MENERIMA & MEMILIH TAKDIR

Penulis : Muhammad Yusuf

Dosen UIN Alauddin dan STAI Al-Furqan Makassar

Manggarupi-Gowa, 13-03-2021

PROLOG

Para mahasiswa dan pembaca yang bijaksana...! Tulisan merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya sekaligus mengomentari beberapa tanggapan dan respon atas beberapa pertanyaan dari para pembaca.

Hidup ini penuh misteri dan ketidakpastian tentang masa depan di sisi manusia. Orang yang beragama pasti percaya bahwa manusia mesti hidup di atas takdirnya masing-masing. Tak ada seorang manusia pun yang berkuasa melawan takdirnya. Meskipun ada satu buku autobiografi yang bertajuk "Melawan Takdir" karya Prof. H. Hamdan Johannis, M.A., Ph.D, Rektor UIN Alauddin Makassar. Buku tersebut sudah naik ke layar lebar (difilm-kan). 

Buku ini telah membawa penulisnya menjadi terkenal. Sejak awal saya sudah membaca buku autobiografi itu secara utuh. Sesungguhnya bukan melawan takdir, tapi "Memilih Takdir". Meskipun untuk kepentingan pemasaran bolehlah 'Melawan Takdir". Namun kontennya menunjukkan sikap penulisnya yang berupaya pindah dari satu takdir ke takdir yang lain. Takdir yang dimaksud oleh penulisnya adalah takdir secara sosiologis yang terdapat kasab (ikhtiar) dan pilihan di dalamnya. 

Terlepas dari itu, buku itu telah menginspirasi banyak orang. Sikap seperti ini juga sudah pernah diperkenalkan oleh Umar bin Khattab. Umar tidak memasuki suatu wilayah yang terkena penyebaran penyakit menular. Sikap beliau mencegah masyarakat memasuki wilayah zona rawan penularan penyakit menular adalah sikap memilih stok takdir yang lebih baik. Meskipun dalam batas-batas tertentu, Anda tidak punya pilihan sama sekali, semisal kematian.

APA ITU TAKDIR?

Untuk memahami makna takdir, kita perlu mengenal istilah Qadha, qadar, dan taqdir. Qada bermakna kehendak Allah. Yang wujudnya sejak awal berkaitan dengan segala hal yang akan terjadi dari yang terkecil hingga terbesar. Sedangkan qadar adalah perwujudan dari Allah yang mencakup hal-hal oleh qada.

Prof. H M. Quraish mengatakan, secara faktual, dalam kadar dan urutan tertentu, itulah yang dinamai takdir. Arti beriman kepada takdir adalah percaya bahwa Allah maha mengetahui sejak azali dan mencatat semua hal. Percaya bahwa kehendak-Nya pasti berlaku dan terjadi atas semua makhluk.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan, ada pula takdir di mana manusia diberi kebebasan untuk memilih takdirnya. Yaitu kemampuannya untuk berpindah dari satu takdir menuju ke takdir yang lain.

Hal ini pernah dilakukan pada masa Sayyidina Umar. Ketika sedang terjadi wabah dalam suatu kota, dia membatalkan kunjungannya.

Kata beliau, selama masih diupayakan untuk menghindari dari sesuatu yang buruk, maka upayakanlah itu. Karena Allah memberi manusia kasab (ikhtiar), yaitu kemampuan untuk berusaha menghindar dari sesuatu yang buruk.

Dalam konteks itu beliau mencontohkan, musibah Covid-19, kita dapat berusaha menghindar dan diberi kemampuan. Berhasil ataupun tidak, Allah sudah mengetahuinya. Namun, kita berkewajiban untuk berupaya menghindarinya.

KETIKA UMAR MEMILIH TAKDIR

Dikisahkan, pada masa kepimpinan khalifah Umar bin Khattab di tahun kedelapan hijriyah tepatnya di bulan Rabiul Awwal, khalifah bersama dengan para sahabat melakukan perjalanan dari Madinah menuju ke negeri Syam. Namun perjalanan ini kemudian terpaksa dihentikan saat mencapai daerah Sargh, di perbatasan Hijaz dan Suriah.

Khalifah Umar bersama rombongannya bertemu dengan Abu Ubaidah bin Jarrah dan beberapa pimpinan pasukan Muslim dari Syam. Abu Ubaidah kemudian memberikan kabar bahwa terdapat wabah penyakit menular yang menyerang negeri Syam.

Wabah yang saat itu menyerang disebut wabah Tho’un yang awalnya menyebar di kampung kecil bernama Amawas. Oleh sebab itu pula, wabah ini juga sering disebut dengan wabah Amawas, sebuah kampung yang terletak di antara daerah Ramallah dan Baitul Maqdis.

Setelah mendengar kabar ini, khalifah Umar segera menghentikan rombongannya guna melakukan musyawarah, untuk menentukan apakah harus melanjutkan perjalanan atau kembali ke tempat yang lebih aman.

Berdasarkan hadis riwayat dari Abdurrahman bin Auf, khalifah Umar kemudian meminta para petinggi dari kaum Muhajirin untuk berkumpul.

