PENDIDIKAN: FOKUS MENUMBUH-KEMBANGKAN POTENSI

 


Penulis : Muhammad Yusuf

Dosen UIN Alauddin dan STAI Al-Furqan Makassar

Samata-Gowa, 12-03-2021

Prolog

Hari ini, beberapa orangtua disibukkan dengan anaknya yang telah memasuki jenjang sekolah dasar apalagi selama masa pandemi covid-19. Begitu pun dengan para siswa dan mahasiswa kembali melanjutkan pelajarannya. Menemani aktivitas saat ini sambil menanti waktu salat jumat bagi Anda yang muslim, terdapat kisah yang menarik -paling tidak, menurut saya - dari tulisan Thomas Amstrong.

Memahami potensi anak sebelum mengajar mereka sebagian dari tanggung jawab guru. Ketidaktahuan guru terhadap potensi peserta didik bisa mengakibatkan kesalahan dalam mengelola potensi anak. Bukannya menumbuh-kembangkan, malahan merusak mental dan menghalau potensi.

Setiap anak datang dengan fitrah dan potensi kecerdasannya masing-masing. Jika dalam keluarga punya tiga anak maka maka ada karakter yang sedang menjadi tugas orang tua untuk dikembangkan. Demikian pula di sekolah, jika terdapat 25 siswa di dalam satu kelas maka guru sedang menjadi tanggung jawab guru untuk menumbuh-kembangkan. 

Untuk mengilustrasikan hal tersebut, berikut ini saya menuliskan satu dongeng sebagai dasar menginspirasi. Dongeng ini dapat temukan di beberapa media. Di sini saya pilih sebagai instrumen ilustrasi agar menginspirasi para pendidik (guru dan irang tua). 

Sekolah Para Binatang

Sekolah para binatang? Adakah? Ya, namanya saja dongeng. Dongeng ini saya sudah pernah muat dalam salah satu buku saya. Anda pun dapat menemukan di beberapa media. Namun, untuk keperluan sebagai instrumen inspirasi, maka saya muat kembali di sini.

Konon, di tengah-tengah hutan belantara Sumatera berdirilah sebuah sekolah untuk para binatang dengan status “disamakan dengan manusia”. Sekolah ini dikepalai oleh seorang manusia. Karena sekolah tersebut berstatus “disamakan”, tentu saja kurikulumnya juga harus mengikuti kurikulum yang sudah terstandarisasi dan telah ditetapkan manusia.

Kurikulum tersebut mewajibkan bahwa untuk bisa lulus dan mendapatkan ijazah, setiap siswa harus berhasil pada lima mata pelajaran utama dengan nilai standar ketuntasan minimal (SKM) 8 untuk masing-masing mata pelajaran. Adapun kelima mata pelajaran utama tersebut, yaitu terbang, berenang, memanjat, berlari, dan menyelam. Mengingat bahwa sekolah ini berstatus “disamakan dengan manusia”, para binatang berharap kelak mereka dapat hidup lebih baik dari binatang lainnya. Oleh karena itu, berbondong-bondonglah berbagai jenis binatang mendaftarkan diri untuk bersekolah di sana, mulai dari elang, tupai, bebek, rusa, hingga katak.

Tahun pelajaran baru pun tiba. Proses belajar-mengajar pun akhirnya dimulai. Terlihat bahwa beberapa binatang sangat unggul dalam mata pelajaran tertentu. Elang sangat unggul dalam mata pelajaran terbang. Tupai unggul dalam pelajaran memanjat. Bebek terlihat sangat unggul dan piawai dalam pelajaran berenang. Rusa adalah murid yang luar biasa dalam pelajaran berlari. Lain lagi dengan katak, dia sangat unggul dalam pelajaran menyelam.

Begitulah, pada mulanya mereka adalah murid-murid yang sangat unggul dan luar biasa pada mata pelajaran tertentu. Namun ternyata, kurikulum telah mewajibkan bahwa mereka harus meraih angka minimal 8 yang telah ditetapkan sebelumnya. Inilah awal dari semua kekacauan itu. Para binatang satu demi satu mulai mempelajari mata pelajaran lain yang tidak dikuasai dan bahkan tidak disukainya. Tidak sesuai dengan bakat, minat, dan potensinya.

Burung elang mulai belajar cara memanjat dan berlari. Tupai pun demikian, dia berkali-kali jatuh dari dahan yang tinggi saat mencoba terbang. Lain lagi dengan bebek, dia masih bisa mengikuti pelajaran berlari, walaupun sering ditertawakan karena lucu. 

Demikian juga dengan binatang lainnya. Meskipun telah berusaha mempelajari yang tidak dikuasainya, mereka tetap tidak menampakkan hasil yang lebih baik. Yang lebih menyedihkan adalah karena mereka terfokus untuk dapat berhasil di mata pelajaran yang tidak dikuasainya. Lalu, perlahan-lahan elang mulai kehilangan kemampuan terbangnya, tupai sudah mulai lupa cara memanjat, begitupun dengan binatang lain. Dan, yang paling malang adalah rusa, dia tidak lagi dapat berlari kencang karena paru-parunya sering kemasukan air saat mengikuti pelajaran menyelam.

