Dosen UIN Alauddin dan STAI Al-Furqan Makassar
Samata, 17-03-2021
CATATAN AWAL
Para pembaca yang terhormat! Hari ini, kamis 18-03-2021, ada rute perjalanan dan agenda saya mulai pagi hingga petang. Tapi, insyaallah mengasyikkan. Meskipun sebelum itu, dini hari ini, ada sela waktu beberapa menit kesempatan untuk membaca beberapa paragraf dari Kitab صفوة التفاسير karya Syaikh Muhammad Ali Shabuniy, jilid III, seputar penafsiran surah adh-Dhuha ayat 6 tentang status Nabi Muhammad Saw. sebagai anak yatim secara sosiologis, namun tidak yatim secara spritual. Pembacaan sejenak itu mendasari inspirasi saya untuk menuliskan artikel ini untuk Anda. Semoga bermanfaat!
Ada sebuah buku berjudul, "Dahsyatnya Doa Anak Yatim, Mengungkap Rahasia Keberkahan". Buku itu mengungkap bagaimana dahsyatnya rahasia doa anak yatim. Memelihara dan menyantuni anak yatim merupakan salah satu pintu berkah dan jalan menuju surga. Nabi Saw. menyatakan bahwa beliau berdampingan dengan pemelihara, pendidik, dan pemerhati anak yatim di dalam surga kelak.
Anak yatim menyimpan potensi besar. Jika dikelola dengan baik maka akan terkuak potensi yang dahsyat. Sejarah dan fakta menunjukkan, betapa banyak orang besar dan pemimpin sukses yang tumbuh dari kondisi yang memprihatinkan sebagai anak yatim. Namun, mereka menjadi dahsyat setelah menempuh pendidikan yang tepat.
Status Rasulullah Saw. sebagai anak yatim menyimpan sejumlah rahasia Ilahi. Beliau menjadi yatim sebelum lahir dan menyandang status yatim- piatu saat berusia 6 tahun. Selanjutnya, beliau diasuh oleh kakeknya, Abdul Muttalib. Kakeknya pun wafat. Namun Rasulullah Saw. diakui sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah. Pengakuan itu bukan hanya datang dari umat Islam, tapi juga dari kalangan non muslim.
Nabi Muhammad Saw. menempati kedudukan nomor satu daftar manusia yang paling berpengaruh dalam panggung sejarah dunia, dihitung sampai sekarang. Hal ini dinyatakan oleh Michael H. Hart, seorang ahli astronomi dan ahli sejarah terkenal di Amerika Serikat dalam bukunya "The 100" yang terbit di Amerika Serikat. Namun, dunia pun tau bahwa beliau tumbuh dalam status sebagai anak yatim-piatu.
MAKNA DASAR "YATIM"
Pada dasarnya, "yatim" itu berasal dari bahasa Arab yang berarti sedih atau bermakna sendiri. Adapun menurut istilah syara’ yang dimaksud dengan seorang anak yatim adalah seorang anak yang ditinggal mati oleh bapaknya sebelum dia baligh. Batas seorang anak disebut yatim adalah ketika seorang anak tersebut telah baligh dan dewasa.
Hal tersebut juga sudah dijelaskan dalam sebuah hadis yang menceritakan bahwa Ibnu Abbas r.a. pernah menerima surat dari Najdah bin Amir yang berisi beberapa pertanyaan, salah satunya tentang batasan individu disebut yatim, Ibnu Abbas pun menjawab:
"Dan kamu bertanya kepada saya tentang seorang anak yatim, kapan terputus predikat yatim itu, sesungguhnya predikat itu putus bila ia sudah balig dan menjadi dewasa,"
Batas akhir masa status anak yatim adalah ketika ia baligh. Ini adalah pengertian menurut ilmu fiqh dan perspektif sosiologis. Tapi di balik makna tersebut tentu mengandung pula makna secara filosofis, psikologis, dan spritual.
Ada ulama yang menyebutkan bahwa anak yatim terbatas pada syarat usia kebaligan. Sementara itu, ada juga ulama yang menyebutkan bahwa anak yatim tidak terbatas pada usia saja, melainkan kemapanan dirinya dalam mengelola harta dan kemandirian hidup lahir dan batin.
DI BALIK YATIMNYA NABI SAW.
Status Nabi Muhammad Saw. sebagai anak yatim itu dinyatakan oleh Allah pada Qs. Adh-Dhuha ayat 6: "Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu)". Ayat menyatakan beliau menyandang status yatim. Dan yang menjamin penjagaan dan pendidikannya adalah Allah.
