KEKUATAN KEYAKINAN & SEMANGAT UNTUK HIDUP SUKSES & BERMANFAAT

Penulis: Muhamad Yusuf 

Dosen UIN Alauddin dan STAI Al-Furqan Makassar

Samata, 19-03-2021

PROLOG

Hampir semua mahasiswa ketika ditanya, mengapa Anda menempuh pendidikan (kuliah)? Mereka menjawab karena ingin sukses di masa depan. Bagaimana kita memastikan kita sukses atau tidak? Nah, Anda sukses atau tidak bergantung pada tujuan hidup Anda.

Namun, hampir semua jawaban ketika diajukan pertanyaan, apa tujuan hidup Anda? Rata-rata mereka menjawab, ingin hidup bermanfaat. Beragam kalimat yang digunakan untuk mengungkapkan tujuan itu. Tapi, apapun rincian kalimat-kalimat yang dirumuskan, semua bermuara pada hidup yang bermanfaat.

Itu sebabnya, pusat orbit tujuan hidup adalah hidup bermanfaat. Misalnya ketika ditanya, untuk apa Anda bersekolah (kuliah)? Untuk menjadi orang pintar. Untuk apa Anda menjadi orang pintar? Untuk menjadi orang bermanfaat.

Begitu juga ketika ditanyakan kepada mereka, untuk apa Anda berbisnis? Supaya menjadi orang kaya. Untuk apa menjadi orang kaya? Agar dapat berbagi membantu orang lain yang membutuhkan.

Banyak tujuan antara, namun tujuan akhirnya mereka ingin hidup bermanfaat. Nah, bagaimana dengan orang yang terbatas? Semua orang keterbatasan. Keterbatasan tidak menghalangi Anda untuk hidup bermanfaat. Memang benar, terbatas tapi tidak terhalang. Masih banyak potensi terpendam di balik keterbatasannya. Apalagi jika disikapi dengan saling menyempurnakan. Dan hal itu banyak faktanya. Salah satunya, yaitu Stephen Hawking.

KEHIDUPAN STEPHEN HAWKING

Kisah inspiratif kehidupan nyata - Stephen Hawking dari Wikimedia Commons. Kisah ini kembali diangkat dengan maksud untuk menunjukkan bahwa hidup bermanfaat sebagai prioritas dari tujuan hidup. Justru, hidup yang sempurna itu saat Anda bermanfaat. Itulah kira-kira prinsip hidup yang menghiasi Stephen Hawking.

Stephen Hawking adalah seorang ilmuwan asal Inggris yang lahir pada 8 Januari 1942 dari pasangan Frank dan Isobel Hawking. Beliau adalah anak pertama dari empat bersaudara yang tumbuh besar di Kota St. Alban, London. Meskipun semasa hidup beliau dikenal sebagai orang yang sangat cerdas, tapi ketika masih kecil beliau dikenal sebagai murid yang malas.

Namun, hal itu berubah ketika beliau mengenal Dikran Tahta yang merupakan guru matematikanya. Hawking sangat mengagumi Mr. Tahta karena bisa membuat pelajaran matematika yang begitu membosankan menjadi menyenangkan. Dari gurunya itu pula, dia terinspirasi untuk menjadi seorang guru besar matematika di Universitas Cambridge.

Diawali dengan kecintaan terhadap matematika itulah beliau menjadi belajar lebih rajin untuk mewujudkan cita-citanya. Dengan bantuan Mr. Tahta, beliau pun berhasil merakit komputer menggunakan bagian mekanik jam, papan kabel telepon yang sudah tidak terpakai, dan banyak lagi komponen daur ulang yang lain. Keren, kan?

Melihat kecerdasan sang anak, orangtuanya pun menyarankan Stephen untuk berkuliah di Oxford. Meskipun sangat menyukai matematika, di universitas tersebut beliau mengambil jurusan Fisika dan Kimia karena belum ada jurusan Matematika di sana. Beliau pun berhasil masuk di Universitas Oxford pada tahun 1959, ketika usianya baru 17 tahun.

Setelah lulus dari Oxford, Stephen kemudian melanjutkan pendidikannya dengan mengambil jurusan kosmologi di Universitas Cambridge. Sayangnya ketika berusia 21 tahun, beliau didiagnosa menderita Amytrophic Lateral Sclerosis (ALS), yaitu penyakit yang melemahkan otot dan merusak fungsi otak. Dokter juga mengatakan vonis bahwa sisa umurnya mungkin tidak akan lama lagi.

