Oleh: Prof. Yusuf
Apakah seorang pemimpin pantas disebut hebat jika negeranya masih merangkak bergantung pada darah daging rakyatnya—pajak? Pajak memang tulang punggung negara, tapi jika itu satu-satunya pondasi, maka kepemimpinan itu bukan singa yang mengaum, melainkan lintah yang menghisap tanpa henti. Kehebatan sejati bukan diukur dari seberapa banyak dompet rakyat yang dikoyak, tapi dari visi yang membara: mengelola sumber daya alam seperti emas hitam atau hijau yang melimpah, menciptakan nilai ekonomi dari nol menjadi raksasa, dan membuka kran kemandirian yang mengalir deras.
Coba bayangkan, rakyat bangun pagi, mengais rezeki dari keringat berdarah, hanya untuk melihat upah mereka lenyap ke kantong negara. Itu bukan prestasi, itu ketergantungan yang memalukan! Pemimpin yang layak namanya harus menjadi arsitek, bukan pemungut tol. Dia yang mengubah hutan belantara menjadi ladang emas, sungai menjadi pembangkit listrik, dan rakyat menjadi pengusaha mandiri. Bukan menumpuk beban di pundak rakyat sambil berdalih "kebutuhan negara". Di mana terobosannya? Di mana inovasinya? Jika negara kuat hanya karena rakyat miskin yang dipaksa kaya, itu bukan kekuatan—itu penindasan yang dibungkus retorika!
Negara besar bukan yang paling rakus menarik, tapi yang paling jago memberdayakan. Lihat Singapura, dari lumpur menjadi singa Asia, bukan dengan menggerus rakyat, tapi dengan kebijakan cerdas yang melahirkan raksasa ekonomi. Atau Norwegia, yang mengelola minyak menjadi dana abadi untuk generasi mendatang. Mereka tidak bergantung pada pajak seperti parasit; mereka menciptakan kekayaan yang berkelanjutan. Bandingkan dengan kita: pemimpin bertepuk tangan saat pajak melonjak, tapi diam seribu bahasa saat rakyat merintih. Itu bukan kepemimpinan, itu kebobrokan.
Pemimpin negeriku! Jangan biarkan sejarah mencatat kalian sebagai pemungut upeti, tapi sebagai pahlawan yang membebaskan rakyat dari belenggu ketergantungan. Ciptakan kemandirian ekonomi sekarang, atau selamanya dikenang sebagai pemimpin gagal yang hanya pandai menghisap—bukan membangun!
Ayo, wujudkan slogan "Macan Asia". Indonesia Raya asalnya negeri besar yang dikerdilkan oleh penghisap pajak rakyat. Apalagi koruptor pajak. Singapura dari wilayah kecil, kini bukan hanya Singa di negerinya (SingaPura), tapi menjadi "Singa Asia". Ini fakta, bukan hanya slogan.
0 Komentar