Nabi Muhammad Saw. terlahir dalam keadaan yatim. Ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthallib, wafat di Madinah sepulang dari perjalanan dagang di Ghazzah pada usia 18 tahun. Tetapi ahli sejarah berbeda pendapat menyebut usia Abdullah ketika itu 20, 25, 28, atau 30 tahun. Saya tak ingin masuk dalam perdebatan mengenai mana yang benar. Saya akan kaji pada tema khusus nanti. Insyaallah.
Sementara ibunya wafat beberapa tahun kemudian. Keadaan yatim yang dihadapi Nabi Muhammad Saw. saat kecil ini diratapi oleh malaikat. Mereka mengadu kepada Allah Swt. perihal situasi yatim yang dialami oleh Rasulullah Saw.
Ratapan malaikat ini berangkat dari keprihatinan atas nasib anak-anak yatim pada umumnya yang tanpa perlindungan, tanpa bimbingan, tanpa pengayoman, dan tanpa sentuhan kasih sayang ayah.
Akan tetapi Allah Swt. - seperti informasi Qs. Adh-Dhuha ayat 6 di atas - menjamin pemeliharaan Nabi Muhammad Saw. kecil di tengah situasi yatimnya. Ini ditegaskan dalam sebuah riwayat dari jalur Ibnu Abbas r.a.
وعن ابن عباس أنه لما توفي عبد الله قالت الملائكة إلهنا وسيدنا بقي نبيك يتيما فقال الله تعالى أنا حافظ له ونصير
Artinya, “Dari Ibnu Abbas .r.a., ia bercerita ketika ayah Rasulullah, Abdullah, wafat, malaikat mengadu, ‘Wahai Tuhan dan Tuan kami, nabimu tinggal dalam keadaan yatim.’ Allah menjawab, ‘Aku yang akan menjaga dan membelanya,’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa tahun, hal. 26).
Para ulama mencoba mencari jawaban atas kondisi yatim yang diciptakan oleh Allah untuk Rasulullah Saw., makhluk yang paling dicintai-Nya. Syekh M Nawawi Banten menginventarisasi sejumlah pandangan ulama perihal hikmah di balik situasi yatim yang dialami Rasulullah Saw. Syekh M Nawawi Banten mengutip pandangan Sayyid Ja‘far As-Shadiq r.a perihal ini sebagai awalan.
وسئل جعفر الصادق عن حكمة ذلك فقال لئلا يكون عليه صلى الله عليه وسلم حق واجب لمخلوق
Artinya, “Ja‘far As-Shadiq ketika ditanya perihal hikmah di balik keyatiman Rasulullah Saw. menjawab, ‘Agar Rasulullah Saw. tidak memiliki kewajiban terhadap makhluk-Nya (kedua orang tua),’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa tahun, hal. 26).
Syekh M Nawawi Banten juga menukil pendapat Ibnul Imad yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad Saw. dipersiapkan oleh Allah untuk menjadi orang besar di kemudian hari. Oleh karena itu, Nabi Muhammad Saw. ditempatkan dalam situasi yatim agar kelak di kemudian hari ia menyadari bahwa kemuliaannya dirinya berasal Allah Swt., bukan karena orang tua atau hartanya.
وقال ابن العماد لينظر النبي صلى الله عليه وسلم إذا وصل إلى مدارج عزه إلى أوائل أمره ويعلم أن العزيز من أعزه الله تعالى وأن قوته ليست من الآباء والأمهات ولا من المال بل قوته من الله تعالى
Artinya, “Ibnul Imad mengatakan bahwa hikmah di balik keyatiman Nabi Muhammad Saw. adalah agar ia memandang awal perjalanannya ketika sampai di tangga-tangga kemuliaannya, agar Rasulullah Saw. menyadari bahwa manusia dapat menjadi mulia hanya karena diangkat menjadi mulia oleh Allah, dan agar Rasulullah Saw. menyadari bahwa kekuatannya bukan berasal dari ayah, ibu, dan hartanya, tetapi kekuatannya berasal dari Allah Swt.,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun, hal. 26-27).
Pengalaman Nabi Muhammad Saw. kecil menjadi yatim sebagai kelompok mustadh'afin dalam masyarakat merupakan pengalaman berharga agar Nabi Muhammad Saw. kelak dapat berempati terhadap kelompok masyarakat yang terpinggirkan.