Setelah mendapatkan diagnosa itu, beliau mengalami depresi dan merasa hidupnya tidak berguna lagi. Tapi, dengan dukungan orang-orang di sekitar, beliau berhasil mengatasi itu semua. Meskipun hidup di atas kursi roda dengan segala keterbatasannya, beliau mampu menghasilkan banyak karya demi kemajuan ilmu pengetahuan. Salah satunya adalah Teori Big Bang.

Dari kisah inspiratif kehidupan nyata tokoh dunia ini, Anda bisa belajar untuk mempercayai kekuatan mental dan pikiranmu sendiri. Stephen Hawking tidak menjadikan penyakitnya sebagai sebuah halangan untuk tidak melakukan apa yang diinginkan. Hal tersebut justru membuat beliau menjadi lebih bersemangat untuk berbuat yang lebih lagi untuk banyak orang.

PESAN MORAL

Kalau beliau yang memiliki keterbatasan fisik saja bisa melakukan hal yang besar, Anda tentu juga bisa melakukan hal yang sama. Bahkan hal yang lebih dahsyat. Kalau belum bisa melakukan hal besar untuk seluruh umat manusia, melakukan perbuatan yang baik untuk sekitar.Anda saja sudah bagus.

Untuk itu, para ulama membuat kaidah مَا لاَ يُدْرَكُ كُلُّهُ لاَ يُتْرَكُ  كله "Apa-apa yang tidak bisa dilakukan semuanya, jangan ditinggalkan semuanya.”

Maksudnya, jika Anda tidak bisa melakukan sesuatu amalan secara sempurna, maka tidak masalah apabila melaksanakan sebagiannya saja sesuai dengan kemampuan Anda. Karena sesungguhnya melaksanakan sebagian amal salih itu lebih baik daripada meninggalkannya sama sekali. Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak selalu bisa melakukan sesuatu dengan sempurna, namun bagaimanapun tetaplah bekerja. Pada saatnya nanti akan sampai pada tujuan. Jika seorang mahasiswa tak bisa menjadi terbaik di kelas, jangan berhenti kuliah, karena orang kuliah pada akhirnya akan menjadi sarjana. 

Keadaan yang menjadikan Anda istimewa apabila Anda melakukan hal-hal yang bermanfaat. Rasulullah Saw. dalam hal ini bersabda, "Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain." (H.R. Bukhari). Keistimewaan seseorang terdapat pada kontribusi dan manfaat hidupnya.

Tak jarang keterbatasan memunculkan kesadaran yang dahsyat untuk bangkit dan hidup lebih manfaat. Sebaliknya, adakalanya keistimewaan fisik mengundang pujian yang melalaikan. Namun, sungguh beruntung bila Anda sempurna jasmani dan rohani serta hidup penuh manfaat. 

Bukan kekurangan yang membuat Anda tidak sukses. Sukses dimulai dari sikap syukur menerima diri Anda sebagai ciptaan Tuhan dan menyikapi kelebihan dan keterbatasan diri Anda secara tepat. Orang bijak berkata, “Sukses sejati adalah saat kita bisa menerima sepenuhnya kelebihan, keadaan, dan kekurangan kita apa adanya dengan penuh syukur.”

Jadi, orang terbaik adalah bukan dia yang datang dengan kelebihannya, melainkan dia yang tidak pergi dengan segala kekurangan tetapi tetap belajar dan berusaha. Kata Plato, "yang namanya gelap itu tidak ada, yang ada itu kekurangan cahaya.

Mulailah berkreasi sekarang juga. Sebab, menunggu kesempurnaan hanya membuat Anda membuang waktu untuk berkreasi, jadi mulailah berkreasi dengan segala kekurangan yang ada. Jangan menunggu sempurna baru berkreasi, tapi mulai berkreasi untuk menyempurnakan maka Anda akan terlihat sempurna dan kreatif.

Cara pandang akan menentukan, dan sikap Anda menentukan menerima dengan syukur dan semangat, atau bersikap apatis. Ada motivator berkata, bukan kekurangan yang melemahkan hidupmu, tapi pendapatmu yang mengecilkan semangatmu sendiri. Hal ini sejalan dengan prinsip Qs. Ar-Ra'du (13) : 11.

Kita mengakui diri kita mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagaimana juga orang lain. Karena itu, kita tak perlu saling melemahkan tapi saling menguatkan. Kesempurnaan adalah hasil anyaman dan perpaduan beberapa kelebihan untuk saling menutupi kekurangan. Ubah kompetisi menjadi kolaborasi, maka egoisme- individualis akan berubah menjadi kesadaran kolektif untuk maju bersama dan bersama dalam kesuksesan.

Wallahu a'lam



Posting Komentar

0 Komentar