Dosen UIN Alauddin dan STAI Al-Furqan Makassar
Samata-Gowa, 16-04-2021
PROLOG
Saya pernah membaca tulisan dengan istilah "Life begins at 40". Lalu, ada apa dengan angka itu? Ternyata ungkapan itu mengacu pada fase regenerasi burung elang. Dari sekian banyak artikel yang pernah saya baca tentang filosofi elang ternyata banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari perilaku kehidupan seekor burung elang.
Ungkapan yang tidak kalah populer yang lain adalah "Eagles fly alone, pigeons flock together". Tapi pada tulisan kali ini saya tidak akan membahas tentang ungkapan itu. Saya lebih tertarik untuk menulis tentang ungkapan "Life begins at 40". Banyak yang beranggapan bahwa ungkapan ini tentang usia 40 tahun adalah usia manusia saat mengalami masa-masa kedewasaan.
Namun, ternyata angka 40 tahun juga diungkapkan oleh al-Qur'an secara ekslpilist. tepatnya pada Surah al-Ahqaf ayat 15. Oleh karena itu, usia 40 tahun disebut istimewa karena disebut secara khusus dalam al-Quran. Tapi, apa rahasia di balik angka itu? Kita simak berikut ini.
ELANG WAJIB BERPUASA & BERJUANG?
Ya, jika seekor elang mau bertahan hidup melampaui 40 tahun. Namun, jika berupaya melewati fase tragis, elang mampu hidup hingga usia 70 tahun. Tapi usia itu tidak dicapai dengan mudah. Ada cerita unik di balik usia panjang sang elang. Ketika elang mencapai usia 40 tahun, sebenarnya fisik luar elang sudah mulai mengalami penuaan. Paruh elang mulai memanjang dan bengkok hingga mengenai dadanya. Bulu-bulu di sekujur tubuhnya juga tumbuh lebat dan menjadi semakin berat. Kondisi fisik elang ini otomatis membuatnya sulit untuk terbang dan berburu.
Ketika elang mengalami kondisi tersebut, menahan diri (sebut saja berpuasa), tidak terbang mencari mangsa empuk. Elang akan berusaha terbang ke tempat tertinggi yang bisa ia capai. Elang akan berdiam diri di sarangnya selama 150 hari. Bukan sekedar mengasingkan diri. Elang harus meregenerasi tubuhnya sendiri. Pilihannya adalah tersiksa atau mati.
Dalam perjuangannya melewati fase kritis itu, elang "berpuasa" selama 150 hari. Dalam proses penderitaan mengganti paruhnya itu menahan lapar. Elang akan mulai menghantam-hantamkan paruhnya ke bebatuan hingga paruhnya terlepas sepenuhnya. Selanjutnya, elang "wajib berpuasa" menunggu hingga paruh barunya tumbuh dengan sendirinya.
Paruh barunya yang tajam akan ia gunakan untuk mulai mencabut cakar-cakarnya hingga terlepas sepenuhnya. Disussul juga dengan pencabutan seluruh bulu dari tubuhnya. Elang kemudian akan menunggu hingga cakar dan bulunya kembali tumbuh dengan yang baru. Setelah habis masa regenerasi selama 150 hari, elang akan siap kembali menjalani sisa 30 tahun kehidupannya dengan energi dan kekuatan yang terbarukan.
Filosofinya adalah bahwa untuk mencapai suatu impian besar dalam hidup, kita memang perlu "berpuasa" dan berkorban. Pencapaian dalam hidup kita juga seringkali memiliki fase-fase yang sulit dan menyakitkan bagi diri kita. Tapi percayalah, layaknya elang, di balik kesulitan akan ada kemudahan. Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian.
Kita mungkin menjadi mengerti, mengapa burung elang juga dianggap sebagai simbol kejayaan dan kebijaksanaan sehingga sering digunakan sebagai lambang dalam berbagai perjuangan.
MISTERI DI BALIK USIA 40 TAHUN
Ternyata, angka 40 ditemukan dalam Al-Qur'an. Mungkin Anda masih ingat tulisan saya sekitar 4 bulan lalu yang bertajuk "Membaca Teks Suci: Menyingkap Rahasia Suci di Balik Usia 40 Tahun". Angka 40 tahun itu secara eksplisit diungkapkan oleh Al-Qur’an, tepatnya pada Surah al-Ahqaf ayat 15. Oleh karena itu, usia 40 tahun disebut istimewa karena disebut secara khusus dalam al-Quran.
Para ahli tafsir menerangkan, usia 40 tahun disebut pada ayat ini, karena manusia mencapai puncak kehidupannya. Baik secara fisik, intelektual, emosional, karya, maupun spiritualnya. Orang yang berusia 40 tahun benar-benar telah meninggalkan masa mudanya. Apa yang dialami pada usia 40 seringkali sifatnya stabil, mapan, dan kokoh.
Ada banyak keistimewaan yang ditunjukkan dalam sejarah Islam tentang usia 40 tahun ini. Dalam surah al-Qashash ayat 14 disebutkan, “Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan.”
