PENDAHULUAN
Term 'eco-Ramadhan' merupakan satu istilah untuk menemukan relasi antara ajaran puasa dan kelestarian lingkungan. Ada pertanyaan yang diajukan adakah relasi antara ibadah puasa dengan kesadaran lingkungan.
Ramadhan sebagai bulan rahmah (bulan kasih sayang). Nabi Saw. diutus untuk menyebarkan (menjadi) rahmat untuk seluruh alam. Tebarkan rahmat kepada makhluk yang ada di bumi, niscaya kamu diberi rahmat oleh yang ada di langit!" Demikian petunjuk dalam sebuah hadis.
Makna "rahmat" bila diadaptasi kedalam bahasa Indonesia menjadi "ramah". Ramah terhadap alam lingkungan merupakan salah satu terjemah dari "rahmatan lil alamin". Rasulullah diutus untuk menebarkan rahmat untuk seluruh alam. Dengan demikian pengikut beliau juga mestinya menebarkan rahmat terhadap alam lingkungannya.
PENCEMARAN LINGKUNGAN
Kita sering menyaksikan perilaku sebagian masyarakat pada bulan puasa. Apa yang menjadi tradisi selama puasa pada bulan Ramadhan? Ialah takjil dan makanan ringan lain yang kerap dibungkus dalam wadah plastik. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah dari pembungkus makanan buka puasa ini akan mencemari dunia.
Karena alasan itulah, sebuah gerakan kesadaran bernama eco-Ramadhan muncul, mengajak seluruh Muslim di Indonesia untuk beribadah sembari menjaga kelestarian lingkungan. Sebagian masyarakat dinilai cenderung lebih konsumtif selama bulan Ramadhan. Ini dikemukakan oleh penggagas eco-Ramadhan, DK Wardhani (Dini).
Semestinya, kita punya data baik oleh pemerintah maupun oleh LSM dan peneliti mengenai produksi sampah setiap hari selama bulan Ramadhan. Dengan data itu, kita jadikan sebagai dasar membangun dan mengingatkan masyarakat untuk mengendalikan sampah. Termasuk perilaku penjual dan pembeli untuk bersikap tamah terhadap lingkungan.
Banyak sampah itu berasal dari wadah plastik dan tas kresek untuk takjil yang sebenarnya tidak kita perlukan. Jadi, kita itu sebenarnya tidak begitu membutuhkan (plastik), tapi kita terlena, termanjakan. Kita lihat itu (plastik) sebagai sebuah kepraktisan. Akhirnya, kita menggunakan jalan yang singkat ini. Nah, eco-Ramadhan adalah salah satu dari berbagai upaya dalam pelestarian lingkungan dengan prinsop 'zero waste'
Agama Islam, mengajarkan pelestarian lingkungan sebagaimana tercantum dalam beberapa ayat Alquran dan hadis Nabi Muhammad Saw. Ketika Anda membuka kitab-kitab turats Islam terutama kitab-kitan fiqh, Anda akan menjumpai pada bab-bab awal dari kitab-kitab tersebut tema "thaharah" (kebersihan.). Artinya, para fuqaha (ulama ahli fiqh) sejak dahulu memberi perhatian penting terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan. Kesadaran lingkungan terintegrasi langsung dengan ibadah.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahkan telah menerbitkan fatwa 47 tahun 2014 tentang pengelolaan sampah. Namun, belum banyak yang mengetahui ketentuan ulama ini. Fatwa ini mestinya disosialisasikan melalui berbagai forum termasuk menjadikan tema-tema khutbah seragam di hari jumat atau tema-tema diskusi di ruang akademik.
Momentum Ramadhan sesungguhnya merupakan terbaik untuk mensosialisasikan melalui mimbar masjid oleh para muballigh. Selain itu pemerintah bergerak melakukan langkah riil pencegahan melalui berbagai kerjasama dan sinergi dengan berbagai pihak.
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi sampah. Dalam acara buka bersama, misalnya, panitia dapat mencantumkan informasi dalam undangan bahwa acara tersebut mengadopsi konsep minim sampah atau nol sampah.
Ada hal menarik di bulan Ramadhan. Yaitu, grafik kesalehan sosial meningkat. Hal ini dapat kita lihat ketika kedermawanan memberi BBM konsumsi untuk berbuka puasa. Begitu pula, penyumbang air minum. Di masjid-masjid tersedia air minum hingga berdos-dos.
Fakta itu patut kita syukuri. Grafik kedermawanan atau kesalehan sosial begitu meningkat tajam. Itu juga tidak terlepas dari meningkatnya kemampuan ekonomi masyarakat. Mungkin juga menjadi keberhasilan para muballigh dalam mempromosikan keutamaan bersedekah di bulan Ramadhan. Sekali lagi, hal itu patut kita syukuri dan apresiasi.
Namun, tetap perlu dilihat dampak yang ditimbulkan terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan. Gelas-gelas plastik tak jarang digabungkan dan dibuang bersama dengan jenis sampah lainnya seperti plastik. Bahkan tak jarang terlihat gelas-gelas plastik itu terbuang ke selokan. Lalu datang hujan dan terjadi banjir. Sampah-sampah gelas dan plastik itu terbaik air hingga ke sungai-sungai dan laut. Dan mengakibatkan terjadinya pendangkalan.
BAHAYA SAMPAH PLASTIK
Dalam berbagai seminar dikemukakan mengenai bahaya sampah plastik. Banyak sampah yang digunakan berasal dari produk sekali pakai, seperti popok bayi, pembalut, baterai, dan plastik. Berikut ini beberapa jenis sampah dan waktu yang dibutuhkan untuk mengurainya.
