksaan abadi dan kecelakaan yang kekal”. [Syarh Nawawi pada Shahih Muslim, no. 2956].

Kematian seorang Mumin merupakan istirahat baginya, sebagaimana dinyatakan oleh Imam Nawawi di atas, dijelaskan oleh Rasulullah Swt. di dalam hadisnya sebagai berikut :

وعَنِ أَبِى قَتَادَةَ بْنِ رِبْعِىٍّ الأَنْصَارِىِّ أَنَّهُ كَانَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرَّ عَلَيْهِ بِجِنَازَةٍ فَقَالَ : مُسْتَرِيحٌ ، وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْمُسْتَرِيحُ وَالْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ قَالَ: الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ ، وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ

Dari Abu Qatadah bin Rib’i al-Anshâri, dia menceritakan bahwa ada jenazah yang (dipikul) melewati Rasulullah , maka beliau bersabda, “Orang yang beristirahat, dan orang yang diistirahatkan darinya”. Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah (maksud) orang yang beristirahat, dan orang yang diistirahatkan darinya?” Beliau menjawab, “Seorang hamba yang Mukmin beristirahat dari kepayahan dan gangguan dunia menuju rahmat Allah. Sedangkan hamba yang fajir (jahat), maka banyak manusia, bumi, pepohonan, dan binatang, beristirahat darinya”. [HR. Bukhari dan Muslim].

Ujian adalah suatu yang pasti menimpa orang Mukmin. Ujian bisa berbentuk hal-hal yang menyenangkan atau bisa juga berwujud sesuatu yang menyusahkan. Allah Swt. berfirman :

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. [al-Anbiyâ’/21: 35]

Rasulullah saw punya jawabannya. Kita simak hadis berikut ini:

عَنْ أَبِى قَتَادَةَ بْنِ رِبْعِىٍّ الأَنْصَارِىِّ أَنَّهُ كَانَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مُرَّ عَلَيْهِ بِجِنَازَةٍ فَقَالَ « مُسْتَرِيحٌ ، وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْمُسْتَرِيحُ وَالْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ قَالَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ ، وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ

Dari Abu Qatadah bin Rib’i al Anshari, beliau meriwayatkan bahwa suatu ketika ada jenazah lewat dihadapan Rasulullah Saw., lalu beliau bersabda, “ Ada orang yang istirahat, ada yang teristirahatkan darinya.” Para Shahabat bertanya, “ Wahai Rasulullah, apa maksud “orang yang istirahat” dan “yang teristirahatkan darinya”? Rasulullah menjawab, “ Hamba yang beriman –jika meninggal- maka dia istirahat dari kelelahan dan siksaan hidup di dunia menuju rahmat Allah. Sedang hamba yang pendosa (fajir), hamba-hamba yang lain, negeri yang dia tempati, berikut pepohonan dan hewan ternak akan berisirahat dari –keburukan-nya.” (HR. Bukhari Muslim).

Perjuangan melawan dua partner klop di atas bukanlah perjuangan mudah. Nafsu tak pernah tidur, sedang setan tak pernah lelah dan bosan untuk menggelitik lalu menungganginya. Di lain sisi, iman sang hamba yang menjadi senjata pusakanya sifatnya yazid wa yanqush, kadang bertambah kadang melemah. Perjuangan melelahkan pun tak pelak harus dilakoni, sepanjang hayat. Belum lagi jika dia harus berhadapan pula dengan setan manusia yang godaaanya lebih terasa, atau ancaman dan gangguannya juga lebih memerihkan jiwa dan raga. Perjuangan pun kian berat bebannya.

Maka, jika akhirnya seorang hamba beriman harus dicabut ruhnya oleh malakul maut, sebenarnya saat itulah waktu istirahat baginya tiba. Tentu, jika iman di dada tak terampas oleh musuh saat berperang di medan laga. Alam kubur menjadi tempat melepas segala lelah, menanti hari kiamat tiba hingga akhirnya peristirahatan terakhir di jannah akan mengakhiri rasa letih, atas rahmat dari Allah.

Lelah di atas lelah

Adapun bagi hamba yang zhalim, yang akan beristirahat saat kematiannya tiba bukanlah dirinya. Tapi justru orang-orang disekelilingnya, negerinya, pepohonan dan bahkan hewan ternak di sekitarnya. Imam Ibnu Hajar al Asqalani menjelaskan di dalam kitab Fathul Bari, maksudnya, jika ada orang fajir yang mati, maka orang-orang di sekitarnyalah yang akan beristirahat dari segala kejahatan dan keburukan perilakunya.

Orang-orang disekitarnya akan beristirahat dari tindak pencurian jika dia pencuri, pembunuhan jika dia pembunuh, premanisme jika dia preman, korupsi dan krisis ekonomi jika dia pejabat korup, dan istirahat dari semrawutnya kondisi negeri jika dia adalah pemimpin yang tak pernah menghiraukan tuntunan Allah dalam mengatur negerinya.

Adapun istirahatnya negeri adalah istirahat dari segala musibah dan adzab yang Allah turunkan karena para pendurhaka itulah yang mengundang murka-Nya. Negeri pun ditimpa musibah dan kemalangan. Sedang istirahatnya pohon dan binatang ternak, bukan lain karena mereka terhalang mendapatkan air hujan karena kemungkaran yang dia lakukan. Selain juga musibah dan bencana alam yang juga turut mereka rasakan.