Al-Imam Ath-Thabari menjelaskan ayat ini, “Sudah tiba waktunya bagi Musa untuk memiliki kekuatan dan keperkasaan yang paling prima. Itulah puncak keadaan dirinya yang dia tidak mungkin lagi untuk mengulanginya ataupun memilikinya lagi setelah itu berlalu. Itulah penghabisan masa muda, masa sempurnanya badan dan kejernihan pemahaman.”
KECERDASAN NABI MUSA A.S.
Ibnu Abbas mengatakan, “Ketika Musa mencapai umur bidh’an wa tsalasti sanatan (33-39), dia diberi pemahaman, kecerdasan, dan ilmu agama sebelum diangkat sebagai nabi dan rasul.”
Imam Mujahid menafsirkan bahwa istawa pada ayat itu berarti pada umur 40 tahun. Imam Asy-Sya’bi dalam Tafsir Al-Qurthubi menambahkan, “Itulah umur ketika mencapai kedewasaan.”
Maka, amatlah wajar jika usia 40 tahun disebut tersendiri di dalam al-Qur’an. Dan karenanya, logis jika para Nabi diutus pada usia 40 tahun, termasuk Nabi Muhammad Saw.
Para pakar, misalnya Ibnu al-Qayim al-Jauziyah, usia manusia diklasifikasikan menjadi empat periode. Yaitu periode kanak-kanak (thufuliyah) yang dimulai sejak lahir hingga baligh; Periode muda (syabab) dari usia baligh hingga 40 tahun; Periode dewasa (kuhulah) yakni usia 40-60 tahun; dan periode tua (syaikhukhah) dari 60-70 tahun.
Al-Qur’an surah al-Ahqaf 15 mengajarkan kepada kita apa saja yang semestinya dilakukan bagi manusia yang menginjakkan kaki di usia 40 tahun.
1) sering-seringlah membaca doa ini. Sebagaimana riwayat Imam Atha’ dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Ketika Abu Bakar berusia 40 tahun dia sering berdoa dengan doa yang terdapat pada Al-Ahqaf 15 ini.” Imam Ar-Razi menuturkan, “Umar bin Abdul Aziz ketika memasuki usia 40 tahun selalu berdoa dengan ayat ini.”
2) mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Dalam ayat tersebut, Allah mengajarkan hamba-Nya untuk lebih banyak bersyukur atas nikmat yang telah diberikan kepada kita.
3) mengingatkan kedua orang tua dan anak sebagai orang yang—mau tidak mau— dewasa dan menuju usia tua. Ini bisa membuat kita senantiasa berbuat baik. Juga mendoakan kedua orang tua yang telah bersusah payah: mengandung, melahirkan, serta menyusui dan menyapihnya selama tiga puluh bulan.
4) hendaklah kita mulai memperbanyak amal kebaikan yang diridhai oleh Allah. Usia 40 tahun adalah masa awal seseorang memperbaiki diri. Sebab ada yang mengatakan, jika di usia 40 tahun ini seseorang sudah tidak bisa lagi memperbaiki diri maka pada gilirannya di usia berikutnya ia akan gagal menjadi orang yang baik-baik. Maka, usia 40 tahun adalah tonggak awal perbaikan diri seseorang.
5) seseorang yang mencapai usia 40 tahun diingatkan oleh Allah agar ia kembali dan banyak meluangkan waktu untuk keluarga.
6) ketika Allah mengajarkan doa dan pengakuan “Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau”, maka sesungguhnya Dia sedang mengingatkan kepada hamba-Nya agar ia banyak bertaubat di usia 40 tahun.
7) sebagaimana doa yang hampir sama diajarkan Nabi Sulaiman kepada kita (baca an-Naml :19), bahwa seseorang yang sudah berumur 40 tahun hendaklah lebih banyak bergaul dan bergumul dengan orang-orang saleh. “Wa adkhilniy birahmatika min ‘ibadika ash-shalihin. dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.”
8) seseorang yang telah berusia 40 tahun harus lebih banyak berserah diri kepada Allah. Berusaha dan bekerja harus dengan sungguh-sungguh. Tetapi, dalam banyak kesempatan, kepasrahan dan kedekatan diri kepada Allah harus lebih direkatkan.
Saudaraku! Hidup baru dimulai setelah usia mencapai 40 tahun (Life begins at forty?) Belum terlambat…. Dan hidup yang sesungguhnya adalah yang diprioritaskan untuk mencari dan mencapai ridha Allah. Carilah mahabbah, makrifat, dan hikmah! Karena hanya sekali hidup, maka hiduplah yang berkualitas!
PENUTUP
Puasa bulan Ramadhan memang syariat bagi umat Nabi Muhammad Saw. Tapi puasa dalam makna dan konteksnya yang lebih luas merupakan kebutuhan bagi beberapa makhluk Allah. Salah satunya yaitu kebutuhan dan cara bagi burung elang untuk melanjutkan dan memperpanjang umurnya. Idealnya, puasa kita tidak terhenti dan selesai pada urusan teknis saja (sebut saja dalam urusan fiqh saja). Puasa menjadi keperluan dalam berbagai hal bagi makhluk Allah.
Wallahu A'lam

0 Komentar