Dosen UIN Alauddin dan STAI Al-Furqan Makassar
Manggarupi-Gowa, 29-04-2021
PENDAHULUAN
Memahami perbedaan Nuzulul Quran dan Malam Lailatul Qadar itu dua tema dan wacana dalam studi Islam yang tidak terpisahkan terutama dari sisi historis dan teks suci itu sendiri. Peristiwa pewahyuan pertama al-Qur'an itu terjadi pada malam lailatul Qadr. Hal itu secara eksplisit diterangkan dalam surah al-Qadr.
Soal kapan semestinya diperingati Nuzulul Quran? Di Indonesia lazim diperingati setiap tanggal 17 Ramadhan, umumnya di malam hari. Hal itu tentu didasarkan pada argumen bahwa al-Qur'an menyebut lailatun (malam). Selain itu, malam adalah kesempatan untuk mengumpulkan manusia karena mereka umumnya berkesempatan berkumpul dalam jumlah banyak, terutama untuk salat sunnat tarwih berjamaah.
Sementara Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam Lailatul Qadar (Surat al-Qadar ayat 1), yaitu malam paling spesial di bulan suci, malam yang sangat diharapkan seluruh umat Muhammad, ia lebih baik dari pada seribu bulan.
Pendapat yang paling populer bahwa Lailatul Qadar terjadi di sepuluh akhir bulan Ramadhan, salah satu indikasinya Nabi sangat menekankan I’tikaf dan ibadah lainnya di waktu-waktu tersebut.
Pertanyaannya kemudian, bagaimana korelasi antara dua narasi di atas? Mengapa bisa berbeda antara peringatan Nuzulul Quran dan diturunkannya Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadar?
NUZUL AL-QUR'AN
Nuzulul Quran merupakan peristiwa penting di bulan Ramadan sehingga, sudah sepantasnya umat Islam memperbanyak amalan salah satunya dengan membaca doa Nuzulul Quran.
Nuzulul Quran adalah peristiwa pertama kali diturunkannya wahyu Allah Swt. berupa Alquran yaitu Surah Al-Alaq ayat 1-5 kepada Nabi Muhammad Saw.. Peristiwa ini terjadi di Gua Hira (Makkah) pada malam ke-17 Ramadhan.
Ayat 1-5 Surat Al-Alaq, yang artinya “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."
Beberapa pakar tafsir menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan dua kali proses. Pertama, diturunkan secara keseluruhan (jumlatan wahidah). Kedua, diturunkan secara bertahap (najman najman). Sebelum diterima Nabi Saw. di bumi, Allah terlebih dahulu menurunkannya secara menyeluruh di langit dunia, dikumpulkan jadi satu di Baitul Izzah.
Selanjutnya malaikat Jibril menurunkannya kepada Nabi di bumi secara berangsur, ayat demi ayat, di waktu yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan selama dua puluh tahun, pendapat lain dua puluh satu tahun.
PENDAPAT PARA ULAMA
Banyak pendapat soal turunnya Al-Qur'an. Pakar tafsir terkemuka, Syekh Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi menegaskan:
وَلَا خِلَافَ أَنَّ الْقُرْآنَ أُنْزِلَ مِنَ اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ لَيْلَةَ الْقَدْرِ عَلَى مَا بَيَّنَّاهُ جُمْلَةً وَاحِدَةً، فَوُضِعَ فِي بَيْتِ الْعِزَّةِ فِي سَمَاءِ الدُّنْيَا، ثُمَّ كَانَ جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْزِلُ بِهِ نَجْمًا نَجْمًا فِي الْأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِي وَالْأَسْبَابِ، وَذَلِكَ فِي عِشْرِينَ سَنَةً.
“Tidak ada perbedaan bahwa Al-Qur’an diturunkan dari Lauh al-Mahfuzh pada malam Lailatul Qadar secara keseluruhan seperti penjelasan kami. Maka Al-Qur’an terlebih dahulu diletakan di Baitul Izzah di langit dunia. Kemudian Jibril menurunkannya secara berangsur tentang perintah, larangan dan sebab-sebab lainnya. Demikian itu terjadi selama 20 tahun.”
وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ أُنْزِلَ الْقُرْآنَ مِنَ اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ جُمْلَةً وَاحِدَةً إِلَى الْكَتَبَةِ فِي سَمَاءِ الدنيا، ثم نزل بِهِ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ نُجُومًا- يَعْنِي الْآيَةَ وَالْآيَتَيْنِ- فِي أَوْقَاتٍ مُخْتَلِفَةٍ فِي إِحْدَى وَعِشْرِينَ سَنَةً
“Sahabat Ibnu Abbas berkata, Al-Qur’an diturunkan dari Lauh al-Mahfuzh secara menyeluruh kepada para malaikat pencatat wahyu di langit dunia, kemudian Jibril turun membawanya secara berangsur, satu dan dua ayat, di waktu yang berbeda-beda selama 21 tahun.” (Syekh Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an/Tafsir al-Qurthubi, juz 2, hal. 297).