“Apakah anda akan memutuskan keluar karena urusan ini? Kami berpendapat, tidak seharusnya kita pulang begitu saja,” ucap salah satu petinggi Muhajirin.

Perwakilan lainnya pun ikut berkomentar, “Tetapi anda membawa rombongan besar, di sana juga terdapat para sahabat Rasulullah Saw. Saya tidak sependapat jika kita menghadapkan rombongan pada wabah ini.”

Perdebatan terus terjadi di antara kaum Muhajirin dengan khalifah Umar. Karena tidak segera berhenti juga, akhirnya khalifah Umar kembali meminta untuk dipanggilkan petinggi dari kaum Anshar. Ini

Setelah kaum Anshar dipanggil oleh Ibnu Abbas, tetap saja diskusi tidak menemukan titik terang. Suara masih terbagi menjadi dua dan tidak ada pihak yang ingin mengalah. Khalifah Umar pun kembali memberikan perintah untuk memanggil para pemimpin Quraisy yang turut hijrah sebelum penaklukan Mekah.

Dalam musyawarah tersebut, petinggi dari kaum Quraisy memberikan saran, “Sebaiknya anda pulang saja bersama dengan rombongan. Jangan menghadapkan mereka dengan wabah menular ini.”

Setelah mempertimbangkan semua pendapat dari berbagai kaum, khalifah Umar akhirnya menetapkan untuk kembali pulang esok paginya dan tidak melanjutkan perjalanan ke negeri Syam.

PINDAH DARI SATU TAKDIR KE TAKDIR YANG LAIN

Setelah musyawarah selesai dilaksanakan, Abu Ubaidah selaku gubernur Suriah menentang keputusan khalifah Umar.

“Wahai Khalifah Umar, apakah kita akan lari dari ketetapan Allah?” tanya Abu Ubaidah.

Umar menjawab dengan tegas, “Iya, lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lainnya.”

Khalifah Umar pun kemudian memberikan analogi mengenai hal ini agar Abu Ubaidah bisa mengerti keputusannya.

“Bayangkan ketika kau menggembalakan unta milikmu di tempat tandus, maka itu adalah takdir Allah. Kemudian ketika engkau memilih untuk menggembalakan untamu di tempat yang subur, itu juga merupakan takdir Allah,” jelas khalifah Umar.

Abu Ubaidah yang mendengarnya masih tetap teguh dengan pendapatnya dan terus memperdebatkan hal ini.

Ketika keduanya masih beradu argumen, datanglah Abdurrahman bin Auf yang memahami situasi dan mengetahui penyebab perdebatan itu terjadi, beliau mengingatkan keduanya melalui sabda dari Nabi Muhammad.

“Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kalian masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kalian lari keluar.” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid)

Setelah mendengar penjelasan tersebut, akhirnya perdebatan pun berhenti. Khalifah Umar bersama pasukannya tetap memutuskan untuk kembali ke Madinah, sedangkan Abu Ubaidah tetap bertekad untuk melanjutkan perjalanan ke Syam.

SYAHIDNYA PARA SAHABAT

Di Madinah, khalifah Umar terus memikirkan keadaan rakyat di Syam dan juga Abu Ubaidah. Beliau khawatir Abu Ubaidah akan ikut tertular wabah Amawas. Karena terus merasa cemas, khalifah Umar pun mengirimkan surat kepada Abu Ubaidah yang isinya mengajak sang gubernur untuk menemuinya di Madinah.

Abu Ubaidah yang menerima surat tersebut paham maksud dari khalifah Umar, tetapi dirinya memutuskan untuk tetap bertahan di Suriah. Ia pun menulis surat balasan kepada khalifah.

“Saya sudah tahu maksud tujuan Anda kepada saya. Saya berada di tengah-tengah pasukan Muslimin dan tidak ingin menjauhi mereka serta berpisah sampai nanti Allah menentukan keputusan-Nya, baik untuk saya dan untuk mereka. Lepaskanlah saya dari kehendak Anda, wahai amirul mukminin, dan biarkanlah saya bersama dengan prajurit saya.”

Sesampainya surat tersebut di Madinah, khalifah Umar menangis membacanya. Tetapi sang amirul mukminin tidak menyerah begitu saja. Ia masih berupaya untuk menyelamatkan rakyat dari wabah Amawas.

Akhirnya khalifah pun menulis surat balasan kepada Abu Ubaidah yang memerintahkan agar memindahkan kaum muslimin di sana ke kawasan yang lebih tinggi dengan udara segar. Namun sayangnya, sebelum perintah tersebut dijalankan, Abu Ubaidah sudah wafat terjangkit wabah Amawas.

Setelah wafatnya Abu Ubaidah, Muaz bin Jabal menggantikan posisinya. Tetapi lagi-lagi, ia ikut terserang wabah Amawas hingga meninggal dunia beberapa hari kemudian. Akhirnya posisi ini digantikan oleh Amr bin Ash yang kala itu menjabat sebagai gubernur Mesir. Ia kemudian memberikan pidato di hadapan masyarakat Suriah dan memberikan instruksi kepada seluruh warga untuk berlindung dari wabah dan pergi ke bukit-bukit tinggi.