وأيضا ليرحم الفقراء والأيتام وقال صلى الله عليه وسلم ارحموا اليتامى وأكرموا الغرباء فإني في حال الصغر كنت يتيما وفي الكبر غريبا إن الله لينظر للغريب كل يوم ألف نظرة
Artinya, “Situasi yatim saat Nabi Muhammad Saw. kecil dimaksudkan agar Rasulullah Saw. kelak berbelas kasih terhadap orang-orang fakir dan anak-anak yatim. Rasulullah Saw. bersabda, ‘Kasihanilah anak-anak yatim dan muliakan-lah orang-orang asing karena aku saat kecil dahulu juga mengalami situasi yatim dan saat dewasa menjadi orang asing. Allah memandang kasihan orang asing setiap hari seribu kali pandangan,’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa tahun, hal. 27).
Pengalaman Nabi Muhammad Saw. kecil menjadi yatim menyimpan banyak hikmah yang belum terungkap. Tetapi hasil bacaan yang dikemukakan oleh sejumlah ulama melalui Syekh M Nawawi Banten ini menjadi informasi penting.
Sejumlah hikmah yang diungkapkan ini menjadi pelajaran penting bagi kita untuk meneladani Rasulullah Saw. perihal sikapnya terhadap kelompok mustadh'afin atau kelompok pinggiran di masyarakat termasuk anak yatim, orang lansia, kelompok fakir dan miskin, pekerja serabutan, buruh kontrak, dan mereka dilemahkan dalam struktur sosial.
Menurut Dr. Sa’id Ramadhan Al-Buthi dalam kitab Fiqh Al-Sirah, di antara hikmah terbesar Nabi Saw lahir dan hidup dalam keadaan yatim adalah agar kelak setelah beliau diutus menjadi nabi tidak ada tuduhan dari kaumnya bahwa beliau dipersiapkan oleh ayah dan ibunya untuk berdakwah. Karena beliau yatim, kemungkinan tuduhan itu menjadi sirna.
Dr. Sa’id Ramadhan Al-Buthi berkata sebagai berikut;
لقد اختار الله عز وجل لنبيه هذه النشأة لحكم باهرة، لعل من أهمها أن لا يكون للمبطلين سبيل إلى إدخال الريبة في القلوب أو إيهام الناس بأن محمدًا صلى الله عليه وآله وسلم إنما رضع لبان دعوته ورسالته التي نادى بها منذ صباه، بإرشاد وتوجيه من أبيه وجده. هكذا أرادت حكمة الله أن ينشأ رسوله يتيما، تتولاه عناية الله وحدها
Allah telah memilih pertumbuhan ini (yatim) untuk Nabi-Nya karena beberapa hikmah yang besar. Yang paling penting adalah agar para penentangnya tidak ada jalan untuk memasukkan keraguan di hati masyarakat bahwa bangunan dakwah dan kerasulan Muhammad memang sudah dipersiapkan oleh ayah dan kakeknya sejak kecil. Begini hikmah Allah bekerja untuk menumbuhkan rasul-Nya dalam keadaan yatim sehingga hanya pertolongan Allah yang melindunginya.
HAKIKAT ANAK YATIM
Proses pendidikan yang diterima oleh Rasulullah Saw. dari keadaannya yang menyandang status yatim dialami, bahkan sebelum lahir. Yaitu, meninggalnya ayahanda beliau Abdullah bin Abdul Muttalib tatkala Muhammad dalam kandungan ibunya, Siti Aminah
Nabi Muhammad Saw. yatim sebelum lahir dan yatim-piyatu ketika berusia 6 tahun. Itu adalah yatim secara sosiologis dan menurut terminologi fiqh. Akan tetapi, secara hakiki beliau dipelihara dan dijaga langsung oleh Allah. Bahkan beliau dididik langsung oleh Allah.
Benar, selama ini kita mengetahui bahwa anak yatim-piatu adalah anak yang tidak memiliki ayah dan ibu lagi karena kedua orang tuanya sudah meninggal. Akan tetapi, ada juga anak yang menjadi yatim-piatu karena orang tuanya benar-benar tidak memperhatikan anak-anak mereka. Orang tua tidak terlalu peduli dan sibuk dengan urusan masing-masing.