Akhirnya, tak satu pun murid berhasil lulus dari sekolah tersebut. Bahkan, kemampuan dan potensi mereka telah terpangkas dan satu per satu mulai mati kelaparan karena tidak bisa mencari makan dengan kemampuan unggul yang pernah dimilikinya.

Pesan Moral

Dari cerita ini,  kita menyadari atau tidak, sistem persekolahan manusia yang ada saat ini pun tidak jauh berbeda dengan sistem persekolahan binatang tersebut. Kurikulum sekolah telah memaksakan anak-anak kita untuk menguasai semua mata pelajaran dan melupakan kemampuan unggul mereka. Kurikulum dan sistem persekolahan telah memangkas kemampuan alami anak-anak kita untuk bisa berhasil dalam kehidupan menjadi anak yang hanya bisa menjawab soal-soal ujian.

Anak-anak bukan diciptakan dengan potensi yang seragam, melainkan dengan potensi yang beragam. Manusia diciptakan dengan membawa bekal dasar (potensi). Tugas pendidik (orang tua, guru, dosen, instruktur) adalah membantu mereka untuk menemukan, mengidentifikasi potensi anak-anak dan membantu mereka untuk mengembangkan potensinya masing-masing untuk menjadi unggul dan unik serta istimewa.

Mengenali potensi diri sangat berguna bagi seseorang dalam meraih kesuksesan. Potensi diri atau bakat merupakan dasar dari keahlian seseorang. Ketika seseorang telah mengenali potensi diri, jalan menuju kesuksesan akan lebih terarah. Dalam memunculkan potensi, membutuhkan rasa percaya diri (self confidence). Pasalnya, ketika rasa percaya diri mulai hilang, potensi akan menghilang perlahan-lahan. Itulah mengapa, menggali potensi dan percaya diri tidak bisa dipisahkan. 

Selanjutnya, guru menjadi motivator bagi para murid. Mereka diarahkan untuk fokus pada potensinya masing-masing dan tidak lagi terpukau dengan orang lain. Sebab, orang-orang yang sibuk membangga-banggakan orang lain, sering lupa pada potensi diri sendiri. Mengakui keunggulan orang lain itu wajar. Yang tidak wajar adalah apabila lupa menggarap potensi dirinya. Di sinilah pentingnya pendampingan dan motivasi agar fokus dengan potensi masing-masing. 

Tak perlu membandingkan kecerdasan antara anak yang satu dengan anak yang lain. Toh, kita sudah tau potensi mereka masing-masing. Selebihnya diarahkan dan dimotivasi untuk tumbuh subur, berkembang pesat, produktif, dan unik. Mengapa harus unik? Sebab sesuatu yang unik itu langka dan mahal. Maka, menjadi unik tidak harus serba bisa. Cukup menunjukkan kemampuan yang dibutuhkan namun tak banyak yang mampu seperti Anda. Kalau bisa, anda harus berada sendirian. 

Menjadi orang sukses tidak harus menempuh jalan keramaian. Keadaan sunyi senyap seringkali menjadi jalan yang lebih aman dan lancar untuk dilalui. Saya sering menjumpai jurusan yang sunyi peminat pendaftar. Di sisi lain, tak jarang pula ada jurusan tertentu peminatnya membludak. Akibatnya, banyak yang tidak lolos. Lagi pula, mereka akan menjadi sarjana yang tidak unik karena banyak orang yang sama dengan dirinya. Orang berkata, mitslukum katsir (orang seperti kamu banyak).

Tetaplah menjadi diri Anda, temukan dan fokus melejitkan potensi diri Anda pasti Anda unggul tanpa harus bersaing dengan Bahkan keunggulan dapat diraih dengan fokus pada kemampuan diri sendiri bukan menaklukan orang lain. Biarkan diri Anda berbeda dengan yang lain. Orang arif berkata:

"Majulah tanpa menyingkirkan. Naiklah tanpa menjatuhkan. Jadilah baik tanpa menjelekkan. Dan benarlah tanpa menyalahkan".

"Berjuang tanpa perlu membawa massa. Menang tanpa merendahkan / mempermalukan, Berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan.Kaya tanpa didas ari kebendaan".

Terakhir, kita melihat orang saling menyingkirkan, saling melecehkan, saling, menjelekkan. Itu terjadi akibat paradigma pendidikan yang mengajarkan persaingan. Paradigma kompetisi lebih ditonjolkan daripada kolaborasi (kerjasama). Lebih menonjolkan persaingan kemampuan pada bidang yang sama ketimbang fokus melejitkan potensi diri. Orang saling mengkudeta untuk meraih posisi. Pendidikan politik yang menampilkan kekejaman. Padahal, tak perlu menjadi seperti "bebek" yang memaksakan diri untuk mampu "memanjat". Semua terlahir dengan potensi unggul. Jika potensi itu dikelola secara tepat maka akan menjadi dan unik dan istimewa. Sebaliknya, jika salah dalam mengelola akan berakibat buruk.

Wallahu a'lam



 

Posting Komentar

0 Komentar