Jika orang disekitarnya, negerinya, berikut pepohonan dan binatang ternak beristirahat setelah kematiannya, ruh hamba yang zhalim malah menghadapi situasi sebaliknya. Bukannya istirahat, dia justru baru memulai sebuah perjalanan yang melelahkan, sangat melelahkan bahkan. Apalagi zhalim lagi kafir alias tidak beriman, siksa neraka akan menyuguhkan segala jenis rasa sakit yang melelahkan jiwa dan raga, tanpa jeda. Inilah gambarannya,

وَقَالَ الَّذِينَ فِي النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًا مِنَ الْعَذَابِ . قَالُوا أَوَلَمْ تَكُ تَأْتِيكُمْ رُسُلُكُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا بَلَى قَالُوا فَادْعُوا وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ

“Dan orang-orang yang berada dalam naar berkata kepada penjaga-penjaga naar Jahannam:”Mohonkanlah pada Rabbmu supaya Dia meringankan azab dari kami barang sehari. Penjaga Jahannam berkata:”Dan apakah belum datang kepadamu rasul-rasulmu dengan membawa keterangan-keterangan?” Mereka menjawab:”Benar, sudah datang”. Penjaga-penjaga Jahannam bekata: “Berdo’alah kamu”. Sedang do’a orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka. ” (QS. Ghafir; 49-50)

Pengajuan cuti dari siksa tertolak. Para penduduk neraka yang sudah sangat lelah dengan siksa itu memohon agar semua itu diakhiri dengan kematian. Tapi sayang, di sana kematian sudah tidak ada. Disebutkan di dalam al Quran,

وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ قَالَ إِنَّكُمْ مَاكِثُونَ . لَقَدْ جِئْنَاكُمْ بِالْحَقِّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَكُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَ

“Mereka berseru:”Hai Malik, biarlah Rabbmu membunuh kami saja”.Dia menjawab:”Kamu akan tetap tinggal (di naar ini)”. Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepada kamu tetapi kebanyakan di antara kamu benci kepada kebenaran itu. (QS. Az Zukhruf:77-78)

Nah, diri kita termasuk yang manakah? Wallahul musta’an, tentunya kita berharap menjadi mustarih. Saat ajal menjelang, iman masih tebal meski pernah berkurang, nafsu tetap berada dibawah kendali dan dengan rahmat Allah, setan terhalangi untuk mencuri iman terakhir kali. Amin

Manusia Mengeluh, Allah Menjawab

Seringkali kita berkeluh kesah terhadap segala hal yang kita hadapi dalam hidup ini. Bahkan, di dalam Al-Qur’an pun disebutkan bahwa memang manusia diciptakan dengan sifat keluh kesah dan kikir.

Firman Allah di dalam QS. Al-Ma’rij ayat 19-22 :

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang tetap mengerjakan shalatnya” dst.

Allah Yang Maha Sempurna menjawab semua keluh kesah manusia di dalam Al-Qur’an.

Keluhan : “Saya lelah”.

Allah menjawab dalam surat An-Naba’ ayat 9 : “… dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat”.

Keluhan : “Saya tidak sanggup dengan ujian ini”.

Allah menjawab dalam surat Al-Baqarah ayat 286 : “Aku tidak membebani seseorang, melainkan sesuai kesanggupan hambaNya”.

Keluhan : “Mengapa masalah ini sulit sekali?”

Allah menjawab dalam surat Asy-Syarh ayat 5-6 : “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya dibalik kesulitan ada kemudahan”.

Keluhan : “Saya tidak mungkin bisa”.

Allah menjawab dalam surat Yaa Siin ayat 82 : “Apabila Allah menghendaki sesuatu, Allah hanya berkata : ‘Jadilah!’ Maka jadilah sesuatu”.

Keluhan : “Saya stress”.

Allah menjawab dalam surat Ar-Ra’d ayat 28 : “Hanya dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang”.

Keluhan : “Sia-sia sudah usaha yang telah saya lakukan”.

Allah menjawab dalam surat Al-Zalzalah ayat 7 : “Siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji ‘dzarah’, niscaya ia akan melihat balasannya”.

Keluhan : “Saya sedih rasanya”.

Allah menjawab dalam surat At-Taubah ayat 40 : “Janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”.

Keluhan : “Tidak ada orang yang mau membantu masalah saya”.

Allah menjawab dalam surat Al-Mu’min ayat 60 : “Dan Tuhanmu berkata, ‘Berdoalah (bermohonlah) kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu'”.

Ketika kita ditimpa masalah atau kesulitan, kembalikan semuanya kepada Allah.

Firman Allah dalam surat Yusuf ayat 86 :

“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku”.

Penutup

Seandainya mengeluh itu solusi maka tentulah orang yang paling banyak mengeluh juga paling ringan masalahnya. Mengeluh bukanlah solusi, melainkan masalah. Justru, semakin banyak mengeluh makin banyak masalah. Allah adalah sebaik-baik pemberi solusi atas segala masalah yang muncul.

Jika Anda mengeluh karena lelah, ya memang di dunia waktunya untuk lelah. Sebab, dunia bukan waktu untuk istirahat, bukan pula waktunya menerima balasan.atas amal-amal Anda sebagaimana banyak orang berdosa yang tidak diazab. Oke lah, sabar, karena belum waktunya menerima balasan. Akan ada hari pembalasan untuk menerima balasan yang sempurna. Tatkala waktu itu telah tiba, maka waktunya orang mukmin istirahat dan menerima balasan atas amal-amalnya. Saat itu pula para fujjar (pendosa) justru meminta dikembalikan ke dunia untuk beramal saleh.

Wallahu a'lam

Posting Komentar

0 Komentar