Bahkan dalam sebuah syair disebutkan bahwa anak yatim bukanlah anak yang ditinggal mati kedua orang tuanya. Akan tetapi, anak yatim adalah anak yang kedua orang tuanya sibuk dan tidak mengurusi anak-anaknya. Dalam sebuah syair Arab,
لَيْسَ الْيَتِيْمَ مَنِ انْتَهَى أَبَوَاهُ
مِنْ هَمِّ الْحَيَاةِ وَخَلَّفَاهُ ذَلِيلْاً
إِنّٓ الْيٓتِيْمٓ هُوٓ الَّذِي تَلْقٓى لٓهُ
أُمًّا تَخَلَّتْ أَوْ أَباً مَشْغُوْلاً
“Bukanlah anak yatim yang kedu orang tuanya telah tiada;
(Telah tiada) dari kehidupan dunia, lalu meninggalkan anak tersebut dalam keadaan hina;
Akan tetapi, anak yatim adalah anak yang kau dapati;
Ibunya tidak mempedulikannya atau ayahnya sibuk tidak mau mengurusnya” (Sya’ir Ahmad Syauqi).
Hendaknya orang tua tidak lalai mendidik dan memberikan perhatian kepada anak-anak mereka. Di zaman ini, kewajiban ini cukup banyak dilalaikan oleh orang tua
Perhatikanlah syair berikut ini,
ﻳﺎﺃﺑﺖ، ﺇﻧﻚ ﻋﻘﻘﺘﻨﻲ ﺻﻐﻴﺮﺍ، ﻓﻌﻘﻘﺘﻚ ﻛﺒﻴﺮﺍ، ﻭﺃﺿﻌﺘﻨﻲ ﻭﻟﺪﺍ ﻓﺄﺿﻌﺘﻚ ﺷﻴﺨﺎ
“Wahai ayahku, sungguh engkau mendurhakaiku di waktu kecil. Maka aku pun mendurhakaimu di kala aku besar. Engkau menelantarkanku di waktu kecil, maka aku telantarkan Engkau di kala tua nanti” (Tuhfatul Maulud, hal. 387).
CATATAN AKHIR
Secara sosiologis dan menurut terminologi fiqh, anak yatim adalah anak tanpa ayah. Yatim-piatu adalah anak tanpa ayah dan ibu. Tapi, secara psikologis, yatim atau yatim-piatu semua anak yang tidak memperoleh kepedulian dan perhatian serta kasih sayang dari orang tuanya. Secara spritual, yatim dapat dimaknai sebagai anak yang tidak memperoleh bimbingan dan pendidikan agama yang baik.
Jumlah anak yatim-piatu secara hakiki (psikologis dan spritual) itu cukup banyak. Banyak anak-anak kurang sentuhan dari ayah biologisnya begitu juga ibu kandungnya baik karena akibat perceraian ataupun karena ayah dan ibunya terlalu sibuk berkarir dan mencari nafkah. Begitu pula yang tidak mendapat tuntunan agama yang baik.
Di wilayah perkotaan terutama di kota-kota besar para orang tua adakalanya keluar pagi subuh dini hari dan pulang kerja tiba di rumah jam 10. Dini hari anak-anaknya belum bangun. Pulang kerja jam 10 malam anak-anak mereka sudah tidur. Anak-anak mereka lebih sering berinteraksi dengan asisten rumah tangga ketimbang orang tua biologisnya. Secara sosiologis, anak-anak seperti itu tidak yatim, tetapi yatim secara psikologis, karena mereka tidak terlayani kebutuhan kasih sayang dari orang tua biologisnya.
Anak-anak yang bernasib seperti itu, miskin perhatian dan kasih sayang dari orang tua biologisnya. Dan, mungkin ini salah satu hikmah yang tersimpan di balik musibah pandemi Covid-19. Anak-anak lebih banyak bersama orang tua mereka. Umumnya orang tua yang bekerja dari rumah "work from home" (WFH). Tentu saja, ini menimbulkan masalah tersendiri.
Ini tentu berbeda dengan anak-anak yang dikirim ke pondok pesantren. Di pondok pesantren, mereka diajari dan dididik bahwa justru perpisahan mereka dengan orang tuanya mengandung pendidikan kemandirian disamping mengemban misi tauhid, untuk lebih dekat kepada Sang Khaliq (Allah Swt.). Pola itulah yang dialami Rasulullah Saw. Beliau dipisahkan dari orang tuanya, lalu dididik oleh Allah, baik langsung maupun lewat perantaraan malaikat Jibril. Secara sosiologis, Rasulullah Saw. memang yatim bahkan yatim-piatu, tetapi tidak yatim secara spritual.
Wallahu a'lam.

0 Komentar