Masyarakat Suriah pun menaati perintah dari Amr bin Ash dan mengungsi ke daerah tinggi hingga penyebaran wabah Amawas berhenti dan hilang. Amr bin Ash kemudian mengirimkan surat kepada khalifah Umar untuk memberitahukan bahwa perintah beliau sudah dilaksanakan.

Khalifah Umar yang mendapat kabar tersebut sangat mengapresiasi usaha Amr bin Ash. Setelahnya, Umar berangkat ke Suriah setelah wabah benar-benar sudah mereda dan memberikan urusan kota Madinah sementara kepada Ali bin Abi Thalib.

Khalifah Umar mengupayakan segalanya untuk memulihkan negeri Syam hingga ke daerah pedalaman sekalipun. Kemudian ia juga mengangkat pengganti Abu Ubaidah.

Penyebaran wabah Amawas ini telah mensyahidkan beberapa sahabat Nabi selain Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan Muaz bin Jabal, seperti Yazid bin Abi Sufyan, al-Harits bin Hisyam, Suhail bin Amr, Utaibah bin Suhail, dan Syurahbil bin Hasanah.

Dari kisah ini, kita bisa memahami bahwa apapun pilihan kita, itulah takdir Allah. Berdasarkan pandangan khalifah Umar, takdir merupakan dua kesempatan, baik dan juga buruk, dan kita sebagai manusia diberikan kebebasan oleh Allah untuk menentukan takdir kita.

Memang terdapat takdir mubram yang tidak bisa kita rubah bagaimana pun itu, seperti kematian atau jodoh. Tetapi untuk urusan lain, bukan berarti dengan mudahnya kita hanya berpasrah dengan segalanya dan tidak dibarengi dengan ikhtiar.

Pada intinya, kita harus percaya takdir yang baik maupun yang buruk merupakan ketetapan Allah. Maksudnya, ketetapan baik atau buruk bergantung sikap hamba-Nya. Allah memberi kesempatan hamba-Nya untuk menjadi baik atau buruk. Jika hamba memilih jalan buruk maka Allah tetapkan buruk. Jika memilih jalan kebaikan maka Allah tetapkan baik.

MENERIMA & MEMILIH TAKDIR

Takdir itu ada dua macam. Pertama, takdir yang tidak ada pilihan, sudah ditulis di Lauhul Mahfuz, tidak ada campur tangan manusia. Ada takdir yang tidak ada pilihan bagi manusia, seorang anak lahir dari pasangan orang tuanya, tempat lahir, jenis kelamin, etnis, mati, warna kulit, dan hari kiamat. Dalam hal ini, manusia tidak bisa memilih. Ini bukan kehendak kita. Ini semata-mata kehendak Allah Swt.

Dalam.batas-batas tertentu tersebut, manusia tidak mampu memilih. Anda tidak pernah memilih terlahir sebagai seorang laki-laki atau seorang perempuan. Anda juga tidak mengorder warna kulit tertentu, Anda hanya menerima apa adanya. Ada tidak pernah terlibat menentukan terlahir sebagai suku dan bangsa tertentu. Itulah sejumlah ketentuan Allah yang Anda tidak kuasa melawannya.

Kedua, takdir yang ada sifat otonomi, artinya manusia bisa atau berhak memilih. Karena manusia punya kemampuan memilih maka ia bertanggungjawab atas pilihannya. Misalnya, seseorang itu mau menjadi orang beriman atau kafir, mau masuk surga atau neraka, rajin atau malas, memakai narkoba atau tidak, dan lain-lain. Semua itu adalah pilihan. Apa hasil dari ikhtiarnya itu takdirnya.

Menjadi orang baik atau buruk itu adalah takdir berdasarkan ikhtiar dan pilihan. Allah tidak menzalimi hamba-hamba-Nya. Kalau seorang hamba masuk neraka, itu karena dia memilih jalan/perbuatan menjadi ahli  neraka, yakni melakukan  hal-hal yang dilarang atau dibenci Allah.

Karena itu, sudah selayaknya seorang manusia selalu berusaha menjadi baik. Seberapa jauh hasilnya, biarlah Allah yang menilainya. Sebab, yang dinilai oleh Allah adalah niat dan manajemen proses, bukan hasilnya. Yang terpenting, kita selalu berikhtiar menjadi orang baik.

Allah tidak meminta pertanggungjawaban dan beban atas takdir jenis pertama. Ketika Allah mengadili nanti, yang Dia minta adalah pertanggungjawaban atas pilihan dan ikhtiar hamba-Nya. Itulah antara lain makna Qs. Al-Baqarah ayat 186.

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir."

Para mahasiswa! Anda belajar dan sungguh-sungguh menyempurnakan ikhtiar dalam belajar, karena Anda tau bahwa ini adalah wilayah takdir yang Allah beri pilihan dan ikhtiar. Ada perintah membaca, menuntut ilmu berarti ada pilihan, ada ikhtiar dan juga tentu ada tanggung jawab di dalamnya. 

Wallahu a’lam.

Posting Komentar

0 Komentar