Proses turunnya Al-Qur’an secara total ini terjadi di bulan malam Lailatul Qadar, tepatnya malam 24 Ramadhan. Pendapat ini sebagaimana ditegaskan dalam riwayat Ibnu Abbas dan Watsilah bin al-Asqa’. Imamul Mufassirin (pemimpin para pakar tafsir), Syekh Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Thabari menyampaikan riwayat tersebut dalam kitab tafsirnya sebagai berikut:
كَمَا حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ قَالَ ثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ حَسَّانَ بْنِ أَبِي الْأَشْرَسِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ أُنْزِلَ الْقُرْآنُ جُمْلَةً مِنَ الذِّكْرِ فِي لَيْلَةِ أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ مِنْ رَمَضَانَ، فَجُعِلَ فِي بَيْتِ الْعِزَّةِ
“Sebagaimana bercerita kepadaku Abu Kuraib, beliau berkata, bercerita kepadaku Abu Bakr bin ‘Ayyasy dari al-A’masy dari Hassan bin Abi al-Asyras dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas beliau berkata; Al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan pada malam 24 dari bulan Ramadhan, kemudian diletakan di Baitul Izzah.”
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنْصُورٍ، قَالَ: ثنا عَبْدُ اللهِ بْنُ رَجَاءٍ، قَالَ: ثنا عِمْرَانُ الْقَطَّانُ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنِ ابْنِ أَبِي الْمَلِيحِ، عَنْ وَاثِلَةَ، " عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: نَزَلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الْإِنْجِيلُ لِثَلَاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ، وَأُنْزِلَ الْقُرْآنُ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ مِنْ رَمَضَانَ
“Bercerita kepadaku Ahmad bin Manshur, ia berkata, bercerita kepadaku Abdullah bin Raja’, ia berkata, bercerita kepadaku Imran al-Qatthan dari Qatadah dari Ibnu Abil Malih dari Watsilah dari Nabi, beliau bersabda; lembaran-lembaran Nabi Ibrahim turun pada awal bulan Ramadhan, Taurat diturunkan pada 6 Ramadhan, Injil diturunkan pada 13 Ramadhan, Al-Qur’an diturunkan pada 24 Ramadhan.” (Syekh Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Thabari, Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wili Ayil Quran/ Tafsir al-Thabari, juz 3, hal. 188).
Dalam proses turunnya Al-Qur’an secara bertahap, wahyu pertama yang diterima Nabi adalah Surat al-‘Alaq dari ayat satu sampai lima. Saat Nabi mencapai usia 40 tahun, Allah mengutusnya untuk alam semesta, mengeluarkan mereka dari sesatnya kebodohan menuju terangnya pengetahuan.
Tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan, 13 tahun sebelum hijrah, Nabi menerima wahyu untuk pertama kalinya.
Berdasarkan itu, Di Indonesia, masyarakat memiliki tradisi tersendiri untuk merayakan malam Nuzulul Quran yang jatuh pada malam 17 Ramadhan 1441 H.
Pakar sejarah Nabi, Syekh Muhammad al-Khudlari Bik menegaskan:
ـ )بَدْءُ الْوَحْيِ (لَمَّا بَلَغَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ سِنَّ الْكَمَالِ وَهِيَ أَرْبَعُوْنَ سَنَةً أَرْسَلَهُ اللهُ لِلْعَالَمِيْنَ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا لِيُخْرِجَهُمْ مِنَ ظُلُمَاتِ الْجَهَالَةِ إِلَى نُوْرِ الْعِلْمِ وَكَانَ ذَلِكَ فِيْ أَوَّلِ فَبْرَايِرْ سَنَةَ ٦١٠ مِنَ الْمِيْلَادِ كَمَا أَوْضَحَهُ الْمَرْحُوْمُ مَحْمُوْدْ بَاشَا اَلْفَلَكِيُّ، تَبَيَّنَ بَعْدَ دِقَّةِ الْبَحْثِ أَنَّ ذَلِكَ كَانَ فِيْ 17 رَمَضَانَ سَنَةَ 13 قَبْلَ الْهِجْرَةِ وَذَلِكَ يُوَافِقُ يُوْلِيُوْ سَنَةَ ٦١٠ “
(Fasal Pertama kali wahyu turun). Saat Nabi menginjak usia matang, yaitu 40 tahun, Allah mengutusnya untuk alam semesta seraya menggembirakan dan memperingatkan, untuk mengeluarkan mereka dari gelapnya kebodohan menuju cahaya ilmu.