Sebuah sumber data menunjukkan, plastik mendominasi jenis sampah di masyarakat, mulai dari kantong plastik, gelas plastik, sedotan plastik dan lainnya. Plastik terbuat dari minyak bumi. The Balance melansir, 1,6 juta minyak diperlukan untuk membuat botol plastik setiap tahunnya.
Barang-barang plastik dapat terurai di tanah 1000 tahun lamanya, sedangkan kantong plastik 10 hingga 1000 tahun. Botol plastik dapat terurai di alam sekitar 450 tahun. Untuk saat ini, plastik merupakan sampah yang paling lama terurai.
Begitu pula popok bayi sekali pakai diperkirakan akan terurai di pembuangan sampah dalam waktu 250-500 tahun. Kebutuhan akan popok bayi dan pembalut terus meningkat, mengingat bahwa bayi akan memakai popok hingga usia 2 atau 2,5 tahun untuk bisa dilatih menggunakan toilet. Sedangkan, pembalut perlu waktu 500-800 tahun untuk terurai.
KASALEHAN ENVIRONMENTAL
Kesalehan sosial yang mengabaikan kesalehan environmental akan menimbulkan masalah dan krisis lingkungan. Pada akhirnya kesalehan harus terintegrasi kesalehan spritual, kesalehan sosial dan kesalehan environmental.
Kesalehan spritual mengajarkan tentang konsep 'Rabbul Alamin'. Allah menyebutkan dirinya sebagai Rabbil Alamin (Pencipta dan Pemelihara alam). Jika kita mencoba menghubungkan dengan sifat Allah sebagai Pemelihara maka kita pun mesti mencontoh untul.menjaha alam. Maka, membuang sampah, apalagi membuang sampah plastik. Hal itu akan berdampak buruk bagi masa depan lingkungan.
Guna mengurangi sampah makanan, masyarakat harus bijak dalam berbelanja. "Yang pertama adalah mengontrol nafsu. Supaya kita nggak barbar ketika buka puasa. Nggak segala pengen dimakan dan akhirnya buang-buang makanan. Itu sebabnya, larangan mubazzir ditegaskan dalam kitab suci. Bahkan tidak tanggung-tanggung orang mubazzir itu bersaudara dengan setan.
Sampah makanan sangat berbahaya karena menghasilkan gas metana. Gas ini dapat menyebabkan ledakan di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Karena itu penting bagi kita untuk menghabiskan makanan secara bertanggungjawab.
Kesalehan sosial dan kedermawanan tetap harus dijaga dan ditingkatkan karena hal itu baik. Yang masih perlu disosialisasikan adalah kesalehan environmental (environmental awareness). Kesadaran lingkungan harus dipandang sebagai ajaran Islam yang memiliki hubungan langsung dengan kesempurnaan ibadah.
KHALIFAH PENJAGA KELESTARIAN ALAM
DI dalam Islam, manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk dan hamba Tuhan, sekaligus sebagai wakil (khalifah) Tuhan di muka bumi. Manusia mempunyai tugas untuk mengabdi, menghamba (beribadah) kepada Sang Pencipta (Al-Khalik). Tauhid merupakan sumber nilai sekaligus etika yang pertama dan utama dalam teologi pengelolaan lingkungan.
Allah berfirman yang artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al Baqarah: 30)
Allah berfirman yang artinya: Dan dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk menguji kamu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al an’am: 165)
Dalam konsep khilafah menyatakan bahwa manusia telah dipilih oleh Allah di muka bumi ini (khalifatullah fil’ardh). Sebagai wakil Allah, manusia wajib untuk bisa merepresentasikan dirinya sesuai dengan sifat-sifat Allah. Salah satu sifat Allah tentang alam adalah sebagai pemelihara atau penjaga alam (rabbul’alamin). Jadi sebagai wakil (khalifah) Allah di muka bumi, manusia harus aktif dan bertanggung jawab untuk menjaga bumi. Artinya, menjaga keberlangsungan fungsi bumi sebagai tempat kehidupan makhluk Allah termasuk manusia sekaligus menjaga keberlanjutan kehidupannya.
Manusia mempunyai hak (diperbolehkan) untuk memanfaatkan apa yang ada di muka bumi (sumber daya alam) dengan tidak melampaui batas atau berlebihan. Dalam surat Al-An’am ayat 141-142 Allah berfirman yang artinya: “Dan dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (Al An’am: 141)”
“Dan di antara hewan ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. makanlah dari rezki yang Telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al An’am: 142).
Beberapa dalil Qurani tersebut menunjukkan bahwa manusia diberi mandat. Sebagai mandataris Tuhan (khalifah di bumi), manusia diberi tugas untuk melestarikan lingkungan dan alam sekitarnya. Sayang tema ini tidak banyak mendapat perhatian daripada jemaahnya.
PENUTUP
Puasa mengajarkan tiga kesalehan: kesalehan spritual, sosial, dan environmental. Yang terakhir disebutkan (kesalehan environmental) jarang dijadikan sebagai tema-tema ceramah para muballigh. Padahal, menjaga dan memakmurkan alam ini merupakan tugas pokok khalifah di bumi. Dan tugas kekhalifahan itu diemban oleh manusia. Semoga Ramadhan tahun ini menjadi momentum terbaik dalam membangun eco-Ramadhan dan kesalehan environmental serta ketakwaan yang utuh. Puasa mengajarkan pengendalian hawa nafsu dari sikap eksploitatif dan rakus terhadap alam.
Wallahu A'lam

0 Komentar