Demikian itu terjadi di awal bulan Februari tahun 610 Masehi seperti yang dijelaskan Syekh Mahmud Basya sang pakar astronomi.
Namun setelah penelitian yang cermat, telah jelas bahwa peristiwa itu terjadi pada tanggal 17 Ramadhan, 13 tahun sebelum hijrah, bertepatan dengan bulan Juli tahun 610 Masehi. (Syekh Muhammad al-Khudlari Bik, Nur al-Yaqin Fi Sirati Sayyid al-Mursalin, hal. 19).
Dari referensi di atas dapat dipahami bahwa peringatan Nuzulul Quran yang populer di Indonesia mengacu pada sejarah pertama kali turunnya Al-Qur’an dalam proses kedua, yaitu dari Baitul Izzah kepada Nabi di bumi.
MALAM KEBERAPA LAILATUL QADR ITU?
Perbedaan pendapat mengenai kapan wahyu pertama turun memang tidak bisa dihindari. Dan hal ini tidak bisa dilepaskan dari peristiwa misterius lailatul Qadr.
Selain tanggal 17 Ramadhan ada pula yang berpendapat terjadi tanggal 7, 8, 21, 23, 27 Ramadhan.
Bahkan beberapa pendapat ada yang menyebut bukan di bulan Ramadhan. Namun, perayaan Nuzulul Quran di setiap tanggal 17 Ramadhan yang telah turun-temurun terlaksana tanpa ada pengingkaran dari para ulama, setidaknya memiliki pembenaran dari sudut pandang sejarah menurut satu versi.
Oleh karenanya, tidak perlu fanatik secara berlebihan dengan menyalahkan pihak yang berbeda dengan pendapat yang diyakini. Siapa pun boleh merayakan Nuzulul Quran di selain tanggal 17 Ramadhan dengan tetap menghormati pendapat lain yang berbeda.
Meski malam Lailatul Qadar sulit untuk diprediksi, Rasullulah memberikan isyaratnya seperti diriwayatkan dalam sebuah hadist, “ Carilah malam Lailatul Qadar pada malam – malam ganjil dari sepuluh hari terakhir Ramadhan." (HR. Bukhari)
Para ulama kemudian berpendapat bahwa malam Lailatul Qadar akan berada pada tanggal ganjil tepat di 10 hari terakhir Ramadan . “Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah telah menyebutkan empat puluh pendapat ulama tentang malam Lailatul Qadar, dan pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada adalah Lailatul Qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan waktunya berpindah - pindah dari tahun ke tahun..
Pendapat Imam Al-Gazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin turut menguatkan pendapat tersebut melalui lima hal yang bisa dijadikan patokan untuk mengetahui keberadaan malam Lailatul Qadar. Perhitungannya sebagai berikut:
1. Jika hari pertama Ramadhan jatuh pada malam Ahad atau Rabu, Maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 29 Ramadhan .
2. Jika malam pertama jatuh pada malam Senin, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 25 Ramadhan.
3. Jika malam pertama Ramadhan jatuh pada malam Kamis, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 25 Ramadhan.
4. Jika malam Ramadhan jatuh pada malam Sabtu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 23 Ramadan.
5. Jika malam pertama Ramadhan jatuh pada malam Selasa atau Jumat, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 27 Ramadhan.
Demikian beberapa keterangan yang makin menunjukkan bahwa lailatul Qadr merupakan misteri. Akan tetapi, eksistensi tidak diingkari, dan terjadinya di bulan Ramadhan. Soal malam keberapa Ramadhan, hal itu menjadi wikayah ikhtilaf di kalangan ulama.
PENUTUP
Dari beberapa pendapat tentang nuzul al-Qur'an dan lailatul Qadr maka dapat dikatakan bahwa: (1) Nuzul al-Qur'an dan Lailatul Qadr tidak terpisahkan dalam sejarah. (2) Peringatan Nuzul al-Qur'an dapat dilakukan kapan saja. (3) lailatul Qadr itu merupakan misteri. Ulama berbeda pendapat. Riwayat tentangnya pun beragam. Silahkan cari dan nantikan sepanjang Ramadhan. Dirahasiakannya mengandung makna agar umat Rasulullah Saw. tidak berspekulasi dalam beribadah.
Wallahu A'lam

0 Komentar